Posts Tagged ‘taman’


01 Feb 2010

Tokyo Green Space

http://tokyogreenspace.com/

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


15 Dec 2009

Apakah Pejalan Kaki Perlu Kumpulkan Sejuta Tanda Tangan juga?

Saya harap tidak demikian.

Ketika komunitas Bike To Work meminta jalur sepeda kepada Gubernur Jakarta, maka sang gubernur pun menantang balik: ‘Jika komunitas mampu mendapatkan tanda tangan dari 1 juta pesepeda, maka gubernur baru memenuhi tuntutan jalur sepeda. Apakah demi mendapatkan trotoar nyaman, aman, dan lestari, maka warga Jakarta harus mengajukan 1 juta tanda-tangan dahulu sebelum ditindaklanjuti oleh gubernur?

Memanusiawikan Areal Pejalan Kaki.

Kehidupan kota yang demokratis berarti kehidupan kota yang memenangkan kepentingan publik diatas kepentingan pribadi dan golongan. Cermin kota yang demokratis dapat terlihat dari kondisi ruang-ruang publiknya. Bagaimana dengan kondisi trotoar dan taman-tamannya? Apakah kota didominasi oleh bangunan-bangunan publik seperti museum dan perpustakaan atau dikuasai oleh pusat-pusat perbelanjaan?

Walikota Bogota periode tahun 1998 – 2001, Enrique Penalosa dalam acara Sustainable Jakarta Convention mengutarakan pentingnya trotoar, demikian dikutip: “Sidewalks are the most important factor of democratic life.” Di trotoar itulah para warga dari berbagai macam latar belakang bertemu dan memiliki status yang sama, yaitu sebagai pejalan kaki. Trotoar pun dianggap penting karena trotoar merupakan perpanjangan tangan dari taman-taman kota. Taman-taman dan elemen kota lainnya terhubung dan disatukan oleh trotoar.

Lebih lanjut lagi, Walikota Penalosa mengutarakan deskripsi kota yang baik ( A Good City), yaitu kota dimana warga-warganya bahagia ketika berada didalam luar ruangan dan ruang publik, serta mau menghabiskan waktu diluar. Kota tersebut baik, apabila ramah dan nyaman bagi anak-anak, kaum manula dan kaum difabel (diffabled people).

Lalu bagaimana dengan Jakarta? Jakarta boleh bangga akan berbagai macam pusat perbelanjaan dengan desain mutakhir. Namun pusat perbelanjaan bukanlah ruang publik, karena dalam pusat perbelanjaan terjadi seleksi terhadap kelas ekonomi, dan tentunya mengesampingkan kaum miskin. Kedemokratisan Jakarta pun dipertanyakan jika melihat kondisi trotoar dan taman-taman kota. Trotoar-trotoar di Jakarta bagaikan serupa tak sama dengan trotoar di negara-negara Afrika, misalnya kota di Kamerun dan Sudan.

Kondisi trotoar di Kamerun

Kondisi trotoar di Kamerun, memiliki kesamaan dengan trotoar di Jakarta

Di trotoar Jakarta, para pejalan kaki bersaing dengan parkir mobil, motor, sampah hingga pedagang kaki lima. Jangankan menjadi jalur sepeda, para pejalan kaki pun sering tersingkir dari trotoar. Tak hanya harus bersaing, pejalan kaki harus berhadapan dengan kondisi trotoar yang menyedihkan, seperti permukaan tidak rata, diinterupsi terus menerus oleh pintu masuk dan keluar mobil dan terkadang ada motor yang melaju diatas trotoar.

Kondisi trotoar yang buruk bukannya tidak disadari oleh aparat. Setidaknya itulah yang tersurat dari situs resmi Pemda DKI Jakarta. Tak hanya ketidakmampuan pemerintah untuk membuat nyaman trotoar, ada saja orang-orang yang merusak trotoar, misalnya oknum yang mencuri conblock, hingga pedagang (baik pedagang kaki lima maupun bukan) yang menginvansi secara masif trotoar, dan akhirnya melemparkan para pejalan kaki sehingga harus tersingkir dan berdampingan dengan mobil motor yang melaju di jalan.

Keberpihakan kota Jakarta terhadap kendaraan bermotor pun terlihat jelas, dengan semakin banyaknya jalan baru dalam rupa jalan tol, jalan layang, jalan pintas bawah tanah, hingga jalan arteri yang terus bertambah, sementara areal pejalan kaki terkikis dan terdeteriorasi.

Adakah yang salah dalam perencanaan dan desain urban Jakarta sehingga kondisi trotoar semakin menyedihkan dan hak pejalan kaki terus terzalimi? Bisa jadi karena trotoar dianggap sebagai pelengkap bukan sebagai kebutuhan. Ditambah lagi, kemacetan yang ada, selalu dianggap oleh para insinyur jalan sebagai tanda kurangnya jalan mobil, sehingga pejalan kaki menjadi warga kelas dua di kota ini. Pada akhirnya keputusan akan pentingnya trotoar menjadi kebutusan teknis (engineering decision) dan bukannya berdasarkan kehendak dan keputusan politik (political decision). Dan terkadang pemangku kepentingan pun tak sadar, kalau trotoar adalah salah satu sarana transportasi umum. Terlebih jika trotoar tersebut memiliki hubungan dan jaringan yang baik dengan moda transportasi umum lainnya, seperti halte TransJakarta, halte bus, dan stasiun kereta api.

Lalu apa yang perlu warga Jakarta lakukan demi merebut kembali ruang jalan kaki tersebut? Pertama, sadarlah bahwa trotoar itu adalah aset kota, hargailah trotoar. Jika dan seandainya gubernur memerlukan tanda tangan sejuta pejalan kaki demi memperbaiki trotoar, marilah kita sesama warga Jakarta kerja keras mengumpulkan tanda tangan demi memerdekakan trotoar. Para pemilik gedung-gedung dan bangunan yang berdampingan langsung dengan trotoar, diminta ‘kemurahan-hatinya’ untuk menjaga agar kontinuitas trotoar tidak terinterupsi dengan parkir mobil, pintu masuk dan keluar kendaraan motor, hingga perpanjangan gerai-gerainya, termasuk menyediakan areal bagi pedagang kaki lima dalam kompleks kantor. Para pemakai sepeda motor, dimohon untuk tidak menjajah trotoar sebagai tempat parkir maupun jalan singkat.

Mari bersama-sama mewujudkan Trotoar yang Merdeka.

4 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


30 Nov 2009

Taman Sringanis: Sekeping Surga di Tepi Kota

IMG_8438

Oleh: Fika Frieda Auliany untuk www.rujak.org

Terlepas dari hiruk pikuk dan kepadatan kota Jakarta, terdapat suatu tempat bernama Taman Sringanis, terletak di Cipaku, Bogor Selatan. Berbeda dengan taman biasa pada umumnya, taman ini bukan sembarang taman bunga, melainkan taman pengembangan, konservasi dan pelestarian tanaman obat. Kini terkumpul kurang lebih 500 macam tanaman berkhasiat, mengelilingi rumah mungil di atas tanah seluas 1000 m2. Rumah mungil tersebut diperuntukan untuk diskusi, pelatihan dan pelayanan kesehatan.

Dengan pemandangan Gunung Salak yang terlukis indah pada saat menginjakan kaki di depan pintu pagar yang menyambut terbuka, terlihat berbagai macam tanaman berbaris dengan rapih di sekitar halaman, lengkap dengan papan nama serta khasiat kegunaannya. Terdapat tanaman Keladi Tikus, Iris Versicolor, Kembang Coklat, Mistuba, Ceplikan dsb. Semua tanaman tersebut merupakan tanaman obat-obatan yang dirawat secara rapih oleh pengelolanya.

Taman Sringanis didirikan pada tahun 1982 dan dikelola oleh pasangan suami istri bernama Putu Oka Sukanta dan Endah Lasmadiwati yang merupakan Akupunturis. Nama taman tersebut terinspirasi dari nama Ni Ketut Taman dan Ni Ketut Sringanis, kedua wanita yang merupakan Ibunda dan Bu’de dari Bapak Putu, wanita yang paling berarti di dalam hidupnya.

Tidak hanya tempat pengembangan, konservasi dan pelestarian tanaman obat saja, namun taman juga merupakan tempat pengobatan untuk berbagai penyakit. Tempat ini berusaha menanamkan nilai-nilai penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar dapat mengatasi masalah kesehatan dengan cara tradisional dan alami. Karena pada saat itu, masyarakat sangat tergantung pada farmasi dan obat-obatan kimia yang kian banyak beredar.

Mereka percaya setiap individu memiliki potensi energi natural killer dibadannya atau pengobatan secara alami yaitu dengan cara meditasi, dzikir, dan meningkatkan energi positif dalam tubuhnya-. Oleh karena itu terdapat dua macam faktor yang diperlukan oleh manusia dalam pengobatan yaitu dari faktor lingkungan dan penyembuhan dari diri sendiri (individual self care). Dengan metode tersebut, taman ini berharap dapat meningkatkan inner potency yang dimiliki tiap individu dan dengan dibantu faktor dari luar. Dan taman ini juga menyediakan bahan-bahan pengobatan yang dapat membantu meningkatkan kesehatan tubuh dan ramah lingkungan.

Terdapat resep dan ramuan-ramuan tradisional untuk berbagai macam penyakit untuk masyarakat yangmana diharapkan dapat meningkatkan kesadaran diri untuk tetap sehat dan menyebarluaskan kepada masyarakat sekitar. Dengan memakai bahan-bahan alami, maka masyarakat dapat mengatasi masalah kesehatannya dan menanamkan konsep makanan dan minuman adalah obat, dan obat adalah makanan dan minuman.

Kedua pemilik taman Sringanis ini mengumpulkan berbagai macam tanaman obat-obatan dari pelosok daerah dan dari luar negeri dalam kegiatan berdialog mereka mengenai kesehatan, selama mengunjungi pelosok-pelosok daerah, mereka juga mendapatkan banyak pengetahuan tentang kesehatan dari masyarakat setempat mengenai tanaman obat dan fungsi-fungsinya.

Dengan mempunyai kondisi tempat yang asri dan udara yang bersih, maka tanaman-tanaman yang dikumpulkan dapat hidup karena cocok dengan kondisi lingkungannya. Namun tidak hanya tanaman pengobatan saja, namun disini juga terdapat pengobatan acupressure –pengobatan akupuntur dengan cara dipijat- dan pelatihan penyembuhan  penyakit HIV/ AIDS.

Terlepas dari segala keindahan dan manfaat yang ditawarkan Sringganis, taman ini bisa menjadi alternatif bagi banyak warga Jakarta yang doyan ke daerah Puncak dan sekitarnya.

Lokasi:

Kamp. Cimanengah RT 002/05 No. 29, Cipaku. Bogor Selatan.

Tel: (0251) 370692.



View Larger Map

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


09 Jul 2009

Visioning the Future of Jakarta: Imagining Jakarta, 2004

Imagining Jakarta is a collaboration in 2004 by architects, urban designers/planners, poets, graphic designers, photographers, sculptors, and multi-media artists, to “imagine” visions for some urban spaces and issues in Jakarta. It was conducted through a series of  workshop in 2004, and the results were exhibited at Gallery Cemara in December 2004. The participants are: Marco Kusumawijaya, Adi “Mamo” Purnomo, Dewi Susanti, Bonifacius Djoko Santoso , Yuka, Irwan Ahmett, Paul Kadarisman, Erik Prasetya, Enrico Halim, Akhmad “Apep” Tardiyana, Gregorius Supie Yolodi, Hedi Hariyanto, Budi Pradono ,Yuka Dian Narendra and David  Setiadi.

DSC05079

Bagaimana kalau Lapangan Monas berkontur Bukittinggi? Dengan ngarai untuk menampung air, dan bukit serta lembah-lembah sebagai ruang mikro yang lebih dapat dinikmati daripada keadaan sekarang.

MarcoWork3IJ

Ruang pameran: sepadat dan sehiruk pikuk metropolis Jakarta. Bundaran HI (kini HIK) yang permukarannya diturunkan, dengan stasiun MRT di bawahnya, suatu visi yang kini mau tidak mau akan/harus terwujud segera.

For more pictures, see: http://www.flickr.com/photos/rujak/sets/72157620952348995/ (more…)

1 Comment »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


03 Jul 2009

Need parks?

One of the first comments we received here is about having more public parks in Jakarta. Terry Collins (Jakartass) present a case of the dire need for parks in Jakarta. Hidayat Banjar wrote how grateful he is that Medan is better than Jakarta in terms of city park.The government, since 1999 in their RTRW 2010 (Master Plan), is actually targeting 14% of land to be dedicated for green open spaces. But currently, the number stalls at 1%-1.5%. Why do you think the Master Plan has failed?

Maybe we can start by being loud. People in facebook has begun to voice out their concerns:

Or we can directly contact Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI. Hopefully, with more people enquiring, the government will realize the urgency of this matter. BTW It’s fascinating to see that public parks, which are meant to be social space, are put together with cemeteries, which are the place for the dead.

4 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |