Posts Tagged ‘urban agriculture’


17 Jun 2010

Festival Bunga Rawa Belong

Di tengah gempitanya Piala Dunia di Afrika Selatan dan Pekan Raya Jakarta di Kemayoran, di daerah Jakarta Barat juga sedang digelar acara tahunan yang tak kalah menarik.

Di jalan Halimun, daerah Palmerah, sedang digelar Festival Bunga Rawa Belong berlokasi di Pasar Rawa Belong itu sendiri. Festival tersebut dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo dan menghadirkan berbagai macam atraksi. Ada replika ondel-ondel dengan menggunakan bunga, lalu ada pameran tanaman hias, hingga lomba tanaman hias.

Festival ini berlangsung dari tanggal 13-19 Juni 2010. Festival ini pun bisa menjadi salah satu agenda liburan anak-anak sekolah: menikmati bunga-bunga bermekaran, atau melewati deretan penjual rangkaian melati yang wangi semerbak, atau membeli bunga untuk menyemarakkan rumah.

Untuk yang tidak pernah berkunjung ke Rawa Belong sebelumnya, kami sediakan peta dibawah ini:
View Pasar Bunga Rawa Belong in a larger map

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


19 Jan 2010

Undangan Seminar: “Sustainable Urbanism and Its Challenges to Civil Society.”

Hari/Tanggal : Jumat/5 Februari 2010
Pukul : 14:00
Tempat : Aula The Japan Foundation Jakarta

The Japan Foundation mengundang anda untuk hadir dalam acara Ceramah Kebudayaan yang akan diberikan oleh mantan ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, bapak Marco Kusumawijaya.

Beliau baru saja kembali pada bulan Desember 2009, dari kunjungan dua bulannya ke Jepang atas undangan the Japan Foundation dan International House of Japan. Dari hasil kunjungan tersebut, beliau mendapatkan banyak tambahan pengetahuan dan wawasan yang menarik dalam bidang kebudayaan dan kesenian, yang hendak ia bagi kepada orang-orang di Indonesia.

Acara Ceramah Kebudayaan ini adalah untuk membagi hal-hal yang ia lihat dan dapatkan di Jepang, yang ia harapkan dapat menambah kaya wawasan kebudayaan di Indonesia

Hadir mendampingi beliau adalah dua orang pakar sebagai berikut:

  1. Dr. Bachtiar Alam, Antropolog dan Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia.
  2. Latipah Hendarti, Ph.D Students Ecological Economy, Department of Forest Sciences, Seoul National University.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Dipo di (021) 520 1266.

Tempat terbatas!

Profil Singkat Marco Kusumawijaya

Marco Kusumawijaya, Ketua Pengurus Harian  Dewan Kesenian Jakarta saat ini, adalah seorang arsitek yang juga aktif dalam bidang tata kota, pelestarian lingkungan hidup, seni, dan pembangunan berkelanjutan. Beliau diundang pada bulan September hingga November 2009 yang lalu ke Jepang, dalam Asia Leadership Fellow Program yang diselenggarakan oleh the Japan Foundation dan Intenational House of Japan.

1 Comment »

Topics: , , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


28 Aug 2009

Singgih of Magno Wooden Radio offers a New Urbanism

Singgih

Singgih Susilo Kartono among the trees surrounding Magno wooden radio workshop (August 23, 2009@Marco Kusumawijaya)

Singgih Susilo Kartono, the maker of Magno wooden radios, thinks we should grow together with our resources. He wants to prove it in his village, Kandangan, in Temanggung, only 8 km from the house where Police thinks Noordin Top hid.  Will it materialise sustainably or become a bursting utopia? Only more elaboration and testing-out will answer that question. We discussed this issue while enjoying fresh air in his workshop on August 23, 2009.

He envisions his village to develop sustainably with production, consumption and resources growing together in the same locale. He wants to literally grow resources for his factory. He has already started growing seeds of sonokeling, mahoni, and other hardwood that he uses for his products, the famous awards winning Magno wooden radios, toys and stationery. He distributes the seeds for free to his neighbours to plant them on their own lands. One slide of his powerful powerpoint presentation shows how more trees emerge and grow bigger as his production grows as well.

With demand for his products growing (creating a current backlog of one month), it is very likely that he will have to expand his production facilities soon, although he does not wish to hurry on that. His neighbours will also enjoy the desentralised distribution of benefits soon. If things go well in the next couple of years, the village vill soon experience a densification process, having new wealth that willl materialise in the “rural” space

Singgih’s vision of production based on local resources, and a fair distribution of wealth in the locale, revives our imagination of “garden city” and other utopias in the history of urbanism. Resources and production are closely linked with relationships clearly tangible and within sight. It would certainly means very low ecological footprint. Fortunately, his “inputs” of the electrical parts in his radios also come from nearby factories in Semarang, two hours by car from Kandangan, Singgih’s base.

His products are sold so far mostly to consumers abroad. MOMA in New York just started to sell them in their stylish museum shop. Can we assume that the value he added to the woods justifies the emission of CO2 of transporting them?

Need for a plan

In anticipation of the spectre of  “growth” that is lurking from behind both the demand for his products, and the needs of the village, Singgih is already thinking of  creating a “masterplan” to guide the village development into the future. A serious mapping of available assets (natural and man made) is needed. A vision of how a future growth wil also grow and nurture (instead of deplete) the assets will be an intriquing exercise of intellect, creativity and technical skills of many disciplines.

1 Comment »

Topics: , , , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


24 Jul 2009

Lima RW Hijau di Jakarta.

Lima RW dan satu kelurahan di Jakarta memanfaatkan lahan pekarangan rumah-rumah warga untuk mengolah sampah menjadi kompos, yang kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk untuk memperbanyak tanaman. Mereka juga melakukan kegiatan-kegiatan terkait peningkatan ketahanan pangan dan kebersihan lingkungan serta pemanfaatan teknologi tepat guna.

Lihat editorial sebelumnya: http://rujak.org/2009/06/a-week-full-of-hope-disappointment-next/ (more…)

1 Comment »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


27 Jun 2009

Adakah 32 tanaman konsumsi di halaman anda?

IMGA0074

Ibu Riyanti Pradigdo (Photo by Marco Kusumawijaya)

Lebih dari 32 jenis tanaman konsumsi –buah, sayur, dan obat—dipelihara secara organik oleh Ibu Riyanti Pradigdo di halaman belakang rumahnya.

Salah satu sayuran yang selalu tersedia untuk sarapan adalah Sambung Nyawa (gynura procumben) yang dikabarkan berkhasiat untuk memnyembuhkan diabetes, kolestrol, kanker, stroke, menapause, endometriosis, depresi, ayan, sinusitis, serta menghaluskan kulit dan memberikan awet muda. Di makan mentah, Daun Dewa atau Sambung Nyawa berasa manis dan sedikit bergetah seperti daun jambu biji (klutuk).

Selain itu, di halaman yang tertata apik menghadap lapangan golf tersebut terdapat buah-buahan mangga Harum-manis, mangga Indramayu, mangga Kweni, jeruk Bali, jambu Bol, Durian, belimbing Wulu dan belimbing biasa, pisang Susu dan pisang Raja Sereh, buah Tin, kelapa, dan jambu Biji atau Klutuk.

Untuk golongan sayur-mayur terdapat: cabe Rawit, labu, kacang tanah, selada Pengantin, sawi Caisim dan sawi Pokcai, daun bawang, terong, bayam, kangkung, dan pandan, dan cincau hijau.

Dalam golongan tanaman obat terdapat jahe, kumis kucing, cocor bebek, ginseng putih dan ginseng hijau, kemangi, lidah buaya, dan lidah mertua.

Semua pupuk diperoleh dari proses kompos terbuka, dengan menumpukkan sampah kebun ke dalam beberapa lubang se dalam satu meter dan diameter satu meter pula, secara bergantian, tanpa bahan tambahan pemercepat.

IMGA0085

Ibu Riyanti Pradigdo memanen cabe rawit organik di halaman rumah sendiri (Photo by Marco Kusumawijaya)

Tanaman langka yang terdapat di kebun Ibu Riyanti ini antara lai adalah pohon Jenggot Musa, yang disebut demikian karena pada pokok dan cabang pohon nya keluar semacam “jenggot” berwarna putih kelabu.

Umumnya halaman rumah di Jakarta, atau di kota mana pun, tidaklah sebesar halaman rumah Ibu Riyanti Pradigdo. Bagaimana tips bercocok tanam di tempat tinggal perkotaan yang umumnya sempit? Kami mengundang pembaca budiman berbagi pengalaman dan pengetahuan. Juga, tentang topik lebih luas seperti Pertanian Kota (Urban Agriculture) dan Pertanian Organik (Organic Farming).

Oleh: Marco Kusumawijaya

 

8 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: Komunitas Hijau Pondok Indah |