SEKOLAH URBANIS 2021: Kecil Tertukar, Muda Bertagar, Tua Bertengkar, Mati Tercemar

Disclaimer: Background gambar adalah dokumentasi pada saat peluncuran Buku “Merekam Kota Dalam Pandemi: Resiliensi, Harapan dan Kemungkinan” dimana terjadi serangan vandal grafiti (online) secara anonim.

Kenapa kita tidak mesti selalu optimis di tahun 2045?

Perang kota-kota melawan variabel kerentanan masih terasa bagaikan upaya manusia menggarami lautan. Daya untuk menyuarakan realita masih terjejali narasi mitologi yang sudah usang. Menanti terbitnya harapan pada kekuatan tribalisme keberagaman namun apa daya tsunami polarisasi sudah menghantam nurani. Siapakah yang merasa paling berhak menentukan nasib kota setelah badai pandemi menepi? Dimanakah posisi warga kota dalam menentukan masa depan? Apakah kita sebagai warganya ataukah kota-kota akan menjadi panggung drama abadi, dimonopoli oleh teknokrat, pemerintah, gerombolan perencana kota, atau raksasa-raksasa teknologi? Mengapa menjadi jujur malah jauh lebih berisiko? Seberapa kuat letupan gelora ekspresi mampu mengguncang masa depan? Seberapa lantang dentuman jiwa mampu terdengar? Akankah cukup berdengung saja hingga tiba waktunya menjadi negara dengan populasi menua?

Latar Belakang

Pandemi telah mempengaruhi kehidupan hampir dimana-mana, terutama di kota. Perpaduan antara pandemi dan masalah lama yang juga masalah saat ini telah membebani kehidupan sehari-hari masyarakat awam dan membuat kita bertanya-tanya tentang masa depan. Apakah mungkin untuk kembali kepada apa yang kita ketahui di masa lalu sebagai hal yang normal, atau haruskah kita menutup babak 2019 sepenuhnya dan menamakannya “Hidup seperti yang kita ketahui sebelumnya?”.

Kota, dimana kepadatan bertemu peluang, dibumbui dengan keragaman dan dibebani dengan ketidaksetaraan yang mencolok, tengah menghadapi ketidakpastian untuk masa depan. Kepadatan, tidak hanya sebagai sarana penduduk, aktivitas, serta aspek ekonomi dan budaya, menjadi dipertanyakan ketika penduduk kota diwajibkan untuk menjaga jarak secara sosial. Sementara keberagaman adalah mesin yang kuat untuk vitalitas perkotaan, dipicu oleh migrasi dan mobilitas. Kota juga dipengaruhi oleh kebangkitan populisme yang mendorong ketegangan rasial. Kota sebagai kuil penumpukan kekayaan juga memberikan banyak peluang sebagai wajah ganda dari sebuah koin dengan ketimpangan yang dalam.

Pandemi telah menyoroti apa itu “kenormalan”?

Namun pertanyaannya tetap tersisa – siapa sebenarnya yang mendeskripsikan dan memutuskan bagaimana masa depan kota setelah pandemi? Siapa yang menentukan masa depan kita? Bisakah kita menentukan masa depan kita karena kota adalah oeuvre kita? Atau sekelompok perencana kota, teknokrat, pemerintah, dan konsultan mereka seperti McKinsey atau teknologi besar seperti Amazon?

Bisakah suara kita didengar?

Melalui program Sekolah Urbanis 2021 – yang merupakan lanjutan dari penyelenggaraan Sekolah Urbanis perdana di tahun 2020 – Rujak Center for Urban Studies bermaksud mengajak siapapun yang peduli akan masa depan kotanya untuk bersuara agar didengar dengan meminjam peran yang ditawarkan oleh seni dan budaya, yakni menghasilkan spasialitas hasil dari daya tangkap tubuh dan menumbuhkan kreativitas. Rujak Center for Urban Studies mengundang Anda sebagai masyarakat awam untuk bergabung dan menciptakan masa depan kita sendiri. Harapannya, upaya ini dapat membuka jalan dan menciptakan terobosan untuk kota yang lebih baik lagi.

Program Sekolah Urbanis kali ini mengangkat tema yang tidak biasa yaitu, “Kecil Tertukar, Muda Bertagar, Tua Bertengkar, Mati Tercemar”, terinspirasi dari perjalanan Ziarah Utara (2018-sekarang) yang merupakan aksi spontan Tita Salina, Irwan Ahmett, Jorgen Doyle dan Hannah Ekin sebagai seniman yang menyaksikan perubahan Jakarta dari sudut pesisir. Sebagai salah satu megacity di Asia yang sedang berjuang menghadapi apokaliptik berskala besar. Tanpa penanganan serius, 2/3 wilayah daratannya akan tenggelam. Melalui perjalanan dan pertemuan tak terduga mereka mencoba untuk menembus berjalan di lahan sengketa, garis pantai yang dicuri, hutan mangrove yang tercemar logam berat hingga mengamati hasil tangkapan laut yang telah bermutasi akibat runtuhnya daya dukung ekologi. Melalui jalan kaki  mereka mencoba menziarahi jiwa kota Jakarta sebagai budak kosmopolitan yang sekarat karena menunggu kabar baik dari manusia yang tak kunjung tiba. 

Target peserta

Mahasiswa dan umum yang akan diseleksi oleh tim penyeleksi Sekolah Urbanis 2021. Peserta yang mendaftar program Sekolah Urbanis 2021 diwajibkan untuk membuat narasi singkat (maksimal 100 kata) yang dilengkapi foto dengan tema ‘Luka pada Tubuh’.

Karena manusia adalah makhluk sosial yang selalu atau tidak mau belajar dari kesalahannya maka dari itu luka pada tubuh kita merupakan ‘medium’ rekam yang paling jujur. Goresan, benturan, sayatan, pukulan baik sengaja maupun tidak, dapat meninggalkan makna mendalam. Bagi sebagian orang luka adalah aib/tabu, bagi kelompok lainnya luka sama dengan gemerlap bintang kebanggaan. Sejalan waktu berlalu luka mudah dilupakan namun tidak sedikit luka mengendap dalam ingatan secara permanen hingga dibawa ke liang kubur. Luka adalah catatan kehidupan yang paling akurat. Lihat didepan cermin, pilih dan ceritakanlah satu luka yang paling penting dalam hidupmu.

Lokasi

Sesi kelas daring akan diselenggarakan via Zoom Webinar.

TOR Kegiatan dan Registrasi

Klik Link Ini

*Disclaimer: Background gambar adalah dokumentasi pada saat peluncuran Buku “Merekam Kota Dalam Pandemi: Resiliensi, Harapan dan Kemungkinan” dimana terjadi serangan vandal grafiti (online) secara anonim.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *