SERIAL REFLEKSI MAHASISWA MAGANG: MENGURAI LAPIS-LAPIS DAMPAK KETIDAKADILAN IKLIM TERHADAP PENDUDUK PEMUKIMAN PADAT DI JAKARTA

Pengantar dari tim Rujak Center for Urban Studies

Selama bulan Juli hingga Agustus yang lalu, kami dari tim Rujak Center for Urban Studies (RCUS) menerima empat orang mahasiswa Perencanaan Wilayah Kota dari Institut Teknologi Sumatera Lampung (ITERA Lampung) untuk magang di organisasi kami. Dalam program magang ini, mereka mempelajari RCUS serta program-program yang saat ini menjadi fokus kami. Mereka juga turut berpartisipasi dalam program RCUS yang mereka minati, sambil secara spesifik juga turut membantu menyusun profil beberapa kampung di Bandar Lampung untuk mendukung salah satu penelitian kami. 

Pada akhir masa magang mereka, para mahasiswa ini diminta untuk menuliskan artikel refleksi pribadi mereka terkait isu perkotaan spesifik yang mereka minati, berdasarkan keterlibatan langsung mereka dalam program terkait yang diselenggarakan RCUS. Berikut ini adalah artikel dari Roviqoh Zalma yang meminati isu ketidakadilan iklim di perkotaan dan turut serta dalam proyek RCUS terkait bertajuk Beyond Housing Types: Comparative Study of
Urban Poor Settlements for Urban Heat Adaptation and Inclusive Urban Future in South East Asian Cities. Proyek ini didanai oleh Climate Adaptation and Resilience ASEAN (CLARE ASIAN) dan dilaksanakan RCUS bersama dengan Kota Kita, Arkom Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia.

Tulisan refleksi pribadi ini merupakan bagian penting dari kegiatan ko-produksi pengetahuan RCUS, yang mengajak berbagai lapisan warga untuk memikirkan persoalan terkait terciptanya ruang kota yang lebih ekologis dan berkeadilan. Selamat membaca.

*

Oleh: Roviqoh Zalma (mahasiswa Perencanaan Wilayah Kota ITERA Lampung)

Apakah kamu menyadari bahwa belakangan ini, suhu udara Jakarta terasa semakin panas menyengat? Rasa pengap dan terik luar biasa tidak hanya mengganggu kita saat  berada di tengah kemacetan lalu lintas ibukota, tetapi juga merangsak masuk hingga ke dalam sudut-sudut ruang privat kita di rumah. Tapi, pernahkah kamu membayangkan, bahwa ada pihak yang merasakan dampak suhu panas ini secara lebih intens dan merugikan? Bagi warga yang bermukim di kawasan padat penduduk, rumah susun sederhana sewa (rusunawa), hingga kampung-kampung kota, udara panas bukan lagi sekadar obrolan menara gading tentang perubahan iklim (yang ironisnya biasa dilakukan dalam ruang-ruang perkantoran dan konferensi yang sangat nyaman dan dingin) atau ramalan cuaca yang relatif jauh dari keseharian. Suhu membakar ini telah menjelma menjadi realitas kehidupan sehari-hari yang mengapit ruang hidup mereka tanpa jeda dari pagi hingga larut malam.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), lonjakan suhu ekstrem ini merupakan dampak langsung dari transformasi struktur kawasan perkotaan yang tidak terkendali dalam beberapa dekade terakhir (BMKG, 2023). Akumulasi panas berlebih di Jakarta dipicu oleh makin menyusutnya ruang terbuka hijau yang diperparah oleh dominasi penggunaan material bangunan yang menyerap dan menyimpan panas. Laju konversi lahan secara masif dari area bervegetasi alami menjadi tutupan semen, beton, dan aspal telah mengubah lanskap perkotaan menjadi area dengan kapasitas retensi panas yang sangat tinggi. Ditambah lagi dengan pesatnya pembangunan infrastruktur makro seperti jalan tol layang, koridor transportasi massal, kompleks komersial, serta buangan panas residual dari jutaan sistem pendingin ruangan buatan (air conditioner/AC), megapolitan Jakarta telah mengalami kenaikan suhu mikro yang sangat signifikan dalam beberapa puluh tahun terakhir.

Menyambung poin yang sudah disebutkan sebelumnya, sayangnya, ada sebuah isu penting yang sering kali luput dibicarakan oleh para peserta diskusi penataan ruang kota: sengatan panas ini tidak dirasakan secara sama dan merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Meskipun tren kenaikan suhu melingkupi seluruh wilayah metropolitan, perbedaan dampak buruk dari panas ekstrem terhadap warga yang berasal dari kelas sosioekonomi berbeda memperlihatkan jurang ketimpangan spasial serta sosioekonomi yang sangat tajam (yang sering juga disebut sebagai spatial and socioeconomic climate injustice). Warga berpenghasilan tinggi dapat dengan mudah berlindung di balik dinding tebal hunian ber-AC. Sebaliknya, warga miskin kota di permukiman padat harus bertahan hidup di dalam rumah beratap seng dengan sirkulasi dan ventilasi udara yang sangat terbatas.

Ilustrasi 1: Foto bangunan Rusun Klender di Jakarta Timur yang menjadi salah satu lokasi penelitian mengenai bagaimana penduduk miskin di wilayah pemukiman padat informal mengalami beban yang lebih berat dari efek penumpukan panas kota. Atap bangunan yang terbuat dari seng, minimnya ventilasi serta kepadatan wilayah yang menghalangi sirkulasi udara membuat warga yang tinggal di dalamnya merasa seperti terpanggang di dalam oven, apalagi di tengah kenaikan suhu udara Jakarta dalam beberapa puluh tahun terakhir.

Melalui kerja pendampingan dan advokasi lapangan yang dijalankan bersama Rujak Center for Urban Studies (RCUS) di Rusun Klender, Kampung Akuarium, Kampung Muka, serta kampung-kampung kota pendampingan lainnya di Jakarta, tulisan ini membedah secara mendalam anatomi fenomena panas kota atau urban heat. 

Secara khusus, tulisan ini disusun sebagai refleksi penulis atas keikutsertaannya dalam sebuah studi berjudul Beyond Housing Types: Comparative Study of Urban Poor Settlements for Urban Heat Adaptation and Inclusive Urban Future in Southeast Asian Cities (Be-Housing) saat magang di organisasi RCUS dari bulan Juli hingga Agustus 2026. Penelitian ini didanai oleh Climate Adaptation and Resilience ASEAN (CLARE ASEAN) dan penyelenggaraannya dilakukan oleh RCUS, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Arkom Indonesia dan Kota Kita. Sebagai sebuah penelitian komparatif, situs penelitian ini terdapat di kota Jakarta, Surabaya dan Semarang (Indonesia) serta Selangor (Malaysia). Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, penulis memutuskan untuk fokus pada pengalamannya mengikuti proses penelitian ini di Jakarta. 

Berangkat dari pengalaman turut serta dalam penelitian tersebut, tulisan ini tidak hanya memandang panas kota sebagai masalah ekologi semata, melainkan sebagai krisis multidimensi yang turut menggerus ranah sosial, ekonomi, dan kesehatan penduduk miskin di kota Jakarta dan sekitarnya, yang merupakan populasi terbesar kota ini.

Mendengarkan Suara Warga Secara Aktif: Sebuah Riset Aksi yang ‘Membumi’

Dalam upaya memahami bagaimana ketidakadilan iklim mempengaruhi populasi paling rentan di wilayah perkotaan (dalam kasus Jakarta, ini adalah kelompok miskin kota yang tinggal di pemukiman padat informal), sangat penting untuk tidak menggunakan pendekatan yang sifatnya menara gading. Pemahaman ini sebaiknya berangkat dari pengalaman warga terdampak itu sendiri, yang suaranya jarang didengarkan. Oleh karena itu, untuk memahami bagaimana paparan panas ekstrem bekerja pada skala mikro-lokal di tingkat tapak dalam penelitian Be-Housing ini, kami tidak hadir dengan membawa instrumen laboratorium yang kaku atau lembaran kuesioner angka yang formal dari luar situs penelitian. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), sebuah metode riset partisipatif yang berorientasi pada tindakan, yang pelaksanaannya terintegrasi secara langsung dengan aktivitas pendampingan komunitas bersama RCUS di wilayah DKI Jakarta. Pendekatan ini berfokus pada prinsip  melibatkan warga secara aktif sebagai partisipan penelitian yang setara, menerapkan edukasi kritis, serta menjalin dialog komunikatif dua arah bersama warga lokal.

Proses pengumpulan data di lapangan diawali dengan pembekalan internal bagi para peneliti mengenai perspektif keadilan ruang (spatial justice), konsep dasar urban heat, hingga kerangka kerja perencanaan bersama (co-planning), yang menjadi elemen-elemen fundamental dari penelitian ini. Kami selaku para peneliti jugalah yang secara langsung menggalang dan mengumpulkan warga di berbagai titik pemukiman padat untuk turut serta dalam penelitian ini Sebelum mulai mengumpulkan data melalui pertanyaan-pertanyaan spesifik terhadap warga, tim peneliti melakukan sebuah diskusi interaktif dengan warga, yang tujuannya adalah untuk menghubungkan antara perubahan kondisi lingkungan fisik di sekitar rumah warga serta meningkatnya suhu panas yang dialami warga dengan konsep krisis iklim global.

Pengumpulan narasi dilakukan melalui metode wawancara kelompok terarah (Focus Group Discussion) yang dikemas dalam bentuk percakapan santai dengan mengandalkan pertanyaan-pertanyaan terbuka (open-ended questions). Suasana diskusi yang hangat, inklusif, dan tidak kaku ini berhasil membangun hubungan yang baik (rapport) dan rasa percaya antara peneliti dan warga yang menjadi partisipan penelitian. Proses ini tampaknya telah membuat warga merasa sangat nyaman sehingga menjadi leluasa menceritakan ingatan masa lalu mereka (termasuk soal sejarah peningkatan panas di pemukiman mereka), keluhan ekonomi harian yang mereka alami, dinamika konflik keluarga, hingga harapan-harapan mereka secara jujur dan emosional. Seluruh temuan ini kemudian dikonsolidasikan melalui sesi refleksi bersama jaringan peneliti RCUS dan Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), yang dalam prosesnya juga mengintegrasikan perspektif riset dari program CLARE-ASEAN (2024).

Ilustrasi 2: Warga yang sedang melakukan aktivitas di sekitar Rusun Penjaringan di Jakarta Utara yang menjadi salah satu lokasi penelitian tim RCUS mengenai penumpukan panas kota bagi warga miskin di pemukiman padat. Keunikan penelitian ini adalah alih-alih bergantung pada sebuah teori besar mengenai dampak panas terhadap warga kota miskin dan adaptasi yang mereka lakukan, para peneliti dalam kajian ini menjadikan pengalaman langsung warga sebagai bagian paling penting dari penelitian.

“Dulu [Pernah] Adem, Sekarang Menyengat Tanpa Jeda”

Salah satu hal paling berkesan yang muncul dari narasi warga lintas generasi di lokasi kajian mengenai isu panas kota adalah adanya kontras ekologis yang sangat dramatis antara kondisi ruang hidup Jakarta berpuluh-puluh tahun yang lalu, yang masih cenderung lebih ideal dengan kenyataan sulit yang harus mereka hadapi hari ini. Warga merasakan secara langsung bagaimana pergeseran ini juga menyebabkan kemunduran kualitas hidup mereka. Warga senior mengenang bahwa beberapa dekade lalu, kepadatan bangunan di permukiman mereka belum sesesak sekarang. Saat itu, lahan-lahan kosong yang ditumbuhi pepohonan peneduh berukuran besar masih membentang luas di sekitar pemukiman. Karena belum dihalangi terlalu banyak bangunan tinggi, angin segar bebas berhembus melewati celah-celah rumah, menciptakan sirkulasi yang merupakan faktor penting dalam menjaga kenyamanan termal di dalam rumah.. Belum lagi, kini akumulasi sampah rumah tangga sudah begitu banyaknya, sehingga turut serta dalam menghalangi laju angin yang dapat memberikan rasa sejuk di tengah cuaca yang panas. Lingkungan kampung perkotaan pada masa itu masih menyediakan ruang hidup yang alami dan bersahabat bagi tumbuh kembang anak-anak.

Sebaliknya, kondisi hari ini digambarkan oleh warga sebagai era saat “panas menyengat tanpa jeda”. Masifnya proyek pembangunan fisik di sekitar permukiman seperti pembangunan jalan tol layang, koridor beton, dan kompleks hunian komersial baru telah menggusur tutupan vegetasi hijau secara drastis. Proyek-proyek ini tidak hanya melenyapkan peneduh alami, tetapi juga menyebarkan polusi debu konstruksi yang tebal, mengotori perabotan rumah, dan menyumbat sirkulasi udara lingkungan. Terbatasnya sirkulasi angin akibat dihalangi oleh bangunan-bangunan tinggi kemudian membuat debu ini terus mengambang di udara tempat warga sekitar tinggal. Kondisi panas kemudian juga diperparah fakta bahwa bahan-bahan beton dan kaca yang digunakan dalam konstruksi berbagai infrastruktur dan sarana tersebut juga memperparah kenaikan suhu karena sifat mereka yang menyimpan panas dalam waktu yang lama.

Kombinasi hilangnya lahan hijau, penumpukan volume sampah yang tak terkelola di saluran air, serta pembetonan seluruh permukaan jalan gang semakin menghalang-halangi angin sejuk berhembus ke rumah warga. Sementara itu, material dinding beton tebal dan atap seng di rumah-rumah warga menyerap radiasi panas matahari sepanjang siang hari, lalu memancarkannya kembali ke dalam ruangan pada malam hari. Akibatnya, rumah-rumah warga berubah menjadi perangkap panas, mirip oven yang perlahan-lahan ‘memanggang’ penghuninya sepanjang hari. Bisa dibayangkan, situasi seperti ini akan membahayakan para penduduk pemukiman padat informal ini, di tengah dampak perubahan iklim yang semakin buruk.

Ketika Penggunaan Kipas Angin Selama 24 Jam Memicu Konflik dan Pembengkakan Biaya

Suhu udara mikro yang terasa seolah memanggang tubuh beserta serbuan debu proyek konstruksi tidak hanya menciptakan rasa tidak nyaman secara fisik, tetapi juga memicu rangkaian krisis multidimensi di dalam rumah tangga warga, yang dirangkum dalam butir-butir berikut ini:

  • Konflik Sosial Karena Penggunaan Kipas Angin: Karena unit rumah terasa sangat pengap dan menyengat, warga tidak memiliki pilihan lain selain bergantung penuh pada kipas angin  yang dipaksa menyala 24 jam nonstop (segelintir warga, yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari, memiliki AC). Namun, karena keterbatasan jumlah unit alat pendingin di dalam rumah, situasi ini tak jarang memicu pertengkaran internal keluarga. Anak-anak atau anggota keluarga sering kali saling bertengkar  karena memperebutkan kesempatan menikmati angin dari kipas yang jangkauan dan intensitasnya juga begitu terbatas.
  • Pembengkakan Biaya Listrik & Alat Elektronik Rusak: Pengoperasian kipas angin dan AC tanpa henti berimplikasi langsung pada melonjaknya tagihan listrik bulanan secara signifikan. Bagi keluarga dengan pendapatan harian atau pas-pasan, pembengkakan biaya energi ini memaksa mereka memangkas porsi belanja kebutuhan pokok dan nutrisi keluarga, yang tentu juga akan memperparah dampak kesehatan dari panas kota (yang akan dibahas di bagian bawah). Selain itu, kipas angin milik warga kerap mengalami kerusakan mekanis atau dinamonya terbakar akibat bekerja melampaui batas kemampuan, yang berarti warga harus mengeluarkan biaya ekstra yang tak terduga untuk perbaikan atau membeli unit baru.
  • Serangan Debu dan Ancaman Kesehatan Kelompok Rentan: Penggunaan kipas angin selama 24 jam ternyata tidak sepenuhnya menciptakan kenyamanan termal di tengah suhu udara yang semakin panas. Banyak warga mengeluhkan efek samping penggunaan kipas angin dari sisi kesehatan berupa badan pegal-pegal dan sering masuk angin. Padahal, di saat bersamaan, kualitas tidur mereka juga tetap buruk setelah menggunakan kipas angin, karena toh udara yang dihembuskan tetap terasa hangat. Di sisi lain, kombinasi antara paparan debu proyek konstruksi dan suhu yang menyengat membuat kelompok paling rentan seperti anak-anak balita dan lansia mudah terserang penyakit pusing, flu, dehidrasi, batuk kronis, hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Taktik Bertahan Hidup: Adaptasi Swadaya di Tengah Keterbatasan

Masyarakat kampung kota bukanlah kelompok yang pasif dalam menghadapi perubahan lingkungan yang ekstrem. Di tengah keterbatasan ekonomi dan ruang hidup yang sempit tanpa intervensi dari negara, warga pemukiman padat di kampung kota terus memutar otak dan mengoperasikan berbagai taktik adaptasi mandiri demi bisa bertahan hidup di tengah sengatan panas yang semakin lama semakin parah:

  • Penyesuaian Perilaku dan Pola Konsumsi Harian: Warga meningkatkan frekuensi mandi hingga 4 sampai 5 kali sehari untuk mendinginkan suhu tubuh secara instan di tengah panas yang menyengat. Mereka membiasakan diri mengenakan pakaian yang tipis dan longgar, memperbanyak konsumsi air putih, serta membuka pintu dan jendela rumah lebar-lebar sepanjang hari agar sirkulasi udara dapat berputar. Kedua hal ini membuat warga harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk tagihan air dan konsumsi air putih yang meningkat. Warga juga berinisiatif mematikan lampu-lampu ruangan yang tidak terlalu terpaksa dipakai guna menekan tagihan listrik sekaligus mengurangi tambahan radiasi panas dari bohlam.
  • Modifikasi Fisik Bangunan & Ruang Sosial: Beberapa warga yang memiliki sedikit uang tabungan untuk dipakai sebagai modal perbaikan rumah berusaha memasang kanopi tambahan dari bahan seng atau plastik di teras dan atas jendela untuk menghalau paparan sinar matahari langsung. Jika kondisi di dalam rumah sudah sangat pengap dan tidak tertahankan, warga memilih nongkrong atau berkumpul di area permukiman yang terasa lebih sejuk: luar rumah, di teras gang, atau menumpang di rumah kerabat/tetangga yang memiliki ruangan lebih adem. Saat terpaksa beraktivitas di luar rumah, warga membiasakan diri mengenakan jaket pelindung, pakaian tertutup, dan masker guna melindungi tubuh dari sengatan terik dan serbuan debu jalanan.

Urban Climate Injustice: Yang Paling Sedikit Mengeluarkan Emisi Adalah Yang Paling Menderita

Realitas harian yang dialami oleh warga di Rusun Klender, Kampung Akuarium, dan Kampung Muka memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai terjadinya ketidakadilan iklim perkotaan (Urban Climate Injustice).

Warga miskin kota di kawasan padat merupakan kelompok masyarakat dengan jejak karbon (carbon footprint) paling minimal. Mereka umumnya tidak memiliki kendaraan bermotor pribadi beremisi besar dan konsumsi energinya sangat hemat jika dibandingkan dengan kawasan komersial atau permukiman elite (misalnya: sebagian besar dari mereka tidak menggunakan AC). Namun, secara ironis, merekalah yang harus menanggung kerugian sosial, ekonomi, dan kesehatan (loss and damage) paling berat akibat peningkatan panas yang merupakan dampak turunan pembangunan infrastruktur makro kota.

Keterbatasan daya beli menempatkan warga dalam perangkap kerentanan yang berulang. Taktik adaptasi mekanis seperti menyalakan kipas angin 24 jam atau menambah kanopi seng terbukti hanya menjadi “obat penawar sementara”. Langkah-langkah swadaya ini justru memicu lingkaran krisis baru: tagihan listrik dan air yang membengkak, kipas angin yang cepat rusak, timbulnya konflik keluarga, hingga penurunan kualitas kesehatan. Keadaan ini membuktikan bahwa alat pendingin buatan tidak mampu menyelesaikan akar masalah kerentanan termal yang bersumber dari ketimpangan struktural penataan ruang kota.

Suara dari Akar Rumput: Apa yang Warga Butuhkan?

Warga kampung kota tidak sekadar mengeluh dan menerima keadaan; melalui forum diskusi terbuka dan santai bersama RCUS, mereka mampu merumuskan aspirasi dan usulan solusi intervensi dari pihak negara yang sangat praktis serta berbasis kebutuhan riil di tingkat tapak dalam menghadapi peningkatan panas akibat perubahan iklim dan kondisi ruang hidup di kota Jakarta:

  1. Penyediaan Sarana Kebersihan dan Pengelolaan Sampah: Warga mengharapkan bantuan tempat sampah komunal yang layak dan terpilah di lingkungan permukiman agar kawasan menjadi lebih bersih, tidak kumuh, serta memiliki potensi nilai tambah ekonomi melalui skema daur ulang. Ini juga penting agar tumpukan sampah tidak memperparah kondisi panas di wilayah pemukiman mereka.
  2. Program Penghijauan Kampung Kota: Pemberian bantuan bibit pohon peneduh, tanaman pot, serta edukasi teknik penghijauan di lahan sempit (vertical garden) bagi warga secara gratis untuk mendinginkan suhu lingkungan secara alami.
  3. Subsidi Energi dan Perbaikan Hunian Layak: Pemberian subsidi khusus tarif listrik bagi warga berpenghasilan rendah  apabila sampai terjadi gelombang panas ekstrem, serta adanya program bantuan perbaikan/bedah rumah yang memperhitungkan aspek kecukupan sirkulasi udara (cross ventilation).
  4. Bantuan Kesehatan dan APD Dasar: Pembagian masker dan fasilitas kesehatan dasar secara berkala untuk melindungi warga, khususnya lansia dan balita, dari krisis polusi debu akibat maraknya proyek pembangunan di sekitar permukiman.

Fenomena urban heat di permukiman padat Jakarta terbukti menjadi krisis multidimensi yang dipicu oleh pembetonan ruang hidup, hilangnya vegetasi di sana, serta polusi debu dari proyek pembangunan. Dampak panas ekstrem ini tidak hanya mengubah hunian menjadi perangkap panas (“oven”) yang menghilangkan kenyamanan termal bagi para penghuninya, tetapi juga memicu lonjakan tagihan listrik, kerusakan alat pendingin, konflik rumah tangga, serta mengancam kesehatan anak-anak dan lansia. Sebagai kelompok dengan jejak karbon paling rendah, warga miskin kampung kota menanggung beban paling berat dari perubahan iklim (sebuah manifestasi nyata dari climate injustice), di tengah taktik adaptasi swadaya mereka yang masih sangat terbatas dan absennya peran negara.

Kehadiran negara dalam penanganan fenomena panas kota tidak dapat lagi dilakukan dengan pendekatan teknokratis dari atas ke bawah (top-down) yang mengabaikan realitas warga rentan. Sudah saatnya pemerintah dan pemangku kebijakan bertransformasi menuju skema perencanaan bersama (co-planning). Dengan menempatkan pengetahuan lokal (local knowledge), suara, dan pengalaman riil warga kampung kota sebagai pijakan utama, kita dapat mewujudkan kebijakan penataan ruang perkotaan yang sungguh-sungguh inklusif dan berkeadilan iklim bagi seluruh warga kota.

Pengecualian: Penulisan draf awal artikel ini dibantu dengan AI dan telah melalui proses penyuntingan oleh staf Rujak Center for Urban Studies

 

DAFTAR PUSTAKA

BMKG. (2023). Analisis Dinamika Atmosfer dan Tren Perubahan Suhu Udara Perkotaan di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 

CLARE Research Initiative. (2024). Climate Adaptation and Resilience in Urban Informal Settlements: Micro-Climate Variations and Community Vulnerability. Climate Adaptation and Resilience Initiative. 

IPCC. (2022). Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press. 

Rujak Center for Urban Studies. (2023). Laporan Tahunan dan Panduan Penataan Kampung Kota Berbasis Komunitas dan Keadilan Ruang. Rujak Center for Urban Studies. 

UN-Habitat. (2011). Cities and Climate Change: Global Report on Human Settlements. Earthscan. 

 

Data primer: hasil observasi lapangan, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD) partisipatif dengan masyarakat di Rusun Klender, Kampung Akuarium, dll. Data digunakan untuk menjelaskan kondisi lokal terkait fenomena urban heat, pembetonan kawasan, dampak alat pendingin 24 jam, tagihan listrik, konflik domestik, ancaman kesehatan kelompok rentan, serta taktik adaptasi swadaya warga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *