<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak &#187; ruang tinggal</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/tag/ruang-tinggal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 03:28:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Sayembara Terbatas Penataan Kawasan Stren Kali Surabaya</title>
		<link>http://rujak.org/2010/11/sayembara-terbatas-penataan-kawasan-stren-kali-surabaya/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/11/sayembara-terbatas-penataan-kawasan-stren-kali-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 12:09:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Urban Poor Consortium]]></category>
		<category><![CDATA[inisiatif warga]]></category>
		<category><![CDATA[ruang tinggal]]></category>
		<category><![CDATA[sayembara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2524</guid>
		<description><![CDATA[Rujak Center for Urban Studies, bekerja sama dengan Urban Poor Consortium dan Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya menyelenggarakan sayembara terbatas desain penataan Kawasan Stren Kali Surabaya. Jika teringat tulisan lawas dari Yuli Kusworo, ia bercerita tentang inovasi, inisiatif dan partisipasi para warga kampung yang menempati bantaran Stren Kali Surabaya: inisiatif utk memundurkan rumah dan membalikkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rujak Center for Urban Studies, bekerja sama dengan Urban Poor Consortium dan Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya menyelenggarakan sayembara terbatas desain penataan Kawasan Stren Kali Surabaya.</p>
<p><span id="more-2524"></span>Jika teringat <a href="http://rujak.org/2009/07/%E2%80%98sunan%E2%80%99-jogokali-gotong-royong-hijaukan-kampung/" target="_blank">tulisan lawas dari Yuli Kusworo</a>, ia bercerita tentang inovasi, inisiatif dan partisipasi para warga kampung yang menempati bantaran Stren Kali Surabaya: inisiatif utk memundurkan rumah dan membalikkan posisi tampak depan rumah menghadap sungai, upaya pengomposan, program Jogo Kali demi menjaga kebersihan Stren Kali hingga penghijauan kampung.</p>
<p>Upaya impresif tersebut mendorong Pemkot Surabaya mengeluarkan Perda yang pada intinya mengijinkan warga untuk tetap tinggal di Stren Kali, selagi mereka memperhatikan garis sempadan sungai.</p>
<p>Namun di tahun 2009, mendadak keluarlah Surat Mendagri yang menyatakan Perda tersebut tidak berlaku, karena menyalahi aturan lawas, yaitu batas garis sempadan sungai sejauh 11 meter. Tentu saja nasib ribuan warga Stren Kali kembali berada diujung tanduk.</p>
<p>Kembali warga-warga harus bernegoisasi ulang dengan Pemerintah. Dan kali ini, pemerintah provinsi meminta proposal desain, yang akhirnya disanggupi oleh warga.</p>
<p>Sayembara terbatas ini adalah langkah kecil untuk tetap memperjuangkan ruang hidup yang telah tumbuh selama 30-40 tahun. Ada 7 arsitek yang diundang, bervariasi generasi dan pengalaman, mulai dari arsitek senior Han Awal, Eko Prawoto, Adi Purnomo, Avianti Armand, Yu Sing dan Wiyoga Nurdiansyah, serta firma Urbane.</p>
<p>Setelah melalui penjurian, maka para juri yang terdiri dari Wardah Hafidz,  Joyce Laurens, dosen arsitektur Universitas Kristen Petra, dan tiga wakil dari Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya, yaitu Ibu Yusuf, Widianto dan Grace Natasya, sepakat untuk memilih proposal Wiyoga Nurdiansyah yang bernama sandi Perca.</p>
<p>Yoga, demikian akrab dipanggil, memilih untuk melakukan intervensi sederhana namun tepat sasaran terhadap kampung-kampung. Dia berkeinginan untuk menjaga struktur dan tatanan sosial masyarakat sehingga kehidupan sosial kampung tersebut tetap terjaga.</p>
<p>Demikian proposal dari Wiyoga Nurdiansyah:</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/11/PERCA-Stren-Kali-Surabaya_Page_1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2527" title="PERCA - Stren Kali Surabaya_Page_1" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/11/PERCA-Stren-Kali-Surabaya_Page_1.jpg" alt="" width="606" height="838" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/11/sayembara-terbatas-penataan-kawasan-stren-kali-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruang untuk Budaya Rakyat</title>
		<link>http://rujak.org/2010/07/ruang-untuk-budaya-rakyat/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/07/ruang-untuk-budaya-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 14:10:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[ruang tinggal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2267</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Jo Santoso: Pertama adalah bahwa budaya hanya bisa berkembang, atau dikembangkan kalau &#8220;Lebensraum&#8221; yang diperlukannya tersedia. Tidak ada budaya bisa berkembang tanpa keterikatan pada tempat atau teritori/ruang dalam arti fisik. Proses perkembangan budaya terjadi di sebuah tempat dan dilakukan secara bersama oleh sejumlah kelompok masyarakat. Jadi kalau kita bicara tentang budaya urban yang tradisional, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<div id="ygrp-mlmsg">
<div id="ygrp-msg">
<div id="ygrp-text">
<div><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/25April2010_CFD_Jembatan1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2320" title="25April2010_CFD_Jembatan" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/25April2010_CFD_Jembatan1.jpg" alt="" width="569" height="477" /></a></div>
<div>Oleh Jo Santoso: Pertama adalah bahwa budaya hanya bisa berkembang, atau dikembangkan kalau &#8220;Lebensraum&#8221; yang diperlukannya tersedia.</div>
<div>Tidak ada budaya bisa berkembang tanpa keterikatan pada tempat atau teritori/ruang dalam arti fisik. Proses perkembangan budaya terjadi di<br />
sebuah tempat dan dilakukan secara bersama oleh sejumlah kelompok masyarakat.<br />
Jadi kalau kita bicara tentang budaya urban yang tradisional, yang non-feodal, maka selama ini kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta tidak pernah memberikan tempat yang memungkinkan perkembangan semacam itu bisa berlangsungi. Memang kita tidak seburuk  Singapura yang membabat habis perkampungan tradisional mereka, dan sekarang secara budaya mati suri, tetapi kitapun tidak pernah secara sadar memberikan ruang bagi munculnya sebuah budaya urban yang berbasis pada pola kehidupan masyarakat kita. Budaya kota yang unggul baru bisa (suatu hari) muncul kalau kita juga menyediakan ruang hidup bagi budaya urban untuk semua lapisan masyarakat, terutama untuk rakyat biasa. Karena kalau budaya rakyatnya tidak bisa berkembang, karena digusur habis seperti di Singapura, sekolah tinggi seni sebanyak apapun tidak bisa menggantikan. Kalau tidak ada budaya rakyat, budaya tinggipun tidak bisa muncul.</div>
</div>
</div>
</div>
</blockquote>
<p>Lihat juga<a href="http://rujak.org/2010/06/ruang-khalayak-dan-kebudayaan1/"> Ruang Khalayak dan Kebudayaan</a> serta <a href="http://rujak.org/2010/06/new-book/">City Life, from Jakarta to Dakar</a> dan <a href="http://rujak.org/2009/07/on-provisional-publics-and-intersections-remaking-district-life-in-north-jakarta/">Jakarta Utara</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/07/ruang-untuk-budaya-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sayembara Tanpa Hadiah</title>
		<link>http://rujak.org/2009/09/sayembara-tanpa-hadiah/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/09/sayembara-tanpa-hadiah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 09:56:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[design]]></category>
		<category><![CDATA[kepadatan]]></category>
		<category><![CDATA[ruang tinggal]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[sayembara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1031</guid>
		<description><![CDATA[Merancang hunian untuk empat (4) keluarga berpenghasilan menengah Jakarta di atas tanah 245 m2 (lihat lampiran) di jalan Rembang No. 11, Jakarta 10310. Latat Belakang (Lihat antara lain http://rujak.org/2009/08/density-myth-and-reality/) Sudah jadi pengetahuan umum bahwa, sementara kelompok masyarakat berpenghasilan sangat tinggi kini mudah mendapatkan hunian di dalam kota (atau di mana saja, untuk hal ini), dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">Merancang hunian untuk empat  (4) keluarga berpenghasilan menengah Jakarta di atas tanah 245 m2 (lihat  lampiran) di jalan Rembang No. 11, Jakarta 10310</span></strong><span style="color: #ff0000;">.</span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a href="http://www.flickr.com/photos/rujak/3957366045/"><img class="alignnone" title="Panoramic" src="http://farm3.static.flickr.com/2627/3957366045_c977999132_b_d.jpg" alt="" width="574" height="150" /></a><br />
</span></p>
<p><strong>Latat Belakang</strong></p>
<p>(Lihat antara lain <a href="../2009/08/density-myth-and-reality/" target="_blank"><span style="color: #000000;"><span style="text-decoration: none;"><span style="color: #000000;"><span style="text-decoration: none;">http://rujak.org/2009/08/density-myth-and-reality/</span></span></span></span></a>)</p>
<p>Sudah jadi pengetahuan umum  bahwa, sementara kelompok masyarakat berpenghasilan sangat tinggi kini  mudah mendapatkan hunian di dalam kota (atau di mana saja, untuk hal  ini), dan kelompok berpenghasilan rendah mendapatkan subsidi di dalam  pusat kota atau di pinggiran kota, atau secara spontan menduduki berbagai  tanah publik, kelompok berpenghasilan menengah hanya memiliki pilihan  hunian berupa <em>landed house</em> di tepian kota, atau rumah-rumah tua  di dalam kampung-kampung yang lama tidak mendapatkan peningkatan prasarana  di dalam kota.</p>
<p>Perubahan tata-guna lahan di  dalam Kota Jakarta telah mengurangi stok jumlah hunian. Penduduk Jakarta  Pusat dan Jakarta Selatan telah menurun secara absolut dalam sepuluh  tahun terakhir. Stok hunian yang tersisa di lokasi-lokasi yang baik  (dalam kepentingan modal disebut “lokasi strategis&#8221;) untuk hunian karena  dekat dengan lapangan pekerjaan dan sarana publik kini terus menerus  mengalami ancaman alih fungsi dan harga tanah, yang antara lain secara  tidak cakap dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah melalui penetapan  Nilai Jual Obyek Pajak yang setinggi-tingginya “mengikuti perkembangan  pasar”.</p>
<p>Perpindahan kelas menengah  ke pinggir kota dalam jangka panjang akan menyebabkan matinya pusat  kota di malam hari, menjadikannya tidak efisien sebagai ruang kota,  dan mematikan budaya kehidupan berkota dan mengota itu sendiri. Sementara  itu pengembangan sub-kota (suburbs) yang terus menerus spekulatif dan  tidak efisien akan menambah kepada pencemaran lingkungan melalui polusi  udara para pengulang-alik, penggerusan lahan subur, pemborosan prasarana,  dan lain-lain.</p>
<p>Yang harus dilakukan adalah  meningkatkan stok hunian di dalam kota Jakarta yang terjangkau oleh  kelompok berpenghasilan menengah di Jakarta.</p>
<p>Yang terjangkau ini secara  logis adalah meningkatkan kepadatan jumlah hunian per tiap-tiap lahan,  tetapi untuk lebih banyak jumlah keluarga, bukan kepadatan fungsi lain  atau untuk jumlah orang berbelanja atau untuk jumlah mobil. Ini berarti  juga bukan gedung-gedung tinggi yang mahal karena perlengkapan bangunannya  (lift, AC, pompa, dll), dan karena biaya struktur bangunan yang makin  meningkat per meter persegi pada bangunan yang tinggi.</p>
<p><span style="font-family: Consolas, Monaco, 'Courier New', Courier, monospace; line-height: 18px; font-size: 12px; white-space: pre;"><span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', 'Bitstream Charter', Times, serif; font-size: small;"><span style="line-height: 19px; white-space: normal;"><span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', 'Bitstream Charter', Times, serif; font-size: small;"><span style="line-height: 19px; white-space: normal;"><strong>Tujuan</strong></span></span></span></span></span></p>
<p><em>Sayembara Tidak Berhadiah</em> ini  bertujuan mengumpulkan gagasan terbaik untuk meningkatkan kepadatan  hunian kelompok berpenghasilan menengah di dalam pusat kota Jakarta,  melalui rancangan bangunan hunian untuk <strong><span style="color: #ff0000;">empat keluarga </span></strong>pada sebidang  tanah yang nyata, ialah di Jalan Rembang no 11 di Jakarta Pusat.</p>
<p>Sayembara ini tidak menentukan  batas apapun kecuali lahan yang nyata, dan peruntukan bagi hunian empat  keluarga dari kelompok berpenghasilan menengah di Jakarta.</p>
<p>Para peserta dipersilakan menafsirkan  sendiri kebutuhan (dan kemampuan serta kewajiban) “keluarga berpenghasilan  menengah di Jakarta”. Sebab, arsitektur bukan hanya penerima “terms  of reference” yang diterjemahkan menjadi bentuk sesuai pesanan, melainkan  arsitektur sendiri berhak dan mampu merumuskan “terms of reference”,  dengan kata lain: membayangkan sendiri masyarakat Indonesia masa depan  seperti apa.</p>
<p>Sedangkan kelestarian dan atau  keramahan terhadap lingkungan sudah dengan sendirinya harus menjadi  tujuan tanpa perlu digembar-gemborkan sebagai sesuatu yang khusus atau  istimewa. Yang <strong>minimal</strong> harus dicapai adalah: tidak digunakan pendingin  udara, pengolahan kembali air limbah dapur dan kamar mandi, tersedia  kemungkinan menggunakan <em>panel photovoltaic</em>, penyerapan air hujan  seluruhnya ke dalam tanah (tidak dialirkan ke saluran tepi jalan), komposting,  tidak digunakan mesin pengering cucian, dan tidak digunakan lampu pada siang  hari.</p>
<p><strong>Rancangan Tidak Perlu Terikat pada Ketentuan seperti KDB, KLB, dan Ketinggian Bangunan. </strong></p>
<p><strong>Format</strong></p>
<p>Karena tujuan di atas, maka  rancangan yang dimasukkan minimal perlu mencapai tahap “Schematic  Design”. Sangat dianjurkan untuk sampai pada tahap “Design Development”,  setidaknya untuk beberapa hal yang menentukan kinerja rancangan mencapai  tujuan ramah-lingkungan dan lestari.</p>
<p>Rancangan dikirim hanya dalam bentuk digital ke info@rujak.org, dengan mencantumkan nama dan alamat lengkap serta email peserta, serta <strong>berbahasa Indonesia</strong>.</p>
<p>Format dijital yang digunakan  adalah PDF, DOC, JPG, XLS, dan PPT. Besaran file maksimal 10 mb.</p>
<p>Bila akan menggunakan format lain, harap memberitahu penyelenggara melalui: info@rujak.org</p>
<p><strong>Jadwal:</strong></p>
<p>Pendaftaran (tanpa biaya): Nama, alamat, no.telpon, Alamat email, dikirim ke:<strong><span style="color: #ff0000;"> info@rujak.org</span></strong> paling lambat tanggal <strong>20 Oktober 2009</strong>.</p>
<p>Karya dikirim kepadan <strong><span style="color: #ff0000;">info@rujak.org</span></strong> paling lambat tanggal <strong>20 November 2009.</strong></p>
<p>Pemenang (tanpa hadiah) akan diumumkan tanggal <strong>27 November 2009</strong> melalui situs www.rujak.org ataupun pemberitahuan via email.</p>
<p><strong>Tindak Lanjut:</strong></p>
<p>Karya-karya yang diterima akan diterbitkan menjadi &#8220;buku&#8221; digital dalam bentuk PDF dan disiarkan melalui www.rujak.org dan lain-lain. Selanjutnya akan dipertimbangkan untuk diterbitkan dalam bentuk buku tercetak.</p>
<p>Bilamana ada gagasan khas dari  sebagian atau seluruh karya peserta yang digunakan untuk mewujudkan/membangun  secara nyata bangunan hunian empat keluarga ini,  maka peserta  yang bersangkutan akan diberitahu, mendapatkan pengakuan terbuka, dan  mendapatkan imbalan yang jumlahnya akan dirundingkan.</p>
<p><strong>Juri:</strong></p>
<p>Dewan Juri terdiri dari para editor www.rujak.org:</p>
<p><strong>Marco Kusumawijaya, Elisa Sutanudjaja, Meutia Chaerani, Andrea Fitrianto, Cecil Mariani, Armely Meiviana</strong></p>
<p><strong>Data:</strong></p>
<p>1. Gambar Site (silakan unduh <a href="http://www.mediafire.com/file/mzjzjmmmzkt/Rembang11.dwg" target="_blank"><span style="color: #000000;"><span style="text-decoration: none;">disini</span></span></a>)</p>
<p>2. Google Map (silakan unduh <a href="http://www.mediafire.com/file/emjtzzmwznt/Google Map Rembang 11.jpg" target="_blank"><span style="color: #000000;"><span style="text-decoration: none;">disini</span></span></a>)</p>
<p>Sila kunjungi situs ini untuk informasi tambahan.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/QoNIQLMgkh0&amp;rel=0&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;feature=player_profilepage&amp;fs=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/QoNIQLMgkh0&amp;rel=0&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;feature=player_profilepage&amp;fs=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/iHK7U-C9L6Q&amp;rel=0&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;feature=player_profilepage&amp;fs=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/iHK7U-C9L6Q&amp;rel=0&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;feature=player_profilepage&amp;fs=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/09/sayembara-tanpa-hadiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa arti rumah?</title>
		<link>http://rujak.org/2009/09/apa-arti-rumah/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/09/apa-arti-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 08:33:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[ruang tinggal]]></category>
		<category><![CDATA[spatial plan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1056</guid>
		<description><![CDATA[Apakah definisi rumah? Apakah itu berarti sebuah bangunan dengan alamat yang tertera dalam KTP masing-masing? Atau sebuah tempat dimana kita menghabiskan sebagian besar waktu, entah itu tidur atau bermain? Atau tempat yang penuh dengan memori dan keluarga? Atau hanya tempat kita tidur, dan esok pagi bertolak pergi ke tempat lain? Apakah berarti tempat yang kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1072" title="Impian" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/Impian.jpg" alt="Impian" width="619" height="466" /></p>
<p>Apakah definisi rumah? Apakah itu berarti sebuah bangunan dengan alamat yang tertera dalam KTP masing-masing? Atau sebuah tempat dimana kita menghabiskan sebagian besar waktu, entah itu tidur atau bermain? Atau tempat yang penuh dengan memori dan keluarga? Atau hanya tempat kita tidur, dan esok pagi bertolak pergi ke tempat lain?</p>
<p>Apakah berarti tempat yang kita kunjungi satu tahun sekali setiap libur raya?</p>
<p>Mari renungkan arti rumah? Munkinkah rumah tak hanya lagi berarti kelompok-kelompok ruang yang terdiri atas ruang tidur, ruang keluarga dan ruang makan? Toh cafe, lounge, restaurant mampu menjadi pengganti ruang-ruang itu?</p>
<p>Sementara ada warga-warga yang menghabiskan waktunya di kota lain yang bukan domisilinya, seperti <a href="http://rujak.org/2009/07/mengapa-70-pengunjung-rujak-di-indonesia-berasal-dari-bekasi/">hasil survey disini</a>. Apakah dengan demikian rumahnya adalah tempat dia menghabiskan banyak waktu?</p>
<p>Jakarta pun demikian. Kota yang pada malam hari berjumlah sekitar 8 juta penduduk, sedangkan siang harinya hampir berlipat ganda. Kota dimana warganya dapat tinggal berdampingan dengan kereta api disaat bersamaan ada yang berdomisili di kaki langit. Ada juga yang terus mendeskripsikan ruang-ruang tinggal itu, seperti <a href="http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/">eksplorasi arsitek-arsitek muda ini</a>. Lalu bagaimana dengan anda?</p>
<p>Apakah rumah itu?</p>
<p><img class="alignnone" title="Rumah?" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs226.snc1/7320_128983669293_520289293_2357620_6611794_n.jpg" alt="" width="604" height="403" /></p>
<p>Foto oleh Dita Wisnuwardani</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/09/apa-arti-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Ruang Tinggal Dipertanyakan</title>
		<link>http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 03:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[ruang tinggal]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1029</guid>
		<description><![CDATA[Melalui utopia arsitektur berhenti sebagai proyek rancangan pesanan individual. Ia ingin berpikir ‘menyempurnakan’ masa depan semua. Ia menjadi pemikiran. Ia menjadi alat kolektif membincangkan ideal bersama. Karena kota menjadi obyek yang tepat. Pada ruang kota, arsitektur berhenti menjadi alat pesanan pribadi, sebab ia harus menjadi alat kolektif (Marco Kusumawijaya, 2009) Setidaknya kalimat diatas berulang kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft size-full wp-image-1076" style="margin: 7px;" title="IMG_1626" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/IMG_1626.JPG" alt="IMG_1626" width="613" height="459" /></em></p>
<p><em>Melalui utopia arsitektur berhenti sebagai proyek rancangan pesanan individual. Ia ingin berpikir ‘menyempurnakan’ masa depan semua. Ia menjadi pemikiran. Ia menjadi alat kolektif membincangkan ideal bersama. Karena kota menjadi obyek yang tepat. Pada ruang kota, arsitektur berhenti menjadi alat pesanan pribadi, sebab ia harus menjadi alat kolektif (Marco Kusumawijaya, 2009)</em></p>
<p>Setidaknya kalimat diatas berulang kali dikutip, mulai dari undangan hingga pada saat pembukaan <a href="http://workshopami.wordpress.com/">Pameran Workshop Arsitek Muda Indonesia</a> yang bertajuk Ruang Tinggal dalam Kota. Pemikiran utopis inilah yang menjadi dasar materi pameran yang mempertanyakan ruang tinggal. Di saat ruang tinggal ditempatkan dalam kota, maka arti kata ruang tinggal tersebut bisa terdekonstruksi, berevolusi dan memiliki makna lain menjadi lebih dari sekadar bangunan di alamat KTP.</p>
<p>Ada banyak hal yang tersirat dan tersurat dalam 14 hasil workshop. Mereka berangkat dari fenomena, derita, kekinian, peluang, persepsi, definisi akan tinggal didalam kota. Tema akan kota dan ruang tinggal begitu dekat dalam keseharian. Di tangan para arsitek muda dan mahasiswa arsitektur, 14 proposal itu menjadi usulan yang unik, berani, sedikit naïf, penuh mimpi, idealis dan bersemangat. Namun bukankah itu yang diharapkan dari generasi penerus bangsa?</p>
<p>Kenyataan bahwa Jakarta adalah kota kontemporer menjadikan Jakarta sebagai isu favorit dalam workshop ini.  Kekontemporeran Jakarta menjadi kota dan warganya yang selalu bergerak. Jakarta seakan meradikalkan mobilitas warganya, entah secara visual maupun fisik. Itulah yang menjadi isu proposal seperti: <em>Mobile House, diDedikasikan untuk Komuter, metabolism of Jakarta city, ruang mimpi</em>, dan <em>ruang.waktu.tinggal</em>.</p>
<p>Dua proposal pertama berkutat pada masalah waktu tempuh dari dan ke rumah tinggal. <strong>Mobile House</strong> pada akhirnya menyediakan struktur-struktur utama di berbagai penjuru Jakarta, sebagai sarang rumah-rumah untuk bermetabolis dan tinggal – memungkinkan rumah tersebut untuk berpindah tempat sesuai dengan kebutuhan. Seperti layaknya apartemen-apartemen di tengah kota, Mobile House mendekatkan jarak penghuni ke tempat aktivitas, hanya si penghuni dan unitnya dengan mudah berpindah tempat ke antero kota. Sementara <strong>diDedikasikan untuk Komuter</strong> adalah upaya untuk mengembalikan para komuter ke dalam kota dengan menempati ruang yang memang selama ini mereka tempati sepanjang perjalanan, yaitu Jalan Tol Dalam Kota. Proposal ini menggugat keberadaan jalan tol dalam kota yang tentu saja berlawanan dengan prinsip transportasi publik. Dan disaat bersamaan iapun menggugat kediaman (mobil) akibat macet di jalan tol, sehingga dalam kediaman adalah gerak itu sendiri. Mobil dianggap sebagai home in homelessness untuk jangka waktu tertentu di jalan tol itu.</p>
<p>Pergerakan dan mobilitas dapat dilihat juga seperti sistem metabolisme dalam tubuh manusia, setidaknya itu yang diutarakan oleh kelompok <strong>metabolism of Jakarta city</strong>. Didalam tubuh (kota) yang sehat, tentunya memerlukan aliran (pergerakan) yang sehat pula. Proposal ini seakan berupaya untuk menghilangkan kadar kolesterol dalam darah, seperti halnya mencoba menyehatkan pergerakan dan sistem yang terjadi dalam daerah Blok M.</p>
<p>Benturan antara pergerakan semu dan kediaman absurb muncul pada proposal <strong>ruang mimpi</strong>. Pergerakan yang muncul dari indahnya magnet kota, namun disaat bersamaan menyaring calon warganya, hingga terpaksalah warga menempati no-man&#8217;s land, dalam hal ini pinggir rel kereta api. Menjadikan kediaman tersebut sewaktu-waktu bisa digugat, tergusur dan berpindah ke tempat lain.</p>
<p>Ruang-ruang kota marjinal tak hanya berhenti sebatas pinggir rel kereta api, tapi bisa juga kolong jembatan dan bantaran kali. Bahkan untuk konteks kota Jakarta, jalur pejalan kaki pun menjadi ruang tak bertuan, seperti banyak yang terjadi di balik gedung-gedung kantor. Proposal <strong>ruang bayangan</strong> melihat ruang-ruang tersebut sebagai peluang yang dapat dikembangkan menjadi serial ruang tinggal.</p>
<p>Sementara ide akan kota sebagai hidup nomaden muncul dalam proposal <strong>ruang.waktu.tinggal</strong>. Dalam hal ini, hidup nomad adalah intermezzo. Mereka percaya bahwa ruang tinggal adalah segala sesuatu yang memiliki waktu kebersamaan dengan seseorang dalam kurun waktu tertentu. Berangkat dari konsep film The Terminal, berubah menjadi konsep arsitektural paradoks nomadisme, menjadikan waktu sebagai penentu desain, bukannya klien ataupun kebutuhan ruang. Seakan waktu yang dijual, dan kemudian dikemas dalam bentuk ruang.</p>
<p>Berlawanan dengan gugatan terhadap gaya hidup nomad, proposal <strong>ruang kembali</strong> justru memperlihatkan konsep kota dan ruang tinggal di masa lampau. Ruang tinggal kembali menjadi kediaman dalam arti sesungguhnya, yaitu sebagai rumah, tempat untuk berhenti total dari pergerakan – menjadi tempat untuk pulang.</p>
<p>Isu-isu populer seperti keberlanjutan (sustainability) pun muncul dalam beberapa proposal, seperti <em>Tropical Capsule Bungalow, Linear City <span style="font-style: normal;">dan </span>nenek moyangku seorang pelaut</em>. <strong>Tropical Capsule Bungalow</strong> berangkat dari isu pembangunan di Bali yang cenderung merusak alam, maka dari situ lahirlah ide bungalow dengan bahan sampah daur ulang dan kemudian ditempatkan di lokasi terbengkalai sudut kota. Sementara <strong>Linear City</strong> berangkat dari konsep abad 19 akhir dengan nama yang sama. Proposal tersebut berusaha untuk mengkompakkan area Kuningan disepanjang jalan, dan lalu merelokasikan area-area lain di belakangan jalan Kuningan hingga berubah menjadi area konservasi dan preservasi. Tentu pembentukan dan luasan bangunan disepanjang Kuningan serta perbandingan lahan memakai perhitungan jejak kaki ekologis. Kenyataan akan perubahan iklim, buruknya lingkungan dan kerap rutinnya banjir melanda Jakarta, mendasari proposal <strong>nenek moyangku seorang pelaut</strong>. Dengan demikian, diharapkan warga Jakarta di masa mendatang mampu adaptif terhadap bencana yang kini menjadi rutinitas.</p>
<p>Kota Bandung turut menjadi inspirasi, terutama bagi 2 proposal yang berasal dari Bandung yaitu <em>kota skala kita</em> dan <em>fashion, Bandung, arsitektur</em>. Keduanya mengambil lokasi sama yaitu di Dago, namun berangkat dari pemahaman yang berbeda. Proposal pertama berupaya mengembalikan skala kota di sepanjang jalan Dago kepada manusia, dengan memberikan kekayaan dan kuasa ruang terhadap pejalan kaki. <strong>Kota skala kita</strong> melakukan pemisahan yang jelas dan mutlak antara pejalan kaki dan bukan. Sementara proposal kedua: <strong>fashion, Bandung, arsitektur</strong>, mencoba menarik benang merah antara mode dan arsitektur dengan mempertanyakan kemungkinan deskripsi ruang tinggal sebagai elemen (aksesoris) dalam kota. Aksesoris dalam busana terkadang bisa menjadi pelengkap pakaian bahkan penyatu, seperti halnya dengan menempatkan ruang-ruang kecil dengan tepat pada titik-titik kota tertentu. Mungkin sejalan dengan idealisme Coco Chanel: Fashion is no something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in th street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening.</p>
<p>Dua proposal lain membahas keintiman antara tubuh dalam ruang. <strong>Blackout Architecture</strong> menggali akan kemungkinan jika perencanaan ruang tidak bergantung pada indera penglihatan. Bagaimana jika para perencana kota dan arsitek mulai juga memperhatikan indera-indera lain dalam merencanakan ruang. Blackout Architecture hadir dengan instalasi yang diharapkan mampu memberikan stimuli dan kepekaan indera. <strong>Rumah ini tidak untuk dijual</strong>, berangkat dari personalisasi rumah berdasar pemiliknya. Proposal ini seakan menjadi kritik terhadap tendensi komersialisasi, standarisasi dan industrialisasi rumah lewat produk developer.</p>
<p>Dan ruang tinggal pun beragam dan menggelitik. Ada beberapa hal yang menarik dari 14 proposal ini. Waktu menjadi krusial, karena dalam ruang tinggal unsur waktu sangat erat. Penolakan akan ruang-ruang yang steril dan tidak unik pun terjadi. Ada yang memperhatikan kaum marjinal kota dan ada pula yang bermimpi ‘hijau lestari’. Lalu bagaimana pemahaman anda terhadap ruang tinggal? Apa arti ruang tinggal bagi anda?</p>
<p>Pameran Workshop AMI 9-19 September 2009</p>
<p>Galeri Komunitas Salihara</p>
<p>Jalan Salihara No. 16<br />
Pasar Minggu – Jakarta Selatan</p>
<p>Foto oleh Dita Wisnuwardani dan Kezia Paramita</p>
<p>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/6919_154582299387_547254387_3579196_6469753_n/' title='6919_154582299387_547254387_3579196_6469753_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/6919_154582299387_547254387_3579196_6469753_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="6919_154582299387_547254387_3579196_6469753_n" title="6919_154582299387_547254387_3579196_6469753_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/6919_154582329387_547254387_3579202_406208_n/' title='6919_154582329387_547254387_3579202_406208_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/6919_154582329387_547254387_3579202_406208_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="6919_154582329387_547254387_3579202_406208_n" title="6919_154582329387_547254387_3579202_406208_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/6919_154582334387_547254387_3579203_8131324_n/' title='6919_154582334387_547254387_3579203_8131324_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/6919_154582334387_547254387_3579203_8131324_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="6919_154582334387_547254387_3579203_8131324_n" title="6919_154582334387_547254387_3579203_8131324_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/7320_128983419293_520289293_2357583_5897082_n/' title='7320_128983419293_520289293_2357583_5897082_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/7320_128983419293_520289293_2357583_5897082_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="7320_128983419293_520289293_2357583_5897082_n" title="7320_128983419293_520289293_2357583_5897082_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/7320_128983554293_520289293_2357601_4285086_n/' title='7320_128983554293_520289293_2357601_4285086_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/7320_128983554293_520289293_2357601_4285086_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="7320_128983554293_520289293_2357601_4285086_n" title="7320_128983554293_520289293_2357601_4285086_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/7320_128983569293_520289293_2357604_3796263_n/' title='7320_128983569293_520289293_2357604_3796263_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/7320_128983569293_520289293_2357604_3796263_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="7320_128983569293_520289293_2357604_3796263_n" title="7320_128983569293_520289293_2357604_3796263_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/7320_128983769293_520289293_2357634_3609406_n/' title='7320_128983769293_520289293_2357634_3609406_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/7320_128983769293_520289293_2357634_3609406_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="7320_128983769293_520289293_2357634_3609406_n" title="7320_128983769293_520289293_2357634_3609406_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/9433_128333033338_710053338_2626146_5921864_n/' title='9433_128333033338_710053338_2626146_5921864_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/9433_128333033338_710053338_2626146_5921864_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="9433_128333033338_710053338_2626146_5921864_n" title="9433_128333033338_710053338_2626146_5921864_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/6919_154582289387_547254387_3579194_2088667_n/' title='6919_154582289387_547254387_3579194_2088667_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/6919_154582289387_547254387_3579194_2088667_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="6919_154582289387_547254387_3579194_2088667_n" title="6919_154582289387_547254387_3579194_2088667_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/_mg_1155-copy/' title='_MG_1155 copy'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/MG_1155-copy-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="_MG_1155 copy" title="_MG_1155 copy" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/img_1626/' title='IMG_1626'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/IMG_1626-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_1626" title="IMG_1626" /></a>
<br />
<object width="400" height="300"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="movie" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=6603744&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" /><embed src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=6603744&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" width="400" height="300"></embed></object>
<p><a href="http://vimeo.com/6603744">Trailer Final AMI Ruang Tinggal Dalam Kota</a> from <a href="http://vimeo.com/user2286175">wagionobustami</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p>allowscriptaccess=&#8221;always&#8221; allowfullscreen=&#8221;true&#8221;></embed></object></p>
<p><a href="http://vimeo.com/6527225">Trailer AMI Ruang Tinggal Dalam Kota</a> from <a href="http://vimeo.com/user2286175">wagionobustami</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpolitik di Ruang Tinggal dan Kota</title>
		<link>http://rujak.org/2009/09/berpolitik-di-ruang-tinggal-dan-kota/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/09/berpolitik-di-ruang-tinggal-dan-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 02:58:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[ruang tinggal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1036</guid>
		<description><![CDATA[  Kota bagi seorang Hannah Arendt bukanlah sekadar benda arsitektural, melainkan ‘ruang’ yang memungkinkan keadaban public (public civility). Sementara idealisme Aristoteles menyatakan bahwa kota adalah komunitas hidup bersama, sehingga mungkin bisa juga dikatakan jika kota itu adalah realitas sosial yang menspasial atau meruang. Karena ia merupakan suatu bentuk sosial yang muncul dari interaksi warganya, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div id="attachment_1083" class="wp-caption alignleft" style="width: 609px"><img class="size-full wp-image-1083" style="margin: 7px;" title="LinearCity" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/LinearCity.jpg" alt="LinearCity" width="599" height="449" /><p class="wp-caption-text">Membelakangi lensa: Bapak Hari Sasongko, Kepala Dinas Pengawasan Mendirikan Bangunan</p></div>
<p>Kota bagi seorang Hannah Arendt bukanlah sekadar benda arsitektural, melainkan ‘ruang’ yang memungkinkan keadaban public (public civility). Sementara idealisme Aristoteles menyatakan bahwa kota adalah komunitas hidup bersama, sehingga mungkin bisa juga dikatakan jika kota itu adalah realitas sosial yang menspasial atau meruang. Karena ia merupakan suatu bentuk sosial yang muncul dari interaksi warganya, maka ia tidak bisa direncanakan; dan kalaupun di’skenario’kan oleh perencana kota, maka interaksi sosial tersebut mampu mebawa spasialitas kota kearah berlawanan.<span id="more-1036"></span>Seiring dengan perkembangan revolusi interaksi sosial, terjadi pula pada pola kehidupan warga. Konsep-konsep tradisional akan pola hidup terdekonstruksi. Prinsip akan ruang-ruang warga pun bergeser, termasuk pemikiran akan habitatnya. Pergeseran tersebut terjadi dalam wacana kota, terlebih ketika beban kota semakin berat dengan muncul berbagai macam problematika: polusi, kemacetan, kriminalitas, banjir, kemiskinan, jurang sosial, diskriminasi, paranoia dan lain-lain. Ruang tinggal warga pun beradaptasi sekaligus menciptakan varian baru. Dia tidak bisa disederhanakan menjadi konsep ruang tinggal ala rumah developer dan rusun pemerintah belaka. Transformasi dan revolusi ruang tinggal itu muncul dalam berbagai imitasi bentuk, seperti mal yang menjadi ‘ruang keluarga dan ruang makan’ bagi warga, atau perahu dan jalan raya yang mendadak menjadi rumah saat kota sedang dilanda banjir besar dan macet total.</p>
<p>Kota dan konsep ruang tinggal tidaklah eksklusif menjadi milik perencana dan arsitek. Banyak perencanaan dan masalah kota dihadapi dengan pandangan rasional, metodis dan analitik. Seperti yang kerap dikritik Lefebvre, perencana kota kerap melepaskan diri dari realitas kota – realitas yang terjadi di permukaan jalan, dengan melihat kota sebagai dua dimensi dalam bentuk denah terlihat dari atas. Akibatnya spasialitas dari perencana kota menentukan bentuk-bentuk sosial: warga tidak mampu lagi menentukan bentuk ruang hidupnya, melainkan ruang hidup itu semakin membentuk prilaku manusia. Perencana kota tersebut membayang kota BUKAN dihuni oleh manusia-manusia kota, melainkan oleh warga kota yang seolah-olah bebas membentuk dan menata komunitas tanpa pembagian kerja, tanpa kelas sosial, tanpa jender dan primordialitas suku maupun agama (Karlina Supelli, 2009). Lebih lanjut lagi, kota-kota (menuju) modern, seperti Jakarta, dirancang secara geometris untuk menopang kapasitas laju produksi dan konsumsi, yang tentunya menjadikan kota semakin eksklusif, terbatas bagi orang-orang yang mampu dan mau terjerat dalam arus produksi dan konsumsi. Komodifikasi ruang tinggal tidak lepas dari pemikiran dan pandangan rasional geometris tersebut.</p>
<p>Pada akhirnya opsi yang dimiliki oleh warga semakin terbatas – walaupun kesannya begitu banyak produk hunian yang ditawarkan oleh pihak swasta dan pemerintah. Relasi antara warga, ruang tinggal dan kota mengalami seleksi alam, ekonomi, sosial dan politk. Warga miskin kota tidak dikenali dalam rencana tata ruang, mereka tinggal di tempat-tempat yang seharusnya bukan untuk ruang tinggal: bantaran kali, bawah jembatan, tepi rel kereta. Sementara bentuk kampung yang erat dengan pola hidup dan tinggal berubah menjadi bentuk geometris dalam rencana tata ruang. Kaum menengah semakin terjepit di antara keterbatasan pilihan, apakah sebaiknya tinggal jauh di pinggir kota demi mendapatkan rumah manusiawi, atau bersempit ria di pusat kota. Lalu (kebaikan) kota ini untuk siapa? Apakah hanya untuk segelintir yang tercakup dalam tata ruang, golongan yang mampu membayar untuk tinggal di pusat kota dengan tanah luas, konglomerat yang mampu men-gentrifikasi tempat strategis?</p>
<p>Jika akhirnya banyak warga terpencil dan terkucil dari kota ini, apakah selamanya status quo ini dibiarkan? Pengadaban kembali kota, mengembalikan kota untuk semua, bisa ditempuh jika warga kota mau dan mampu membentuk masyarakat politis dan kritis. Masyarakat yang menurut Dr. Karlina Supelli adalah masyarakat yang terus menerus mendiskusikan dan menanggapi hal-hal yang hendak dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah maupun pemilik modal. Sudah saatnya warga, masyarakat mulai angkat bicara dan beropini, serta berinisiatif mencari bentuk ruang tinggal dan kotanya: apakah ia bisa berupa gerakan akar rumput dari <a href="http://rujak.org/2009/07/%e2%80%98sunan%e2%80%99-jogokali-gotong-royong-hijaukan-kampung/">kaum terpinggirkan kota</a>, <a href="http://rujak.org/2009/07/cohousing-inisiatif-warga-jakarta-untuk/">warga kelas menengah yang menolak komodifikasi ruang</a> atau <a href="http://rujak.org/2009/09/ruang-tinggal-dalam-kota/">kelompok-kelompok utopia dari arsitek muda Indonesia</a>.</p>
<p>Foto oleh Dita Wisnuwardani</p>
<p><object width="400" height="300"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="movie" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=6603744&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" /><embed src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=6603744&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" width="400" height="300"></embed></object>
<p><a href="http://vimeo.com/6603744">Trailer Final AMI Ruang Tinggal Dalam Kota</a> from <a href="http://vimeo.com/user2286175">wagionobustami</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/09/berpolitik-di-ruang-tinggal-dan-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

