<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak &#187; workshop</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/tag/workshop/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 03:28:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Seri Lokakarya Ekonomi Komunitas Perkotaan di Rawabelong</title>
		<link>http://rujak.org/2010/09/community-economy-workshop-series-rawa-belong/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/09/community-economy-workshop-series-rawa-belong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 09:37:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arts & Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi kota]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[rawa belong]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2466</guid>
		<description><![CDATA[26-28 September 2010 Di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat. Tenggat Waktu Pendaftaran: 19 September 2010 Tersedia tempat gratis untuk 10 peserta atas dasar first come, first served.  Harap segera mendaftar. Lihat di bawah. Rujak Center for Urban Studies (RCUS) bekerja sama dengan Kunci Cultural Studies Center dan Ruang Rupa mengundang anda semua untuk berpartisipasi dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>26-28 September 2010<br />
Di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat.</p>
<p>Tenggat Waktu Pendaftaran: 19 September 2010</p>
<p>Tersedia tempat gratis untuk 10 peserta atas dasar <em>first come, first served</em>.  Harap segera mendaftar. Lihat di bawah.</p>
<p><strong>Rujak Center for Urban Studies (RCUS)</strong> bekerja sama dengan <strong>Kunci Cultural Studies Center</strong> dan <strong>Ruang Rupa</strong> mengundang anda semua untuk berpartisipasi dalam Seri Lokakarya Ekonomi Komunitas Perkotaan di Pasar Rawabelong. Ini suatu  Bengkel Kerja Lintas Sektor yang berlokasi tepat di tengah Pasar Bunga Rawabelong.</p>
<p><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p>Dalam menentukan kebijakan pembangunan perkotaan, pihak perencana hanya memperhatikan angka pertumbuhan ekonomi. Dan ketika para investor hendak menanamkan modal, mereka hanya memperhatikan data ekonomi nasional dan kondisi ekonomi politik. Menurut Lin Che Wei, dalam disiplin ekonomi pun didapat kesan bahwa tidak ada ekonom yang sungguh mengkhususkan diri mempelajari Ekonomi Perkotaan.</p>
<p>Pengambil keputusan kerap mengabaikan kompleksitas ekonomi komunitas, yang diwakili oleh pasar-pasar, yang memiliki dimensi hubungan-hubungan sosial yang terjalin kuat dengan produktivitas ekonominya. Produktivitas ekonomi dan reproduktivitas sosial saling jalin menjalin dalam kehidupan sehari-hari, dalam komunitas yang tidak secara formal dan kaku memisahkan ruang kerja dan ruang hidup.</p>
<p>Contoh menarik adalah <strong>Pasar Rawabelong</strong> dan kampung serta komunitas sekitarnya (Sukabumi Selatan hingga Palmerah). Bermula dari kampung Betawi, tempat asal si Pitung, penuh dengan kebun Anggrek dan berbagai macam tanaman. Kemudahan bercocok tanam bunga pun ditambah dengan lokasi Rawa Belong yang dekat dengan Kali Pesanggrahan. Para petani pun kemudian menjual bunga hasil panenannya di pinggiran Jalan Palmerah.</p>
<p>Tetapi, dengan berjalannya perkembangan kota, Rawabelong seakan dibiarkan saja tanpa perencanaan seperti pembangunan universitas di dekatnya, dan perkembangan eksternal seperti menurunnya permintaan akan bunga oleh perubahan gaya hidup, dapat mengurangi secara tidak semestinya vitalitas ekonomi komunitas Rawabelong. Kalau saja ada pengetahuan dan kesadaran lebih tinggi, maka perubahan-perubahan itu dapat dijadikan faktor dalam rencana pengembangan ekonomi komunitas pasar bunga tersebut.</p>
<p>Rawabelong adalah sebuah ekonomi yang menghubungkan kota dan wilayah. Pada saat yang sama, ia terkait dengan kegiatan di seluruh Jakarta, misalnya digusurnya pedagang bunga di Taman Barito, maupun perubahan gaya hidup.  Pengetahuan akan “ekonomi mikro perkotaan” begini niscaya diperlukan untuk mengelola kota, ketika perubahan-perubahan diperkenalkan dengan sengaja, sehingga dampak negatif dan positifnya dapat diperkirakan dan karena itu dapat dikelola dengan sengaja, bukan hanya sebagai dampak tak sengaja yang dibiarkan begitu saja tanpa sikap.</p>
<p><strong>Luruhnya Ruang-Ruang Ekonomi dan Sosial Milik Komunitas</strong></p>
<p>Sebelum berubah menjadi pasar modern, pasar bunga ini merupakan ruang penengah antara antar hubungan barang dan pedagang, serta pembeli dan dunia luar, dimana bunga menjadi perantara dalam hubungan tersebut. Malah dalam ulasan lain, Betsky menyatakan bahwa pasar bak panggung untuk kebebasan ide dan pengalaman. Namun kebebasan tersebut, seiring waktu mengalami penurunan, bersamaan dengan upaya untuk meregulasi ruang.</p>
<p>Perkembangan kota dan masyarakat yang semakin konsumtif, terhadap produk maupun ruang, memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya pentingnya formalitas dalam persepsi terhadap ruang-ruang ktoa. Formalitas tersebut juga membawa kepada hubungan yang efisien dan efektif. Bagaimana akhirnya prinsip ekonomi berada diatas, dengan satu pemikiran yaitu efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyediakan ragam macam bunga sesuai dengan permintaan.</p>
<p><strong>Membayangkan ‘Ruang’ Komunitas </strong></p>
<p>Workshop ini didedikasikan untuk membayangkan bagaimana relasi-relasi yang terjadi antara Pasar, Komunitas maupun kepentingan lain diluarnya. Melalui persepsi dan perkembangan persepsi dari masing-masing anggota, tanpa ada keterbatasan media maupun batas, sehingga peserta bebas untuk mengeluarkan intepretasi dan tawarannya terhadap Pasar Rawa Belong dan komunitas sekitarnya.</p>
<p>Jadwal Workshop:</p>
<p>26 – 28 September 2010</p>
<p>Lokasi:</p>
<p>Pasar Rawa Belong</p>
<p>Kegiatan:</p>
<p>1. Tour Rawa Belong dan Hutan Kota Srengseng</p>
<p>2. Diskusi Lintas Sektor</p>
<p>Pendaftaran:</p>
<p>Unduh formulir pendaftaran disini: <a href="http://rawabelong.wordpress.com/daftar/" target="_blank">http://rawabelong.wordpress.com/daftar/</a></p>
<p>dan kirimkan formulir pendaftaran ke email kami di: info@rujak.org</p>
<p>Selain untuk 20 orang undangan, kami masih menyediakan <strong>tempat gratis untuk 10 peserta</strong>. Silakan mendaftar segera untuk mendapatkan tempat terbatas ini atas dasar <em>first come first served</em>.</p>
<p>Informasi lebih lanjut mengenai workshop dapat dibaca di: <a href="http://rawabelong.wordpress.com">rawabelong.wordpress.com</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/09/community-economy-workshop-series-rawa-belong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Summer School for Sustainable Design</title>
		<link>http://rujak.org/2010/04/summer-school-for-sustainable-design/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/04/summer-school-for-sustainable-design/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 23:59:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arts & Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[arts & culture]]></category>
		<category><![CDATA[city-region]]></category>
		<category><![CDATA[creativity]]></category>
		<category><![CDATA[sustainability]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1809</guid>
		<description><![CDATA[Summer School for Sustainable Design will take place between the 30. August and the 4. September in Germany, in a cloister very close to Cologne. The initiators are: Wuppertal Institute (www.wupperinst.org), ecosign (Academy for ecologic design, www.ecosign.net), Folwang University (www.folkwang-uni.de/), Luzern University (i.a.). You can find information about the last Summer School here: http://www.designwalks.org/ We are [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Summer School for Sustainable Design will take place between the 30. August and the 4. September in Germany, in a cloister very close to Cologne.</p>
<p>The initiators are: Wuppertal Institute (www.wupperinst.org), ecosign (Academy for ecologic design, www.ecosign.net), Folwang University (www.folkwang-uni.de/), Luzern University (i.a.).</p>
<p>You can find information about the last Summer School here: <a href="http://www.designwalks.org/">http://www.designwalks.org/</a></p>
<p>We are looking for a lecturer, that could run/lead the workshop “Urban Creative Lifeworlds”, that will take place on September, the 1<sup>st</sup>. in the frame of the Summer School.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>If you have an idea about someone, who can combine theoretical competences with practical experiences in this field, please contact me: Every information is welcome.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Urban Creative Lifeworlds</strong></p>
<p>The first cities were founded about 5000 years ago. Since then, cities are functioning as centers of cultural, economic and creative growth. The sizzling urban lifestyles however grow in the urban peripheries, within flexible and informal networks. Throughout the 19th century, urban development was closely linked to industrialization; the last decades of deindustrialization however are a challenge for many cities like the former US-motor city Detroit or the urban Ruhr region (“Ruhr Metropolis”). At the same time this challenge can be a chance for a sustainable development of cities &#8211; and peripheries. Participation, networks and creativity are decisive factors for such challenges.</p>
<p>The “Ruhr Metropolis” adjacent to our venue, is a model for these structural changes of urban lifeworlds;  remarkable efforts have been made to face the challenges. This is why it has been rewarded as Europe&#8217;s Cultural Capital for 2010, following the maxim “Culture through Change, Change through Culture&#8221;.</p>
<p>There are, however, still many questions to be answered: How can the social and economic problems be transformed into new and more sustainable solutions? What is labour, what is leisure, what is a citizen in the post-industrial age? How can creativity be enhanced? How can we take advantage of the creative forces of urban peripheries? What are the perspectives of urban life in the future?</p>
<p>Our workshop will develop new concepts of urbanity, and creative solutions for future sustainable lifeworlds. Just the appropriate challenge for sustainable designers! The workshop will provide you with diverse perspectives from theory to real-life projects. We will go five steps to gain results:</p>
<p>1.     Analyzing urban living environments and discussing their structures, urban phenomena and problems, artificial and natural environments, culture and nature, creativity and transversality, and looking at the city as a system depending on interaction with its ecological, social, cultural, and emotional environment.</p>
<p>2.     Immersing into a real-life project of turning a normal urban environment into a creative lifeworld to explore new and sustainable ways of lifestyles, urbanity and creativity, opening altogether new and different perspectives.</p>
<p>3.     Providing you a space for your creativity to shape new ideas, and to apply the theoretical and practical insights to your personal experiences and backgrounds. You will shape visions of new and sustainable urban lifeworlds.</p>
<p>4.     Discussing and evaluating your ideas and sketches, thinking about consequences and requirements. This will be the real-life-test for your ideas.</p>
<p>5.     Presenting your work results to the other workshops and discussing them with the whole summer school group.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/04/summer-school-for-sustainable-design/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agenda Kegiatan Desember Dewan Kesenian Jakarta</title>
		<link>http://rujak.org/2009/12/agenda-kegiatan-desember-dewan-kesenian-jakarta/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/12/agenda-kegiatan-desember-dewan-kesenian-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 13:49:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agents for Change]]></category>
		<category><![CDATA[Dewan Kesenian Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[arts & culture]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1383</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="Agenda Kegiatan DKJ" src="http://www.dkj.or.id/newsletter/2009/decevents/images/header.jpg" alt="" width="630" height="109" /></p>
<p><img class="alignnone" title="01" src="http://www.dkj.or.id/newsletter/2009/decevents/images/content_05.jpg" alt="" width="231" height="96" /></p>
<p><img class="alignnone" title="02" src="http://www.dkj.or.id/newsletter/2009/decevents/images/content_08.jpg" alt="" width="390" height="247" /></p>
<p><img class="alignnone" title="03" src="http://www.dkj.or.id/newsletter/2009/decevents/images/content_10.jpg" alt="" width="556" height="112" /></p>
<p><img class="alignnone" title="04" src="http://www.dkj.or.id/newsletter/2009/decevents/images/content_12.jpg" alt="" width="281" height="77" /></p>
<p><img class="alignnone" title="05" src="http://www.dkj.or.id/newsletter/2009/decevents/images/content_14.jpg" alt="" width="556" height="159" /></p>
<p><img class="alignnone" title="07" src="http://www.dkj.or.id/newsletter/2009/decevents/images/content_16.jpg" alt="" width="337" height="144" /></p>
<p><img class="alignnone" title="08" src="http://www.dkj.or.id/newsletter/2009/decevents/images/content_18.jpg" alt="" width="556" height="234" /></p>
<p><img class="alignnone" title="09" src="http://www.dkj.or.id/newsletter/2009/decevents/images/content_20.jpg" alt="" width="381" height="275" /></p>
<p><img class="alignnone" title="11" src="http://www.dkj.or.id/newsletter/2009/decevents/images/content_23.jpg" alt="" width="253" height="75" /></p>
<p><img class="alignnone" title="12" src="http://www.dkj.or.id/newsletter/2009/decevents/images/content_25.jpg" alt="" width="556" height="144" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/12/agenda-kegiatan-desember-dewan-kesenian-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Let&#8217;s Make Batik</title>
		<link>http://rujak.org/2009/12/lets-make-batik/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/12/lets-make-batik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 04:38:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1378</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-1379" title="flyer salihara rev-DECEMBER" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/12/flyer-salihara-rev-DECEMBER-729x1024.jpg" alt="flyer salihara rev-DECEMBER" width="510" height="717" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/12/lets-make-batik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Katalog Workshop AMI: Ruang Tinggal Dalam Kota</title>
		<link>http://rujak.org/2009/09/katalog-workshop-ami-ruang-tinggal-dalam-kota/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/09/katalog-workshop-ami-ruang-tinggal-dalam-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 09:09:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1066</guid>
		<description><![CDATA[Katalog Pameran Ruang Tinggal Dalam Kota]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="View Katalog Pameran Ruang Tinggal Dalam Kota on Scribd" href="http://www.scribd.com/doc/19626410/Katalog-Pameran-Ruang-Tinggal-Dalam-Kota" style="margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;">Katalog Pameran Ruang Tinggal Dalam Kota</a> <object codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" id="doc_184692820033974" name="doc_184692820033974" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" align="middle"	height="500" width="450" ><param name="movie"	value="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf?document_id=19626410&#038;access_key=key-3lqcbkudpwbjm1ioctr&#038;page=1&#038;version=1&#038;viewMode=list"><param name="quality" value="high"><param name="play" value="true"><param name="loop" value="true"><param name="scale" value="showall"><param name="wmode" value="opaque"><param name="devicefont" value="false"><param name="bgcolor" value="#ffffff"><param name="menu" value="true"><param name="allowFullScreen" value="true"><param name="allowScriptAccess" value="always"><param name="salign" value=""><param name="mode" value="list"><embed src="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf?document_id=19626410&#038;access_key=key-3lqcbkudpwbjm1ioctr&#038;page=1&#038;version=1&#038;viewMode=list" quality="high" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true" scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff" name="doc_184692820033974_object" menu="true" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash" align="middle" mode="list" height="500" width="450"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/09/katalog-workshop-ami-ruang-tinggal-dalam-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Ruang Tinggal Dipertanyakan</title>
		<link>http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 03:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[ruang tinggal]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1029</guid>
		<description><![CDATA[Melalui utopia arsitektur berhenti sebagai proyek rancangan pesanan individual. Ia ingin berpikir ‘menyempurnakan’ masa depan semua. Ia menjadi pemikiran. Ia menjadi alat kolektif membincangkan ideal bersama. Karena kota menjadi obyek yang tepat. Pada ruang kota, arsitektur berhenti menjadi alat pesanan pribadi, sebab ia harus menjadi alat kolektif (Marco Kusumawijaya, 2009) Setidaknya kalimat diatas berulang kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft size-full wp-image-1076" style="margin: 7px;" title="IMG_1626" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/IMG_1626.JPG" alt="IMG_1626" width="613" height="459" /></em></p>
<p><em>Melalui utopia arsitektur berhenti sebagai proyek rancangan pesanan individual. Ia ingin berpikir ‘menyempurnakan’ masa depan semua. Ia menjadi pemikiran. Ia menjadi alat kolektif membincangkan ideal bersama. Karena kota menjadi obyek yang tepat. Pada ruang kota, arsitektur berhenti menjadi alat pesanan pribadi, sebab ia harus menjadi alat kolektif (Marco Kusumawijaya, 2009)</em></p>
<p>Setidaknya kalimat diatas berulang kali dikutip, mulai dari undangan hingga pada saat pembukaan <a href="http://workshopami.wordpress.com/">Pameran Workshop Arsitek Muda Indonesia</a> yang bertajuk Ruang Tinggal dalam Kota. Pemikiran utopis inilah yang menjadi dasar materi pameran yang mempertanyakan ruang tinggal. Di saat ruang tinggal ditempatkan dalam kota, maka arti kata ruang tinggal tersebut bisa terdekonstruksi, berevolusi dan memiliki makna lain menjadi lebih dari sekadar bangunan di alamat KTP.</p>
<p>Ada banyak hal yang tersirat dan tersurat dalam 14 hasil workshop. Mereka berangkat dari fenomena, derita, kekinian, peluang, persepsi, definisi akan tinggal didalam kota. Tema akan kota dan ruang tinggal begitu dekat dalam keseharian. Di tangan para arsitek muda dan mahasiswa arsitektur, 14 proposal itu menjadi usulan yang unik, berani, sedikit naïf, penuh mimpi, idealis dan bersemangat. Namun bukankah itu yang diharapkan dari generasi penerus bangsa?</p>
<p>Kenyataan bahwa Jakarta adalah kota kontemporer menjadikan Jakarta sebagai isu favorit dalam workshop ini.  Kekontemporeran Jakarta menjadi kota dan warganya yang selalu bergerak. Jakarta seakan meradikalkan mobilitas warganya, entah secara visual maupun fisik. Itulah yang menjadi isu proposal seperti: <em>Mobile House, diDedikasikan untuk Komuter, metabolism of Jakarta city, ruang mimpi</em>, dan <em>ruang.waktu.tinggal</em>.</p>
<p>Dua proposal pertama berkutat pada masalah waktu tempuh dari dan ke rumah tinggal. <strong>Mobile House</strong> pada akhirnya menyediakan struktur-struktur utama di berbagai penjuru Jakarta, sebagai sarang rumah-rumah untuk bermetabolis dan tinggal – memungkinkan rumah tersebut untuk berpindah tempat sesuai dengan kebutuhan. Seperti layaknya apartemen-apartemen di tengah kota, Mobile House mendekatkan jarak penghuni ke tempat aktivitas, hanya si penghuni dan unitnya dengan mudah berpindah tempat ke antero kota. Sementara <strong>diDedikasikan untuk Komuter</strong> adalah upaya untuk mengembalikan para komuter ke dalam kota dengan menempati ruang yang memang selama ini mereka tempati sepanjang perjalanan, yaitu Jalan Tol Dalam Kota. Proposal ini menggugat keberadaan jalan tol dalam kota yang tentu saja berlawanan dengan prinsip transportasi publik. Dan disaat bersamaan iapun menggugat kediaman (mobil) akibat macet di jalan tol, sehingga dalam kediaman adalah gerak itu sendiri. Mobil dianggap sebagai home in homelessness untuk jangka waktu tertentu di jalan tol itu.</p>
<p>Pergerakan dan mobilitas dapat dilihat juga seperti sistem metabolisme dalam tubuh manusia, setidaknya itu yang diutarakan oleh kelompok <strong>metabolism of Jakarta city</strong>. Didalam tubuh (kota) yang sehat, tentunya memerlukan aliran (pergerakan) yang sehat pula. Proposal ini seakan berupaya untuk menghilangkan kadar kolesterol dalam darah, seperti halnya mencoba menyehatkan pergerakan dan sistem yang terjadi dalam daerah Blok M.</p>
<p>Benturan antara pergerakan semu dan kediaman absurb muncul pada proposal <strong>ruang mimpi</strong>. Pergerakan yang muncul dari indahnya magnet kota, namun disaat bersamaan menyaring calon warganya, hingga terpaksalah warga menempati no-man&#8217;s land, dalam hal ini pinggir rel kereta api. Menjadikan kediaman tersebut sewaktu-waktu bisa digugat, tergusur dan berpindah ke tempat lain.</p>
<p>Ruang-ruang kota marjinal tak hanya berhenti sebatas pinggir rel kereta api, tapi bisa juga kolong jembatan dan bantaran kali. Bahkan untuk konteks kota Jakarta, jalur pejalan kaki pun menjadi ruang tak bertuan, seperti banyak yang terjadi di balik gedung-gedung kantor. Proposal <strong>ruang bayangan</strong> melihat ruang-ruang tersebut sebagai peluang yang dapat dikembangkan menjadi serial ruang tinggal.</p>
<p>Sementara ide akan kota sebagai hidup nomaden muncul dalam proposal <strong>ruang.waktu.tinggal</strong>. Dalam hal ini, hidup nomad adalah intermezzo. Mereka percaya bahwa ruang tinggal adalah segala sesuatu yang memiliki waktu kebersamaan dengan seseorang dalam kurun waktu tertentu. Berangkat dari konsep film The Terminal, berubah menjadi konsep arsitektural paradoks nomadisme, menjadikan waktu sebagai penentu desain, bukannya klien ataupun kebutuhan ruang. Seakan waktu yang dijual, dan kemudian dikemas dalam bentuk ruang.</p>
<p>Berlawanan dengan gugatan terhadap gaya hidup nomad, proposal <strong>ruang kembali</strong> justru memperlihatkan konsep kota dan ruang tinggal di masa lampau. Ruang tinggal kembali menjadi kediaman dalam arti sesungguhnya, yaitu sebagai rumah, tempat untuk berhenti total dari pergerakan – menjadi tempat untuk pulang.</p>
<p>Isu-isu populer seperti keberlanjutan (sustainability) pun muncul dalam beberapa proposal, seperti <em>Tropical Capsule Bungalow, Linear City <span style="font-style: normal;">dan </span>nenek moyangku seorang pelaut</em>. <strong>Tropical Capsule Bungalow</strong> berangkat dari isu pembangunan di Bali yang cenderung merusak alam, maka dari situ lahirlah ide bungalow dengan bahan sampah daur ulang dan kemudian ditempatkan di lokasi terbengkalai sudut kota. Sementara <strong>Linear City</strong> berangkat dari konsep abad 19 akhir dengan nama yang sama. Proposal tersebut berusaha untuk mengkompakkan area Kuningan disepanjang jalan, dan lalu merelokasikan area-area lain di belakangan jalan Kuningan hingga berubah menjadi area konservasi dan preservasi. Tentu pembentukan dan luasan bangunan disepanjang Kuningan serta perbandingan lahan memakai perhitungan jejak kaki ekologis. Kenyataan akan perubahan iklim, buruknya lingkungan dan kerap rutinnya banjir melanda Jakarta, mendasari proposal <strong>nenek moyangku seorang pelaut</strong>. Dengan demikian, diharapkan warga Jakarta di masa mendatang mampu adaptif terhadap bencana yang kini menjadi rutinitas.</p>
<p>Kota Bandung turut menjadi inspirasi, terutama bagi 2 proposal yang berasal dari Bandung yaitu <em>kota skala kita</em> dan <em>fashion, Bandung, arsitektur</em>. Keduanya mengambil lokasi sama yaitu di Dago, namun berangkat dari pemahaman yang berbeda. Proposal pertama berupaya mengembalikan skala kota di sepanjang jalan Dago kepada manusia, dengan memberikan kekayaan dan kuasa ruang terhadap pejalan kaki. <strong>Kota skala kita</strong> melakukan pemisahan yang jelas dan mutlak antara pejalan kaki dan bukan. Sementara proposal kedua: <strong>fashion, Bandung, arsitektur</strong>, mencoba menarik benang merah antara mode dan arsitektur dengan mempertanyakan kemungkinan deskripsi ruang tinggal sebagai elemen (aksesoris) dalam kota. Aksesoris dalam busana terkadang bisa menjadi pelengkap pakaian bahkan penyatu, seperti halnya dengan menempatkan ruang-ruang kecil dengan tepat pada titik-titik kota tertentu. Mungkin sejalan dengan idealisme Coco Chanel: Fashion is no something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in th street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening.</p>
<p>Dua proposal lain membahas keintiman antara tubuh dalam ruang. <strong>Blackout Architecture</strong> menggali akan kemungkinan jika perencanaan ruang tidak bergantung pada indera penglihatan. Bagaimana jika para perencana kota dan arsitek mulai juga memperhatikan indera-indera lain dalam merencanakan ruang. Blackout Architecture hadir dengan instalasi yang diharapkan mampu memberikan stimuli dan kepekaan indera. <strong>Rumah ini tidak untuk dijual</strong>, berangkat dari personalisasi rumah berdasar pemiliknya. Proposal ini seakan menjadi kritik terhadap tendensi komersialisasi, standarisasi dan industrialisasi rumah lewat produk developer.</p>
<p>Dan ruang tinggal pun beragam dan menggelitik. Ada beberapa hal yang menarik dari 14 proposal ini. Waktu menjadi krusial, karena dalam ruang tinggal unsur waktu sangat erat. Penolakan akan ruang-ruang yang steril dan tidak unik pun terjadi. Ada yang memperhatikan kaum marjinal kota dan ada pula yang bermimpi ‘hijau lestari’. Lalu bagaimana pemahaman anda terhadap ruang tinggal? Apa arti ruang tinggal bagi anda?</p>
<p>Pameran Workshop AMI 9-19 September 2009</p>
<p>Galeri Komunitas Salihara</p>
<p>Jalan Salihara No. 16<br />
Pasar Minggu – Jakarta Selatan</p>
<p>Foto oleh Dita Wisnuwardani dan Kezia Paramita</p>
<p>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/6919_154582299387_547254387_3579196_6469753_n/' title='6919_154582299387_547254387_3579196_6469753_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/6919_154582299387_547254387_3579196_6469753_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="6919_154582299387_547254387_3579196_6469753_n" title="6919_154582299387_547254387_3579196_6469753_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/6919_154582329387_547254387_3579202_406208_n/' title='6919_154582329387_547254387_3579202_406208_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/6919_154582329387_547254387_3579202_406208_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="6919_154582329387_547254387_3579202_406208_n" title="6919_154582329387_547254387_3579202_406208_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/6919_154582334387_547254387_3579203_8131324_n/' title='6919_154582334387_547254387_3579203_8131324_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/6919_154582334387_547254387_3579203_8131324_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="6919_154582334387_547254387_3579203_8131324_n" title="6919_154582334387_547254387_3579203_8131324_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/7320_128983419293_520289293_2357583_5897082_n/' title='7320_128983419293_520289293_2357583_5897082_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/7320_128983419293_520289293_2357583_5897082_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="7320_128983419293_520289293_2357583_5897082_n" title="7320_128983419293_520289293_2357583_5897082_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/7320_128983554293_520289293_2357601_4285086_n/' title='7320_128983554293_520289293_2357601_4285086_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/7320_128983554293_520289293_2357601_4285086_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="7320_128983554293_520289293_2357601_4285086_n" title="7320_128983554293_520289293_2357601_4285086_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/7320_128983569293_520289293_2357604_3796263_n/' title='7320_128983569293_520289293_2357604_3796263_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/7320_128983569293_520289293_2357604_3796263_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="7320_128983569293_520289293_2357604_3796263_n" title="7320_128983569293_520289293_2357604_3796263_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/7320_128983769293_520289293_2357634_3609406_n/' title='7320_128983769293_520289293_2357634_3609406_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/7320_128983769293_520289293_2357634_3609406_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="7320_128983769293_520289293_2357634_3609406_n" title="7320_128983769293_520289293_2357634_3609406_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/9433_128333033338_710053338_2626146_5921864_n/' title='9433_128333033338_710053338_2626146_5921864_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/9433_128333033338_710053338_2626146_5921864_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="9433_128333033338_710053338_2626146_5921864_n" title="9433_128333033338_710053338_2626146_5921864_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/6919_154582289387_547254387_3579194_2088667_n/' title='6919_154582289387_547254387_3579194_2088667_n'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/6919_154582289387_547254387_3579194_2088667_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="6919_154582289387_547254387_3579194_2088667_n" title="6919_154582289387_547254387_3579194_2088667_n" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/_mg_1155-copy/' title='_MG_1155 copy'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/MG_1155-copy-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="_MG_1155 copy" title="_MG_1155 copy" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/img_1626/' title='IMG_1626'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/IMG_1626-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_1626" title="IMG_1626" /></a>
<br />
<object width="400" height="300"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="movie" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=6603744&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" /><embed src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=6603744&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=1&amp;show_byline=1&amp;show_portrait=0&amp;color=&amp;fullscreen=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" width="400" height="300"></embed></object>
<p><a href="http://vimeo.com/6603744">Trailer Final AMI Ruang Tinggal Dalam Kota</a> from <a href="http://vimeo.com/user2286175">wagionobustami</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p>allowscriptaccess=&#8221;always&#8221; allowfullscreen=&#8221;true&#8221;></embed></object></p>
<p><a href="http://vimeo.com/6527225">Trailer AMI Ruang Tinggal Dalam Kota</a> from <a href="http://vimeo.com/user2286175">wagionobustami</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/09/ketika-ruang-tinggal-dipertanyakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

