Posts Tagged ‘spatial plan’


09 Feb 2010

Jakarta Kompleks: Seri Diskusi Koalisi Warga untuk Jakarta 2030

poster111
Jakarta KOMPLEKS!
Bagaimana Memahami Persoalan Jakarta yang kompleks secara utuh

Kamis/11 Februari 2010
Jam 14.00 – 17.00 WIB
Tempat: Humanitarian Forum Indonesia Meeting Room
Lt. 2, Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah
Jl. Menteng Raya 62, Jakarta

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


06 Feb 2010

Why do we need to redo Jakarta 2010-2030 Spatial Masterplan through a participatory process?

IMG_0239

Jakarta needs its people.

That is the simple but fundamental argument to redo Jakarta 2010-2030 Spatial Masterplan through a participatory process. Jakarta needs its people to own the plan so that they will participate in implementing it willingly. Participation builds a strong link called “ownership” between making and implementing a plan. They can only do so if they participate in the making of basic strategic options and decisions. This means deployment of a true participatory process that goes beyond passive “consultative participation” where people are merely asked their opinions about options and decisions that have been made or predetermined by others, usually the bureaucrats and their consultants. (more…)

10 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


01 Feb 2010

Sampaikan Pandangan dan Harapan Anda atas Jakarta!

Tahukah Anda, saat ini nasib kota Jakarta 20 tahun ke depan sedang dipertaruhkan?

Kota bukanlah hanya sebagai tempat kita tinggal atau mencari nafkah, tapi juga tempat membesarkan anak-cucu, menuntut ilmu, menjalin pertemanan, berekreasi, dan beragam aktivitas lainnya.

Rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2030, sebuah perencanaan yang menentukan wajah kota Jakarta dalam 20 tahun mendatang, saat ini sudah di tangan DPRD dan bisa disahkan sewaktu-waktu. Tapi sayangnya, rencana yang akan menentukan nasib warga tersebut justru disusun nyaris tanpa melibatkan warga.

Padahal sebagai warga kota, Anda tentu punya mimpi tentang masa depan kota Jakarta. Kota yang layak huni tidak hanya bagi orang dewasa yang aktif, tapi juga anak-anak, remaja, lansia, ibu-ibu, dan difabel.

Survei ini bertujuan untuk menggali aspirasi warga Jakarta dan komuter tentang masa depan kota Jakarta dalam 20 tahun mendatang. Survei ini dilakukan oleh dan dari warga, untuk masa depan kota Jakarta yang lebih baik.

Sampaikan aspirasi Anda sekarang. Perlu 1 juta suara terkumpul dalam waktu sesingkat-singkatnya untuk membuat perubahan berarti. Kini nasib kota ada di tangan Anda!

Ajaklah sebanyak-banyaknya anggota keluarga, tetangga, kerabat, teman, anak didik, dan kenalan Anda untuk mengisi survei ini.

Tertarik menjadi relawan surveyor? Hubungi Koalisi Warga untuk Jakarta 2030 melalui emailjakarta2030@gmail.com

Catatan:
Warga Jakarta = semua orang yang tinggal di Jakarta baik pemegang KTP Jakarta maupun tidak
Komuter = warga Bodetabek yang sehari-hari bekerja/bersekolah ke Jakarta

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


20 Jan 2010

Naskah Akademis RTRW Jakarta 2010-2030

http://koalisijakarta2030.wordpress.com/2010/01/19/naskah-akademis-rtrw-2030/

Naskah Akademis menjadi dasar pengambilan keputusan dalam raperda Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030.

Hari ini, kami mendapatkan Naskah Akademis tersebut melalui pihak ketiga, dan secara informal. Walaupun kami telah mengirimkan surat kepada Gubernur yang salah satu poinnya adalah menuntut Naskah Akademis, namun hingga hari ini: Tidak Ada Tanggapan.

Berikut Isi Naskah Akademis (versi tanggal 12 Januari 2010, Revisi keempat)

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |


07 Jan 2010

Public Expose Draft Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030

Warga Jakarta,

Pernahkah rekan-rekan membayangkan akan seperti apa Jakarta dalam 20 tahun mendatang ? Akankah Jakarta memiliki jalur sepeda dan jalur pejalan kaki yang aman dan nyaman? Akankah kemacetan menjadi hal yang tidak lagi dihadapi warga Jakarta? Masihkah kita menghadapi masalah banjir dan sampah? Akankah banyak tersedia ruang terbuka hijau untuk anak-anak bermain serta fasilitas lapangan olahraga bagi warga kota? Masih akan adakah lahan yang diperuntukan sebagai permukiman? Lalu, bagaimana dengan nasib gedung-gedung bersejarah dan museum-museum di Jakarta?

Saat ini Pemprov DKI Jakarta sedang mengupayakan diterbitkannya Perda mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2030. Peraturan ini nantinya akan sangat menentukan kualitas kehidupan warga kota Jakarta dalam 20 tahun ke depan. Namun sayangnya, dalam proses perancangan RTRW Jakarta 2030, Pemprov nyaris tidak melibatkan partisipasi warga kota itu sendiri.

Jika rancangan RTRW Jakarta 2030 sama sekali tidak menampung aspirasi warga kota yang perikehidupannya sangat tergantung pada daya dukung kota, akankah Jakarta menjadi sebuah kota yang nyaman untuk dihuni?

Sekelompok warga yang menamakan dirinya ‘Koalisi Warga untuk Jakarta 2030’  mengundang Warga Jakarta untuk bergabung di dalam koalisi tersebut dan hadir di acara pertemuan yang akan membahas masa depan warga kota Jakarta hingga tahun 2030. Koalisi ini juga akan mendorong Pemprov DKI untuk membuka diri bagi aspirasi warga kota dan mendukung sebuah proses perancangan RTRW yang partisipatif.

Ini merupakan momen yang tepat bagi seluruh warga kota Jakarta untuk berkolaborasi & bersinergi demi menentukan masa depan bersama.

Acara ini akan diselenggarakan pada:

Hari/ Tanggal     : Kamis/ 7 Januari 2010
Waktu                : pk. 12.00 – 15.00 WIB (diawali dengan makan siang)
Lokasi               : R. Pelatihan Jurusan Perencanaan Kota dan Real Estat (Planologi), Fakultas Teknik

Kampus I Untar Gedung L Lantai 4

Jl Letjen S. Parman No. 1 Grogol, Jakarta Barat

Sebagai info, rancangan RTRW Jakarta 2030 bisa diunduh di: http://koalisijakarta2030.wordpress.com

Acara ini terbuka bukan hanya bagi warga Jakarta, namun juga warga Bodetabek.

Info lebih lanjut hubungi Elisa di 0816 913260 esutanudjaja@gmail.com

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Dec 2009

Apakah Pejalan Kaki Perlu Kumpulkan Sejuta Tanda Tangan juga?

Saya harap tidak demikian.

Ketika komunitas Bike To Work meminta jalur sepeda kepada Gubernur Jakarta, maka sang gubernur pun menantang balik: ‘Jika komunitas mampu mendapatkan tanda tangan dari 1 juta pesepeda, maka gubernur baru memenuhi tuntutan jalur sepeda. Apakah demi mendapatkan trotoar nyaman, aman, dan lestari, maka warga Jakarta harus mengajukan 1 juta tanda-tangan dahulu sebelum ditindaklanjuti oleh gubernur?

Memanusiawikan Areal Pejalan Kaki.

Kehidupan kota yang demokratis berarti kehidupan kota yang memenangkan kepentingan publik diatas kepentingan pribadi dan golongan. Cermin kota yang demokratis dapat terlihat dari kondisi ruang-ruang publiknya. Bagaimana dengan kondisi trotoar dan taman-tamannya? Apakah kota didominasi oleh bangunan-bangunan publik seperti museum dan perpustakaan atau dikuasai oleh pusat-pusat perbelanjaan?

Walikota Bogota periode tahun 1998 – 2001, Enrique Penalosa dalam acara Sustainable Jakarta Convention mengutarakan pentingnya trotoar, demikian dikutip: “Sidewalks are the most important factor of democratic life.” Di trotoar itulah para warga dari berbagai macam latar belakang bertemu dan memiliki status yang sama, yaitu sebagai pejalan kaki. Trotoar pun dianggap penting karena trotoar merupakan perpanjangan tangan dari taman-taman kota. Taman-taman dan elemen kota lainnya terhubung dan disatukan oleh trotoar.

Lebih lanjut lagi, Walikota Penalosa mengutarakan deskripsi kota yang baik ( A Good City), yaitu kota dimana warga-warganya bahagia ketika berada didalam luar ruangan dan ruang publik, serta mau menghabiskan waktu diluar. Kota tersebut baik, apabila ramah dan nyaman bagi anak-anak, kaum manula dan kaum difabel (diffabled people).

Lalu bagaimana dengan Jakarta? Jakarta boleh bangga akan berbagai macam pusat perbelanjaan dengan desain mutakhir. Namun pusat perbelanjaan bukanlah ruang publik, karena dalam pusat perbelanjaan terjadi seleksi terhadap kelas ekonomi, dan tentunya mengesampingkan kaum miskin. Kedemokratisan Jakarta pun dipertanyakan jika melihat kondisi trotoar dan taman-taman kota. Trotoar-trotoar di Jakarta bagaikan serupa tak sama dengan trotoar di negara-negara Afrika, misalnya kota di Kamerun dan Sudan.

Kondisi trotoar di Kamerun

Kondisi trotoar di Kamerun, memiliki kesamaan dengan trotoar di Jakarta

Di trotoar Jakarta, para pejalan kaki bersaing dengan parkir mobil, motor, sampah hingga pedagang kaki lima. Jangankan menjadi jalur sepeda, para pejalan kaki pun sering tersingkir dari trotoar. Tak hanya harus bersaing, pejalan kaki harus berhadapan dengan kondisi trotoar yang menyedihkan, seperti permukaan tidak rata, diinterupsi terus menerus oleh pintu masuk dan keluar mobil dan terkadang ada motor yang melaju diatas trotoar.

Kondisi trotoar yang buruk bukannya tidak disadari oleh aparat. Setidaknya itulah yang tersurat dari situs resmi Pemda DKI Jakarta. Tak hanya ketidakmampuan pemerintah untuk membuat nyaman trotoar, ada saja orang-orang yang merusak trotoar, misalnya oknum yang mencuri conblock, hingga pedagang (baik pedagang kaki lima maupun bukan) yang menginvansi secara masif trotoar, dan akhirnya melemparkan para pejalan kaki sehingga harus tersingkir dan berdampingan dengan mobil motor yang melaju di jalan.

Keberpihakan kota Jakarta terhadap kendaraan bermotor pun terlihat jelas, dengan semakin banyaknya jalan baru dalam rupa jalan tol, jalan layang, jalan pintas bawah tanah, hingga jalan arteri yang terus bertambah, sementara areal pejalan kaki terkikis dan terdeteriorasi.

Adakah yang salah dalam perencanaan dan desain urban Jakarta sehingga kondisi trotoar semakin menyedihkan dan hak pejalan kaki terus terzalimi? Bisa jadi karena trotoar dianggap sebagai pelengkap bukan sebagai kebutuhan. Ditambah lagi, kemacetan yang ada, selalu dianggap oleh para insinyur jalan sebagai tanda kurangnya jalan mobil, sehingga pejalan kaki menjadi warga kelas dua di kota ini. Pada akhirnya keputusan akan pentingnya trotoar menjadi kebutusan teknis (engineering decision) dan bukannya berdasarkan kehendak dan keputusan politik (political decision). Dan terkadang pemangku kepentingan pun tak sadar, kalau trotoar adalah salah satu sarana transportasi umum. Terlebih jika trotoar tersebut memiliki hubungan dan jaringan yang baik dengan moda transportasi umum lainnya, seperti halte TransJakarta, halte bus, dan stasiun kereta api.

Lalu apa yang perlu warga Jakarta lakukan demi merebut kembali ruang jalan kaki tersebut? Pertama, sadarlah bahwa trotoar itu adalah aset kota, hargailah trotoar. Jika dan seandainya gubernur memerlukan tanda tangan sejuta pejalan kaki demi memperbaiki trotoar, marilah kita sesama warga Jakarta kerja keras mengumpulkan tanda tangan demi memerdekakan trotoar. Para pemilik gedung-gedung dan bangunan yang berdampingan langsung dengan trotoar, diminta ‘kemurahan-hatinya’ untuk menjaga agar kontinuitas trotoar tidak terinterupsi dengan parkir mobil, pintu masuk dan keluar kendaraan motor, hingga perpanjangan gerai-gerainya, termasuk menyediakan areal bagi pedagang kaki lima dalam kompleks kantor. Para pemakai sepeda motor, dimohon untuk tidak menjajah trotoar sebagai tempat parkir maupun jalan singkat.

Mari bersama-sama mewujudkan Trotoar yang Merdeka.

5 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


04 Dec 2009

Tata Ruang Jakarta 2030

RTRW2030
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2030 sedang dibuat. Di dalam draft yang diterima Rujak terdapat jadwal yang menyatakan bahwa pada tanggal 2 November lalu RAPERDA (Rancangan Peraturan Daerah) RTRW DKI Jakarta 2030 telah diserahkan kepada DPRD. Apakah khalayak ada yang mengetahuinya? Bila ada mohon membantu memastikan hal tersebut.

Untuk melihat selengkapnya paparan draft RTRW Jakarta 2030 itu silakan klik di sini.

Tentang pentingnya penataan ruang Jakarta dan masalah mendesak sekarang, silakan lihat tulisan “Warga, Tata Ruang, Jakarta Lestari” disini.

Apakah masukan yang perlu kita, sebagai warga yang ahli maupun yang awam, ingin sampaikan kepada DPRD? Silakan sampaikan di sini!

Paparan RTRW DKI Jakarta _8 September 2009_vFinal_v2003

3 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


18 Nov 2009

Rujak Memenangkan Anugerah Jurnalistik Tata Ruang

Sejak diberlakukannya Undang Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kedekatan dan pentingnya sinergi antara rencana pembangunan dan penataan ruang menjadi tak terpelakkan. Konsep penataan ruang yang kerap terasa diawang-awang dan jauh, menjadi dekat dan mulai mengundang rasa ingin tahu. Dan undang-undang baru tersebut menjadi momentum yang tepat untuk memasyarakatkan pentingnya penataan ruang dalam kehidupan masyarakat.

Karenanya, demi mendorong pemahaman dan apresiasi terhadap penataan ruang, Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum menyelenggarakan Anugerah Jurnalistik Tata Ruang yang ditujukan kepada kalangan media dengan kategori media cetak, TV, radio dan online

Rujak, dengan rangkaian tulisan mengenai penataan ruang, menjadi salah satu pemenang untuk kategori online.  Hadiah diserahkan langsung oleh Menteri Pekerjaan Umum bertepatan dengan Hari Tata Ruang tanggal 8 November kemarin.

Tulisan Rujak yang memenangkan Anugerah Jurnalistik, yaitu “Warga, Tata Ruang, Jakarta Lestari”, dapat dibaca disini.

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Sep 2009

Apa arti rumah?

Impian

Apakah definisi rumah? Apakah itu berarti sebuah bangunan dengan alamat yang tertera dalam KTP masing-masing? Atau sebuah tempat dimana kita menghabiskan sebagian besar waktu, entah itu tidur atau bermain? Atau tempat yang penuh dengan memori dan keluarga? Atau hanya tempat kita tidur, dan esok pagi bertolak pergi ke tempat lain?

Apakah berarti tempat yang kita kunjungi satu tahun sekali setiap libur raya?

Mari renungkan arti rumah? Munkinkah rumah tak hanya lagi berarti kelompok-kelompok ruang yang terdiri atas ruang tidur, ruang keluarga dan ruang makan? Toh cafe, lounge, restaurant mampu menjadi pengganti ruang-ruang itu?

Sementara ada warga-warga yang menghabiskan waktunya di kota lain yang bukan domisilinya, seperti hasil survey disini. Apakah dengan demikian rumahnya adalah tempat dia menghabiskan banyak waktu?

Jakarta pun demikian. Kota yang pada malam hari berjumlah sekitar 8 juta penduduk, sedangkan siang harinya hampir berlipat ganda. Kota dimana warganya dapat tinggal berdampingan dengan kereta api disaat bersamaan ada yang berdomisili di kaki langit. Ada juga yang terus mendeskripsikan ruang-ruang tinggal itu, seperti eksplorasi arsitek-arsitek muda ini. Lalu bagaimana dengan anda?

Apakah rumah itu?

Foto oleh Dita Wisnuwardani

12 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


28 Aug 2009

Singgih of Magno Wooden Radio offers a New Urbanism

Singgih

Singgih Susilo Kartono among the trees surrounding Magno wooden radio workshop (August 23, 2009@Marco Kusumawijaya)

Singgih Susilo Kartono, the maker of Magno wooden radios, thinks we should grow together with our resources. He wants to prove it in his village, Kandangan, in Temanggung, only 8 km from the house where Police thinks Noordin Top hid.  Will it materialise sustainably or become a bursting utopia? Only more elaboration and testing-out will answer that question. We discussed this issue while enjoying fresh air in his workshop on August 23, 2009.

He envisions his village to develop sustainably with production, consumption and resources growing together in the same locale. He wants to literally grow resources for his factory. He has already started growing seeds of sonokeling, mahoni, and other hardwood that he uses for his products, the famous awards winning Magno wooden radios, toys and stationery. He distributes the seeds for free to his neighbours to plant them on their own lands. One slide of his powerful powerpoint presentation shows how more trees emerge and grow bigger as his production grows as well.

With demand for his products growing (creating a current backlog of one month), it is very likely that he will have to expand his production facilities soon, although he does not wish to hurry on that. His neighbours will also enjoy the desentralised distribution of benefits soon. If things go well in the next couple of years, the village vill soon experience a densification process, having new wealth that willl materialise in the “rural” space

Singgih’s vision of production based on local resources, and a fair distribution of wealth in the locale, revives our imagination of “garden city” and other utopias in the history of urbanism. Resources and production are closely linked with relationships clearly tangible and within sight. It would certainly means very low ecological footprint. Fortunately, his “inputs” of the electrical parts in his radios also come from nearby factories in Semarang, two hours by car from Kandangan, Singgih’s base.

His products are sold so far mostly to consumers abroad. MOMA in New York just started to sell them in their stylish museum shop. Can we assume that the value he added to the woods justifies the emission of CO2 of transporting them?

Need for a plan

In anticipation of the spectre of  “growth” that is lurking from behind both the demand for his products, and the needs of the village, Singgih is already thinking of  creating a “masterplan” to guide the village development into the future. A serious mapping of available assets (natural and man made) is needed. A vision of how a future growth wil also grow and nurture (instead of deplete) the assets will be an intriquing exercise of intellect, creativity and technical skills of many disciplines.

1 Comment »

Topics: , , , , , , , , , , , | Agent of Change: none |