Budaya Kolektif dalam Pandemi; Antitesis atau Adaptasi?

Budaya kolektif telah menjadi pengikat bagi kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Berbagai istilah seperti kongkow dan nongkrong tidak hanya terjadi di kota-kota besar, namun juga di daerah. Salah satunya melalui tradisi makan bersama. Di Tanah Padang, tradisi ini disebut Bajamba, Bali dengan Megibung dan Ngeliwet di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Masyarakat Indonesia yang khas dengan budaya bersama-nya membuat Indonesia terkenal dengan keramahan dan rasa kekeluargaan yang tinggi, dimana budaya kolektif tidak hanya sekedar warisan turun-temurun, namun juga menjadi bagian dari usaha kelangsungan hidup bersama. Baik di kampung kota maupun desa, budaya kolektif telah membantu banyak keluarga menyediakan bahan pangan hingga menyediakan rumah yang layak bagi tetangganya, seperti tradisi Sambatan di Jawa Timur atau masak bersama di dapur umum kampung, dan sebagainya.

Sayangnya, di tengah pandemi COVID-19, himbauan social/physical distancing menjadi suatu tantangan tersendiri bagi perilaku masyarakat yang terbiasa melakukan aktivitas bersama-sama. Berbagai usaha dilakukan agar mencegah kerumuman umum, seperti penggrebekan anak-anak muda yang nongkrong, hingga implementasi Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB). Meskipun begitu, banyak masyarakat yang masih melakukan kegiatan secara massal di beberapa daerah yang dapat dilihat di berita-berita yang beredar.

Perlu dipahami bahwa tidak mudah mengimplementasi kebijakan social/physical distancing dengan karakter masyarakat Indonesia yang kolektif. Setidaknya, masyarakat membutuhkan adaptasi, tidak seperti karakter budaya masyarakat negara-negara Barat dengan sikap individualisme yang lebih tinggi. Hal ini sebaiknya menjadi catatan bagi kedua belah pihak; pemerintah dan masyarakat.

Bagi pemerintah, perlu dipahami bahwa aturan social/physical distancing yang baru diterapkan 2 bulan terakhir vs budaya kolektif masyarakat yang sudah ada lintas generasi adalah 2 hal yang kontradiktif. Budaya kolektif yang masih dilakukan masyarakat bukan semata-mata karena mereka bandel terhadap anjuran selama pandemi COVID-19. Budaya kolektif sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat yang tidak hanya sebatas keinginan untuk ngumpul, namun juga bagian dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari, khususnya bagi masyarakat yang mengandalkan sesama tetangganya untuk bertahan hidup.

Ketika aturan social/physical distancing diterapkan, masyarakat “dipaksa” menjadi individualis demi memutus mata rantai COVID-19. Jika aturan ini harus mengorbankan kekolektifan masyarakat yang membuatnya bertahan hidup selama ini, pemerintah juga harus sanggup memberikan pengganti yang sepadan, seperti kepastian pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Jika masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas kolektif, tapi di waktu yang sama juga tidak menerima bantuan kebutuhan dari pemerintah, bagaimana masyarakat tidak bandel menjalani aturan social/physical distancing dan membantu memutus mata rantai COVID-19?

Masyarakat juga perlu mengingat bahwa dalam kondisi seperti ini, kepedulian dan tenggang rasa harus semakin kuat. Budaya gotong royong tetap dapat dilakukan meskipun tidak seperti biasanya dalam kontak fisik. Bahkan, dalam pengertian yang dikutip dari Kendra Cherry, budaya kolektif tidak terkait dengan kontak fisik, tetapi merupakan tujuan bersama, “Collectivistic cultures emphasize the needs and goals of the group as a whole over the needs and desires of each individual”[1]. Dalam pandemi ini, budaya kolektif tidak seharusnya menjadi antitesis, melainkan adaptasi.

Bagi masyarakat, memang tidak mudah menjalankan sesuatu yang bertolak belakang dengan kebiasaan sehari-hari. Namun, adaptasi kolektif yang dapat dilakukan masyakat dalam pandemi ini adalah dengan saling menjaga satu sama lain. Selama penerapan social/physical distancing, masyarakat dapat membantu melakukan pengecekan terhadap tetangganya; bertanya kabar, kebutuhan sehari-hari, adakah anggota keluarga yang sakit, dan sebagainya. Bagi masyarakat pedesaan, pemenuhan kebutuhan pangan bisa dilakukan dengan barter dan mengandalkan bahan herbal untuk membantu tetangga yang sakit. Untuk masyarakat perkotaan, kegiatan bersosial bisa diganti dengan media online yang umumnya lebih mudah dilakukan daripada masyarakat yang tinggal di pedesaan. Masyarakat dapat secara kolektif, proaktif untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah, apalagi terkait penanganan COVID-19. Tidak hanya mengandalkan Kepala Desa, Ketua RT/RW, tetapi bersama-sama seperti dengan karakteristik berikut.

Traits of Collectivistic Culture
Sumber: Joshua Seong, verywellminded.com

 

  1. Social rules focus on promoting selflessness, contohnya kelompok masyarakat dapat menentukan aturan demi kepentingan bersama. Misalnya dalam RT/RW, masyarakat dapat menilai siapa yang paling membutuhkan bantuan dan bagaimana masyarakat yang lebih mampu dapat memberikan bantuan;
  2. Working as a group. Hal ini tidak berarti bahwa masyarakat harus berkumpul secara fisik agar dapat membantu, namun hal ini dapat dikoordinir melalui kelompok jumlah tenaga yang diperlukan untuk membantu. Misalnya, seluruh masyarakat tergabung untuk urun dana, tetapi hanya beberapa orang saja yang memberikan bantuan tersebut secara langsung sesuai keperluan;
  3. Doing what’s best for society. Saling membantu menurut kapasitas. Jika melihat masyarakat yang membutuhkan, dapat membantu secara inisiatif individu;
  4. Families and communities have a central role. Perlu diingat kembali bahwa modal sosial yang krusial dalam menghadapi pandemi ini adalah keluarga dan komunitas sekitar (tetangga, RT/RW) karena disana-lah ketahanan itu dapat dibentuk. Peran keluarga dalam menjaga setiap anggota-nya dan peran lingkungan komunitas tidak dapat diremehkan karena risiko penularan juga dapat terjadi kapan saja. Oleh karena itu, budaya kolektif yang masyarakat miliki berpotensi menjadi kekuatan dalam memutus mata rantai COVID-19, tentunya jika masyarakat beradaptasi sesuai dengan aturan social/physical distancing. Jika tidak ada adaptasi yang baik, maka budaya kolektif yang dimiliki akan menjadi antitesis yang membuat COVID-19 sulit diatasi.  

 

 

 

[1]  Cherry, K. (2020, March 24). Understanding Collectivist Cultures: How Culture Can Influence Behavior. Retrieved from verywellmind.com: https://www.verywellmind.com/what-are-collectivistic-cultures-2794962

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *