<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak &#187; sungai</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/tag/sungai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 03:28:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Peta Rencana Jakarta 2010-2030</title>
		<link>http://rujak.org/2010/01/peta-rencana-jakarta-2010-2030/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/01/peta-rencana-jakarta-2010-2030/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 03:30:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[RTRW]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[tata ruang]]></category>
		<category><![CDATA[transportation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1461</guid>
		<description><![CDATA[Silakan amati, apa yang akan terjadi pada daerah anda untuk kurun waktu 20 tahun yang akan datang. Peta draft RTRW Jakarta View more documents from Elisa Sutanudjaja.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Silakan amati, apa yang akan terjadi pada daerah anda untuk kurun waktu 20 tahun yang akan datang.</p>
<div style="width:425px;text-align:left" id="__ss_2823855"><a style="font:14px Helvetica,Arial,Sans-serif;display:block;margin:12px 0 3px 0;text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/elisa3da/peta-draft-rtrw-jakarta" title="Peta draft RTRW Jakarta">Peta draft RTRW Jakarta</a><object style="margin:0px" width="425" height="355"><param name="movie" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=petaall-100103205113-phpapp02&#038;rel=0&#038;stripped_title=peta-draft-rtrw-jakarta" /><param name="allowFullScreen" value="true"/><param name="allowScriptAccess" value="always"/><embed src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=petaall-100103205113-phpapp02&#038;rel=0&#038;stripped_title=peta-draft-rtrw-jakarta" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="355"></embed></object>
<div style="font-size:11px;font-family:tahoma,arial;height:26px;padding-top:2px;">View more <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/">documents</a> from <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/elisa3da">Elisa Sutanudjaja</a>.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/01/peta-rencana-jakarta-2010-2030/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balada Sungai Jakarta</title>
		<link>http://rujak.org/2009/10/balada-sungai-jakarta/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/10/balada-sungai-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 05:34:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Peta Hijau]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1184</guid>
		<description><![CDATA[13 sungai dan puluhan kali melewati wilayah Jakarta dalam bermacam rupa, warna dan bau. Sungai dan kali tersebut membelah jalan, mengiringi jalan, ada di belakang rumah kita atau sepanjang kita berjalan dan bersepeda. Lalu bagaimanakah warga Jakarta berinteraksi dengan sungai-sungai itu. Mantan gubernur kita pernah menyatakan sungai-sungai di Jakarta ibarat WC umum terpanjang di dunia.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>13 sungai dan puluhan kali melewati wilayah Jakarta dalam bermacam rupa, warna dan bau. Sungai dan kali tersebut membelah jalan, mengiringi jalan, ada di belakang rumah kita atau sepanjang kita berjalan dan bersepeda. Lalu bagaimanakah warga Jakarta berinteraksi dengan sungai-sungai itu.<span id="more-1184"></span></p>
<p>Mantan gubernur kita pernah menyatakan sungai-sungai di Jakarta<a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2006/12/10/brk,20061210-89220,id.html" target="_blank"> ibarat WC umum terpanjang di dunia</a>.  Tak hanya berfungsi sebagai WC, sungai pun menjadi tempat sampah, padahal sampah dan sungai itu <a href="http://rujak.org/2009/09/sampahku-tanggung-jawab-siapa/" target="_blank">tanggung jawab</a> dan milik bersama. Namun ketika menyangkut masalah sampah, mendadak kesadaran kolektif pun menguap. Relasi manusia dengan sungai disini adalah, manusia berhak menguasai sungai, tapi apakah ia memelihara sungai &#8211; belum tentu.</p>
<p>Lain padang lain belalang, lain Jakarta lain Singapura. Memang tak adil membandingkan Jakarta dengan negara tetangga yang ber-GDP puluhan kali lipat. Tapi relasi antara Jakarta dan Singapura demikian dekat &#8211; waktu tempuh yang singkat, menjadikan Singapura lebih mudah dijangkau dari Jakarta dibandingkan misalnya, Tasikmalaya; serta entah berapa banyak orang Indonesia, khususnya warga Jakarta yang pernah tinggal disana, atau sedang tinggal disana, atau bolak balik ke Singapura. Jika Jakarta, katanya, memperlakukan sungainya sebagai tempat sampah dan WC umum, lain pula dengan Singapura. Mereka menganggap sungai sebagai reservoir, aset, dan dimana air tersebut ditangkap untuk diolah menjadi air mandi, memasak, cuci pakaian hingga mandi.</p>
<p>Kerap kali pengolahan air, terutama air minum ditempatkan pada area yang jauh dari kehidupan manusia dan polusi. Sumber air pun diproteksi demikian pula hutan-hutan disekitarnya. Namun tidak demikian bagi negara-kota macam Singapura yang memiliki sumber daya alam terbatas dam harus tergantung pada Malaysia dan Indonesia untuk pemenuhan air bagi warganya. Mereka harus mencari alternatif dan mengurangi ketergantungan itu. Salah satunya adalah langkah radikal mengubah 2 sungai besar yang membelah Singapura menjadi reservoir air, dan tak hanya sungai besar, berikut pula anak-anak sungainya. Padahal ada bagian sungai-sungai tersebut melewati daerah padat kegiatan, seperti Clarke Quay, Boat Quay, Marina dan Esplanade.</p>
<div id="attachment_1189" class="wp-caption aligncenter" style="width: 622px"><img class="size-full wp-image-1189  " title="CLARKE QUAY_SM" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/10/CLARKE-QUAY_SM.jpg" alt="Sungai Singapura akan Menjadi Bagian dari Cadangan Air Kota" width="612" height="409" /><p class="wp-caption-text">Sungai Singapura akan Menjadi Bagian dari Cadangan Air Kota</p></div>
<p>Tentu bagaikan mimpi di siang bolong jika ada gubernur Jakarta yang berambisi untuk me-reservoir-kan 13 sungai Jakarta. Hanya ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik disini, terlebih jika kita memperhatikan tulisan pada gambar diatas. Bagaimana relasi kita dengan sungai Jakarta? Benarkah WC umum? Tempat sampah? Atau kambing hitam saat banjir?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/10/balada-sungai-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bang Idin Hebat</title>
		<link>http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 08:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bang Idin]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Agriculture]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Amartya Syahruzad  &#38; Laksmi Prasvita. Bang Idin, penyelamat Sungai Pesanggrahan,  telah memenangkan Kalpataru untuk konservasi air,  dan berbagai penghargaan di Abu Dhabi, Jerman dan Belanda. Sempadan sungai tersebut  terancam pembangunan perumahan, pembuangan sampah serta limbah. Bang Idin, yang nama lengkapnya adalah Haji Chaerudin, telah menata 120 hektar lahan dari total 136 km panjang sungai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em><strong>Oleh Amartya Syahruzad  &amp; Laksmi Prasvita.</strong></em> Bang Idin<strong>, </strong>penyelamat Sungai Pesanggrahan,  telah memenangkan Kalpataru untuk konservasi air,  dan berbagai penghargaan di Abu Dhabi, Jerman dan Belanda.</p>
<p><span id="more-406"></span></p>
<p>Sempadan sungai tersebut  terancam pembangunan perumahan, pembuangan sampah serta limbah. Bang Idin, yang nama lengkapnya adalah Haji Chaerudin, telah menata 120 hektar lahan dari total 136 km panjang sungai Pesanggrahan. Empat puluh hektar darinya berada di Jakarta Selatan di sepanjang 36 km bantaran sungai. 80 hektar lainnya tersebar di wilayah Bogor, Tangerang, Depok dan Banten. Lahan yang ditata Bang Idin dan Kelompok Tani Sangga Buana bimbingannya, ditanami sekitar 60.000pohon, yang terdiri dari tanaman buah buahan, koridor burung, tanaman langka, tanaman obat, serta tanaman dengan nilai konservasi. Sekitar 20.000 ikan dari berbagai jenis dilepaskan kembali  ke habitat sungai . Burung, kura kura, berang-berang, ular piton,  musang  dan berbagai  jenis binatang lainnya yang telah punah  telah dikembalikan lagi ke habitatnya. Hutan Bang Idin seluas 40 hektar disepanjang 36km sungai Pesanggrahan, bisa dicapai dari Vila Delima, Jl. Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.</p>
<p><em>Hari  ini aku diajak ibuku bersama eyang ke hutan Bang Idin. Kami berangkat pagi hari, sampai di sana siang hari. Kami turun tangga sampai bawah. Terus kami bertemu dengan Bang Idin. Aku takut waktu turun karena ada kuburan. Tapi akhirnya senang. Aku melihat sungai yang cokelat, tapi kata Bang Idin sungai itu bersih. Bang Idin memakai baju yang kotor dan tidak memakai sandal dan keliatan udelnya. Aku tidak takut sama Bang Idin. Tapi aku takutnya sama ular dan buaya.  Aku dan ibuku ngobrol sama Bang Idin sambil menulis apa yang dia katakan. Terus kami diajak Bang Idin ke hutan yang dia selamatkan. Kata Bang Idin di hutan dia ada banyak binatang. Eyangku saja takut.  Eyangku jalannya lambat jadi aku harus gandeng dia. Kami ditunjukkan mata air, dan banyak pohon-pohon. Aku lihat pohon jengkol, waru, oyong, singkong, kecapi, buni dan gondang. Pohon jengkolnya ternyata besar sekali. Ada suara tokek yang mengagumkan. Ada banyak binatang selain tokek: kadal, ular, cicak, burung, ikan, kepiting  (panggilannya yuyuk), capung, kupu-kupu dan tawon. Ada banyak nyamuk disitu, jadi lain kali harus pakai obat anti nyamuk.</em></p>
<p><em>Terus kami pergi ke empang. Eyang membeli ikan mas yang beratnya tiga kilo. Aku dan ibuku memancing. Kami dibantu oleh abang-abang yang ada disitu. Aku dapat ikan mas kecil dan diberi labu air. Kata Bang Idin labunya bagus buat otak. Bang Idin orangnya hebat bisa menyelamatkan hutan. Aku senang dan mau kembali lagi. Bang Idin menyelamatkan hutan, pohon-pohon obat, titik-titik mata air supaya kita punya air minum. Kata Bang Idin, air yang berasal dari mata air itu bisa diminum. Daun waru itu buat obat demam. Bang Idin jago silat macan dan bawa golok kemana-mana. Tapi, dia bilang, “Jawara itu bukan memukul orang klenger, tapi berteman. Kalo yang memukul orang klenger itu namanya preman.”</em></p>
<p><em>Amartya Syahruzad, 10 tahun, adalah putra dari Laksmi Prasvita.</em></p>
<p><em>***</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 14.0px Times New Roman;"><strong>KETIKA SUNGAI MASIH BERPALUNG DI PESANGGRAHAN</strong></p>
<p style="text-align: left;">Oleh Laksmi Prasvita, konsultan PR.</p>
<p>“Alam Ini Bukan Warisan Nenek Moyang Tetapi Titipan Anak Cucu Kita”, demikian  tulisan di sebuah plang yang di tancapkan di sebatang pohon ditengah jalan masuk menuju Pos 1, salah satu pos pengawasan sungai Pesanggrahan. Dilatar belakang plang tersebut, seorang lelaki berkostum silat hitam, penuh lumpur dan tak beralas kaki, tampak sedang membersihkan <em>dinghy</em>. Dia segera menyambut kami dan memperkenalkan diri: “Saya Bang Idin”</p>
<p>Pemenang hadiah Kalpataru untuk bidang konservasi air itu sangat terbuka,  hangat dan rendah hati. “Ada sekitar 150 titik mata air di sepanjang sungai Pesanggrahan yang harus diselamatkan. Jika air tidak diselamatkan, bisa lebih mahal harganya daripada bensin”, ujarnya. Dengan antusias dia melanjutkan: “Ada sekitar 30 rawa besar yang hilang di Jakarta. Jika Jakarta banjir, itu karena air menemukan jalannya. Alam tidak bisa dilawan!”</p>
<p>Segalanyanya berawal dari keprihatinan 15 tahun yang lalu. Saat itu, Bang Idin menyaksikan kerusakan  sempadan sungai Pesanggrahan yang penuh sampah, gundul, gersang  dan malahan ditumbuhi bangunan perumahan baru, serta menjadi tempat pembuangan limbah.  Bang Idin melancarkan protes. Ia berujar: “Protes saya lakukan dengan membersihkan sampah, menanam pohon dan tidak memaki maki, alih-alih membuat bom seperti Amrozi”</p>
<p>“Saya protes akan filsafat pembangunan yang hanya menekankan pada pembangunan fisik. Pembangunan itu seharusnya menekankan pada pembangunan manusia agar lebih mengenal jati dirinya, mengenal Tuhannya dan mengenal hakikat hidup”</p>
<p>Ada pepatah leluhur yang mengatakan: kalau sungai tak lagi berpalung, kalau pasar tak lagi tawar menawar, maka hilanglah peradaban. “Pepatah ini saya pegang dan memberi saya motivasi untuk menjaga palung sungai serta pasar tradisional, yang memberi tempat kepada manusia untuk saling berinteraksi . Bukan mall, dimana harga sudah ditentukan dan pembeli harus membayar harga yang ditentukan. Peradaban akan hilang jika interaksi antar manusia dihilangkan”</p>
<p>Pembangunan di Jakarta yang marak dengan berdirinya gedung dan perumahan penduduk, terus memberikan ancaman bukan saja bagi interaksi tradisional antar manusia namun juga interaksi manusia dengan alamnya. Peraturan Pemerintah menetapkan lebar sempadan sungai  minimal 50-100meter (tergantung besar sungai dan peruntukan daerah sekitar). Artinya wilayah ini harus dijaga dari jarahan pembangunan perumahan dan gedung. Namun peraturan ini mendapat ancaman dari meningkatnya harga tanah. Harga untuk mempertahankan tanah bagi lingkungan hidup harus bertarung dengan <em>opportunity cost</em> harga ekonominya. Dengan menerawang Bang Idin mengatakan: “Pembangunan seharusnya berdasarkan kearifan bukan keuntungan ekonomi semata. Kalau berdasarkan kearifan kita pasti untung. Kalau berdasarkan keuntungan ekonomi semata, kita semua akan tengelam”. Sebuah filsafat yang kini menjaga dan membuat sungai masih berpalung di Pesanggrahan.</p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="size-full wp-image-407 aligncenter" title="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan (2)" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/bang-Idin-di-pinggir-sungai-pesanggrahan-2.JPG" alt="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan (2)" width="553" height="415" />
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/bang-idin-di-pinggir-sungai-pesanggrahan-2/' title='bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan (2)'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/bang-Idin-di-pinggir-sungai-pesanggrahan-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan (2)" title="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan (2)" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/plang-jalan-masuk-pos-1-2/' title='Plang Jalan Masuk Pos 1 (2)'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/Plang-Jalan-Masuk-Pos-1-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Plang Jalan Masuk Pos 1 (2)" title="Plang Jalan Masuk Pos 1 (2)" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/bang-idin-di-pinggir-sungai-pesanggrahan/' title='bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/bang-Idin-di-pinggir-sungai-pesanggrahan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan" title="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/marty-dapat-ikan/' title='Marty dapat ikan'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/Marty-dapat-ikan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Marty dapat ikan" title="Marty dapat ikan" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/bang-idin-kasih-tahu-makanan-obat/' title='Bang Idin kasih tahu makanan obat'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/Bang-Idin-kasih-tahu-makanan-obat-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Bang Idin kasih tahu makanan obat" title="Bang Idin kasih tahu makanan obat" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/plang-jalan-masuk-pos-1/' title='Plang jalan masuk pos 1'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/Plang-jalan-masuk-pos-1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Plang jalan masuk pos 1" title="Plang jalan masuk pos 1" /></a>
</p>
<p></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

