Mengenal Kanal Khas Banjar

“Itu sungguh pengetahuan yang luar biasa,” tutur Kang Deman.

Kang Deman, pegiat sungai kelompok Kreasi Sungai Putat (KSP) Pontianak, merasa takjub oleh sistem kanalisasi masyarakat Banjar. Sejak dahulu masyarakat Banjar sudah mengenal sistem kanal yang terdiri dari Anjir, handil dan saka. Sistem itu telah menjadi pengetahuan  masyarakat Banjar pada umumnya sebagai penggerak utama roda kehidupan dan perkembangan kota Banjarmasin.

Kang Deman menilai  di Pontinak orang relatif lebih banyak dikenal paritnya dan telah menunjukan jati diri kotanya dengan istilah “kota seribu parit” yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pontianak.

Namun, kenyataan tak terelakan bahwa sampai hari ini perkembangan parit hampir hilang dalam perspektif pembangunan kota. Sebab, warga mau pun pihak pemerintah kerap mengesampingkan peran vital dari fungsi parit untuk menjaga keseimbangan kota Pontianak dalam mengelola jenis perairan sungai. Deman merasa kaget karena ada sebagian daerah kota yang dianggap  “modern” melupakan peran vital parit mengalami banjir, sedangkan warga kampung yang terus menjaga sistem paritnya termasuk dalam proses pengelolaan sedimentasi terjaga dari ancaman banjir.

Problem yang selama ini terus menerpa sistem sungai atau parit di Pontianak adalah sedimentasi. Proses sedimentasi itulah yang membuat sungai atau parit tidak berjalan dalam memberi daya tampung terhadap debit pertumbuhan air jika sedang pasang. Menyiasati hal tersebut, Kang Deman menceritakan pengalaman warga bersama kreasi sungai putat mengelola proses sedimentasi untuk kebutuhan hidup dalam bidang perkebunan, prosesnya sangat sederhana dengan mengeruk lumpur parit untuk dijadikan pupuk bagi perkebunan warga.

Sehingga kegiatan pengerukan lumpur di parit akibat proses sedimentasi menjadi kebiasaan warga saat ini untuk mengambil makna bagi keberadaan parit dan lumpur parit yang jika di diamkan akan menimbulkan bencana. Warga percaya bahwa jika parit hilang maka peradaban juga akan hilang.

Begitu pula kehidupan warga kota Banjarmasin secara geografis merupakan wilayah dengan kondisi tanah rawa yang dikelilingi sungai-sungai disepanjang wilayah kota Banjarmasin. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa kota Banjarmasin memiliki julukan “kota seribu sungai” yang sampai saat ini telah menjadi identitas kota Banjarmasin.

Semua arus sungai yang melintasi kota Banjarmasin memiliki peran vital terutama sebagai zona pelayaran sungai dan juga sebagai penunjang kebutuhan hidup sehari-hari warga kota. Dahulu warga memiliki kebiasaan membuat sistem kana-kanal. Membuat kanal merupakan warisan perilaku hidup memanfaatkan aliran sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari warga kota. Itulah sebabnya menurut Schophuys (1969) sistem irigasi masyarakat Banjar terbilang sangat khas dan multifungsi, maka disebut juga ”sistem irigasi Banjar”

Menurut Bambang Subiyakto dalam buku Kota lama dan kota Baru (2005) menceritakan bahwa kebiasaan membuat kanal bagi orang Banjar sudah menjadi kebudayaan dan merupakan peradabannya. Nama kanal juga kerap disebut tatah, sementara anjir juga bisa disebut antesan. lebih spesifik bahwa sungai merupakan aliran alamiah yang terbentuk melalui proses alam, sedangkan anjir, handil dan saka merupakan proses irigasi buatan manusia yang sudah menjadi teknologi bagi masyarakat banjar dalam membuat kanal dari dulu, baik sebagai jalur irigasi persawahan, perkebunan maupun sebagai akses untuk kelotok atau jukung warga Banjar hilir-mudik sehari-hari menjelajahi kota Banjarmasin.

selain itu fungsi anjir, handil dan saka merupakan gagasan dan metode masyarakat Banjar masa silam menjaga ekosistem serta keseimbangan tanah rawa.

Pada masa itu biasanya orang Banjar mampu membuat kanal dengan panjang puluhan kilometer, dengan kekuatan tangan menggunakan alat sundak yang berupa papan dari kayu ulin mau pun dari baja.

Lebih lanjut menurut Bambang bahwa Ilham pembangunan kanal yang juga telah menjadi kebiasaan setidaknya mampu menjadi contoh bagi upaya pemerintah pada masa presiden Soekarno melalui P.M Noor untuk meneruskan kegiatan masyarakat tersebut menjadi program nasional.

terutama dalam membuat anjir dengan keterlibatan masyarakat, meski demikian program tersebut gagal karena dihentikan. Setidaknya program tersebut telah menghasilkan beberapa anjir diantaranya pada tahun 1950 dibangun dua buah anjir yaitu anjir bersarang dan anjir kalampan dan pada masa gubernur Murjani  tahun 1961 dibangun anjir balandean  dan tahun 1965 dibangun anjir Barangas  yang keduanya terletak di daerah bagian Utara kota Banjarmasin.

Kepemilikan sungai seperti anjir, handil dan saka memiliki posisi sosial dalam dimensi kehidupan masyarakat banjar sehari-hari dengan hadirnya ungkapan “dia punya sungai” atau ”dia punya hutan” yang secara tidak langsung menumbuhkan kesadaran akan pentingnnya sungai dalam kehidupan mereka sehari-hari, juga dallam membantu ekonomi warga Banjar.

Zaman telah berubah, seiring pertumbuhan permukiman karena perkembangan kota, telah memberi makna bagi warga kota untuk memanfaatkan kehidupan darat dan perlahan menggeser sistem irigasi juga fungsi handil dan saka yang dibangun ratusan tahun silam. Kemudian kanal-kanal tersebut telah menjelma seperti gang atau lorong pada sistem transportasi darat. Fenomena ini terjadi biasanya di daerah permukiman pusat kota. Pada akhir tahun 1970-an jalur-jalur air yang dahulunya juga merepresentasikan kebudayaan masyarakat Banjar dalam membuat kanal sudah hilang sama sekali.

Catatan sejarah mengenai hierarki sungai di Banjarmasin telah membuka cakrawala pengetahuan bagaimana masyarakat Banjar dan kebudayaannya mengelola serta memanfaatkan sungai dan tanah rawa.

Pembangunan kota (darat) mulai memunculkan perubahan kota menjadi semakin tidak menentu. Kehidupan darat dan sungai justru tidak berjalan beriringan, kerap kali saling meninggalkan satu sama lain. Namun keduanya merupakan entitas kota yang tak terelakkan keberadaannya dalam menunjang kebutuhan warga kota hari ini.

Namun demikian bahwa kini “kota seribu sungai” tersebut kerap mendapat ancaman banjir. Menurut penuturan  Bu Windiasti Kartika Selaku kepala Balitbangda kota Banjarmasin menuturkan bahwa masalah yang kerap dihadapi di kota Banjarmasin saat ini adalah genangan air yang juga terjadi di beberapa wilayah akibat proses irigasi yang kurang sempurna.

Selain itu, terdapat sebuah catatan menarik bahwa diprediksi terdapat penurunan jumlah sungai di kota Banjarmasin, rata-rata argumentasi mereka cukup variatif. Namun hal terpenting ialah bahwa penurunan jumlah sungai yang hilang tersebut merupakan representasi bagaimana keberadaan sungai telah kehilangan makna bagi sumber kehidupan.

Belum lagi masalah sedimentasi dan teknologi kanalisasi yang sudah banyak dilupakan mengenai bentuk-bentuk kanal yang diproduksi oleh warga dengan cara yang lebih alamiah. Oleh sebab itu, dahulu air pasang merupakan anugerah untuk terus mengaliri Anjir, handil dan saka  warga. kini ketika air pasang justru keberadaannya merupakan ancaman bagi warga kota.

Banjarmasin 29 Januari 2018.

 

 

Gambar di atas merupakan peta kota Banjarmasin, pada sisi kiri kita bisa melihat sungai Barito yang merupakan muara bagi sungai-sungai lainnya yang mengaliri kota Banjarmasin. seperti sungai Martapura, Alalak, Kuin, dan sungai lainnya. pada sisi kanan atas merupakan peta jalur sungai yang melintasi kota Banjarmasin dan sisi kanan bawah merupakan peta kanal.

One thought on “Mengenal Kanal Khas Banjar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *