Posts Tagged ‘tokyo’


06 Sep 2011

BUDAYA VISUAL DAN LEDAKAN INFORMASI: Oleh-oleh dari Jepang

Peta kereta Tokyo, subway dan jalur atas.

Oleh: Hikmat Darmawan.

Udara dan ruang penuh informasi. Stasiun-stasiun Tokyo, baik di lintasan jalur Yamanote yang jadi lingkar pusat jalur kereta Tokyo, maupun di stasiun-stasiun subway-nya. Ledakan informasi, seperti hana-bi (festival kembang api): penuh warna, meriah, dan ditonton dengan keriaan yang takzim.

Informasi dalam bentuk rupa: peta rute dengan menit-menit waktu kereta, poster tentang jangan lari terburu masuk kereta atau tentang bagaimana sebaiknya membawa tas ransel dalam kereta, iklan, signage, pengumuman digital tentang posisi kereta, dan sebagainya.

Informasi dalam bentuk suara: pengumuman-pengumuman tentang, antara lain, tujuan dan stasiun berikut serta tentang adab naik kereta; juga kode bunyi untuk memberi tahu penumpang yang buta bahwa pintu kereta sedang membuka; dan sebagainya.

Informasi dalam bentuk rupa-suara (audio-visual): TV kereta, yang berisi iklan-iklan produk dan berbagai pengumuman tentang posisi kereta.

Pada pintu masuk/keluar stasiun sudah banyak informasi

Masih ada beberapa bentuk informasi lain yang bisa didapat para penumpang. Terutama, peta jalur kereta Tokyo, yang tersedia versi selembar yang bisa dilipat-lipat dan versi booklet yang dilengkapi dengan keterangan tempat-tempat utama di Tokyo beserta berbagai atraksi utama mereka bagi para turis asing (informasi dalam bahasa Inggris).

Jika itu masih belum cukup, setiap petugas di setiap stasiun akan sangat membantu, walau seringkali mereka tak bisa berbahasa Inggris atau berbahasa Inggris yang terpatah-patah. Begitu juga jika stasiun dekat dengan komban (pos polisi), para polisi dengan ramah dan gigih akan berusaha memberi keterangan dan membantu Anda yang kebingungan. Dan di luar stasiun, masih ada berbagai medium informasi, termasuk mading (majalah dinding) dan peta daerah berbentuk mading.

Ledakan informasi ini jelas asyik buat yang para pengunjung kota dari mancanegara yang tak bisa berbahasa Jepang. Dan di dalam sistem kereta yang sungguh rumit di Tokyo, banyak warga Jepang sendiri (baik dari luar Tokyo maupun dari dalam Tokyo) yang sering kebingungan, kehilangan arah, di stasiun-stasiun besar Tokyo macam stasiun Tokyo, Shibuya, Shinjuku, Akihabara, atau Ueno.

Tapi, jika ditanya, ada saja warga Tokyo yang agak jengkel dengan keberlimpahan informasi tersebut. Khususnya, arus informasi di jalur Yamanote, yang sangat “cerewet”. Seorang kakek mengomel, “Saya tak butuh diajari terus-menerus, bagaimana cara naik kereta!” Kebanyakan warga, sebagaimana citra stoic (kalem) orang Jepang, naik kereta-kereta cerewet itu dengan anggun, atau bersibuk dengan buku di tangan, atau HP dan game di Gameboy, iPad atau Galaxy Pad, atau laptop mereka.

Toh, pada saat Gempa Tohoku 11 Maret 2011, banyak perangkat informasi di stasiun-stasiun dan kereta Tokyo berfungsi menjadi saluran info bencana. Saat gempa usai, dalam waktu beberapa menit saja, para petugas stasiun menjadi salah satu sumber informasi yang aktif memberi keterangan pada warga mengenai gangguan operasi kereta di Tokyo. Dalam waktu beberapa hari, di stasiun-stasiun ramai Tokyo, dipasang TV layar datar ukuran besar untuk info bencana selama stasiun beroperasi (rata-rata dari subuh hingga tengah malam).

 

Bangsa Paling Visual?

Banyak informasi di stasiun kereta dan dalam kereta Jepang berbentuk komik dan animasi. (Sebetulnya, boleh dibilang di seluruh Jepang, banyak informasi yang berbentuk komik dan animasi.) Di kota-kota besar Tokyo, berlimpah informasi berbentuk visual, baik berupa gambar (komik, kartun, dsb.) atau foto.

Apakah ada hubungan antara lekatnya bangsa Jepang pada budaya visual, dan kegandrungan mereka pada informasi?

Saya tak akan berpretensi memberi jawaban ilmiah di sini. Saya bahkan tak yakin akan menyodorkan jawaban definitif. Saya hanya akan berbagi kesan saja. Kesan yang saya duga mudah kita dapati jika kita berkesempatan menelusuri jalan-jalan di Tokyo, atau kota mana pun di Jepang.

Tempat antri menanti kereta.

Yang segera tertangkap, memang, jalan-jalan dan ruang-ruang publik Jepang dibuat dengan kesadaran besar akan dipandang. Bukan sekadar, misalnya, jalan-jalan yang ditata rapi dan pohon-pohon resik dan lezat dipandang. Bukan pula sekadar karena lautan neon di Shinjuku, Shibuya, atau Ginza, yang seolah jadi gambaran wajib dalam kartu-kartu pos atau film-film bertempat “Jepang modern”. Juga bukan sekadar karena kita temui patung-patung karya seniman kontemporer dunia di jalan Maranouchi, dekat stasiun Tokyo dan istana Kaisar.

Ada semacam kesadaran kuat tentang kegiatan memandang dan kesediaan dipandang di jalan-jalan dan ruang terbuka Jepang. Kesadaran yang tak hanya mewujud dalam penataan ruang dan benda-benda pendukungnya, tapi juga mewujud dalam bagaimana orang-orang Jepang membawa diri mereka di jalanan.

Ketika membahas lukisan nude di Barat dalam Ways of Seeing (1972), John Berger mengungkap: “A woman must continually watch herself. She is almost continually accompanied by her own image of herself. …Men look at women. Women watch themselves being looked at. …Thus she turns herself into an object –and most particularly an object of vision: a sight.

Saya merasakan bahwa gambaran Berger tentang perempuan Barat itu juga hadir pada orang-orang Jepang, baik perempuan atau pun lelaki mereka. Orang-orang Jepang selalu memikul beban menjadi yang dipandang. Mereka mengatur sikap tubuh mereka, cara mereka berpakaian, tampil, serta bergerak, agar sesuai standar tertentu bagi sebuah objek penglihatan (object of vision). Mereka seolah masuk ke jalan dengan selalu mawas risiko akan menjadi pemandangan (sight).

Jalan sebagai teater imaji.

Jalanan adalah teater, dan di Tokyo, teater itu dipenuhi peran-peran yang mudah dikenali dari “kostum” mereka: salary man, perempuan-perempuan kaya, otaku, pelajar, obo-chan (kaum nenek yang biasanya hidup sendiri), para pemberontak, dan sebagainya. Imaji (image) dan segala pirantinya, khususnya fashion dan fad, adalah aparatus penting bagi status sosial di Jepang.

Donald Ritchie, dalam Image Factory (2003), menulis: “…in a place so status conscious as Japan, self-image is important and new image indicators are in demand.” Selalu ada tuntutan pasar yang besar bagi piranti-piranti dan produk-produk imaji di Jepang.

Ketika sejak 1950-an Jepang mengawinkan kecenderungan budaya mereka pada budaya imaji dengan sistem ekonomi-konsumsi ala Amerika Serikat yang barangkali lebih efektif dari AS sendiri, Jepang menjadi Pabrik Imaji (Image Factory) yang khas. Imaji menjadi bukan saja aksesori, tapi semacam alat untuk bertahan hidup.

Jalan sebagai teater

Seorang akuntan, selama lima hari kerja, bertampang khas salary man yang culun: jas dan dasi, sepatu kulit, kaca mata lebar. Tapi, di mejanya, ada foto dirinya dalam kehidupan lain: berambut jambul Elvis, jaket kulit, siap menari rockabilly di Taman Yoyogi di hari Minggu. Ia mengaku pada teman saya, Rane Hafiedz, yang bekerja di NHK, bahwa ia bisa gila jika tak punya “kehidupan lain” itu.

Informasi dalam lautan neon

Imaji sebagai alat bertahan hidup? Hal ini terutama masuk akal dalam sebuah budaya yang menganggap kegiatan memandang sebagai sesuatu yang amat penting.

Ambil misal, kenapa Jepang dikenal sebagai “negeri Sakura”. Bukan karena ini negeri satu-satunya tempat Sakura, yang sebetulnya adalah pohon cherry, tumbuh. Tapi, karena di Jepang, bunga Sakura yang hanya mekar dua minggu, amat dirayakan. Setiap musim Sakura, pesta hanami dirayakan di seluruh negeri. Apakah “hanami“? Tak lain, kegiatan menatap bunga (yang selalu berarti, menatap Sakura).

Sambil menatap Sakura, orang-orang Jepang di taman-taman mereka menggelar alas kain, berkumpul sesama teman, kerabat, atau keluarga, bergurau dan bercanda, makan-makan, minum sake dan bir, berpesta. Sembari menatap Sakura, mereka saling mendekatkan diri.

Karena kegiatan memandang, menatap, melihat, dianggap sangat penting di Jepang, tak heran jika negeri ini jadi negeri penghasil kamera terpenting di dunia. Menjadi sebuah stereotipe yang mudah disetujui: turis-turis Jepang menenteng kamera ke mana saja, dan memotret apa saja. Di dalam negeri mereka sendiri, hal itu memang kelaziman. Kamera adalah bagian amat penting dalam kehidupan manusia Jepang modern.

 

Informasi Visual

Adalah seolah alamiah belaka jika orang Jepang menyerap informasi secara visual. Peradaban Jepang dibangun antara lain dibangun oleh aksara Kanji yang diimpor dari Cina. Satu karakter tak melambangkan sebuah bunyi seperti dalam aksara Latin, tapi melambangkan satu atau lebih makna.

Karakter-karakter Kanji itu sendiri lekat dengan budaya visual. Aksara Kanji bersifat ideografis (melambangkan ide) dan piktografis (melambangkan gambar/imaji). Banyak karakter Kanji sebetulnya turunan atau permutasi dari sebuah imaji.

Patung seniman kontemporer di Jalan Marounochi

Contoh, seperti yang saya ambil dari Anndundon.com:

Dengan bangun peradaban berbasis Kanji yang piktografis ini, orang Jepang tentu saja lebih cenderung pada berbagai bentuk komunikasi visual. Seperti kata Frederick Schodt, seorang peneliti manga (komik Jepang) paling otoritatif, yang dikutip oleh Donald Ritchie: “…the Japanese are predisposed to more visual forms of communication owing to their writing system. Calligraphy… might be said to fuse drawing and writing.” (The Image Factory, 2003)

Dan, perhatikanlah dunia kita saat ini. Salah satu ciri paling menonjol dunia kita saat ini adalah: dunia kita semakin visual. Limpahan data dan informasi kini seolah tak bisa lagi tertampung hanya dalam satu moda sistem simbol macam aksara Latin. Teknologi informasi yang semakin cepat memungkinkan bit-bit data yang membentuk gambar bisa tersirkulasi dengan amat cepat.

Informasi bisa dipadatkan, juga dibikin lebih sexy, jika diwujudkan dalam bentuk visual. Animasi, infografis, film, komik, fotografi, seni rupa di ruang publik, street art berupa mural dan graffiti, menjadi moda-moda komunikasi visual yang teramat lazim saat ini. Dalam dunia yang semakin visual ini, tak heran jika produk-produk visual dari Jepang kini mendominasi lanskap budaya pop global.

Seperti kata Donald Ritchie: “The successful and self-perpetuating factory which is Japan’s image enterprise has operated for centuries but it is only now, in this age of instant communication, that it reveals itself as a major industry… As William Gibson, scholar of the Japanese new, has noted, ‘cultural change is essentially technologically driven …the Japanese have been doing it for more than a century now and they really do have a head start on the rest of us.’ ” (The Image Factory, 2003)

 

Antara Tokyo dan Jakarta

Selama di Tokyo, hingga saat balik ke Jakarta Juni 2011 lalu, saya seringkali tergigit oleh banyak ketiadaan di kota asal saya ini. Jangan salah, saya tak sedang mengharapkan Jakarta jadi Tokyo, atau kita jadi Jepang. Saya rasa, kita memang tak perlu menjadi Jepang dan Jakarta tak perlu menjadi Tokyo.

Tapi, ada hal-hal dasar yang perlu ada di kota kita. Transportasi umum sebagai nadi lalulintas kota, jalur pejalan kaki dan sepeda yang memadai, sirkulasi informasi dan barang yang lancar, adalah hal-hal yang layak diharapkan bukan hanya untuk Jakarta, tapi untuk seluruh Indonesia.

Balik ke Jakarta setelah hampir setahun pergi, dari Bandara Soekarno-Hatta ke Jagakarsa, saya melewati jalan Antasari. Tiang-tiang beton pasak jalanan, matahari terang dan terik, debu-debu di tengah banyak bangunan kotor atau ditinggalkan. Saya membatin, betapa buruk wajah Jakarta saat ini.

Saya ingat percakapan saya dengan Mouly Surya (sutradara pemenang Citra untuk filmnya, fiksi.) di Yurakucho, dekat Ginza, November 2010. Waktu itu, ia ikut workshop pembuatan film di Festival Filmex 2010, Tokyo. Mouly bicara betapa ia mendamba bikin film di Tokyo. “Habis,” kata Mouly, “kota ini estetis sekali.” Sementara, kata Mouly, Jakarta sudah sangat “tidak estetis”, karena, “gue sih merasa, Jakarta itu sudah hilang kepribadiannya.”

Bisa dipahami. Mata sinematografis Mouly pasti tergoda sangat untuk membuat film di Tokyo: taruh kamera di mana saja di sudut Tokyo, dan kau niscaya akan dapat gambar sedap! Tapi, saya juga ingat percakapan lain.

Sekitar 2006, saya berbincang dengan Irfan Amalee, punggawa lini Pelangi di penerbit Mizan, yang juga banyak aktif sebagai pembuat dokumenter. Irfan tak merasa dirinya “orang film”, tapi ia aktif menggunakan kamera untuk “perubahan perilaku”.

Ia mencontohkan, bagaimana ia merekam anaknya menangis, lalu memutar rekaman kamera itu untuk berbincang dengan anaknya mengenai polah menangis itu. “Biasanya kan kita tak pernah melihat diri kita sendiri. Nah, dengan kamera, kita bisa dibantu melihat diri kita sendiri, lalu memikirkan bagaimana mengubah diri kita jika diperlukan,” kata Irfan.

Ia pun menerapkan konsep ini untuk merekam, misalnya, muhibah sekolah internasional ke sebuah pesantren di Jawa Barat, dan membincang lewat filmnya, kemungkinan-kemungkinan, seperti istilah Irfan, “breaking down the wall” antara dua dunia tersebut (dunia anak-anak AS dan anak-anak pesantren).

Saya kira, sekaranglah saatnya memberdayakan media visual semacam itu untuk Jakarta. Justru di saat-saat Jakarta sedang buruk rupa kinilah, kita perlu merekamnya banyak-banyak, dan mempertontonkan rekaman-rekaman visual tersebut ke sebanyak mungkin warga.

Apa yang dilakukan oleh Rika Febriyani di Rujak.org lewat rangkaian laporan visual Duduk “Manis” Sepanjang Kota dan Album Kompilasi Menghasrati Halte adalah contoh penggunaan media visual semacam itu. Sayang, Rika masih menggunakan kamera HP dengan resolusi rendah untuk rekaman-rekaman visualnya itu, sehingga sirkulasi dokumentasinya agak terbatas di situs macam Rujak.org atau blog saja.

Padahal, menarik juga jika rekaman-rekaman visual tersebut bisa dicetak jadi foto-foto yang jelas dan tajam, ukuran besar atau setidaknya tak kecil, lalu dipajang di situs-situs yang direkam oleh Rika tersebut. Sehingga warga yang sehari-hari di sana itu dapat mengakses rekaman polah mereka sehari-hari itu, wajah mereka yang terekam kamera itu, membicarakannya, membacanya semoga dengan cara baru.

Dengan media, kita bisa memandang Jakarta dengan cara lain. Tak perlu menunggu Jakarta jadi fotogenik dulu, sebelum para pembuat film mau membuat film tentang Jakarta. Saat ini, toh perkembangan teknologi informasi telah memberi banyak pilihan bekerja dengan media yang bisa jadi murah saja. Kamera digital, atau bahkan sekadar HP saja, bisa jadi cukup, walau tak ada salahnya mencari alat-alat yang lebih ciamik jika ingin hasil optimal.

Justru sekarang saatnya menaruh kamera di jalan Antasari hingga Blok M, merekam salah satu sudut terburuk Jakarta, hingga pembangunan jalan tersebut selesai, lalu menayangkannya ke seluruh warga Jakarta (atau dunia, misalnya lewat Youtube.com atau film dokumenter untuk diedarkan secara internasional). Sambil, misalnya, membingkainya dengan pertanyaan: apa makna jalan buruk rupa itu? Apa makna Jakarta saat ini, yang terbaca dari rekaman-rekaman buruk rupa Jakarta tersebut?

Di Tokyo, saya mengalami euforia akibat ledakan informasi. Di Jakarta, saya mengalami ledakan kekacauan (chaos) pemaknaan dan penataan kota. Tapi, chaos mengandung informasi-informasinya sendiri, bukan? Kita perlu memasuki chaos Jakarta, untuk bisa membaca lebih dalam Jakarta. Dengan begitu, kita masih berharap dan bekerja untuk sebuah Jakarta yang lebih baik. ***

Waktu kedatangan kereta yang amat tepat

No Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


11 Jun 2010

A 360-degrees view from the I-House, Roppongi, Tokyo

When working in an organic farm in Takahata,Yamagata, I could not stop gazing around the 360-degrees blue dome of the sky that gently rests on the mountain range that rims the farmlands. The earth and heaven touches each other effortlessly and peacefully. One changes slowly with the seasons and light, while the other changes quickly with the wind that blows the clouds into different  shapes. I often felt disoriented as my urban eyes ironically could not distinguish anything as “landmark”.

In Tokyo, what would I see if I try to gaze around 360 degrees from the I-House? My urban eyes stubbornly wanted to depend on the geometry of built forms, while slowly realising that, in this age of contemporary urbanscape, graphic and literal (instead of geological and architectonic) signs are taking over.

Above ground, buildings are busy scraping the sky. They are full of aggresion. Even when they try to be suttle or artistic, their ambition shows itself, while the sky remains indifferent. Does any one ever miss the whole blue dome, the opportunity of having the “right view” of the wholeness of reality?  Does any one ever feel tired of bearing the look of tension between the ambition of men and the indifference of the sky?

And, what is wrong with not looking up, but straight instead?

Looking straight at the work and working of men, one sees that the magic of Japan is that it is not a magic. It is a result of hard work and keen focus. An attitude of doing everything like it is once-in-a-life-time prevails. Japan is among the most productive places in the world, producing about 8 % of its total GDP, 8 times of Indonesia’s,  or  16 times of Indonesia’s if expressed in per capita figure.

From the I-House, at least the two sides of Tokyo appear. The leisurely and peaceful Azabujuban side contrasts with hustling and busling Ropongi side. In some kitchens of both sides one could find some foreign migrant workers. The confident Azabujuban side contrasts with nervous Roppongi side where some people really are trying too hard to maintain dignity or, at least, good appearance. On the hill up the Ajabujuban side there is a world reknown contemporary arts museum perched on an olympian tower, with a sign about its location below in a maze of consumption spaces. On the other side, an exquisite design museum by architect Tadao Ando lies low and horizontal, bringing people humbling down below a park’s surface. A genius in molding space and light, Ando san does not need to make it stand tall to exert its presence.

Tokyo tower (completed and opened in 1958) is yet a bizarre phenomenon. Now it is not sure whether or not it will be as functional as before as a symbol of ever transforming digital communication, as its current height is not high enough to adequately support complete terrestrial digital broadcasting to the area.[1] Does it have a future as a climbing destination just to have a view of Tokyo from above, when one can have even more details (zoom in!) through Google Earth? And why would one see Tokyo from a “bird’s eye perspective”, when there is so much more to see from the level 1.6 meter above ground, and straight, and down?

The subway trains make Tokyo tick up to 12pm. It ticks underground and above ground. It integrates the city, and yet it gives posibility for Tokyo to differentiate its parts. Life spins with most intensity around major train stations. Characters develop in and around it. To really tick together with the city one has to live with and within the tubes, even when  one is half dead tired after a demanding work day. In the tubes one does her (or his too?) make-up, while quick breakfast is becoming tolerated and quickies are actually not beyond the pornographic industrial imagination.

The bigness of Tokyo—its individual buildings and their agglomeration together, the outreach of its infrastructures, and its built expanse—belittle humans while at the same time expresses the greatness of human beings,  as to their  energy to flock together to such scale, and their will to satisfy their desires. Do ants do the same scale with their towers of mud, relative to their own size? For sure, with their population much more than humans, they do neither consume nor produce that much to the disturbance of the earth.

Sustainability of Tokyo, or any metropolis of our time, seems to rest on a transformation of its consumptive and productive structure towards that which will scale down its ecological footprint (for which energy source is a major factor), reinvest generously in helping the earth to recover and regenerate, and project human greatness into a larger project: sustainable earth with its diversity of species and thriving, just human society. Surviving climate change only makes us better animals. To be better human beings, we need to solve other, mostly urban, problems: poverty, injustice, human rights violation, migrant workers, healthy (not just productive) works.

Published also in the Bulletin of the International House of Japan, Volume 30, Number 1, 2010, Tokyo. Marco Kusumawijaya was a fellow at the house, in the Asian Leadership Fellow Programme (ALFP), in September-November 2009.


[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Tokyo_Tower

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


01 Feb 2010

Tokyo Green Space

http://tokyogreenspace.com/

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |