<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak &#187; sampah</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/tag/sampah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 03:28:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>&#8220;Bangunan Peka&#8221; bersama Prof. Uwe Rieger, Indonesian Dream dan Arsitek Komunitas</title>
		<link>http://rujak.org/2011/06/bangunan-peka-bersama-prof-uwe-rieger-indonesian-dream-dan-arsitek-komunitas/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/06/bangunan-peka-bersama-prof-uwe-rieger-indonesian-dream-dan-arsitek-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 06:40:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[ciliwung]]></category>
		<category><![CDATA[design]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[sustainability]]></category>
		<category><![CDATA[Uwe Rieger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2965</guid>
		<description><![CDATA[BANGUNAN PEKA Arsitektur Tanggap Lingkungan 6 Juli 2011, 16:00 WIB Tur pameran dan bincang-bincang bersama kurator Uwe Rieger (The University of Auckland) Museum Nasional Indonesia Jalan Merdeka Barat No. 12 Pameran “Bangunan Peka-Arsitektur Tanggap Lingkungan” di Museum Nasional 6-20 Juli 2011 diselenggarakan oleh Goethe-Institut Indonesien bekerja sama dengan Uwe Rieger, guru besar tamu untuk desain, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/06/Bangunan-Peka.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2966" title="Bangunan Peka" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/06/Bangunan-Peka.jpg" alt="" width="604" height="186" /></a></p>
<p><strong>BANGUNAN PEKA</strong></p>
<p>Arsitektur Tanggap Lingkungan<strong> </strong></p>
<p>6 Juli 2011, 16:00 WIB</p>
<p>Tur pameran dan bincang-bincang bersama kurator Uwe Rieger (The University of Auckland)</p>
<p>Museum Nasional Indonesia<br />
Jalan Merdeka Barat No. 12</p>
<p><strong>Pameran</strong> “<strong>Bangunan Peka-Arsitektur Tanggap Lingkungan” di Museum Nasional 6-20 Juli 2011 </strong>diselenggarakan oleh Goethe-Institut Indonesien bekerja sama dengan<strong> </strong>Uwe Rieger, guru besar tamu untuk desain, ketua departemen arsitektur di School of Architecture and Planning The University of Auckland.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pameran ini mengangkat tema arsitektur reaktif, yaitu arsitektur yang dapat menyesuaikan diri secara dinamis dengan iklim, cuaca, perencanaan atau pengguna. Tujuh instalasi akan dipamerkan. Lima di antaranya didatangkan dari Selandia Baru, sementara dua lainnya dari Indonesia: Ciliwung Recovery Programme (CRP) karya <strong>Indonesian Dream</strong> (Rezza Rahdian, Erwin Setiawan, Ayu Diah Shanti, Leonardus Chrisnantyo, Mario Lodeweik Lionar, Petrus Narwastu) dan Rumah Bambu Swapasang karya <strong>Arsitek Komunitas</strong> dari Yogyakarta.</p>
<p>Goethe-Institut Indonesien dengan Rujak Centre for Urban Studies (RCUS) mengundang Anda untuk tur keliling pameran dan bincang-bincang bersama Uwe Rieger pada:</p>
<p><strong>Rabu, 6 Juli 2011 di Museum Nasional, mulai 16:00 WIB</strong>.</p>
<p>Acara akan dipandu oleh Marco Kusumawijaya dari RCUS.</p>
<p>Fakta-fakta menarik yang dapat didiskusikan antara lain adalah:<br />
• Kebutuhan untuk mengembangkan arsitektur yang menghemat energi dan bahan dengan bereaksi positif atas alam<br />
• Kebutuhan untuk mentransformasi pengetahuan dan kebijaksanaan dari bentuk-bentuk vernakular/tradisional arsitektur Indonesia ke konteks kontemporer dan perkotaan menggunakan metode ilmiah.</p>
<p>Kami mengharapkan pertukaran pikiran di antara kurator dan Anda semua!</p>
<p>Untuk mendaftarkan kehadiran pada acara ini Anda dapat menghubungi (selambatnya 5 Juli 2011):</p>
<p>Dinyah Latuconsina</p>
<p>Goethe-Institut Indonesien</p>
<p>Jl. Sam Ratulangi 9-15</p>
<p>Jakarta 10350</p>
<p>Tel. +62-21-23550208 – 147</p>
<p>Latuconsina@jakarta.goethe.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/06/bangunan-peka-bersama-prof-uwe-rieger-indonesian-dream-dan-arsitek-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Susah Payah Jalan Kaki di Manggarai</title>
		<link>http://rujak.org/2011/04/susah-payah-di-manggarai/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/04/susah-payah-di-manggarai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 14:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agents for Change]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Institute for Transportation and Development Policy]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-kaki]]></category>
		<category><![CDATA[Manggarai]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[spatial plan]]></category>
		<category><![CDATA[transportation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2089</guid>
		<description><![CDATA[Siapa warga Jakarta yang tak tahu Manggarai? Disitu ada Pasar Rumput, surga bagi pemburu bahan bekas, dan beken sebagai gudangnya saniter bekas. Bagi yang tinggal di daerah Bodetabek dan pengguna kereta api, pasti akrab dengan stasiunnya. Lalu di musim penghujan, kita warga Jakarta pun was-was dengan ketinggian di pintu air Manggarai, karena begitu pintu air [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2122" class="wp-caption aligncenter" style="width: 579px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_from-the-air.jpg"><img class="size-full wp-image-2122   " style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" title="Manggarai_from the air" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_from-the-air.jpg" alt="" width="569" height="445" /></a><p class="wp-caption-text">Semesta transportasi Manggarai. Foto dari Lantai 5, Pasaraya.</p></div>
<p>Siapa warga Jakarta yang tak tahu Manggarai? Disitu ada Pasar Rumput, surga bagi pemburu bahan bekas, dan beken sebagai gudangnya saniter bekas. Bagi yang tinggal di daerah Bodetabek dan pengguna kereta api, pasti akrab dengan stasiunnya. Lalu di musim penghujan, kita warga Jakarta pun was-was dengan ketinggian di pintu air Manggarai, karena begitu pintu air tersebut dibuka di saat ketinggian berbahaya, maka Istana Negara pun bisa tergenang.</p>
<p>Manggarai pun menjadi cermin tak bercela atas sabarnya warga kota ini dan semerawutnya infrastruktur kota. Bukti bahwa warga kota sangat toleran terhadap kota ini ada pada saat kita mulai turun Stasiun Manggarai, atau saat kita menggunakan Halte TransJakarta.</p>
<p>Tepat didepan Halte TransJakarta, ada Pasaraya Manggarai, namun pengunjung tidak bisa dengan mudah masuk kedalam pertokoan, karena harus melewati jalan raya tanpa jembatan penyeberangan, dan mengelilingi pagar sebelum akhirnya masuk ke pintu utama.</p>
<p>Dengan adanya Stasiun Manggarai dan Halte TransJakarta Manggarai (dan dahulu sempat ada Waterway), Manggarai adalah bagian kota yang diberkahi segala kemudahan transportasi. Tapi benarkah demikian? Esai foto berikut menggambarkan <em>urban hiking</em> dari halte TransJakarta ke Stasiun Manggarai: Februari 2010. Padahal, u<a href="http://rujak.org/2011/04/kaki-lima/">ndang-undang menjamin hak-hak pejalan kaki</a> (<strong>Editorial</strong>).</p>
<p>1. Selepas turun dari bus, pintu keluar mengarah ke Pasaraya Manggarai, sementara Stasiun Manggarai berada diarah sebaliknya. Maka kita harus memutari halte, berjalan di tepian jalan &#8211; berhadapan langsung dengan kendaraan yang lalu lalang.<a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai-Halte-busway.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2107" title="Manggarai Halte busway" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai-Halte-busway.jpg" alt="" width="545" height="310" /></a></p>
<p>2. Setelah berhasil memutari maka masuklah kedalam terowongan, hati-hati karena jalur tersebut tak rata dan sempit.</p>
<div id="attachment_2116" class="wp-caption aligncenter" style="width: 558px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_terowongan.jpg"><img class="size-full wp-image-2116  " title="Manggarai_terowongan" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_terowongan.jpg" alt="" width="548" height="404" /></a><p class="wp-caption-text">Melewati terowongan. Di atasnya: rel kereta api.</p></div>
<p>3. Sebelum sampai ke ujung seberangilah jalan tersebut, dan akan berjumpa dengan ini</p>
<div id="attachment_2112" class="wp-caption aligncenter" style="width: 534px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_Taman.jpeg"><img class="size-full wp-image-2112 " title="Manggarai_Taman" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_Taman.jpeg" alt="" width="524" height="398" /></a><p class="wp-caption-text">Ada taman kecil dipagari</p></div>
<p>4. Lalu di sebelah selatan ada ini</p>
<div id="attachment_2108" class="wp-caption aligncenter" style="width: 558px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_memanjat.jpg"><img class="size-full wp-image-2108    " title="Manggarai_memanjat" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_memanjat.jpg" alt="" width="548" height="411" /></a><p class="wp-caption-text">Panjatlah tangga ini...</p></div>
<p>dan hati-hati ketika naik &#8216;tangga&#8217;.</p>
<div id="attachment_2114" class="wp-caption aligncenter" style="width: 528px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_memanjat2.jpg"><img class="size-full wp-image-2114  " title="Manggarai_memanjat2" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_memanjat2.jpg" alt="" width="518" height="419" /></a><p class="wp-caption-text">Hati-hati dengan pegangan...ada paku!</p></div>
<p>5. Setelah menaiki tangga batu, masih ada lagi yang satu ini.</p>
<div id="attachment_2096" class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00119-20100204-1031.jpg"><img class="size-full wp-image-2096 " title="Manggarai 06" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00119-20100204-1031.jpg" alt="" width="512" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">hati-hati saat menuruni tangga</p></div>
<p>6.  Lalu jangan lupa untuk membayar Rp 1000 kepada bapak berbaju putih</p>
<div id="attachment_2098" class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00121-20100204-1031.jpg"><img class="size-full wp-image-2098 " title="Manggarai 07" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00121-20100204-1031.jpg" alt="" width="512" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">Bayar 1000 untuk jasa penempatan tangga-tangga</p></div>
<p>7. Dan anda akan langsung bertemu dengan rel-rel Stasiun Manggarai, silakan ikuti rel untuk menuju Stasiun Manggarai. Tidak dianjurkan bagi pengguna sepatu hak. Stasiun Manggarai ada disebelah kanan.</p>
<div id="attachment_2118" class="wp-caption aligncenter" style="width: 564px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_Menyeberang-Rel.jpg"><img class="size-full wp-image-2118  " title="Manggarai_Menyeberang Rel" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_Menyeberang-Rel.jpg" alt="" width="554" height="360" /></a><p class="wp-caption-text">Melintasi rel: hati-hati, tengok kiri-kanan dulu.</p></div>
<p>Setelah sampai di platform, ada tangga lagi menuju platform stasiun, dan ini adalah bagian belakang stasiun. Sehingga ada kemungkinan untuk naik kereta tanpa membeli karcis lagi.</p>
<p>Sesuatu yang seharusnya mudah, dibuat sulit di Manggarai. Antara Stasiun Manggarai dan Halte TransJakarta ternyata saling bertolak belakang, dan keduanya berada dalam ketinggian berbeda. Hal itu mungkin kesannya sepele, tapi menjadi masalah besar bagi keberhasilan transportasi umum di Jakarta.</p>
<p>Selepas Stasiun Manggarai, maka ada opsi lain jika sungkan melewati tangga, bisa juga menaiki rakit penyeberangan yang dioperasikan warga kampung Menteng Jaya.</p>
<p>8. Hati-hati menuruni tepian kali Ciliwung</p>
<div id="attachment_2101" class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00125-20100204-1055.jpg"><img class="size-full wp-image-2101 " title="Manggarai 09" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00125-20100204-1055.jpg" alt="" width="512" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">naik rakit untuk kembali ke halte TransJakarta</p></div>
<p>Ruwetnya Manggarai ini ternyata tidak mampu mehalangi ambisi Pemprov Jakarta. Di awal tahun 2010 ini, pemerintah bahkan menetapkan Manggarai sebagai <a href="http://www.antaranews.com/berita/1264166240/manggarai-jakarta-disiapkan-jadi-stasiun-utama-komuter" target="_blank">stasiun utama komuter</a>, bahkan saat Rujak berkunjung, pintu platform otomatis tengah dipersiapkan. Mari kita tunggu, bagaimana langkah pemprov demi mewujudkan impian tersebut. Minimal impian tersebut seyogyanya mampu membuat para pelaju (komuter) untuk mempu berjalan kaki selayaknya manusia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/04/susah-payah-di-manggarai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Survei Penggunaan Kantong Kresek</title>
		<link>http://rujak.org/2011/01/survei-penggunaan-kantong-kresek/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/01/survei-penggunaan-kantong-kresek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Jan 2011 06:21:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rujak Answers]]></category>
		<category><![CDATA[inisiatif warga]]></category>
		<category><![CDATA[plastic bag]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2663</guid>
		<description><![CDATA[Pernah gak memerhatikan bahwa hampir setiap orang yang kita temui di jalan menjinjing kantong kresek? Pernah gak mencoba menghitung berapa banyak kantong kresek yang keluar dari sebuah swalayan tiap jamnya, terutama di akhir pekan? Tak bisa dipungkiri, saat ini kantong kresek merupakan barang yang sangat populer digunakan oleh warga di seluruh dunia. Bisa dikatakan lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div><a name="674521039995808234"></a></p>
<p>Pernah <em>gak</em> memerhatikan bahwa hampir setiap orang yang kita temui di jalan menjinjing kantong kresek? Pernah <em>gak</em> mencoba menghitung berapa banyak kantong kresek yang keluar dari sebuah swalayan tiap jamnya, terutama di akhir pekan?</p>
<p>Tak bisa dipungkiri, saat ini kantong kresek merupakan barang yang sangat populer digunakan oleh warga di seluruh dunia. Bisa dikatakan lebih populer dari ponsel atau gadget-gadget yang marak dipromosikan di berbagai media.</p>
<p>Di Indonesia sendiri maraknya penggunaan kantong kresek didukung oleh kehadiran supermarket di era tahun 1980-an. Sejak saat itu perlahan-lahan penggunaan tas/ keranjang belanja mulai ditinggalkan, diganti dengan kantong kresek. Tak hanya di kota besar, tapi juga hingga ke desa-desa atau pulau-pulau terpencil.</p>
<div>
<p>Untuk mengetahui berbagai hal terkait dengan penggunaan kantong kresek, maka sekelompok warga di beberapa kota di Indonesia berupaya mengembangkan sebuah survei.</p>
<p><strong>Tujuan survei</strong> antara lain untuk:</p>
</div>
</div>
<div>
<ul>
<li>Mengidentifikasi pola penggunaan kantong kresek oleh konsumen di beberapa kota besar di Indonesia</li>
<li>Menggali sumber utama yang membagikan kantong kresek kepada konsumen</li>
<li>Mengidentifikasi kesediaan konsumen &amp; penjual untuk mengurangi kantong kresek</li>
</ul>
<p>Besar harapan kami warga di kota-kota besar, seperti Jabodetabek, Bandung, Yogya, Surabaya &amp; Denpasar, bersedia menjadi responden survei, serta turut menyebarluaskan survei ke jejaringnya.</p>
<p>Untuk mengisi survei, silakan berkunjung ke: <strong>surveykresek.blogspot.com</strong></p>
</div>
</div>
<div>Adapun hari terakhir pengisian survei tanggal <strong>14 Januari 2011.</strong> Hasil survei nantinya akan kami publikasikan.</div>
<div>Untuk informasi lebih lanjut, sila kirim surel ke: <strong>surveykresek@gmail.com </strong></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/01/survei-penggunaan-kantong-kresek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Sampah Berbasis Komunitas di Pondok Indah</title>
		<link>http://rujak.org/2010/06/manajemen-sampah-berbasis-komunitas-di-pondok-indah/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/06/manajemen-sampah-berbasis-komunitas-di-pondok-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 01:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agents for Change]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Hijau Pondok Indah]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Peta Hijau]]></category>
		<category><![CDATA[inisiatif warga]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1918</guid>
		<description><![CDATA[Teks oleh Ricky Lestari. Foto oleh Rujak. Usai peluncuran “Peta Hijau Pondok Indah 2010” yang dibarengi  acara Green Exhibition &#38; Green Fair di Pondok Indah  yang diselenggarakan oleh Komunitas Hijau Pondok Indah (KHPI) pada bulan Maret 2010 lalu, kembali KHPI memulai aktivitas hijaunya yang memang mutlak menjadi agenda program, yaitu salah satunya adalah Program Pendidikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2002" class="wp-caption aligncenter" style="width: 420px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Penggerak-KHPI.jpg"><img class="size-full wp-image-2002 " title="Penggerak KHPI" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Penggerak-KHPI.jpg" alt="" width="410" height="277" /></a><p class="wp-caption-text">Para Penggerak Komunitas Hijau Pondok Indah (KHPI) bersama Kimberly Meyer, Direktur MAK Center for Art and Architecture, Los Angeles</p></div>
<p><strong>Teks oleh Ricky Lestari</strong>. Foto oleh Rujak.</p>
<p>Usai peluncuran “Peta Hijau Pondok Indah 2010” yang dibarengi  acara <em>Green Exhibition &amp; Green Fair</em> di Pondok Indah  yang diselenggarakan oleh Komunitas Hijau Pondok Indah (KHPI) pada bulan Maret 2010 lalu, kembali KHPI memulai aktivitas hijaunya yang memang mutlak menjadi agenda program, yaitu salah satunya adalah Program Pendidikan Lingkungan (bagi warga PI) yang sepakat disebut “<em>Eco Neighborhood</em>”. Program yang dimaksud adalah program Pemilahan sampah yang idealnya akan diterapkan ke seluruh lingkungan perumahan Pondok Indah, secara bertahap.</p>
<p>Karena kawasan ini sangat spesifik, unik dan perlu pola pendekatan yang berbeda dengan berbagai karakteristik yang mungkin agak sedikit berbeda  dibandingkan di beberapa kawasan lainnya.</p>
<p>Untuk mewujudkan program ini, KHPI mengajak Greeneration (Bandung) untuk bekerjasama membuat program yang terbaik yang bisa diterapkan di Pondok Indah. Dan didalam penerapannya KHPI akan melakukan secara langsung onsite di lapangan bersama dengan warga (PI).</p>
<p>Greeneration adalah kelompok <em>social enterpreneurship</em> yang bergerak khusus di bidang lingkungan.</p>
<p>Greeneration merupakan salah satu peserta yang ikut berpartisipasi dalam acara <em>Green Exhibition</em> dan <em>Green Fair</em> pada bulan Maret lalu. Kesamaan visi dalam program ini yang membuat KHPI berinisiatif  menjalin kerjasama dengan mereka.</p>
<p>Dalam kenyataan sehari-hari masalah sampah memang masih menjadi masalah utama, khususnya di kawasan PI dan  sangat dibutuhkan kesadaran perilaku dari para individunya.</p>
<p>Management sampah adalah persoalan sosial, dan merupakan bagian dari gaya hidup hijau (<em>green</em> <em>lifestyle</em>). Mengelola sampah dapat menjadi bagian dari <em>green lifestyle.</em></p>
<p>Partisipasi dan peran serta masyarakat merupakan syarat mutlak dan sebagai langkah awal dalam mewujudkan program ini.</p>
<p>Pada hari ini, 25 April 2010 KHPI memulai program ini dengan mengadakan pertemuan dengan para ketua RW Pondok Indah di salah satu resto  di kawasan Pondok Indah Plaza I. Sayangnya, hanya satu Ketua RW yang hadir karena beberapa ketua lainnya berhalangan hadir. Sosialisasi tetap berjalan dengan baik, dan KHPI banyak mendapatkan masukan dari Bapak Ketua RW ( Bapak Ir. Indra Roespandji/ Ketua RW 013) yang memang menjadi  aspek-aspek permasalahan sampah yang ada di sebagian kawasan Pondok Indah.</p>
<p>Masih banyak dibutuhkan berbagai masukan, aspirasi dan <em>feed back</em> dari masyarakat  untuk dapat menentukan formula program yang terbaik yang bisa diterapkan di kawasan ini.</p>
<p>KHPI masih banyak memerlukan lagi masukan dari masyarakat melalui para ketua-ketua RT dan RW di Pondok Indah, dan oleh karena itu masih banyak hal yg harus dipersiapkan  dan berencana untuk bersosialisasi kembali dengan seluruh ketua RW di Pondok Indah.</p>
<p>Pertemuan ini sangat penting, karena  izin RW merupakan syarat mutlak bagi kelancaran program ini.</p>
<p>Saat ini KHPI sudah semakin berkembang dengan semakin bertambahnya anggota muda baru warga Pondok Indah yang sangat tertarik dengan program-program KHPI. Idea-idea briliant yang bersifat spontanitas sangat disambut baik KHPI dan menjadi agenda tambahan dalam mensukseskan program KHPI  lainnya, seperti program Revitalisasi Ruang-ruang terbuka Hijau  <em>based on</em> aspirasi warga, membuat <em>bike lane</em>, <em>pedestrian walk</em>, mendorong pihak management mal (Pondok Indah Mal) utk segera mewujudkan program <em>bike parking</em> (parkir sepeda) yang memang rencananya tahun ini akan segera direalisasikan, serta masih banyak berderet program-program hijau lainnya yang masih menunggu untuk segera diwujudkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/06/manajemen-sampah-berbasis-komunitas-di-pondok-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balai Warga and Kebun Wisata Tanaman Obat</title>
		<link>http://rujak.org/2010/05/balai-warga-and-kebun-wisata-tanaman-obat/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/05/balai-warga-and-kebun-wisata-tanaman-obat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 06:15:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Agriculture]]></category>
		<category><![CDATA[collaboration]]></category>
		<category><![CDATA[inisiatif warga]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[organic farming]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[sustainability]]></category>
		<category><![CDATA[taman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1992</guid>
		<description><![CDATA[Text and Pictures by Anggriani Arifin. Fostering a communal sense of home amongst Community of RW 09, Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta Timur:  What was the background of the initiative? It begins when the community of RW 09, Kelurahan Pondok Kelapa felt the demand to have a secretariat’s office for daily administrative matters. Having located in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1993" title="Anggie1" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie1.jpg" alt="" width="259" height="181" /></a></p>
<p>Text and Pictures by Anggriani Arifin.</p>
<p><strong>Fostering a communal sense of home amongst Community of RW 09, Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta Timur:  <em>What was the background of the initiative?</em></strong></p>
<p>It begins when the community of RW 09, Kelurahan Pondok Kelapa felt the demand to have a secretariat’s office for daily administrative matters. Having located in a state-owned housing complex, the neighbourhood was in luck as there was a vacant land that was already allocated for social facility. With an area of over 500 square meters, the previous idea took a turn and elaborated into having a multi-function assembly hall. A series of lobbying process took place and finally the PD. Sarana Jaya approved the proposal with construction stage kick-started in 2003.</p>
<p><strong><em>When Balai Warga comes into place&#8230; </em></strong></p>
<p>The hall evoked community’s enthusiasms and became the manifestation of the RW officials’ humble intention, which is to ensure that every resident has a genuine sense of ownership toward their neighbourhood with a commonly-used public place. The effort to create a functioning public place was reflected in the name the community reffered to the assembly hall, which is “Balai Warga” in the hoped that in the truest sense belongs to every residents of the neighbourhood. The place could be utilize not only for community meetings, but the place was also open to be reserved for badminton games, weddings, private function, Karang Taruna and PKK agenda and any other social activities.</p>
<p>In light of such spirit, every phase in the construction process was self-organized and self-funded by the community. The building was 371 square meters, well-designed and facing the neighbourhood’s basketball field. The initiative had invited a relatively large attention and able to gain supports from the  local government. In 2007, Balai Warga had reached its final completion and the community of RW 09 began to enjoy the presence of a representable, comfortable and usable social facility  that is at the same time, informative on the neighbourhood’s activity.</p>
<p><strong><em>Making neighborhood a home&#8230; </em></strong></p>
<p>Balai Warga’s construction had fueled RW officials’ motivation to continue making betterment to the neighborhood.</p>
<p><em>Community-based Solid-Waste Management and Biopori Holes.</em><strong> </strong> In 2005, the buzz of community-based solid waste management reached the area, a site visit to pioneering Kelurahan Rawajati, South Jakarta was made. To make the neighbourhood environmentally-conscious by managing their solid waste was in response to the area’s vulnerability to flood and the lacking capacity of the surrounded transit disposal sites. The idea was very simple. Residents separate the waste, following the well-known organic, non-organic and toxic waste typology although for practicality, the residents were only expected to separate based on waste that was compost-material, recyclable to be given to scavengers and kinds that could not be utilize for either purpose, should be put in the waste residue category.  The seemingly easy task has proven to be quite difficult to be followed by the residents. Up to now, only a minority group in RW 09 who separated their waste. A short-term solution was proposed. The waste would be separated in a solid management post near the Balai Warga, cooperating with surrounding scavengers who were hired as staff. Although behavior changes was still encouraged, but the method had kept the composting production on-going and motivates the community to start separating waste.</p>
<p>For the composting process, the community of RW 09 opted for a simple method after a series of consultation and visit, The process of turning the organic waste into compost take within a 6-7 week period, with phases comprising of waste separation, aging, turning, sprinkling, and riping. The high points of this method is that it does not require incenerator, without using bio activator, does not produce odour and does not invite flies. Using this method, the compost production can now reach up to 200 bags per week, with selling price of Rp. 3000,- per bag.</p>
<p>In addition to the initiative, the RW officials also utilized biopori methods to reduce waste production and reducing flood risk (the neighbourhood occasionally suffered from flood risk, although a river embankment and dredging initiative of nearby Jati Kramat river in 2007-2008 had significantly overcome the threat). Up to 300 biopori holes were made around parks and main roads in the neighbourhood.</p>
<p><em>Kebun Wisata Tanaman Obat  (Agritourism Herbal Garden)</em><em> and Green Spaces.</em><strong> </strong>The idea was to create an icon for the community that they can be proud of and would like to take part in its success. Located next to Balai Warga, the herbal garden was open for site visits, an information centre on herbs, its benefits and usage, increase awareness on natural health remedies, and as a functioning green space which can be enjoyed by the community. <strong></strong></p>
<p>The garden was built on a 5000 square metre land, and was self funded by the residents. It possessed up to ninety (90) types of herbal plants that was grown there. This effort was assisted by the ASPETRI (associaton of traditional herbs producers of Indonesia). A bamboo-made saung was also constructed with the idea that the residents can reserve the place for lunch, meetings or simply to have family moments overlooking the gardens and the balai warga. The overall idea was to ensure that the garden could really be utilized by the community.</p>
<p>To further creating livability, community were encouraged to have green plants in front of their home and on almost every streets within the neighbourhood. To add tidiness, the trotoirs were repainted and pots of plants were also put on the main streets, as well as making green spaces in idle lands.</p>
<p><strong><em>Creating  Livability </em></strong></p>
<p>The message that was continuously buzzed in the neighbourhood management is that a clean is the key to a healthy and comfortable living environment, in which community’s participation in maintaining the condition is pivotal. To keep the neighbourhood alive, community activities were highly encouraged, with routines like RW siaga (to combat dengue fever), <em>kerja bakti</em> (voluntary community work), independence day’s events trail, aerobics, and others, as well as incidentals such as Kampung Anti Narkoba (anti-drugs kampung) movement by building Anti-Narkoba posts accross the area. A monthly newsletter, <em>Warta 09¸</em> were also circulated to keep every resident informed and acknowledged as part of the community.</p>
<p>Initiatives like one that RW 09 have, certainly would not take place without the work of a rigorous and dedicated RW officials as well as a supportive community. However, it would also never take place if there was no intention to nurture partnership amongst residents and the Rukun Warga (RW) official in making the neighbourhood becomes a home, instead of mere space, to be shared together. The community of RW 09, as well as many communities in DKI Jakarta, had proven that this simple intention is enough to ignite significant changes in any neighborhood.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1995" title="Anggie3" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie3.jpg" alt="" width="174" height="131" /></a><br />
<a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1994" title="Anggie2" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie2.jpg" alt="" width="168" height="126" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/05/balai-warga-and-kebun-wisata-tanaman-obat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilema sampah: daur ulang versus konsumsi</title>
		<link>http://rujak.org/2010/05/dilema-sampah-daur-ulang-versus-konsumsi/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/05/dilema-sampah-daur-ulang-versus-konsumsi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 15:47:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Rujak Answers]]></category>
		<category><![CDATA[inisiatif warga]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[sustainability]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1952</guid>
		<description><![CDATA[Apakah sebuah kota perlu mengalami tragedi pahit sebelum mengalami perubahan drastis? Setidaknya itulah yang dialami oleh Minamata, sebuah kota pantai di Jepang Selatan. Minamata menjadi pusat perhatian ketika untuk pertama kalinya sindrom keracunan merkuri ditemukan secara masif dalam seluruh mata rantai makanan. Kota tersebut menjadi terkenal karena penderitaannya.  Perlu waktu berpuluh-puluh tahun untuk memulihkan tatanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah sebuah kota perlu mengalami tragedi pahit sebelum mengalami perubahan drastis? Setidaknya itulah yang dialami oleh Minamata, sebuah kota pantai di Jepang Selatan. Minamata menjadi pusat perhatian ketika untuk pertama kalinya sindrom keracunan merkuri ditemukan secara masif dalam seluruh mata rantai makanan. Kota tersebut menjadi terkenal karena penderitaannya.  Perlu waktu berpuluh-puluh tahun untuk memulihkan tatanan sosial dan rehabilitasi kerusakan lingkungan yang terjadi. Kepahitan yang terjadi hampir 60 tahun yang lalu kini membawa Minamata menjadi terdepan dalam babak baru era ekologis ini.</p>
<p><span id="more-1952"></span></p>
<p>Sesudah melakukan reklamasi masif demi meremediaasi sungai, pantai dan laut serta hasil laut yang tercemar, mereka pun berhasil menurunkan mata rantai pencemaran merkuri. Dan dengan bangganya, hasil laut di Minamata memiliki kandungan merkuri terendah diseluruh kota Jepang. Namun tak berhenti sampai disitu, kesadaran lingkungan mereka pun tertanam pada masing-masing warga dan pemerintah lokal Minamata. Minamata menjadi terdepan dalam upaya pengelolaan dan daur ulang sampah. Keteguhan dan ketekunan warganya pun luar biasa, terutama dalam upaya memilah sampah. Jika kota-kota Indonesia masih mengalami kesulitan untuk memilah sampahnya menjadi 3, maka warga Minamata memilahnya menjadi 23 macam sampah. Dan pada hari-hari yang ditentukan, mereka bersama-sama datang ke pool lokal sambil membawa sampah, saling membantu dan gotong royong dalam pemilahan sampah.</p>
<div id="attachment_1953" class="wp-caption aligncenter" style="width: 624px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/IMG_2338.jpg"><img class="size-large wp-image-1953 " title="IMG_2338" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/IMG_2338-1024x681.jpg" alt="" width="614" height="409" /></a><p class="wp-caption-text">Hujan rintik tak menghalangi kegiatan pemilahan sampah komunitas di Minamata</p></div>
<p>Upaya tersebut tak hanya berhenti di masyarakat saja. Kalau warga Jakarta mungkin bertanya-tanya, apakah setelah sampah di Jakarta dipilah, bagaimana nasibnya di TPA? Jika di Minamata maka sampah-sampah tersebut mengalami pemilahan lagi, dari 23 macam sampah tersebut dipilah lagi hingga menjadi 78 macam sampah!</p>
<p>Tak ubahnya kota-kota juwara di Indonesia, maka Minamata pun menjadi tujuan studi banding bagi berbagai macam pengunjung, mulai dari pegawai pemerintah kota lain hingga anak-anak sekolah. Semuanya ingin melihat keberhasilan Minamata mengatasi polusi merkuri tersebut atau belajar pemilahan dan pengolahan sampah. Bahkan kini Minamata pun menerima pengolahan sampah dari kota-kota lain.</p>
<div id="attachment_1954" class="wp-caption aligncenter" style="width: 624px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/DSC00285.jpg"><img class="size-large wp-image-1954 " title="DSC00285" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/DSC00285-1024x576.jpg" alt="" width="614" height="346" /></a><p class="wp-caption-text">Sudut pengolahan sampah di TPA Minamata</p></div>
<p>Sektor bisnis pun juga mengeluarkan kebijakan yang sama. Salah satu hotel di Minamata bahkan menerapkan pemilahan sampah dalam kamar hotelnya. Tamu hotel diharapkan untuk memasukkan jenis sampah yang tepat kedalam 3 tong sampah didalam kamarnya. Supermarket berusaha &#8216;memaksa&#8217; para konsumennya untuk membawa kantungnya sendiri, dengan cara menghargai kantung plastik mereka sebesar 50 yen (kurang lebih 5000 rupiah).</p>
<p>Budaya pemilahan sampah sudah merupakan pemandangan biasa di kota-kota Jepang. Namun dari budaya dan keharusan pemilahan tersebut, ada kontradiksi menarik di kota-kota Jepang, yaitu budaya vending machine. Vending maching yang menjual berbagai macam produk instan, dari minuman kaleng, minuman plastik, minuman panas dingin, makanan kemasan, rokok, hingga nasi kepal/onigiri begitu mudah ditemukan di berbagai sudut kota. Bahkan di pulau tak berpenghuni, masih dapat ditemukan vending machine. Tak jarang dalam satu sudut terdapat tiga-empat vending machine sekaligus dari merek minuman kemasan yang berbeda. Bahkan pernah ada 10 mesin dalam 1 lokasi.</p>
<p>Entah itu karena tuntutan gaya hidup serba cepat dan efisien, keterbatasan dan mahalnya tempat hingga mahalnya biaya tenaga kerja, menyuburkan keberadaan vending machine. Jumlah vending machine di Jepang demikian besar, terbesar per kapita di dunia tepatnya, dengan 1 vending machine melayani 23 orang, sehingga jumlah vending machine di Jepang mencapai sekitar 5,6 juta mesin di tahun 1999.  Barang-barang yang dijual dalam 5.6 juta mesin tersebut kebanyakan berupa minuman kemasan, jadi sekiranya kita dapat berandai-andai ada berapa ratus juta kemasan terbuang.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Deretan vending machine di sudut kota" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5f/Vending_machines_at_night_in_Tokyo.jpg/800px-Vending_machines_at_night_in_Tokyo.jpg" alt="" width="640" height="480" /></p>
<p>Akhirnya isu terkini bukanlah bagaimana mendaur ulang sampah, tetapi bagaimana mengurangi konsumsi yang akhirnya mengurangi sampah. Jika kota-kota Jepang tidak mampu menekan konsumsi produk kemasan, maka masalah manajemen sampah tetap menghantui, berkejaran dengan teknologi pengolahan dan pemilahan sampah. Pada akhirnya, di Kyoto Ecological Center &#8211; sebuah pusat edukasi yang didirikan paska Kyoto COP 3 di tahun 1997 , pemandu disana berkata,&#8221; Sebetulnya fokusnya bukan bagaimana melakukan daur ulang, tetapi bagaimana mengurangi konsumsi dan sampah.&#8221;</p>
<p>Kesadaran untuk mengurangi konsumsi dan ketergantungan terhadap kemasan serta perangkat makan instan digalakkan juga oleh Yayasan Budha Tzu Chi, di Taiwan. Gerakan tersebut dengan cepat menular ke China dan Jepang, dan penerapannya pun dimulai dari sesuatu yang sederhana, yaitu dengan membawa sumpit pribadi kemanapun kita pergi. Gerakan tersebut terasa relevan dan mudah dilakukan, mengingat negara-negara tersebut menggunakan sumpit sebagai alat makan, dan disaat bersamaan sumpit sekali pakai merambah dimana-mana, dan menimbulkan permasalahan sampah.</p>
<p>Tentu kita tetap harus memulai melakukan budaya memilah dan daur ulang, namun upaya tersebut tak ada artinya jika tidak dibarengi dengan pola produksi dan distribusi, serta pola konsumsi kita sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/05/dilema-sampah-daur-ulang-versus-konsumsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Car-Free Day: Sudah Aja Deh</title>
		<link>http://rujak.org/2010/04/car-free-day-sudah-aja-deh/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/04/car-free-day-sudah-aja-deh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 06:21:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[arts & culture]]></category>
		<category><![CDATA[car-free day]]></category>
		<category><![CDATA[car-free night]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[transportation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1898</guid>
		<description><![CDATA[Car-free Day sudah mengubah Jalan Thamrin menjadi ruang sosial yang hiruk pikuk. Polusi udara mungkin memang berkurang, tetapi polusi suara dan sampah pasti bertambah. Dia juga makin padat pesan, yang tidak semuanya relevan dengan tujuan car-free day atau gagasan hijau umumnya. Berbagai komunitas dan produk sibuk menjual dirinya. Juga Gubernur dan pemerintahnya. Pesan, pesan. Teks, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1900" class="wp-caption aligncenter" style="width: 544px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_BunderanHI.jpg"><img class="size-full wp-image-1900 " title="25April2010_CFD_BunderanHI" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_BunderanHI.jpg" alt="" width="534" height="392" /></a><p class="wp-caption-text">Bunderan HI</p></div>
<p>Car-free Day sudah mengubah Jalan Thamrin menjadi ruang sosial yang hiruk pikuk. Polusi udara mungkin memang berkurang, tetapi polusi suara dan sampah pasti bertambah.</p>
<p>Dia juga makin padat pesan, yang tidak semuanya relevan dengan tujuan car-free day atau gagasan hijau umumnya.</p>
<p>Berbagai komunitas dan produk sibuk menjual dirinya. Juga Gubernur dan pemerintahnya. Pesan, pesan. Teks, teks. Identitas, identitas.</p>
<div id="attachment_1902" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_FotoPakKmuis.jpg"><img class="size-full wp-image-1902  " title="25April2010_CFD_FotoPakKmuis" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_FotoPakKmuis.jpg" alt="" width="576" height="432" /></a><p class="wp-caption-text">Banyak sekali gambar Gubernur dan Wakilnya di mana-mana</p></div>
<div id="attachment_1903" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_FotoKumis.jpg"><img class="size-full wp-image-1903  " title="25April2010_CFD_FotoKumis" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_FotoKumis.jpg" alt="" width="576" height="432" /></a><p class="wp-caption-text">Gambar Gubernur dan Wakil di setiap spanduk, berderet-deret</p></div>
<p>(Senang juga tadi disapa Gubernur yang sedang bersepeda dan ternyata mengenali saya)</p>
<div id="attachment_1905" class="wp-caption aligncenter" style="width: 501px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_Komunitas-Koki.jpg"><img class="size-full wp-image-1905 " title="25April2010_CFD_Komunitas Koki" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_Komunitas-Koki.jpg" alt="" width="491" height="389" /></a><p class="wp-caption-text">Komunitas Koki kah ini?</p></div>
<p>Keberhasilannya menciptakan ruang sosial merupakan hal tersendiri. Mungkin suatu <em>by-product</em>. Namun, mungkin memang berguna untuk penduduk Jakarta, yang nampaknya merindukan ruang ekspresi begini. Kedudukan Jalan Thamrin sebagai pusat kekayaan Jakarta (dan Indonesia) bagi sebagian besar <em>urban villagers</em> Jakarta nampak <em>surreal,</em> dan karena itu menjadi manis sekali ketika sekali-sekali bisa dikuasai oleh rakyat.</p>
<p>Bundaran HI pada tahun 1997-1998 juga menjelma menjadi ruang publik yang sungguh politik. Pada tahun 2001 transformasi itu berusaha distop, dengan mengubah permukaannya, yang bahkan pernah diberi tanda &#8216;Awas Listrik&#8221;. Kini mungkin transformasi berikut sedang berlangsung.</p>
<div id="attachment_1908" class="wp-caption aligncenter" style="width: 483px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_TwitterCommunity.jpg"><img class="size-full wp-image-1908 " title="25April2010_CFD_TwitterCommunity" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_TwitterCommunity.jpg" alt="" width="473" height="350" /></a><p class="wp-caption-text">Kmunitas Twitter. Gubernur mengajak warga menggunakan twitter bertukar informasi tentang Jakarta.</p></div>
<p>Asal sampah dan polusi suara tidak malah menjadi beban baru bagi suatu masyarakat urban yang memang sedang bingung dan setengah pesimis.</p>
<div id="attachment_1907" class="wp-caption aligncenter" style="width: 521px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_Sampah.jpg"><img class="size-full wp-image-1907 " title="25April2010_CFD_Sampah" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_Sampah.jpg" alt="" width="511" height="368" /></a><p class="wp-caption-text">Tolong, sampahnya....</p></div>
<p><strong>Bagaimana kalau dibikin car-free NIGHTS?</strong></p>
<div id="attachment_1909" class="wp-caption aligncenter" style="width: 521px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25Aprl2010_CFD_B2W.jpg"><img class="size-full wp-image-1909 " title="25Aprl2010_CFD_B2W" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25Aprl2010_CFD_B2W.jpg" alt="" width="511" height="406" /></a><p class="wp-caption-text">Kampanye Jalur Sepeda tenggelam deh...</p></div>
<div id="attachment_1911" class="wp-caption aligncenter" style="width: 530px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/Di-atas-selalu-indah.jpg"><img class="size-full wp-image-1911   " title="Di atas selalu indah" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/Di-atas-selalu-indah.jpg" alt="" width="520" height="275" /></a><p class="wp-caption-text">Langit biru di atas selalu indah. Sayang ada arsitektur mencakarnya</p></div>
<div id="attachment_1914" class="wp-caption aligncenter" style="width: 442px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010Langit.jpg"><img class="size-full wp-image-1914    " title="25April2010Langit" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010Langit.jpg" alt="" width="432" height="261" /></a><p class="wp-caption-text">Langit selalu indah. Tapi ada arsitektur menggapainya.</p></div>
<div id="attachment_1913" class="wp-caption aligncenter" style="width: 498px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_Jembatan.jpg"><img class="size-full wp-image-1913 " title="25April2010_CFD_Jembatan" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/04/25April2010_CFD_Jembatan.jpg" alt="" width="488" height="409" /></a><p class="wp-caption-text">Di antara langit dan jalan ada jembatan penyeberangan </p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/04/car-free-day-sudah-aja-deh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pioneering e-Invitation only: Vivi Yip Art Room</title>
		<link>http://rujak.org/2010/03/pioneering-e-invitation-only-vivi-yip-art-room/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/03/pioneering-e-invitation-only-vivi-yip-art-room/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 15:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[arts & culture]]></category>
		<category><![CDATA[kertas bekas]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1783</guid>
		<description><![CDATA[Is it possible to really be paper-less? Vivi Yip Art Room just took another step closer. No printed invitation now. Invitations are sent only via SMS, BBM and emails. In average Vivi Yip Art Room organises two exhibitions per month. For each, 250 printed invitations were sent before. That means 6,000 printed invitations per year. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/03/ViviYip.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1784" title="ViviYip" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/03/ViviYip.jpg" alt="" width="472" height="299" /></a></p>
<p>Is it possible to really be paper-less?</p>
<p>Vivi Yip Art Room just took another step closer. No printed invitation now. Invitations are sent only via SMS, BBM and emails.</p>
<p>In average Vivi Yip Art Room organises two exhibitions per month. For each, 250 printed invitations were sent before. That means 6,000 printed invitations per year. (Compare it to about 32,00o by the Jakarta Arts Council). Not now. The gallery is also rationalising exhibition cataloques, by making them thinner, in the forms of small brochure or leaflet.</p>
<p>It might be the first such an establishment to use only paperless invitations.</p>
<p>Check it out: http://viviyipartroom.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/03/pioneering-e-invitation-only-vivi-yip-art-room/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Managing Trash</title>
		<link>http://rujak.org/2010/02/managing-trash/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/02/managing-trash/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 12:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1655</guid>
		<description><![CDATA[Evening Lecture: Managing Trash By Yuyun Ismawati, winner of Goldman Prize for Environment, 2009. Date: Tue 02.03.2010 Time: from 07:30 to 08:30 Place Erasmus Huis, adjacent to the Dutch Embassy Web Site: http://www.heritagejkt.org Additional Information Managing Trash: “If the poor can do it, why can’t the rich?” Do you know where your personal and household [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Evening Lecture: Managing Trash</strong></p>
<p>By Yuyun Ismawati, winner of Goldman Prize for Environment, 2009.</p>
<p><em>Date:</em></p>
<p>Tue 02.03.2010</p>
<p><em>Time:</em></p>
<p>from 07:30 to 08:30</p>
<p><em>Place</em></p>
<p>Erasmus Huis, adjacent to the Dutch Embassy</p>
<p><em>Web Site:</em></p>
<p><a href="http://www.heritagejkt.org/">http://www.heritagejkt.org</a></p>
<p><strong>Additional Information</strong></p>
<p>Managing Trash: “If the poor can do it, why can’t the rich?”</p>
<p>Do you know where your personal and household wastes go?  Do you care?  For Yuyun Ismawati these are issues of utmost concern. In the poorer regions of Bali, Java and the outer islands, there is no equivalent to the 200 hectare Bekasi landfill that conveniently hides 6,000 tons of Jakarta waste every day &#8212; out of sight and out of smell. People in other areas of Indonesia have no alternative than to live with their waste. No option that is until a small group of passionate, determined and motivated people started to make a difference. Yuyun, the Director of the Balifokus foundation, will discuss how this work has impacted the living conditions of these people. She will take that often meaningless word “empowerment” and demonstrate how it can work at the grass-roots level.  She will introduce us to a local initiative which is sustainable because local people are directly involved in planning and paying for the project.  From her experiences and disappointments, she will discuss how understanding, coordination, and prior planning with municipal officials, NGOs, community leaders, and kampong dwellers can improve the chance of success of a project.   Why can’t projects like this be done in Jakarta? Yuyun will tell us why and offer encouragement.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/02/managing-trash/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aksi Bersih Sampah Suaka Margasatwa Muara Angke, 7 Februari 2010</title>
		<link>http://rujak.org/2010/02/aksi-bersih-sampah-suaka-margasatwa-muara-angke-7-februari-2010/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/02/aksi-bersih-sampah-suaka-margasatwa-muara-angke-7-februari-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 00:59:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Green Monster]]></category>
		<category><![CDATA[inisiatif warga]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[plastic bag]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1560</guid>
		<description><![CDATA[Dear Monsters, Selamat Hari Lahan Basah Sedunia, 2 Februari 2010 &#8220;Caring for Wetlands, an Answer to Climate Change&#8221; Dalam rangka menyambut Hari Lahan Basah Sedunia, Jakarta Green Monster kembali mengadakan acara Bersih Sampah Angke Mari-mari gulung lengan bajumu untuk membersihkan sampah bersama Jakarta Green Monster dan masyarakat lainnya,,, Minggu, 7 Februari 2010 Lokasi: Suaka Margasatwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Monsters,<br />
Selamat Hari Lahan Basah Sedunia, 2 Februari 2010<br />
&#8220;Caring for Wetlands, an Answer to Climate Change&#8221;</p>
<p>Dalam rangka menyambut Hari Lahan Basah Sedunia, Jakarta Green Monster kembali mengadakan acara Bersih Sampah Angke</p>
<p>Mari-mari gulung lengan bajumu untuk membersihkan sampah bersama<br />
Jakarta Green Monster dan masyarakat lainnya,,,</p>
<p>Minggu, 7 Februari 2010<br />
Lokasi: Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA)<br />
pukul 08.00 – 12.00 WIB.</p>
<p>Apa saja yang harus dibawa??<br />
1. Pakaian ganti<br />
2. Botol Minuman (Panitia hanya menyediakan air minum isi ulang)<br />
3. Sepatu/sepatu boot)<br />
4. Makanan ringan</p>
<p>Untuk informasi dan pendaftaran peserta, hubungi:<br />
Yulia Es Campur : 081314366870<br />
Hendra &#8216;Kobe&#8217; Aquan : 08157988053<br />
Putri Ayusha : 085648177747</p>
<p>salam,<br />
Putri Ayusha</p>
<p>Mengapa bersih sampah?</p>
<p>sampah-sampah yang mengalir masuk ke SMMA bisa menutupi akar mangroove<br />
dan menyebabkan pohon2 tersebut mati,,,<br />
SMMA merupakan rumah bagi 7 spesies mangroove, 91 spesies burung<br />
seperti Bangau Bluwok, Kareo Padi, Pecuk Ular Asia, dsb, serta monyet<br />
ekor panjang, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kawasan ini juga menjadi tempat perlindungan bagi burung Bubut Jawa<br />
(Centropus nigroforus) yang merupakan burung endemik Pulau Jawa. Saat<br />
ini bubut Jawa berjumlah tidak lebih dari 10 ekor.</p>
<p>Jakarta yang merupakan hutan beton ternyata masih memiliki lahan basah<br />
yang dihuni oleh berbagai jenis burung,,,tanpa lahan basah ini Jakarta<br />
bisa lebih kebanjiran dan tenggelam air pasang</p>
<p>kosongkan jadwal mari-mari selamatkan lahan basah tersisa di Jakarta<br />
dari tumpukan sampah</p>
<p>Bagaimana Menuju Suaka Margasatwa Muara Angke?</p>
<p>Menggunakan Kendaraan Umum</p>
<p>1. Busway<br />
Naik busway Harmoni &#8211; Kalideres, turun di Halte Jelambar (samping<br />
Citraland). Cari angkot berwarna merah nomer B 01 jurusan Grogol -<br />
Angke. Turun di pintu gerbang Pantai Indah Kapuk. tepat di ujung Jl.<br />
Muara Karang, ditandai dengan Pizza Hut dan apartemen. Jalan kaki<br />
masuk ke Pantai Indah Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50<br />
meter dari gerbang, di sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa<br />
Muara Angke. Ikuti jalan setapak di seberang kompleks ruko Meditarania<br />
Niaga, pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke sekitar 300 meter dari<br />
jembatan.</p>
<p>2. Bus dari Terminal Grogol<br />
Naik kendaraan apa saja yang berhenti di Terminal Grogol. Cari angkot<br />
berwarna merah nomer B 01 jurusan Grogol &#8211; Angke. Turun di pintu<br />
gerbang Pantai Indah Kapuk. tepat di ujung Jl. Muara Karang, ditandai<br />
dengan Pizza Hut dan apartemen. Jalan kaki masuk ke Pantai Indah<br />
Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter dari gerbang, di<br />
sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Ikuti jalan<br />
setapak di seberang kompleks ruko Meditarania Niaga, pintu masuk Suaka<br />
Margasatwa Muara Angke sekitar 300 meter dari jembatan.</p>
<p>3. Bus dari Terminal Blok M<br />
Naik bus Steady Safe Non AC No 37 Jurusan BLOK M &#8211; Muara Angke,<br />
ongkosnya cukup Rp. 2000. Bus ini umumnya gak sampai Muara Angke<br />
(sesuai info dari keneknya), tapi cuman sampai Megamall Pluit.<br />
Dari Megamall Pluit dilanjutkan naik angkot dua kali, nomornya 11<br />
warna merah, dengan ongkos Rp. 2000 turun di Jl Mandara. Dari situ<br />
naik lagi angkot warna merah yang melewati kawasan Pantai Indah Kapuk<br />
dengan ongkos Rp. 1000 turun di depan ruko Mediterania yang langsung<br />
berseberangan dengan pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.</p>
<p>Menggunakan Kendaraan Pribadi Roda Empat atau Lebih</p>
<p>1. Melalui Tol Dalam Kota<br />
Ambil pintu keluar Pluit. Ikuti jalan melintasi Mega Mall Pluit. Lurus<br />
hingga masuk Jl. Muara Karang yang ditandai dengan perempatan dengan<br />
jembatan. Ikuti terus sampai ujung Jl. Muara Karang, ditandai dengan<br />
Pizza Hut dan apartemen. Belok ke kiri, masuk ke Pantai Indah Kapuk,<br />
setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter dari gerbang, di<br />
sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Anda bisa<br />
parkir di kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di seberang pintu<br />
masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.</p>
<p>2. Melalui Tol Bandara<br />
Ambil pintu keluar Pantai Indah Kapuk. Masuk dalam kompleks Pantai<br />
Indah Kapuk. Ikuti jalan yang menuju Mediterania. Anda bisa parkir di<br />
kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di seberang pintu masuk Suaka<br />
Margasatwa Muara Angke.</p>
<p>Menggunakan Motor atau Sepeda<br />
Dari arah Grogol, masuk ke Jl. Jembatan Tiga, ikuti hingga Jl.<br />
Jembatan Lima. Ikuti terus jalan utama sampai melewati Mega Mall<br />
Pluit. Lurus hingga masuk Jl. Muara Karang yang ditandai dengan<br />
perempatan dengan jembatan. Ikuti terus sampai ujung Jl. Muara Karang,<br />
ditandai dengan Pizza Hut dan apartemen. Belok ke kiri, masuk ke<br />
Pantai Indah Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter<br />
dari gerbang, di sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara<br />
Angke. Anda bisa parkir di kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di<br />
seberang pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.</p>
<p>Catatan:<br />
Warga sekitar Suaka Margasatwa Muara Angke mengenalnya dengan nama<br />
Cagar Alam. Jadi, jika Anda hendak bertanya, tanyakan di mana lokasi<br />
cagar alam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/02/aksi-bersih-sampah-suaka-margasatwa-muara-angke-7-februari-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

