Rujak Weekend Maret “Kota dan Ruang Maya”

 

oleh Robin Hartanto

Editorial Maret – Kota dan Ruang Maya

Kelekatan dengan ruang maya tidak lagi dibatasi tempat.  Di dalam bus, lima dari delapan orang di sekitar saya memainkan jemarinya di atas telepon genggam. Modem broadband seukuran flashdisk sudah dapat mengalihkan kita dari ruang nyata. Belum lagi jaringan internet nirkabel yang tersedia di berbagai tempat, baik itu di restoran maupun di kantor, siap mengantar kita ke ruang maya. Warung internet, yang mewadahi 65 persen pengguna internet di Indonesia berdasarkan survei Intermedia tahun 2008, menjamur dimana-mana, malah telah menjadi seperti warung kopi. Orang-orang di dalamnya menghabiskan waktu berjam-jam dan tak jarang kita menemukan warnet 24 jam.

Dikotomi antara ruang nyata dan ruang maya pun menjadi kabur, karena ruang maya sendiri bagi banyak orang telah menjelma menjadi “kenyataan”. Ia menjadi tidak nyata ketika kita membicarakannya sebagai sebuah benda yang memiliki wujud fisik, tetapi menjadi sangat nyata saat membicarakan efek yang ditimbulkan olehnya. Banyak orang yang kemudian berkomunikasi dan berinteraksi melaluinya, lebih daripada di ruang nyata. Kemudahan dalam mengakses konten melalui ruang maya juga membuat kita lebih mudah dan cepat mencari data di internet dibandingkan dengan media lainnya.

Lebih jauh, ruang maya malah telah menjadi wadah untuk berekspresi dan untuk menunjukkan eksistensi penggunanya. Update status sudah lumrah, padahal pertama kali saya mendengarnya, saya merasakannya sebagai hal yang konyol. Situs-situs blogging bermunculan, seperti toko-toko di jalanan dengan papan nama beragam, dari pribadi hingga institusi, yang produk-produknya ditampilkan di kotak kaca dan orang-orang yang lalu lalang dapat melihatnya.

Batas antara ranah privat dan ranah publik menjadi sebuah pertanyaan yang tidak terjawab. Hal-hal yang tadinya bersifat pribadi didorong ke jalan raya untuk dinikmati bersama, bahkan untuk ditabrak oleh kendaraan yang melaju kencang. Orang-orang berhak peduli atau cuek, tetapi “kita”-lah yang menjadi aktor sekaligus penontonnya, sebagaimana majalah TIME memilih “You” sebagai Person of the Year 2006.

Lantas apa hubungan semua ini dengan kota? Lewis Mumford pernah mendeskripsikan bahwa kota yang hidup adalah kota yang “menyediakan sebuah panggung tempat drama kehidupan sosial bisa berlangsung, dengan aktor-aktornya bergiliran menjadi penonton, dan para penonton bergantian menjadi aktornya.”

Paul Goldberger dalam ceramah berjudul “Cities, Place and Cyberspace” mencermati bahwa pada awal abad 20, teknologi membawa kita menjauhi kehidupan urban seperti yang dimaksudkan Mumford. Kita berada pada era yang menganggap bahwa jalan untuk kendaraan lebih penting dibandingkan jalur pedestrian tempat orang-orang berjalan dan mengalami kota. Juga sebuah era yang menarik pengalaman kehidupan urban ke dalam sektor privat, yang menyebabkan masyarakat perlu membayar untuk dapat menikmati kehidupan publik.

Namun, ruang maya yang relatif belia tapi bertumbuh dengan amat progresif ini justru memberikan sebuah harapan. Bukankah ruang maya sekarang ini telah menjadi panggung drama kehidupan sosial seperti yang dideskripsikan oleh Mumford? Ruang maya telah memberikan kita pengalaman kehidupan urban yang sulit kita temukan di jalanan Jakarta yang penuh kebul asap knalpot. Ia seperti berteriak memprotes ruang nyata di kota sekarang ini. Walaupun banyak juga dampak negatifnya, ruang maya telah membawa beragam hal positif, sebutlah Koin Peduli Prita, Kampanye CICAK vs BUAYA, hingga aksi-aksi penanggulangan bencana yang amat berutang pada ruang maya dalam menggerakan masyarakat.

Relevansi pengaruh ruang maya terhadap kota sekarang ini membuat RujakWeekend bulan Maret mengangkat topik “Kota dan Ruang Maya” untuk didiskusikan lebih lanjut. Program-program kami antara lain adalah RujakScreen yang akan memutar film Linimas(s)a dan RujakShare yang akan mengundang berbagai komunitas yang memperjuangkan hak publik melalui ruang maya. Selamat menikmati!

Rincian jadwal acara Rujak Weekend Maret 2012 dan resensi buku yang berhubungan dengan “Kota dan Ruang Maya” dapat dilihat di publikasi di bawah ini.