Tanggap dan Adaptasi pada Kampung Kota di Era Pandemik

Kampung kota sebagai bentuk permukiman yang diproduksi secara sosial dan swadaya merupakan sesuatu yang khas pada kota-kota di Indonesia. Secara bentuk, kampung kota identik dengan kepadatan bangunan dan penduduk tinggi, namun dengan jumlah lantai rendah, serta terhubung dengan gang dan jalan kecil. Keterbatasan ruang dan budaya komunal yang masih melekat membuat penduduk kampung kota kerap menggunakan jalan sebagai ruang bersama, bahkan ruang publiknya. 

Ada kampung kota memiliki masalah infrastruktur dasar, termasuk air dan sanitasi. Kepadatan bangunan tinggi menyebabkan tak seluruh bangunan mendapatkan sirkulasi udara dan cahaya alami cukup. Luas bangunan di kampung kota pun lebih kecil dibandingkan pada jenis permukiman lain, dan tentunya membuat kebijakan “isolasi mandiri” di era Pandemik menjadi suatu yang sulit. Kondisi awal kampung kota kini menjadi kerentanan sendiri di era Pandemik.

Bersamaan dengan melonjaknya kasus Covid-19 di Jakarta, kekhawatiran akan dampak dan penyebaran Covid-19 menimbulkan keresahan dan kebingungan terkhususnya bagi warga terlebih di saat Pemerintah memberikan berbagai sinyal berbeda mengenai Pandemik ini. 

Kebingungan ini tidak lain karna minimnya informasi praktis terkait apa yang bisa dilakukan warga untuk melindungi dirinya ketika benteng pertahanan yang dihimbau oleh pemerintah hanyalah mencuci tangan dan menjaga jarak, sesuatu yang bahkan menjadi polemik bagi warga kampung yang terbiasa hidup komunal dan bahkan beberapa memiliki kesulitan akan akses air bersih.

Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa tidak ada jaminan keamanan terhadap warga kampung dalam menghadapi pandemi ini, warga kampung mau tidak mau harus menginisiasi ‘benteng’nya sendiri. Oleh karena itu jauh sebelum dikeluarkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada tanggal 31 Maret 2020, banyak warga kampung yang telah mengambil langkah untuk me-“lockdown” kampungnya masing-masing.

Mengingat lockdown telah diberlakukan di negara lain seperti Italia dan India, namun tidak di Indonesia. Bisa jadi inisiasi lockdown merupakan langkah ekstrim yang dipahami warga yang bisa mereka lakukan untuk menjaga kampung mereka. Inisiasi local lockdown sudah banyak diberlakukan terutama di kampung-kampung kota Jakarta, bahkan sejak akhir Maret 2020. Misalnya kampung Guji Baru dan Tanah Merah. 

“Lockdown” di Kampung Guji Baru (sumber FKTMB)

Namun pada kenyataannya pemahaman lockdown yang diberlakukan di kampung lebih tentang bagaimana menjaga agar tidak ada orang luar yang masuk ke wilayah kampung sehingga pada prakteknya warga hanya memberikan palang di depan jalan. Pemandangan yang mungkin agak mirip dengan penutupan jalan ketika warga kampung sedang mengadakan hajatan. Yang berbeda adalah adanya tulisan “lockdown” yang kadang juga disertai sedikit candaan warga di spanduknya.

Banyaknya warga kampung yang bekerja di sektor informal mengharuskan mereka untuk tetap rutin keluar rumah untuk mendapatkan penghasilan. Mobilitas warga kampung sendiri yang begitu dinamis menjadikan kampung zona yang rentan untuk penyebaran Covid-19 dengan atau tanpa ditutupnya akses jalan untuk orang luar.

Di Kampung Akuarium Jakarta Utara, dalam menghadapi krisis ini warga menginisiasi karantina mandiri dan membentuk tim kerja khusus secara swadaya. Warga membuat portal yang dijaga oleh tim keamanan kampung untuk memantau orang keluar masuk kampung. Ketika ada yang sakit atau menunjukkan gejala Covid-19, maka tim kesehatan warga akan membantu menghubungi rumah sakit terdekat.

Kegiatan Pencegahan Covid-19 di Kampung Akuarium (Foto oleh Dharma Diani)

Selain itu, warga juga rutin membersihkan lingkungan kampung dengan menyemprotkan disinfektan untuk menghindari penyebaran Covid-19 di sekitar kampung. Jika ada informasi terbaru terkait Covid-19, maka warga memastikan informasi tersebut dengan berkoordinasi dengan lurah setempat dan juga gugus tugas yang ada di Jakarta.

Pembagian tugas ini tentunya disertai dengan kebijakan internal kampung yang mengharuskan setiap warga untuk menjaga jarak saat di kampung, senantiasa menggunakan masker dan hanya keluar jika dibutuhkan. Di dalam kampung sendiri, disediakan ‘stasiun’ cuci tangan yang bisa digunakan oleh seluruh warga terkhususnya warga yang memiliki mobilitas tinggi sehingga setiap kali masuk mereka harus mencuci tangan terlebih dahulu.

“New Normal” Ala Kampung Kota?

Sampai vaksin COVID19 ditemukan, maka kita harus selalu waspada dan berhati-hati, terlebih jika Pemerintah memutuskan untuk memberhentikan PSBB. Jaga jarak fisik dan pembatasan sosial sedang dan sudah menjadi norma baru, namun belum sepenuhnya bisa terimplementasi, terutama di kampung kota yang memiliki keterbatasan ruang, terutama hunian.Tetapi, kebiasaan warga kampung menggunakan jalan sebagai ruang bersama dan ditambah inisiatif pembatasan akses keluar masuk kampung (baik dalam rupa barikade, lockdown hingga karantina kampung) membuka banyak peluang baru. Jalan dan ruang sisa di kampung dapat dimanfaatkan sebagai ruang bersama sesungguhnya. 

Di kampung kota yang padat, penduduk kampung perlu semaksimal mungkin memanfaatkan ruang publik, seperti jalan, demi memaksimalkan jaga jarak fisik, pembatasan sosial serta menjaga kesehatan. 

Olahraga Pingpong di Kampung Tongkol, Jakarta Utara (Foto oleh Tubagus Rachmat)

Ruang jalan sekarang dapat dimanfaatkan sebagai tempat bersepeda dan berolahraga. Ruang sisa, baik di tepi jalan maupun tanah kosong dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkebun, misalnya yang dilakukan oleh warga Kampung Tambak Rejo, Semarang. Komunitas Anak Kali Ciliwung juga memanfaatkan jalan yang kini minim kendaraan bermotor sebagai ruang aktivitas, termasuk bermain pingpong.

Warga Kampung Tambak Rejo, Semarang, yang tergusur tahun lalu, kini memanfaatkan lahan tidur untuk pertanian kota (Foto: Serikat Tani Kota Semarang)

Fenomena ini merupakan respon alami warga kampung untuk bertahan di tengah ketidakpastian tentang apa yang harus dilakukan dalam menghadapi pandemi ini. Tidak heran jika kedepannya nanti warga kampung melahirkan inisiasi inovatif lainnya yang mungkin sebagian efektif dan sebagian lagi tidak. Namun dalam konteks bertahan hidup, bukankah lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.

Berkaca dari inisiasi yang dilakukan warga kampung, mungkin sudah saatnya pemerintah melihat warga kampung tidak hanya sebagai korban melainkan sebagai komunitas yang berdaya. Karena dari segi daya juang, tentu tidak ada yang mengalahkan semangat warga kampung untuk bisa bertahan.

 

Ditulis oleh Linda Widiachristy & Elisa Sutanudjaja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *