Hak atas Kota: Hak untuk Bermukim di Pusat Kota !

 

 

 

“During my mission I have heard several times that there is no room for the poor in the city because of the high cost of land & housing. The right to adequate housing is a universal and does not belong only to the rich. Rather, it is the state obligation to prioritize vulnerable and marginalized groups. It is clear that the kampongs and the low income laborers, the street vendors and the fish market workers have been there for decades and centuries before the sky scrappers and shopping malls. So when I hear that the “poor should know their place” – I say yes, they should, – and their place is in the city center! State land should be allocated as a priority to low income housing, including in the city centers”. – Raquel Rolnik (Special Rapporteur on Adequate Housing)

 

Kunjungan Pelapor Khusus PBB untuk Perumahan yang Layak selama 13 hari (30 Mei – 11 Juni 2013) di Indonesia telah selesai. Di akhir kunjungannya, Raquel Rolnik melaporkan temuan awal nya kepada publik. Pada akhir tahun ini, laporan final akan selesai dituliskan dan akan dibacakan di sidang Dewan HAM PBB pada Maret 2014.

Selama kunjungan dan pemantauan Pelapor Khusus, saya berkesempatan untuk menemani kawan-kawan organisasi rakyat miskin kota di Jakarta, Surabaya dan Makassar dalam menerima kunjungannya.

Kedatangan Pelapor Khusus merupakan kunjungan formal. Seorang pelapor khusus dapat melakukan pemantauan terhadap pemenuhan hak atas perumahan yang layak di suatu negara, hanya apabila diundang resmi oleh negara yang bersangkutan.

Tulisan ini berupaya merangkum apa yang saya saksikan dan coba pahami terkait pemenuhan hak atas perumahan yang layak di ketiga kota di atas. Dalam pertemuan dengan komunitas, agenda pertemuan hampir serupa, yaitu kesaksian warga tentang pemenuhan hak atas perumahan yang layak dari pemerintah. Kesaksian tidak hanya berisikan pengaduan tetapi juga prakarsa warga di tiap kota terkait permukiman yang layak.

Dalam melakukan pemantauan dan menyusun laporannya, pelapor khusus bertemu dan berdiskusi dengan perwakilan banyak pihak seperti pemerintah (Kementrian Luar Negeri, Kementrian Perumahan Rakyat, Kementrian Pekerjaan Umum, Badan Pertanahan Nasional, PERUMNAS, Ombudsman, dan Pemerintah Kota), akademisi, kelompok ahli, NGO dan pastinya melihat langsung di lapangan tentang praktek pemenuhan hak atas perumahan yang layak.

 

Raquel Rolnik_foto oleh M. Nawir
Raquel Rolnik_foto oleh M. Nawir

 

Kampung Jakarta: adaptasi rakyat miskin dalam perebutan ruang

Pertemuan pertama Pelapor Khusus dengan komunitas bertempat di pinggir Waduk Pluit, Jakarta pada 2 Juni 2013. Kenapa Waduk Pluit? Maksud dari kunjungan tersebut adalah menjadikan kasus Waduk Pluit sebagai gambaran di lapangan terkait pemenuhan hak atas pemukiman yang layak. Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) dan Urban Poor Consortium (UPC) menjadi tuan rumah dalam kunjungan tersebut.

Pada kunjungan di Waduk Pluit, ada dua warga dari wilayah Muara Baru dan Kebun Tebu yang memberikan kesaksian untuk Jakarta. Ada Mak Een yang sudah mengalami lima kali penggusuran sejak dia merantau ke Jakarta di awal tahun 1970. Mulai dari penggusuran untuk kepentingan umum, hingga penggusuran untuk bangunan-bangunan privat seperti mall, apartemen, dll.  Setelah itu,  Nenek Dela yang tinggal di pinggiran Waduk Pluit menuturkan bahwa kampung di pinggir Waduk Pluit sudah terbentuk sejak tahun 1970-an. Lamanya pemukiman membentuk ikatan sosial yang kuat antar warga. Lokasi yang strategis juga menjadi dasar untuk warga menyandarkan sumber pendapatan nya pada pusat-pusat ekonomi yang tersebar sepanjang 1-2 km dari wilayah Muara Baru seperti Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Mega Mall Pluit, RS Atmaja, RS Pluit, Pabrik-pabrik yang tersebar di Muara Baru dan Perumahan Pantai Mutiara.

Nenek Dela dalam kesaksiannya mempertanyakan mengapa hanya warga Waduk Pluit saja yang “diharuskan” pergi untuk membuat Waduk berfungsi kembali. Kalau memang ingin mengatasi banjir, menurutnya, tidak hanya pinggiran waduk yang harus dikembalikan lagi fungsi nya tetapi juga fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) di wilayah Pluit yang saat ini sudah berganti menjadi Mega Mall Pluit. Lalu dia mempertanyakan juga keberadaan Apartemen Laguna yang bertengger manis di dekat Waduk Pluit tetapi sama sekali tidak mendapatkan teguran dari pemerintah.

Saat ini, warga yang teroganisir dalam JRMK, bekerjasama dengan Arsitek Komunitas (ARKOM), Rujak Center for Urban Studies (RCUS) dan Arsitektur UI mencoba menawarkan konsep alternatif pembangunan rusunawa (dalam radius 500 m – 1 km) yang memfasilitasi kebutuhan dan keinginan warga. Proses konsultasi masih berlangsung dengan Pemerintah DKI Jakarta yang pada prinsip nya menyetujui tawaran konsep alternatif.

Selain warga Muara Baru dan Waduk Pluit, perwakilan warga dari Teluk Lampung dan Tulang Bawang, Lampung juga hadir dan memberikan kesaksian tentang pemenuhan hak atas perumahan yang layak di Lampung. Untuk warga Teluk Lampung, kesaksian mereka terkait dengan proyek reklamasi pesisir Lampung yang nantinya akan men-zonasikan wilayah pesisir Lampung menjadi wilayah pelabuhan, apartemen, pusat bisnis, Rekreasi/Hiburan dan Rusunawa. Warga yang puluhan tahun menetap di sana pun terancam digusur dan direlokasi ke Rusunawa.

Sedangkan untuk warga Tulang Bawang, persoalan perumahan layak terkait dengan konflik tanah antara warga (petambak plasma) dengan pengusaha yang mengklaim memiliki lahan yang ditempati warga saat ini. Perseteruan antara warga dengan pihak perusahaan kerap melibatkan kekerasan oleh negara, dalam hal ini pelibatan aparat militer. Di bulan April 2013, Ketua Forum Silaturahmi (FORSIL) Petambak Bratasena, Edi Prayitno, mengalami proses kriminalisasi oleh aparat Kepolisian.

 

Makassar : Konflik Tanah dan Pemenuhan Hak atas Perumahan yang Layak

Kunjungan Pelapor Khusus di Makassar berlangsung pada 6 Juni 2013. Untuk agenda di Makassar, selain bertemu dengan komunitas, Pelapor Khusus juga bertemu dengan Walikota Makassar. Pertemuan dengan komunitas berlangsung di Kampung Pisang, Mancini Sombala yang difasilitasi oleh Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPRM).

Selain warga dari berbagai kampung di Makassar, hadir juga perwakilan warga dari Bungkutoko, Kendari, Wakil Walikota Kendari, Anggota DPRD  Makassar dan juga Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Makassar.

Kesaksian warga dari kampung di Makassar berkisar pada konflik tanah antara warga (kampung)  dengan pengusaha atau warga lain yang mengklaim sebagai turunan kerajaan dan memiliki hak atas tanah yang dipersengketakan. 75% penguasaan tanah di kampung-kampung miskin Makassar hanya berdasarkan pada fakta-fakta penguasaan tanah secara turun temurun yang dibuktikan oleh slip pembayaran tanah, rinci (riwayat penguasaan tanah), dan bukan bukti-bukti secara terulis (sertifikat tanah).  Dalam sepuluh (10) kasus yang dipresentasikan di Makassar, pemerintah Kota Makassar gagal memediasi sebagian besar konflik pertanahan tersebut. Banyak kasus di mana kekerasan, oleh aparat kepolisian maupun preman yang disewa oleh perusaahan, diterapkan pada warga.

Kerancuan bertambah dengan kekacauan pendaftaran tanah. Adnan Buyung Azis dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Makassar menyebutkan banyak terjadi kasus di mana satu sertifikat tanah bisa diklaim dimiliki oleh tiga orang. Persoalan pendaftaran tanah juga menjadi kesulitan tersendiri bagi warga miskin dikarenakan biaya yang tinggi.

Tidak hanya itu saja, persoalan mendasar dari kasus konflik tanah yang berlarut-larut di Makassar, menurutnya, disebabkan oleh mata pisau sistem peradilan yang masih berdasarkan pada kepastian hukum dan bukan keadilan.

Kepastian hukum, menurutnya, melihat pada bukti-bukti tertulis dan tidak melihat pada fakta-fakta penguasaan tanah yang selama ini menjadi dasar bagi warga. Oleh karena nya, apabila diproses di ranah hukum, maka warga akan kalah dan berujung pada hilangnya hak bermukim.

Namun, warga yang bernaung di dalam KPRM tidak hanya memaparkan persoalan.  Sudah tiga tahun ini warga berupaya menawarkan konsep alternatif untuk persoalan tanah di Kampung Pisang, yaitu konsep berbagi lahan dengan pemilik tanah di mana warga meminta lahan sejumlah 7000 m2 (dari 3,7 Hektar tanah yang disengketakan) untuk memfasilitasi 43 KK. Konsep tersebut direncanakan warga secara partisipatif dan difasilitasi oleh ARKOM dan RCUS. Walikota Makassar hingga saat ini belum berhasil memediasi konflik tanah antara warga dengan pengusaha.  Justru Walikota meminta warga menerima tawaran pengusaha yang hanya bersedia memberikan 3000 m2. Tawaran tersebut ditolak warga karena tidak cukup memenuhi kebutuhan warga.

Selain presentasi dari Makassar, pertemuan hari itu juga diisi oleh presentasi warga Bungkutoko, Kendari. Warga yang juga merupakan anggota dari GERMIS (Gerakan Rakyat Miskin) Kendari menceritakan kisah sukses penataan partisipatif di Bungkutoko. 55 keluarga terlibat dalam proses relokasi partisipatif yang memindahkan warga sejauh 500 m dari permukiman semula. Proses relokasi dan perencanaan pembangunan dilakukan secara partisipatif  bersama warga dan difasilitasi oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS) dan jaringan arsitek komunitas Yogya (Arkom-Yoga). Tanah seluas 1,8 Hektar yang disediakan oleh pemerintah tidak diberikan secara cuma-cuma. Warga menyicil untuk biaya tanah dan pembangunan rumah melalui kelompok tabungan yang dibentuk oleh warga. Setelah 20 tahun, penguasaan tanah akan menjadi Hak Milik yang sebelumnya Hak Guna Bangunan (HGB).

Paparan yang disampaikan oleh warga Bungkutoko diamini oleh Wakil Walikota Kendari yang menyampaikan bahwa proses di Bungkutoko menjadi cikal bakal pendekatan City Wide Upgrading dengan warga terlibat dalam keseluruhan proses. Diharapkan pendekatan ini dapat mengatasi persoalan kemiskinan di Kendari karena memberikan kepastian jaminan bermukim.

 

Surabaya: Pengakuan akan Inisiatif Warga

Persoalan pemenuhan hak akan permukiman layak yang  dipresentasikan di Surabaya pada 7 Juni 2013 adalah kasus pemukiman bantaran pinggir kali (Stren Kali) Wonokromo. Di sepanjang 15 km sungai, tersebar tujuh kampung (Bratang, Semampir, Kampung Baru, Gunung Sari I, Gunung Sari II, Medokan, Braya) yang tergabung dalam Paguyuban Warga Sren Kali Surabaya (PWSS). Upaya warga melawan rencana penggusuran sejak tahun 2002 berujung manis pada Oktober 2007 di mana pada saat itu DPRD Provinsi Jawa Timur menghasilkan Perda No. 5/2007 yang memberikan izin keberadaan permukiman terbatas dan mewajibkan warga untuk melakukan penataan permukiman sesuai dengan konsep Jogo Kali, sebuah konsep yang ditawarkan oleh warga dalam memberikan jaminan sebagai penjaga kelestarian lingkungan sungai. Melalui konsep tersebut, warga ingin melawan stigma bahwa warga yang tinggal di bantaran sungai merupakan penyebab limbah yang mencemari sungai. Konsep Jogo Kali mensyaratkan warga untuk mundur 3-5 m dari bibir sungai (untuk jalan inspeksi) dan menghadapkan rumahnya ke arah sungai. Selama dua tahun terakhir, warga, secara swadaya dan gotong royong telah berhasil memperbaiki lingkungan di sepanjang sungai.

Terlepas dari prakarsa yang dilakukan warga secara mandiri, pengakuan dari Pemerintah Daerah berupa legalisasi lahan baik dalam bentuk sertifikat komunal maupun individu belum ada hingga saat ini. Warga juga masih bisa mendapatkan ancaman penggusuran sewaktu-waktu karena belum pastinya pengakuan hak bermukim di sana.

Selain paparan untuk kasus stren kali, warga juga berbagi cerita tentang Surat Ijo, yaitu bentuk surat sewa tanah di mana warga secara rutin membayar biaya sewa kepada Pemerintah Kota. Surat Ijo biasanya dimiliki dalam rentang waktu yang cukup lama. Memiliki surat Ijo tidak berarti memberikan rasa aman bermukim kepada warga karena sewa dapat dihentikan sewaktu-waktu oleh Pemerintah. Dalam pertemuan dengan Pelapor Khusus, warga yang memiliki Surat Ijo bertutur bahwa saat ini Pemerintah Kota Surabaya berniat mengalihkan Surat Ijo kepada warga. Artinya, warga akan memiliki kepastian bermukim. Dalam pertemuan tersebut, warga meminta Pelapor Khusus untuk mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk mensegerakan rencana peralihan kuasa atas tanah tersebut.

 

Pelajaran dari Lima Kota

Dari kasus yang disampaikan kelima kota di atas (Lampung, Jakarta, Surabaya, Makassar dan Kendari) dapat dilihat bahwa upaya Pemerintah dalam penyediaan permukiman untuk warga miskin masih belum cukup. Dalam pemaparannya di setiap pertemuan, Raquel Rolnik menekankan bahwa Hak atas Perumahan yang layak tidak boleh ditafsirkan dalam artian sempit tetapi mencakup penjaminan akan: (a). Hak milik (b). Tersedianya layanan dasar (sarana dan prasarana) (c). Keterjangkauan (d) kelayakhunian (e). Aksesibilitas (f) lokasi dan (g). Kesesuaian budaya.

Apa yang terjadi di lima kota menggambarkan pendekatan pemerintah dalam penyediaan permukiman untuk warga miskin, yaitu :

  1. Terkait Ruang. Dalam hal penyediaan ruang untuk pemukiman warga miskin, yang terjadi di hampir setiap kota besar di Indonesia adalah peminggiran warga miskin dari pusat kota melalui prioritas pemanfaatan ruang di pusat kota untuk pembangunan seperti mall, superblok, dan pusat bisnis. Tidak hanya itu, kawasan pinggiran pantai yang lekat dengan kehidupan nelayan pun berganti rupa menjadi waterfront city. Keberpihakan kepada investasi dan pembangunan masif akhirnya meminggirkan warga miskin dari pusat kota dan ditampung dalam mekanisme yang disebut Rusunawa.
  2. Terkait pendekatan. Alih-alih melibatkan warga dalam perencanaan kota, sebagaimana direkomendasikan oleh Pelapor Khusus, pendekatan yang digunakan oleh pemerintah dalam penyediaan perumahan untuk warga miskin adalah stigmasisasi (pemberian label sebagai warga liar; pembuat masalah; dll), diskriminasi, penggusuran dengan kekerasan dan bahkan kriminalisasi.

Warga miskin  yang terorganisir telah bekerjasama dengan kelompok-kelompok lain (akademisi, kelompok keahlian, lembaga bantuan hukum, dll) untuk mendukung kasus mereka dan untuk mengusulkan solusi alternatif atas persoalan yang ada.

Urban Poor Consortium (UPC), Arsitek Komunitas (ARKOM), Rujak Center for Urban Studies (RCUS), Universitas Petra, Universitas Indonesia, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Makassar adalah sebagian dari banyak pihak yang telah bekerja sama dengan kelompok miskin di lima kota (Lampung, Jakarta, Makassar, Kendari dan Surabaya).

Pendekatan Pengorganisasian, Advokasi dan Jaringan telah diterapkan oleh JRMK, FORSIL, KPRM,  GERMIS dan PWSS untuk mengusulkan alternatif solusi bagi Pemerintah Daerah dan DPRD.

 

Beberapa dari mereka telah cukup berhasil seperti:

1. Surabaya dengan lahirnya Perda No.5/ 2007 tentang pemukiman di tepi sungai

2. Perencanaan Partisipatif & Relokasi 55 keluarga di Bungkutoko Kendari

 

Dan beberapa masih berjuang untuk meyakinkan pemerintah, seperti:

1. Konsep alternatif untuk Relokasi dan perencanaan partisipatif di Waduk Pluit, Jakarta

2. Konsep Alternatif berbagi lahan di Kampung Pisang, Makassar

3. Advokasi untuk perumahan dan tanah di Lampung

 

Menurut saya, hal ini merupakan pertanda baik, mengetahui bahwa warga miskin terhubung dengan beragam pemangku kepentingan lain dan secara bersama mengusulkan solusi alternatif (bukan hanya menggambarkan masalah) kepada pembuat kebijakan. Warga yang terorganisir telah membuktikan bahwa mereka berhasil bekerja secara swadaya, bergotong royong dan bertahan dari pendekatan pemerintah yang belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat miskin.

Sebagaimana disampaikan Raquel Rolnik dalam temuan awalnya, bahwa menjadi tugas pemerintah lah untuk memastikan adanya ruang bagi warga miskin dengan pendekatan utama yaitu, mengakui hunian yang sudah ada saat ini, misalnya dengan cara penataan kampung (site upgrading); mengakui inisiatif kolektif warga;  serta menjadikan kampung sebagai bagian dari perencanaan kota.

 

 

 

One thought on “Hak atas Kota: Hak untuk Bermukim di Pusat Kota !

  1. Pingback: UN Special Rapporteur’s Media Statement « Rujak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *