Posts Tagged ‘ruang publik’


04 May 2010

Ode Sebuah Taman

Danau Kalibata, foto © Okky Madasari

Oleh : Okky Madasari

Rasanya seperti kerampokan. Kehilangan satu barang kesayangan, yang bersamanya saya telah merangkai banyak kenangan, sekaligus menyimpan harapan. Tapi ini bukan barang. Bukan juga milik saya, yang untuk mendapatkannya saya harus menukar uang. Ini hanya sebuah taman dengan danau buatan. Milik negara, di sebelah timur Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kami menemukannya tanpa kesengajaan.

Mungkin memang berlebihan. Tapi memang seperti itu rasanya, saat kemarin petugas itu menutup rapat pagar dan menolak saya untuk bertandang. Taman berdanau itu tak lagi bisa dikunjungi orang-orang. Demi ketertiban. Juga demi keindahan pemandangan. (more…)

2 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


25 Apr 2010

Car-Free Day: Sudah Aja Deh

Bunderan HI

Car-free Day sudah mengubah Jalan Thamrin menjadi ruang sosial yang hiruk pikuk. Polusi udara mungkin memang berkurang, tetapi polusi suara dan sampah pasti bertambah.

Dia juga makin padat pesan, yang tidak semuanya relevan dengan tujuan car-free day atau gagasan hijau umumnya.

Berbagai komunitas dan produk sibuk menjual dirinya. Juga Gubernur dan pemerintahnya. Pesan, pesan. Teks, teks. Identitas, identitas.

Banyak sekali gambar Gubernur dan Wakilnya di mana-mana

Gambar Gubernur dan Wakil di setiap spanduk, berderet-deret

(Senang juga tadi disapa Gubernur yang sedang bersepeda dan ternyata mengenali saya)

Komunitas Koki kah ini?

Keberhasilannya menciptakan ruang sosial merupakan hal tersendiri. Mungkin suatu by-product. Namun, mungkin memang berguna untuk penduduk Jakarta, yang nampaknya merindukan ruang ekspresi begini. Kedudukan Jalan Thamrin sebagai pusat kekayaan Jakarta (dan Indonesia) bagi sebagian besar urban villagers Jakarta nampak surreal, dan karena itu menjadi manis sekali ketika sekali-sekali bisa dikuasai oleh rakyat.

Bundaran HI pada tahun 1997-1998 juga menjelma menjadi ruang publik yang sungguh politik. Pada tahun 2001 transformasi itu berusaha distop, dengan mengubah permukaannya, yang bahkan pernah diberi tanda ‘Awas Listrik”. Kini mungkin transformasi berikut sedang berlangsung.

Kmunitas Twitter. Gubernur mengajak warga menggunakan twitter bertukar informasi tentang Jakarta.

Asal sampah dan polusi suara tidak malah menjadi beban baru bagi suatu masyarakat urban yang memang sedang bingung dan setengah pesimis.

Tolong, sampahnya....

Bagaimana kalau dibikin car-free NIGHTS?

Kampanye Jalur Sepeda tenggelam deh...

Langit biru di atas selalu indah. Sayang ada arsitektur mencakarnya

Langit selalu indah. Tapi ada arsitektur menggapainya.

Di antara langit dan jalan ada jembatan penyeberangan

2 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


24 Apr 2010

Pluit Village: Berapa Hijaukah Pengembang Kita yang terkenal itu?

Gunawan Tanuwidjaja
(Dari milis Green Map Jakarta)
Beberapa saat yang lalu, diadakan Sustainable Jakarta Conference, yang memang merupakan upaya untuk membuat Jakarta lebih berkelanjutan.[1] Ada sebuah pengembang terkenal yang mengajukan konsep Green Master Plan. Tetapi mirisnya ternyata pengembang ini hanya menjual konsep “Green”-nya yang kosong dan tidak menerapkan dalam bisnisnya.

Pengembang tersebut terlibat dengan sebuah di proyek Kawasan Jakarta Utara, Pluit Village.
Ternyata pengembang ini tidak mempraktekkan “Green and Responsible Water Resource Management.”

Pertama, Pengembang diduga telah “menkonversi badan air menjadi komersial, helipad dan jalan internal (melanggar UU Tata Ruang no 26 tahun 2007 dan UU Sumber Daya Air no 7 tahun 2004)”. Selain itu pengembang ini diduga telah mengganggu sistem polder yang ada dengan menutup saluran air yang masuk ke dalam Danau Pluit dan meninggikan lansekap di sekitar Danau tsb. Sehingga terjadi genangan di kawasan perumahan di Utara dan Selatan. Sungguh pengembang ini diduga tidak memiliki “kesatuan kata dan perbuatan.”

Terbukti pada 2008 – 2010, Warga Pluit telah menikmati beberapa serangan “Rob.” Padahal tadinya warga sempat merasakan aman dari Banjir Besar 2007 karena Polder Pluit yang berjalan dengan baik.

Mungkin sebuah sentuhan baru yang ditawarkan oleh Pluit Village.[2] Dari tinggal di dalam polder seperti di Belanda, menjadi “tinggal di Venesia, Italia, (alias setengah terendam banjir ketika hujan atau pasang laut datang). Jadi konsepnya dengan pengembang biasa yang menjual promosi BEBAS BANJIR. Mungkin judulnya silahkan tinggal di kawasan yang PASTI BANJIR!

Kalau kami boleh mengutip sebuah kata-kata bijak “Janganlah memutarbalikkan KEADILAN, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. ” Kmemang mengakui bahwa pengembang ini mampu mengatasi segala birokrasi untuk mewujudkan keinginannya di atas. Tetapi apakah hal ini tidak berlawanan dengan cita-cita mulia dan pelayanan Bpk James Riady,[3] bos besar pengembang ini. Apakah memang halal untuk merusak sistem lingkungan orang lain demi kepentingan ekonomi semata-mata?

Jika ada pertanyaan atau tanggapan silahkan baca dulu artikel kami di website kami dengan link sbb:

http://greenimpactindo.wordpress.com/2010/04/24/challenges-in-creating-sustainable-urban-polder-in-developing-countries-case-study-development-of-pluit-polder-jakarta/

Atau dapat kontak lewat email saja gunteitb@yahoo.com atau telpon ke 0812 212 208 42.

Terimakasih
Gunawan Tanuwidjaja
Pemerhati Pluit

Pro: Kami juga minta dukungan semua pihak agar Sistem Polder Pluit bisa direvitalisasi, Dan 14 Pompa yang dibeli dan dikonstruksi oleh PU DKI Jakarta bisa dipakai untuk operasi Polder Pluit dengan perencanaan yang baik “bukan merusak sistem polder yang sudah ada.”

Footnote
1 – Mr Gordon Benton OBE, architect and urban planner, giving lecture `The future of urban development in Jakarta and role of private developer’ in Sustainable Jakarta Convention, http://www.sjconvention.com/Downloads/Sustainable%20Jakarta%20Seminar%20Speakers.pdf

2 - http://www.lippokarawaci.co.id/retailmalls/pluitvillage.aspx

3 - http://en.wikipedia.org/wiki/James_Riady
http://www.grii.org/
http://www.ladangtuhan.com/komunitas/jadwal-acara-gathering/seminar-ekonomi-antisipasi-krisis-global-bagi-indonesia/

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


05 Feb 2010

Aksi Bersih Sampah Suaka Margasatwa Muara Angke, 7 Februari 2010

Dear Monsters,
Selamat Hari Lahan Basah Sedunia, 2 Februari 2010
“Caring for Wetlands, an Answer to Climate Change”

Dalam rangka menyambut Hari Lahan Basah Sedunia, Jakarta Green Monster kembali mengadakan acara Bersih Sampah Angke

Mari-mari gulung lengan bajumu untuk membersihkan sampah bersama
Jakarta Green Monster dan masyarakat lainnya,,,

Minggu, 7 Februari 2010
Lokasi: Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA)
pukul 08.00 – 12.00 WIB.

Apa saja yang harus dibawa??
1. Pakaian ganti
2. Botol Minuman (Panitia hanya menyediakan air minum isi ulang)
3. Sepatu/sepatu boot)
4. Makanan ringan

Untuk informasi dan pendaftaran peserta, hubungi:
Yulia Es Campur : 081314366870
Hendra ‘Kobe’ Aquan : 08157988053
Putri Ayusha : 085648177747

salam,
Putri Ayusha

Mengapa bersih sampah?

sampah-sampah yang mengalir masuk ke SMMA bisa menutupi akar mangroove
dan menyebabkan pohon2 tersebut mati,,,
SMMA merupakan rumah bagi 7 spesies mangroove, 91 spesies burung
seperti Bangau Bluwok, Kareo Padi, Pecuk Ular Asia, dsb, serta monyet
ekor panjang, dan lain sebagainya.

Kawasan ini juga menjadi tempat perlindungan bagi burung Bubut Jawa
(Centropus nigroforus) yang merupakan burung endemik Pulau Jawa. Saat
ini bubut Jawa berjumlah tidak lebih dari 10 ekor.

Jakarta yang merupakan hutan beton ternyata masih memiliki lahan basah
yang dihuni oleh berbagai jenis burung,,,tanpa lahan basah ini Jakarta
bisa lebih kebanjiran dan tenggelam air pasang

kosongkan jadwal mari-mari selamatkan lahan basah tersisa di Jakarta
dari tumpukan sampah

Bagaimana Menuju Suaka Margasatwa Muara Angke?

Menggunakan Kendaraan Umum

1. Busway
Naik busway Harmoni – Kalideres, turun di Halte Jelambar (samping
Citraland). Cari angkot berwarna merah nomer B 01 jurusan Grogol -
Angke. Turun di pintu gerbang Pantai Indah Kapuk. tepat di ujung Jl.
Muara Karang, ditandai dengan Pizza Hut dan apartemen. Jalan kaki
masuk ke Pantai Indah Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50
meter dari gerbang, di sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa
Muara Angke. Ikuti jalan setapak di seberang kompleks ruko Meditarania
Niaga, pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke sekitar 300 meter dari
jembatan.

2. Bus dari Terminal Grogol
Naik kendaraan apa saja yang berhenti di Terminal Grogol. Cari angkot
berwarna merah nomer B 01 jurusan Grogol – Angke. Turun di pintu
gerbang Pantai Indah Kapuk. tepat di ujung Jl. Muara Karang, ditandai
dengan Pizza Hut dan apartemen. Jalan kaki masuk ke Pantai Indah
Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter dari gerbang, di
sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Ikuti jalan
setapak di seberang kompleks ruko Meditarania Niaga, pintu masuk Suaka
Margasatwa Muara Angke sekitar 300 meter dari jembatan.

3. Bus dari Terminal Blok M
Naik bus Steady Safe Non AC No 37 Jurusan BLOK M – Muara Angke,
ongkosnya cukup Rp. 2000. Bus ini umumnya gak sampai Muara Angke
(sesuai info dari keneknya), tapi cuman sampai Megamall Pluit.
Dari Megamall Pluit dilanjutkan naik angkot dua kali, nomornya 11
warna merah, dengan ongkos Rp. 2000 turun di Jl Mandara. Dari situ
naik lagi angkot warna merah yang melewati kawasan Pantai Indah Kapuk
dengan ongkos Rp. 1000 turun di depan ruko Mediterania yang langsung
berseberangan dengan pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.

Menggunakan Kendaraan Pribadi Roda Empat atau Lebih

1. Melalui Tol Dalam Kota
Ambil pintu keluar Pluit. Ikuti jalan melintasi Mega Mall Pluit. Lurus
hingga masuk Jl. Muara Karang yang ditandai dengan perempatan dengan
jembatan. Ikuti terus sampai ujung Jl. Muara Karang, ditandai dengan
Pizza Hut dan apartemen. Belok ke kiri, masuk ke Pantai Indah Kapuk,
setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter dari gerbang, di
sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Anda bisa
parkir di kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di seberang pintu
masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.

2. Melalui Tol Bandara
Ambil pintu keluar Pantai Indah Kapuk. Masuk dalam kompleks Pantai
Indah Kapuk. Ikuti jalan yang menuju Mediterania. Anda bisa parkir di
kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di seberang pintu masuk Suaka
Margasatwa Muara Angke.

Menggunakan Motor atau Sepeda
Dari arah Grogol, masuk ke Jl. Jembatan Tiga, ikuti hingga Jl.
Jembatan Lima. Ikuti terus jalan utama sampai melewati Mega Mall
Pluit. Lurus hingga masuk Jl. Muara Karang yang ditandai dengan
perempatan dengan jembatan. Ikuti terus sampai ujung Jl. Muara Karang,
ditandai dengan Pizza Hut dan apartemen. Belok ke kiri, masuk ke
Pantai Indah Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter
dari gerbang, di sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara
Angke. Anda bisa parkir di kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di
seberang pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.

Catatan:
Warga sekitar Suaka Margasatwa Muara Angke mengenalnya dengan nama
Cagar Alam. Jadi, jika Anda hendak bertanya, tanyakan di mana lokasi
cagar alam.

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: Jakarta Green Monster |


28 Aug 2009

Cinta di Ruang Publik

Cinta di Ruang Publik

Wedding at Taman Fatahilah, Jakarta Kota. (August 17, 2009@Marco Kusumawijaya)

 

 

Oleh Laksmi Prasvita. Kekerasan dibalik wajah agama semakin marak dihadirkan di ruang publik Jakarta. Bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, tembak menembak melawan teroris di Temanggung yang dihadirkan melalui televisi kepada publik Jakarta, pernyataan Abu Bakar Ba’asyir di media masa yang terbit di Jakarta tentang pemaklumannya atas bom di Marriot dan Ritz Carlton sebagai akibat negara yang tidak mau mengadopsi Syariah Islam, Buku 34 Kiat Mendukung Mujahidin di terbitkan di jual di toko buku dengan jaringan terluas: Gramedia, dan banyak lagi yang lain.  

Ruang publik yang seharusnya dijaga netral, demi kehidupan warga Jakarta aman dan damai, terus mengalami ancaman radikalisme.

Tepat pada malam ulang tahun Republik Indonesia ke 64, sebuah stasiun TV swasta menayangkan hiburan musik dimana seorang penyanyi kondang dengan jutaan penggemar menitipkan pesan kepada para penggemarnya: “Jalankan perintah agama, taati hukum, hidup adalah perjuangan”

Selintas mendengar, mungkin pesan tersebut wajar adanya. Namun setelah didera oleh teror bom dan penumpasan teroris, wajar pula bila kita menjadi sensitif dengan pesan agama yang disajikan di ruang publik apalagi jika pesan jalankan perintah agama diteriakkan  dalam setarikan nafas dengan perjuangan. Jihad menjadi sebuah momok bagi mereka yang menginginkan kedamaian.

Saya cenderung untuk melarang pesan agama di ruang publik, kecuali pesan itu mengenai cinta. Namun demikian larangan akan mengkhianati semangat demokrasi.

Indonesia telah mengadopsi konsep demokrasi dengan segala konsekuensinya. Kebebasan berekspresi dan berpendapat harus dijamin. Dalam iklim demokrasi, kita menjadi rikuh ketika harus melarang. Akibatnya kita rikuh untuk melarang Ba’asyir memaklumi pengeboman, rikuh membredel buku mengenai gerakan radikal, rikuh melarang peredaran buku melalui toko buku ternama. Toh, jika dilarang dengan suatu mekanisme, mereka akan menemukan jalannya sendiri. Bisa melalui media baru, seperti blog, twitter, facebook, yang tidak bisa dibendung. Kini Indonesia sudah memasuki tahap jargon: “Dilarang Melarang” sebab larangan juga tidak akan efektif.

Lalu apakah demi menjaga ruh demokrasi kita harus membiarkan pesan agama yang penuh kebencian dan kekerasan terus menerus melanda ruang publik?

Tentu saja tidak.

Caranya?

Dengan memperbesar proporsi cinta  di ruang publik.

Kita biarkan ustad dengan kotbah radikalnya, namun kita harus memperbesar jumlah barisan orang yang menolak untuk mendengarkannya. Sehingga dia akan berbicara kepada relatif sedikit orang saja dan lama-lama dia akan berbicara di ruang kosong.

Kita biarkan buku radikal diterbitkan, namun kita harus memperbesar barisan orang yang mentertawakan isi buku tersebut dan juga meningkatkan penerbitan buku dan tulisan mengenai cinta dan perdamaian dan hal-hal positif yang berguna bagi kehidupan.

Alih alih penyanyi kondang diatas meneriakkan pesan agama dan perjuangan, ia kita himbau untuk  meneriakkan: “Jalankan perintah agama, hormati perbedaan, hidup adalah perjuangan untuk saling mencintai sesama”

Dengan memperbesar pesan cinta di ruang publik, maka proporsi pesan kekerasan menjadi relatif lebih kecil dibanding pesan cinta.

Namun demikian kita membuat ruang publik menjadi tidak netral, yaitu condong atau didominasi oleh cinta. Tidak apa. Siapa sih yang tidak mau cinta? Semua orang senang cinta, semua orang butuh cinta bukan?

3 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


03 Jul 2009

Berenang di Bundaran HIK?

Jumat, 3 Juli 2009, jam 12:40. Apakah air nya cukup bersih untuk berenang? Boleh juga nih bikin acara berenang. Apakah Bundaran HI (Hotel Indonesia) akan berganti nama jadi Bundaran HIK (Hotel Indonesia Kempinski)? Menurut Anda?

3 Juli 2009, 12:50pmSnapshot 2009-07-06 22-07-48Snapshot 2009-07-06 22-10-07

3 Juli 2009, 12:50pm

3 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |