Posts Tagged ‘sayembara’


27 Nov 2012

556 Mahasiswa Berkompetisi untuk 24 Tiket ke Jepang

Ditulis oleh: Purwoko Adhi Nugroho

The Japan Foundation, Jakarta, yang bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), telah menutup penerimaan proposal peserta“Youth Competition for Disaster Education”  pada tanggal 31 Oktober 2012.  Penerimaan dimulai pada tanggal 27 September 2012. Kompetisi ini untuk mahasiswa aktif program diploma, sarjana, dan pasca-sarjana Indonesia, dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan dan ketahanan terhadap bencana.

Jumlah total peserta adalah 139 tim dari 25 kota di seluruh Indonesia. Setiap tim terdiri dari 4 anggota. Jadi total peserta adalah 556 orang.

 

No

Kota/Kabupaten

Jumlah Pendaftar

1

Yogyakarta

47

2

Bandung

16

3

Surabaya

12

4

Depok

9

5

Padang

7

6

Bogor

5

7

Purwokerto

5

8

Jakarta

4

9

Makassar

4

10

Surakarta

4

11

Tangerang

4

12

Banda Aceh

3

13

Malang

3

14

Semarang

3

15

Sleman

3

16

Banjarnegara

1

17

Banyumas

1

18

Garut

1

19

Denpasar

1

20

Kudus

1

21

Lhokseumawe

1

22

Palembang

1

23

Palu

1

24

Sumedang

1

25

Tarakan

1

26

Singapore

1

 

Terdapat 47 tim atau 188 orang dari Jogjakarta. Ini jumlah ini sangat menyolok apabila dibandingkan dengan peserta dari JABODETABEK. Hanya terdapat empat tim dari Jakarta, lima dari Bogor, sembilan dari Depok, dan empat dari Tangerang.

Staff The Japan Foundation Jakarta sedang memeriksa tumpukan proposal

[Sekilas Mengenai Program]

Program “Youth Competition for Disaster Education” diadakan sejalan dengan kenyataan yang dialami oleh baik Indonesia maupun Jepang. Kedua negara memiliki karakteristik kebencanaan yang sama. Kedua negara juga berbagi kewaspadaan yang sama akan arti penting pendidikan kebencanaan untuk menciptakan masyarakat yang tahan terhadap bencana. Setelah gempa bumi dan tsunami di area Tohoku, Jepang pada tanggal 11 Maret 2011 (the Great East Japan Earthquake), orang menyadari bahwa terdapat nilai dan pengetahuan penting yang dapat dipelajari dari sebuah situasi krisis, yang dapat digunakan untuk persiapan menghadapi bencana yang mungkin terjadi di masa akan datang.

 

Generasi muda diyakini sebagai agen perubahan yang memiliki peranan sangat penting. Di Indonesia kewaspadaan dan keikutsertaan generasi muda di dalam berbagai bidang mengalami peningkatan, termasuk kegiatan yang terkait dengan bencana. Melihat adanya semangat dan momentum ini lah The Japan Foundation, Jakarta dan LIPI mendukung dan membantu partisipasi proaktif dari generasi muda di dalam proses rekonstruksi pasca bencana dan di dalam pendidikan kebencanaan. Melalui kompetisi ini, diharapkan bahwa generasi muda akan dapat memimpin gerakan kewaspadaan dan pendidikan di setiap level komunitas dan lingkungan sosial. Tidak hanya itu, mereka juga diharapkan melalui kompetisi ini maupun program-program lanjutan dapat mempertahankan dan memperkuat hubungan persahabatan antara generasi muda di kedua negara, Indonesia dan Jepang, terutama di dalam proses rekonstruksi bencana dan di dalam ketahanan bencana. Enam tim atau 24 orang akan mendapatkan kesempatan pergi ke Jepang selama sepuluh hari. Mereka akan mengunjungi daerah-daerah yang terkena bencana dan melakukan kegiatan kesukarelawanan, dan sekaligus merasakan kehidupan sehari-hari di Jepang.

 

[Proses Seleksi]

Pengumuman hasil penyaringan putaran awal seleksi telah dilakukan melalui www.jpf.or.id. Para peserta yang lulus seleksi tahap pertama ini kini mempersiapkan presentasi kelompok mengenai program-program yang telah mereka lakukan dan ide-ide serta rencana mereka mengenai program-program di masa akan datang. Mereka juga akan menjelaskan harapan mereka tentang bagaimana pengalaman yang akan mereka alami di Jepang dapat bermanfaat dalam membentuk program yang mereka rencanakan. Tahap kedua seleksi akan diadakan pada tanggal 5 Desember 2012 di Conference Hall The Japan Foundation, Jakarta, Summitmas 1, lantai 2, Jl. Jend. Sudirman Kav. 61-62, Jakarta 12150. Para peserta akan menyampaikan materi yang telah dipersiapkan sebelumnya di hadapan dewan juri dan publik. Proses ini dilangsungkan terbuka untuk umum dan gratis.

 

139 tim atau 556 individual yang terlibat di dalam kompetisi ini merupakan angka yang mengejutkan, hal ini menunjukkan bahwa dari bentangan nusantara Indonesia, kesadaran terhadap bencana dari generasi muda sangat tinggi. Hal ini merupakan hal yang positif, mengingat bahwa para pendaftar adalah mereka yang telah memiliki pengalaman dan memiliki keinginan yang kuat untuk belajar dan lebih berkembang lagi dengan berpartisipasi di dalam program ini.

 

Informasi rinci mengenai program dan seleksi ronde kedua pada tanggal 5 Desember akan diumumkan melalui jaringan sosial media The Japan Foundation, Jakarta.

Website: www.jpf.or.id

Twitter: @JF_Jakarta

Facebook: The Japan Foundation, Jakarta

 

Kontak Informasi:


Purwoko Adhi Nugroho (Mr.)
Assistant Program Officer Divisi Studi Jepang dan Pertukaran Intelektual
The Japan Foundation, Jakarta
Tel +62-21-520-1266
Fax +62-21-525-5159
Mobile +62-811-168-0824
E-mail adhi(at)jpf(dot)or(dot)id.

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


13 Nov 2012

Curitiba dan Sayembara Perencanaan kota

Oleh Shanty Syahril

 

“Informasi Sayembara Green Metropolis Jakarta 2050”, demikian subyek surel yang saya terima pagi ini (12/11/2012). Ternyata isinya informasi sebuah sayembara perencanaan untuk mencari ide inovatif dan implementatif untuk Jakarta masa depan. Besok, Rabu 13/11/2012 pukul 13:00, akan ada penjelasan tentang sayembara tersebut di Kementerian PU – Ditjen Penataan Ruang Lantai 3, terbuka untuk umum.

Sayembara ini seketika mengingatkan saya atas satu nama, Jaime Lerner. Ia tak cuma dikenang sebagai seorang demonstran yang menjadi salah seorang Walikota Curitiba, ibukota Parana City, sebuah kota di negeri Samba. Tapi, di tangan Lernerlah, pengembangan kota Curitiba berhasil dikerjakan dengan apik secara kreatif dan melibatkan warganya secara aktif.

Lerner, dari demonstran hingga walikota

Sebelum diangkat menjadi walikota, Lerner adalah seorang demonstran. Pada 1961, saat masih menjadi mahasiswa, Lerner bersama mahasiswa lain, pernah mendemo kebijakan walikota Curitiba saat itu. Sebab, sang walikota berencana mengubah pusat kota dengan membangun jalan besar dengan cara memperlebar jalan. “Proyek itu akhirnya hanya akan membunuh sejarah dan karakter kota,” kata Lerner.

Mengapa Lerner nekat menentang rencana walikotanya? Rupanya, ia dan kawan-kawan punya pemikiran sendiri tentang pengembangan sebuah kota. Menurut Lerner, untuk mengembangkan sebuah kota, dibutuhkan suatu konsep yang dinamis. “Bukan konsep statis yang hanya merencanakan peruntukan wilayah dan hirarki jalan,” ujarnya.

Di benak Lerner, konsep pengembangan kota yang dipikirkannya adalah sebuah rechargeable city. Maksudnya, kota yang mampu meminimalkan pemborosan dan memaksimalkan penghematan. Dengan konsep ini, asumsi yang menganggap bahwa manusia memiliki sumber daya yang tak terbatas, harus mulai ditinggalkan.

Upaya penentangan Lerner itu berbuah hasil. Walikota menyerah dan akhirnya mengadakan sayembara perancangan master plan Curitiba. Akhirnya didapatkanlah beberapa buah rancangan yang dianggap optimal guna pengembangan kota. Dan, Lerner termasuk salah seorang anggota tim arsitek yang memenangkan sayembara tersebut. Tapi, tidak serta-merta konsep itu dijadikan sebagai rancangan akhir pengembangan. Warga kota pun masih diajak diskusi untuk memperoleh hasil yang paling baik.

Sepuluh tahun setelah melakukan aksi demonstrasi menentang rencana pengembangan kota, Lerner pun akhirnya ditunjuk  pemerintah militer Brazil menjadi walikota Curitiba. Maka, dapatlah ia sebuah kesempatan untuk mewujudkan konsep pengembangan kota yang sudah lama mengendap di otaknya. Dan, karena ia sadar akan kondisi perekonomian Brazil yang sedang megap-megap, Lerner harus memikirkan sesuatu yang sederhana, murah, serta melibatkan masyarakat Brazil.

Lantas, mulailah Lerner melaksanakan pengembangan Curitiba. Selain, mencoba menerapkan konsep rechargeable city, ia menghitung seluruh fungsi kota. Mengapa ia melakukan itu. Sebab, menurut Lerner, perkembangan sebuah kota ternyata tidak bisa hanya dilihat dari perkembangan ekonomi. Kota masa depan yang berkualitas berkaitan erat dengan ide rekonsiliasi manusia dengan lingkungannya. Dari penerapan konsep seperti ini, diharapkan akan lahir sebuah kota yang tiap-tiap komponennya bisa saling melengkapi dan menghargai sejarah, warga, serta lingkungannya.

Beberapa ide kecil, murah, dan partisipatif

Tentu Anda kenal Transjakarta, dan barangkali pernah mendengar sistem tersebut diadaptasi dari Kota Bogota. Padahal ide sistem angkutan umum masal berbasis bus, dengan jalur khusus, dan membayar tiket sebelum naik, lahir dari pemikiran Lerner. Dengan biaya hanya 1/8 sistem subway, Curitiba berhasil memiliki sistem angkutan umum masal yang handal.

Lerner juga pernah mendapat perlawanan dari para pemilik toko ketika ia mengusulkan sebuah wilayah komersial menjadi zona pejalan kaki. Sebagai jalan keluar ia menyarankan masa percobaan selama tiga puluh hari. Zona ini sangat populer sehingga para pemilik toko di jalan lainnya justru meminta diterapkan aturan serupa di wilayahnya.

Warga Curitiba diminta memilah sampah, kemudian diangkut oleh truk yang terpisah. Keluarga berpenghasilan rendah di permukiman yang tidak terjangkau oleh truk, diminta membawa kantong sampah mereka ke TPS. Di tempat tersebut mereka dapat menukar sampah dengan tiket bus atau telur, susu, jeruk, dan kentang, yang berasal dari pertanian lokal di sekitar kota. Curitiba berhasil mendaur ulang dua-pertiga dari sampah kota. Inovasi pengelolaan sampah ini membuat kota bersih, petani didukung, dan keluarga berpenghasilan rendah mendapatkan makanan dan akses transportasi.

PKL diatur dan diorganisir berkeliling sebagai kelompok ke area-area permukiman di kota dalam bentuk pasar keliling secara terencana. Yang paling unik adalah pemangkasan rumput di taman kota yang cukup luas dilakukan dengan melepas sekawanan domba. Masih banyak inovasi berbiaya rendan dan melibatkan warga lainnya yang diterapkan di Curitiba.

Bagaimana dengan Jakarta?

Mungkinkah warga Jakarta, yang selama ini sudah gregetan dengan kondisi Jakarta seperti halnya Jaime Lerner dan kawan-kawan 50 tahun yang lampau, berkolaborasi menggagas perencanaan kota yang kreatif, partisipatif, dan  lestari untuk menjawab tantangan sayembara ini?

Bukan semata-mata gagasan yang sekedar mengandalkan pembangunan fisik yang menyedot modal kapital, melainkan juga mengoptimalkan kembali modal sosial yang sebenarnya telah lama kita miliki. Sebuah gagasan yang dapat berkembang dan diterima menjadi mimpi kolektif warga Jakarta.

Dalam sebuah wawancara, Lerner sudah buka-bukaan soal resep suksesnya. “If you want creativity, cut one zero from your budget. If you want sustainability, cut two zeroes from your budget, “ ujarnya. Mengintip jajaran dewan juri, terselip juga harapan, semoga mereka semua cukup visioner dan amanah dalam menentukan pemenang.  Tapi ketika melihat fitur mitra kerjasama di situs sayembara, timbul pertanyaan “apakah sayembara ini bisa netral?” Terlihat jelas kesempatan ditawarkan kepada pemilik modal, baik produk dan perusahaan, untuk beriklan. Terbayang nantinya akan berjejer produk dan perusahaan di presentasi, backscreen, goody bag, dan wesbite. Tak masuk di akal logika saya yang awam ini, kenapa sayembara yang “inovatif” begini lagi-lagi diwarnai modus cari dana yang “konvensional” :-( .

 

Sumber tulisan:

Artikel Jonas Rabinovitch dan Josef Leitman bit.ly/T0TJBS

Artikel Donella Meadows bit.ly/UDUDAB

Presentasi dalam TED http://www.ted.com/talks/jaime_lerner_sings_of_the_city.html

Wawancara http://www.asla.org/ContentDetail.aspx?id=30875

 

Sumber foto:

http://www.lietaer.com/2010/09/the-story-of-curitiba-in-brazil/

 

No Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


11 May 2011

Sayembara Perancangan Taman di Pondok Indah

Komunitas Hijau Pondok Indah bekerja sama dengan Green Design Community mempersembahkan Sayembara Perancangan Taman di Pondok Indah Jakarta.

Tujuan penyelenggaraan sayembara ini adalah untuk mewujudkan sebuah taman komunitas dengan basis gaya hidup lestari dan mampu menggugah penghuni kawasan Pondok Indah untuk hidup selaras dengan alam dan lestari.

Informasi lebih lanjut, silakan baca di poster terlampir

5 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: Komunitas Hijau Pondok Indah |


29 Mar 2011

Pameran dan Diskusi Sayembara Terbatas StrenKali Surabaya

Rujak Center for Urban Studies, bekerja sama dengan Universitas Pelita Harapan, Arkom Jogja dan Paguyuban Warga Strenkali Surabaya menyelenggarakan Pameran dan Diskusi Sayembara Terbatas Stren Kali Surabaya.

Pameran: 4-15 April 2011 di Gedung B, Universitas Pelita Harapan

Diskusi Peran Arsitek dalam Komunitas

8 April 2011, 13.00 WIB, MYC MultiPurposeRoom

Lantai 1 Gedung D, Universitas Pelita Harapan

(more…)

Comments Off

Topics: , , , , | Agent of Change: Urban Poor Consortium |


01 Nov 2010

Sayembara Terbatas Penataan Kawasan Stren Kali Surabaya

Rujak Center for Urban Studies, bekerja sama dengan Urban Poor Consortium dan Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya menyelenggarakan sayembara terbatas desain penataan Kawasan Stren Kali Surabaya.

(more…)

7 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: Urban Poor Consortium |


18 Nov 2009

Rujak Memenangkan Anugerah Jurnalistik Tata Ruang

Sejak diberlakukannya Undang Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kedekatan dan pentingnya sinergi antara rencana pembangunan dan penataan ruang menjadi tak terpelakkan. Konsep penataan ruang yang kerap terasa diawang-awang dan jauh, menjadi dekat dan mulai mengundang rasa ingin tahu. Dan undang-undang baru tersebut menjadi momentum yang tepat untuk memasyarakatkan pentingnya penataan ruang dalam kehidupan masyarakat.

Karenanya, demi mendorong pemahaman dan apresiasi terhadap penataan ruang, Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum menyelenggarakan Anugerah Jurnalistik Tata Ruang yang ditujukan kepada kalangan media dengan kategori media cetak, TV, radio dan online

Rujak, dengan rangkaian tulisan mengenai penataan ruang, menjadi salah satu pemenang untuk kategori online.  Hadiah diserahkan langsung oleh Menteri Pekerjaan Umum bertepatan dengan Hari Tata Ruang tanggal 8 November kemarin.

Tulisan Rujak yang memenangkan Anugerah Jurnalistik, yaitu “Warga, Tata Ruang, Jakarta Lestari”, dapat dibaca disini.

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


23 Sep 2009

Perumahan di Pundak Generasi Muda

Oleh: Odie Banoreza

Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang bersinggungan dengan arsitektur. Sehingga ilmu arsitektur turut bertanggung jawab terhadap masyarakat luas dalam menyediakan hunian yang sehat dan nyaman. Namun, jika kita melihat realita perumahan Indonesia maka data yang ada mampu memberikan beberapa kesimpulan. (more…)

2 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


16 Sep 2009

Sayembara Tanpa Hadiah

Merancang hunian untuk empat (4) keluarga berpenghasilan menengah Jakarta di atas tanah 245 m2 (lihat lampiran) di jalan Rembang No. 11, Jakarta 10310.


Latat Belakang

(Lihat antara lain http://rujak.org/2009/08/density-myth-and-reality/)

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa, sementara kelompok masyarakat berpenghasilan sangat tinggi kini mudah mendapatkan hunian di dalam kota (atau di mana saja, untuk hal ini), dan kelompok berpenghasilan rendah mendapatkan subsidi di dalam pusat kota atau di pinggiran kota, atau secara spontan menduduki berbagai tanah publik, kelompok berpenghasilan menengah hanya memiliki pilihan hunian berupa landed house di tepian kota, atau rumah-rumah tua di dalam kampung-kampung yang lama tidak mendapatkan peningkatan prasarana di dalam kota.

Perubahan tata-guna lahan di dalam Kota Jakarta telah mengurangi stok jumlah hunian. Penduduk Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan telah menurun secara absolut dalam sepuluh tahun terakhir. Stok hunian yang tersisa di lokasi-lokasi yang baik (dalam kepentingan modal disebut “lokasi strategis”) untuk hunian karena dekat dengan lapangan pekerjaan dan sarana publik kini terus menerus mengalami ancaman alih fungsi dan harga tanah, yang antara lain secara tidak cakap dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah melalui penetapan Nilai Jual Obyek Pajak yang setinggi-tingginya “mengikuti perkembangan pasar”.

Perpindahan kelas menengah ke pinggir kota dalam jangka panjang akan menyebabkan matinya pusat kota di malam hari, menjadikannya tidak efisien sebagai ruang kota, dan mematikan budaya kehidupan berkota dan mengota itu sendiri. Sementara itu pengembangan sub-kota (suburbs) yang terus menerus spekulatif dan tidak efisien akan menambah kepada pencemaran lingkungan melalui polusi udara para pengulang-alik, penggerusan lahan subur, pemborosan prasarana, dan lain-lain.

Yang harus dilakukan adalah meningkatkan stok hunian di dalam kota Jakarta yang terjangkau oleh kelompok berpenghasilan menengah di Jakarta.

Yang terjangkau ini secara logis adalah meningkatkan kepadatan jumlah hunian per tiap-tiap lahan, tetapi untuk lebih banyak jumlah keluarga, bukan kepadatan fungsi lain atau untuk jumlah orang berbelanja atau untuk jumlah mobil. Ini berarti juga bukan gedung-gedung tinggi yang mahal karena perlengkapan bangunannya (lift, AC, pompa, dll), dan karena biaya struktur bangunan yang makin meningkat per meter persegi pada bangunan yang tinggi.

Tujuan

Sayembara Tidak Berhadiah ini bertujuan mengumpulkan gagasan terbaik untuk meningkatkan kepadatan hunian kelompok berpenghasilan menengah di dalam pusat kota Jakarta, melalui rancangan bangunan hunian untuk empat keluarga pada sebidang tanah yang nyata, ialah di Jalan Rembang no 11 di Jakarta Pusat.

Sayembara ini tidak menentukan batas apapun kecuali lahan yang nyata, dan peruntukan bagi hunian empat keluarga dari kelompok berpenghasilan menengah di Jakarta.

Para peserta dipersilakan menafsirkan sendiri kebutuhan (dan kemampuan serta kewajiban) “keluarga berpenghasilan menengah di Jakarta”. Sebab, arsitektur bukan hanya penerima “terms of reference” yang diterjemahkan menjadi bentuk sesuai pesanan, melainkan arsitektur sendiri berhak dan mampu merumuskan “terms of reference”, dengan kata lain: membayangkan sendiri masyarakat Indonesia masa depan seperti apa.

Sedangkan kelestarian dan atau keramahan terhadap lingkungan sudah dengan sendirinya harus menjadi tujuan tanpa perlu digembar-gemborkan sebagai sesuatu yang khusus atau istimewa. Yang minimal harus dicapai adalah: tidak digunakan pendingin udara, pengolahan kembali air limbah dapur dan kamar mandi, tersedia kemungkinan menggunakan panel photovoltaic, penyerapan air hujan seluruhnya ke dalam tanah (tidak dialirkan ke saluran tepi jalan), komposting, tidak digunakan mesin pengering cucian, dan tidak digunakan lampu pada siang hari.

Rancangan Tidak Perlu Terikat pada Ketentuan seperti KDB, KLB, dan Ketinggian Bangunan.

Format

Karena tujuan di atas, maka rancangan yang dimasukkan minimal perlu mencapai tahap “Schematic Design”. Sangat dianjurkan untuk sampai pada tahap “Design Development”, setidaknya untuk beberapa hal yang menentukan kinerja rancangan mencapai tujuan ramah-lingkungan dan lestari.

Rancangan dikirim hanya dalam bentuk digital ke info@rujak.org, dengan mencantumkan nama dan alamat lengkap serta email peserta, serta berbahasa Indonesia.

Format dijital yang digunakan adalah PDF, DOC, JPG, XLS, dan PPT. Besaran file maksimal 10 mb.

Bila akan menggunakan format lain, harap memberitahu penyelenggara melalui: info@rujak.org

Jadwal:

Pendaftaran (tanpa biaya): Nama, alamat, no.telpon, Alamat email, dikirim ke: info@rujak.org paling lambat tanggal 20 Oktober 2009.

Karya dikirim kepadan info@rujak.org paling lambat tanggal 20 November 2009.

Pemenang (tanpa hadiah) akan diumumkan tanggal 27 November 2009 melalui situs www.rujak.org ataupun pemberitahuan via email.

Tindak Lanjut:

Karya-karya yang diterima akan diterbitkan menjadi “buku” digital dalam bentuk PDF dan disiarkan melalui www.rujak.org dan lain-lain. Selanjutnya akan dipertimbangkan untuk diterbitkan dalam bentuk buku tercetak.

Bilamana ada gagasan khas dari sebagian atau seluruh karya peserta yang digunakan untuk mewujudkan/membangun secara nyata bangunan hunian empat keluarga ini,  maka peserta yang bersangkutan akan diberitahu, mendapatkan pengakuan terbuka, dan mendapatkan imbalan yang jumlahnya akan dirundingkan.

Juri:

Dewan Juri terdiri dari para editor www.rujak.org:

Marco Kusumawijaya, Elisa Sutanudjaja, Meutia Chaerani, Andrea Fitrianto, Cecil Mariani, Armely Meiviana

Data:

1. Gambar Site (silakan unduh disini)

2. Google Map (silakan unduh disini)

Sila kunjungi situs ini untuk informasi tambahan.

15 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |