Posts Tagged ‘sepeda’


12 Jun 2011

More on bike sharing.

It’s the summer of bike sharing around the world. From the National Geographic.

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


04 Jun 2011

50 Ribu Sepeda Publik di Hangzhou

Tulisan dan Foto oleh Robin Hartanto, Hangzhou.

Sejauh apa dapat bersepeda di sebuah kota? Baru seketika Jakarta membuat jalur sepeda pertamanya sepanjang Blok M-Taman Ayodya (1.5 m), katanya sudah tidak berfungsi.

Tapi, 28 Mei 2011, nun jauh dari Jakarta, saya berkesempatan mengunjungi Hangzhou, China, sekedar berjalan-jalan. Tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dengan kota ini, terutama bagi para penikmat sepeda. Selama 10 tahun ini, kota Hangzhou mendapatkan berjubel-jubel penghargaan, antara lain “The Best Tourism City of China” dari United Nations World Tourism Organization dan National Tourism Administration tahun 2006 serta “China’ s Most Beautiful Leisure City” dariChina Leisure Development International Forum tahun 2010. Salah satu winning factor-nya, adalah perihal sepeda ini. Lantas apa yang membuatnya menakjubkan?

(more…)

6 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


24 Apr 2011

Jalur Sepeda Pertama di Jakarta Sedang Dibuat

Foto dan berita kiriman C.C. Bayu Wardhana (23 April 2011). Ketika kita merayakan Hari Bumi dan Hari Kartini serta Hari Paskah, jalur sepeda pertama di Jakarta sedang dibangun, yaitu di Kebayoran Baru, dari Blok M ke Taman Ayodya.

3 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


10 Jan 2011

Dukung anak-anak bersepeda ke sekolah

Oleh Shanty Syahril.

Senin pagi minggu lalu (3/1) tampak siswa-siswi SDN Penggilingan 05 dan 07 Pagi, Jakarta Timur kembali datang dengan bersemangat mengendarai sepedanya di hari pertama sekolah tahun 2011. Setiap harinya tak kurang dari 100 unit sepeda berbaris rapi di halaman dua sekolah dasar negeri yang berbagi gedung tersebut.

Proporsi siswa yang bersepeda ke sekolah mencapai 12,5% dari total jumlah siswa kedua sekolah yang berlokasi di komplek Perkampungan Industri Kecil (PIK) tersebut. Suatu jumlah yang cukup luar biasa untuk ukuran ibukota saat ini. Memang jarak rata-rata antara rumah para siswa ke sekolah relatif dekat, karena hampir seluruhnya tinggal di keluarahan yang sama dengan sekolah. Tapi sungguh disayangkan jumlah siswa yang bersepeda kian menyusut.

Dua tahun yang lalu jumlah sepeda yang memenuhi halaman sekolah bisa mencapai 300-400 unit. Kini makin banyak siswa yang diantar dengan sepeda motor,” ungkap Pak Ratijo, petugas keamanan sekolah yang sudah lebih dari 5 tahun mengabdi.

Sukma, ibu dari tiga anak yang semuanya bersekolah di SDN Penggilingan 07 Pagi dan putri tertuanya telah lulus hampir dua tahun yang lalu, turut mengamini apa yang disampaikan Pak Ratijo. Lebih lanjut Ibu Sukma menambahkan, “Jumlah siswa yang bersepeda menyusut setelah ada kejadian sepeda anak direbut paksa oleh orang tak dikenal. Banyak orangtua akhirnya khawatir.”

Selain keamanan, faktor keselamatan juga ditenggarai menjadi penyebab lainnya. Pak Ratijo menyampaikan, “Belakangan ini makin sering kejadian siswa yang naik sepeda kena serempet sepeda motor. Kejadiannya tidak selalu di dekat sekolah.”

Sebenarnya berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah dulunya bukan hal yang asing di Jakarta. Namun sejalan dengan makin jauhnya jarak rumah ke sekolah, maka proporsi siswa yang berjalan kaki dan bersepeda terus menurun. Apalagi ditambah ancaman keamanan dan keselamatan seperti yang dialami di atas.

Sebuah kajian transportasi (SITRAMP Fase 2, 2004) mencatat jarak rata-rata dari rumah ke sekolah di Jakarta memang makin jauh. Meningkat dari 2,7 km pada tahun 1985 menjadi 5,5 km pada tahun 2002. Padahal makin jauh jarak maka perjalananpun makin tergantung dengan kendaraan bermotor.

Sulit untuk dipungkiri, masih tidak meratanya kualitas sekolah mendorong para orangtua memilih sekolah yang jaraknya relatif lebih jauh demi kualitas. Terlebih bagi keluarga yang memiliki mobil atau motor pribadi, jarak praktis tidak terlalu menjadi kendala.

Terlepas dari beragam persoalan yang mendera Jakarta, di awal tahun ini tersimpan sebuah harap, semoga di awal tahun 2012 mendatang masih bisa disaksikan sepeda terparkir sebanyak sekarang di halaman SDN Penggilingan 05 dan 07 Pagi. Walaupun mungkin tidak pernah terpikir olah para warga cilik ini, mereka sesungguhnya sudah berperan aktif dalam menjaga kualitas udara dan tidak menambah parah kemacetan di kota tempat tinggalnya.

Kini tantangannya adalah bagaimana mencari strategi yang tepat agar siswa merasa aman menggunakan sepeda ke sekolah; bagaimana agar jumlah siswa yang menggunakan sepeda kian tahun tidak kian menurun, namun terus bertambah. Di sini dibutuhkan peran orang dewasa untuk mendukung anak-anak bersepeda ke sekolah.

Beberapa orang tua murid di sekolah tersebut sedang memikirkan langkah apa yang kiranya bisa diterapkan untuk mendukung anak-anak bersepeda ke sekolah. Namun terbuka juga kesempatan bagi Anda yang memiliki solusi praktis untuk persoalan di atas.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah mengamati sekolah di sekitar tempat tinggal Anda. Sekiranya masih ada sekolah yang sekelompok siswanya masih bersepeda ke sekolah, namun memiliki masalah yang serupa. Barangkali Anda pun bisa ikut memulai langkah kecil mendukung para warga cilik ini.

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


05 Jul 2010

Bagaimana Keadaan Jalan Thamrin, Jalan Utama Kita?

Ada tanda petunjuk di mana mesjid berada. Pos Polisi “Go Green” menggunakan tenaga listrik surya dan sepeda. Kemana perginya pohon-pohon?.

Ini lobang-lobang dimana dulu terdapat pohon besar. Diganti dengan yg di tepian jalan. Alasan: menutupi fasade bangunan, dan supaya semua pohon sederet (di tepian luar kaki-lima)

Pos Polisi GoGreen di Bunderan HI

Pos Polisi hijau: listrik tenaga surya, dan sepeda!

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


15 Dec 2009

Apakah Pejalan Kaki Perlu Kumpulkan Sejuta Tanda Tangan juga?

Saya harap tidak demikian.

Ketika komunitas Bike To Work meminta jalur sepeda kepada Gubernur Jakarta, maka sang gubernur pun menantang balik: ‘Jika komunitas mampu mendapatkan tanda tangan dari 1 juta pesepeda, maka gubernur baru memenuhi tuntutan jalur sepeda. Apakah demi mendapatkan trotoar nyaman, aman, dan lestari, maka warga Jakarta harus mengajukan 1 juta tanda-tangan dahulu sebelum ditindaklanjuti oleh gubernur?

Memanusiawikan Areal Pejalan Kaki.

Kehidupan kota yang demokratis berarti kehidupan kota yang memenangkan kepentingan publik diatas kepentingan pribadi dan golongan. Cermin kota yang demokratis dapat terlihat dari kondisi ruang-ruang publiknya. Bagaimana dengan kondisi trotoar dan taman-tamannya? Apakah kota didominasi oleh bangunan-bangunan publik seperti museum dan perpustakaan atau dikuasai oleh pusat-pusat perbelanjaan?

Walikota Bogota periode tahun 1998 – 2001, Enrique Penalosa dalam acara Sustainable Jakarta Convention mengutarakan pentingnya trotoar, demikian dikutip: “Sidewalks are the most important factor of democratic life.” Di trotoar itulah para warga dari berbagai macam latar belakang bertemu dan memiliki status yang sama, yaitu sebagai pejalan kaki. Trotoar pun dianggap penting karena trotoar merupakan perpanjangan tangan dari taman-taman kota. Taman-taman dan elemen kota lainnya terhubung dan disatukan oleh trotoar.

Lebih lanjut lagi, Walikota Penalosa mengutarakan deskripsi kota yang baik ( A Good City), yaitu kota dimana warga-warganya bahagia ketika berada didalam luar ruangan dan ruang publik, serta mau menghabiskan waktu diluar. Kota tersebut baik, apabila ramah dan nyaman bagi anak-anak, kaum manula dan kaum difabel (diffabled people).

Lalu bagaimana dengan Jakarta? Jakarta boleh bangga akan berbagai macam pusat perbelanjaan dengan desain mutakhir. Namun pusat perbelanjaan bukanlah ruang publik, karena dalam pusat perbelanjaan terjadi seleksi terhadap kelas ekonomi, dan tentunya mengesampingkan kaum miskin. Kedemokratisan Jakarta pun dipertanyakan jika melihat kondisi trotoar dan taman-taman kota. Trotoar-trotoar di Jakarta bagaikan serupa tak sama dengan trotoar di negara-negara Afrika, misalnya kota di Kamerun dan Sudan.

Kondisi trotoar di Kamerun

Kondisi trotoar di Kamerun, memiliki kesamaan dengan trotoar di Jakarta

Di trotoar Jakarta, para pejalan kaki bersaing dengan parkir mobil, motor, sampah hingga pedagang kaki lima. Jangankan menjadi jalur sepeda, para pejalan kaki pun sering tersingkir dari trotoar. Tak hanya harus bersaing, pejalan kaki harus berhadapan dengan kondisi trotoar yang menyedihkan, seperti permukaan tidak rata, diinterupsi terus menerus oleh pintu masuk dan keluar mobil dan terkadang ada motor yang melaju diatas trotoar.

Kondisi trotoar yang buruk bukannya tidak disadari oleh aparat. Setidaknya itulah yang tersurat dari situs resmi Pemda DKI Jakarta. Tak hanya ketidakmampuan pemerintah untuk membuat nyaman trotoar, ada saja orang-orang yang merusak trotoar, misalnya oknum yang mencuri conblock, hingga pedagang (baik pedagang kaki lima maupun bukan) yang menginvansi secara masif trotoar, dan akhirnya melemparkan para pejalan kaki sehingga harus tersingkir dan berdampingan dengan mobil motor yang melaju di jalan.

Keberpihakan kota Jakarta terhadap kendaraan bermotor pun terlihat jelas, dengan semakin banyaknya jalan baru dalam rupa jalan tol, jalan layang, jalan pintas bawah tanah, hingga jalan arteri yang terus bertambah, sementara areal pejalan kaki terkikis dan terdeteriorasi.

Adakah yang salah dalam perencanaan dan desain urban Jakarta sehingga kondisi trotoar semakin menyedihkan dan hak pejalan kaki terus terzalimi? Bisa jadi karena trotoar dianggap sebagai pelengkap bukan sebagai kebutuhan. Ditambah lagi, kemacetan yang ada, selalu dianggap oleh para insinyur jalan sebagai tanda kurangnya jalan mobil, sehingga pejalan kaki menjadi warga kelas dua di kota ini. Pada akhirnya keputusan akan pentingnya trotoar menjadi kebutusan teknis (engineering decision) dan bukannya berdasarkan kehendak dan keputusan politik (political decision). Dan terkadang pemangku kepentingan pun tak sadar, kalau trotoar adalah salah satu sarana transportasi umum. Terlebih jika trotoar tersebut memiliki hubungan dan jaringan yang baik dengan moda transportasi umum lainnya, seperti halte TransJakarta, halte bus, dan stasiun kereta api.

Lalu apa yang perlu warga Jakarta lakukan demi merebut kembali ruang jalan kaki tersebut? Pertama, sadarlah bahwa trotoar itu adalah aset kota, hargailah trotoar. Jika dan seandainya gubernur memerlukan tanda tangan sejuta pejalan kaki demi memperbaiki trotoar, marilah kita sesama warga Jakarta kerja keras mengumpulkan tanda tangan demi memerdekakan trotoar. Para pemilik gedung-gedung dan bangunan yang berdampingan langsung dengan trotoar, diminta ‘kemurahan-hatinya’ untuk menjaga agar kontinuitas trotoar tidak terinterupsi dengan parkir mobil, pintu masuk dan keluar kendaraan motor, hingga perpanjangan gerai-gerainya, termasuk menyediakan areal bagi pedagang kaki lima dalam kompleks kantor. Para pemakai sepeda motor, dimohon untuk tidak menjajah trotoar sebagai tempat parkir maupun jalan singkat.

Mari bersama-sama mewujudkan Trotoar yang Merdeka.

5 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


28 Jun 2009

Simulasi Jalur Sepeda di Jalan Thamrin Gagal!

Simulasi Jalur Sepeda (Bike-lane)  oleh Bike2Work di Jalan Thamrin tadi pagi, 28 Juni 2009,  menurut saya gagal.

(more…)

4 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |