Mencari Definisi dan Makna Kampung Kota

Dalam buku ini kita ditantang untuk mengenali hal yang sebenarnya ada di sekitar kita, sebagai warga kota metropolitan. Hal yang sering dianggap remeh hanya karena acap kali berkonotasi negatif. Tentang kampung kota, apa yang ada di dalamnya, dan perannya dalam membangun fisik kota. Bagi orang-orang yang tidak biasa bermain-main di kampung kota, tentunya akan lebih sering melihat kampung kota sesuai dengan apa yang sering dibingkai oleh opini mainstream.

“Pemukiman kumuh sebagai produk dari kebijakan yang gagal, pemerintahan yang buruk, korupsi, regulasi yang tidak harmonis, pasar yang disfungsional, sistem keuangan yang tidak responsif, dan kurangnya kemauan politik. Memperbaiki Kawasan kumuh sebagai solusi potensial – dilengkapi dengan reformasi dan perbaikan sektoral” -World Bank (Hal 12)

Bank Dunia memasukan kampung kota ke dalam kategori slums, karena ciri-ciri fisik kampung kota yang mayoritas terlalu padat hingga mengorbankan ruang untuk fasilitas umum. Sehingga, kampung kota seringkali dikaitan dengan kemiskinan dan kriminalitas, sebuah tempat yang perlu dibenahi. Buku ini tidak sesimpel itu, tidak akan membahas dari satu dimensi saja. Dalam buku ini akan ditunjukkan perspektif-perspektif lain yang ikut mengamati kampung kota dari sejumlah ahli, dari beberapa institusi dan organisasi hingga berbagai lapisan masyarakat yang merasakan langsung, mengenalkan anda pada karakteristik kampung kota yang sebenarnya.

Kita tahu bahwa kampung kota merupakan rumah dan bagian dari warga kota yang heterogen. Tersusun dari berbagai unsur masyarakat yang saling berbaur, saling melengkapi. Membentuk ciri dan identitas kota yang unik dan penuh warna. Tetapi ada apa di balik itu? Selain apa yang tampak, melalui buku ini, kita bisa mengetahui bahwa yang bercampur bukan saja penduduk yang berbeda-beda identitasnya. Paham-paham dan kebiasaan hidup wargga kampung kota kerap kali berbenturan pun bisa hidup berdampingan di dalam kampung. Berada di antara anarki dan regulasi, dua hal yang membentuk polaritas dengan pengaruh kuat, dapat berbaur dalam satu kampung kota.

Baik dari cover maupun isi, buku ini tergolong sangat simpel. Anda bisa tamatkan buku ini sepanjang perjalanan pulang kerja di tengah kemacetan atau di kala menumpangi kendaraan umum seperti bus, Commuter Line, atau MRT Jakarta. Hanya saja bahasa dan padanan istilah yang digunakan mungkin akan membuat beberapa segmen pembaca kesulitan memahami, seperti pada deskripsi kampung kota menurut Felipe Hernandez yang memasukkan istilah ‘Ruang Transisi’, atau beberapa istilah-istilah lokal dari pernyataan warga kota yang mungkin akan sulit dipahami warbagi kita yang awam.

Terlepas dari isi buku yang bahasannya tergolong singkat, bisa jadi subjek utama yang dibahas pada buku ini dapat membuat anda merenung seharian. Terlebih karena buku ini mengandung pesan-pesan tersirat yang ditujukan kepada siapa saja yang paham. Kenyataan bahwa ‘benar’ dan ‘salah’ tidak akan hanya ada di satu sisi saja.  Kemudian anda akan berpikir, dimanakah anda akan berpihak?

Buku ini hadir untuk anda yang ingin mengenali kampung kota atau jika anda ingin menemukan perspektif baru yang akan menambah wawasan anda mengenai salah satu bagian dari kota. Dengan memahami kampung kota yang kompleks, maka akan lebih mudah dalam memahami permasalahan kota metropolitan yang sebagian besar terbangun dari kampung.

Penulis: Maher najib Abdul Jabar, Mahasiswa Arsitektur Universitas Pembangunan Jaya.

Buku ini dapat diunduh melalui tautan link berikut ini klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *