Sekolah Urbanis 2020: Sejarah, Pandemik dan Kota Masa Depan

Pada tanggal 27 April 2020 merupakan pembukaan kelas online perdana dalam penyelenggaraan sekolah urbanis 2020. Diskusi dihadiri oleh Dian Tri Irawaty selaku moderator juga kepala sekolah pada sekolah urbanis 2020, serta Elisa Sutanudjaja selaku Eksekutif Direktur Rujak Center for Urban Studies, yang memberikan pemahaman apa dan bagaimana menjadi seorang urbanis. Lalu, disambung oleh JJ Rizal, selaku Sejarawan yang memaparkan bagaimana konteks historis yang melatarbelakangi pandemik di Batavia. Pada sesi akhir, diskusi diisi oleh Atoillah Isfandiari seorang dosen sekaligus epidemiolog dari Universitas Airlangga yang memberikan pemaparan tentang kesehatan publik dan kota.

Menurut Elisa Sutanudjaja, kebutuhan kota akan para urbanis merupakan konteks penting saat ini. lebih lanjut, Elisa menyebut bahwa seorang urbanis adalah orang yang peka dan kritis terhadap isu kotanya dari berbagai situasi yang menghinggapinya, dari mulai isu sosial, politik, ekonomi, budaya, lingkungan dan sebagainya.

“Namun, harapan terselenggaranya sekolah urbanis adalah sebagai upaya memunculkan calon urbanis yang peka dan kritis terkait imajinasi kota baru kedepannya yang terefleksi atas eksperimen kondisi alam dan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan dan kontekstual dan tetap mengacu pada akumulasi pengembangan pengetahuan juga pengetahuan baru.”Tutur Elisa Sutanudjaja.

Dalam catatan sejarah, pandemik pada dasarnya memiliki daya “pelemahan” yang hebat jika tidak ditanggulangi dengan baik melalui proses kebijakan yang tepat. “Namun dalam stuasi dan realitasnya,kondisi historiografi Indonesia seperti halnya wabah penyakit sebagai non-faktor yang tidak diperhitungkan.”Tutur JJ Rizal.

Lebih lanjut menurut JJ Rizal, terkait dimasa sejarah, ada narasi yang perlu diungkapkan bahwa Batavia hampir ambruk sebagai kota, lantaran pandemik Malaria dan Kolera yang begitu hebat memberantas para korbannya hingga terkapar mati. Hal ini pula yang membuat kota Batavia ditinggalkan serta dianggap sebagai kota penyakit dan VOC kemudian membangun kota baru di Weltevreden untuk meninggalkan Batavia lama (Oud Batavia).

Namun, ada hal yang juga penting disimak bahwa, dalam situasi pandemik Kolera misalnya, telah menciptakan kesadaran baru dengan hadirnya Undang-Undang kesehatan Belanda tahun 1865 serta membuka era baru tentang pelayanan dan protokol kesehatan.

Dari diskusi ini kita mengetahui bahwa hal yang selalu dirasakan dari kondisi masa silam tersebut adalah ketidaksiapan kota-kota menghadapi pandemik hingga hari ini. Banyak negara yang tidak siap menghadapi pandemik meski teknologi sudah luar biasa berkembang. Tentunya situasi ini perlu menjadi pertimbangan atas adanya kota baru pasca pandemik yang lebih sigap menghadapi bencana atau pandemik.

Menurut Atoillah bahwa sejarah mengajarkan kita banyak kejadian dan fenomena termasuk pandemik. Kota masa depan juga harus memperhatikan faktor ketahanan wabah penyakit seperti demam berdarah atau malaria yang hampir terjadi setiap tahun. Tentunya hal ini terjadi karena perubahan lingkungan ekologi. Oleh sebab itu, kedepannya pengembangan kota baru pasca pandemik juga bisa mengacu pada indeks dan indikator SDG`s. “karena pembangunan kota yang sehat salah satu indeksnya adalah kesehatan masyarakat serta harapan hidupnya tinggi.

Kota baru kedepannya harus mengutamakan healt for all, artinya kesehatan adalah untuk semua. Tambahnya. “Kalau kesehatan hanya masih didominiasi oleh cluster golongan bermodal, maka belum bisa dikatakan healt for all. Khusus untuk fenomena pandemik seperti ini ada tiga hal yang harus diperhatikan.”

“Pertama, risiko terkait karakteristik daerah seperti jumlah penduduk, misalnya jumlah penduduknya padat juga memiliki risiko tinggi terhadap pandemik seperti ini. Jadi idelanya adalah jumlah penduduk usia produktif yang harus tinggi, termasuk Kota Wuhan di China kategorinya padat, maka terjadinya pandemik ini begitu cepat menyebar. Kedua, kebutuhan terkait hunian layak yang dapat memberikan keterjangkauan dalam situasi pandemik seperti ini. Ketiga, adalah risiko penduduk yang memeiliki risiko dan perlu dilakukan pendataan.”Tutur Atiollah.

Ketahanan pangan dimasa pandemik juga perlu dilihat, kota sejauh ini tidak bisa mencukupi kebutuhan pangan. Oleh sebab itu PSBB juga merupakan pilihan terakhir, tanpa harus lockdown. Selain itu terkait paradigma sehat oleh masyarakat. Jadi jika orang memikirkan kesehatannya dengan mendaftar asuransi, itu bukan paradigma sehat, melainkan paradigma sakit dengan label sehat.

Paradigma sehat adalah bagaiaman kita memikirkan kesehatan tercipta dan kebijakan dibidang apapun harus memikirkan faktor kesehatan. Terutama sekali bagi calon urbanis harus mengetahui pengamatan atas kota-kota lain yang terjadi sebagai bekal pengetahuan dalam melihat kemajuan kotanya.”Tutur Atoillah.

Para peserta sekolah urbanis 2020 terdiri dari dua gelombang, pertama ada dari mereka yang mengikuti sesi kelas khusus artinya tidak sampai full. Lalu ada peserta yang mengikuti kelas sampai full yang pada sesi akhir sekolah, para peserta ditugaskan membuat tulisan dari hasil refleksi kelas serta akan dipublikasi dalam bentuk bukudan produk pengetahuan lainnya oleh peserta sekolah urbanis 2020. sebagian peserta terdiri dari mahasiswa baik dalam mau pun luar negeri serta ada pula profesional dan peneliti dari berbagai latar belakang keilmuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *