Does Unlimited (renewable) energy means Unlimited Production and Consumption?

Unlimited energy supply might become a reality, with better technology to harness the sun, wind, and water. Will unlimited energy automatically mean unlimited production? And, if so, will unlimited production mean we do not need to limit consumption? Any one with answers?

10 thoughts on “Does Unlimited (renewable) energy means Unlimited Production and Consumption?

  1. jajap tanudjaja says:

    The energy flows available on earth that directly or indirectly result from these renewable energy sources vary tremendously, for instance, in terms of energy density or with regard to spatial and time variations.

    Since the following explanations are limited to the most important utilisation methods of renewable energy supply, only the energy flows and the corresponding conversion methods and technologies .

    They mainly include
    ? solar radiation,
    ? wind energy,
    ? hydropower,
    ? photosynthetically fixed energy and
    ? geothermal energy.

    The above options of using renewable energies are characterised by very different properties.

    Appropriate techniques permit the exploitation and conversion of different renewable energy flows or energy carriers into secondary or final energy, energy carriers or useful energy, respectively.

    Currently, there are tremendous variations in terms of utilisation methods, status of technology and given perspectives.
    Moreover,not all options are possible for every site and every set of boundary conditions.

    Therefore only those opportunities that are most promising from the current, viewpoint will be investigated .

    They include:

    ? solar heat provision by passive systems (i.e. architectural measures to use solar energy),

    ? solar thermal heat provision by active systems (i.e. solar thermal collector systems),

    ? solar thermal electrical power provision (i.e. solar tower plants, solar farm plants, Dish/Stirling and Dish/Brayton systems, solar chimney plants),

    ? photovoltaic conversion of solar radiation into electrical energy (i.e. photovoltaic systems),

    ? power generation by wind energy (i.e. wind turbines),

    ? power generation by hydropower to provide electrical energy (i.e. hydropower plants),

    ? utilisation of ambient air and shallow geothermal energy for heat provision (i.e.utilisation of low thermal heat by means of heat pumps)

    ? utilisation of deep geothermal energy resources for heat and/or power provision(i.e. utilisation of the energy stored in deep porous-fractured reservoirs by means of open and closed systems) and

    ? utilisation of photosynthetically fixed energy to provide heat, power and transportation fuels (i.e. energy provision on the basis of biomass).

    In addition, selected options of harnessing ocean energy (such as tidal energy, ocean current energy)

    Edited from : Renewable Energy Technology, Economics and Environtment by Martin Kaltschmitt,Wolfgang Streicher, Andreas Wiese

  2. jajap tanudjaja says:

    Hal yang paling ditakutkan manusia di bumi ini salah satunya adalah kehabisan sumber energy untuk kelangsungan kehidupannya,

    Coba bisa dibayangkan bilamana bumi ini sudah kehabisan bahan bakar minyak, batubara,gas dan sejenisnya sebagaimana yang kita pakai sekarang sebagai bahan bakar penggerak untuk membangkitkan energy,

    Menurut info yang pernah saya baca, bahwa cadangan minyak dan gas dibumi ini akan habis sebelum tahun 2035 bilamana kita masih mengandalkan minyak dan gas bumi sebagai sumber utama pembangkit energy untuk memenuhi kebutuhan energy di bumi ini,

    Untuk menanggulangi masalah tersebut upaya apa yang harus dilakukan kita bersama ?

    Upaya-upaya yang paling sederhana dan dapat kita lakukan antara lain:

    1. Melakukan penghematan pemakaian energy ( salah satunya kurangi efek rumah kaca )

    2. Menjaga dan melestarikan lingkungan dalam arti yang seluas luasnya

    3. Mengurangi eksploitasi tambang minyak,batubara, gas dll dan kurangi pembabatan hutan secara besar-besaran ( aji mumpung )

    4. Mencari pilihan sumber energy alternatif yang tepat pada lokasi kita tinggal,agar kita tidak selalu bergantung pada minyak dan gas bumi,
    Beberapa alternatif tersebut antara lain Solar energy dengan pemanfaatan tenaga surya ( Solar Cell), tenaga angin ,tenaga air, tenaga panas bumi , tenaga pasang gelombang laut dengan pemanfaatan ketinggian gelombang, dan yang terakhir adalah tenaga nuklir.

    Khusus tenaga Nuklir banyak menimbulkan pro dan kontra karena dapat merusak alam dan kehidupan manusia, meskipun energy yang dibangkitkan sangat efektif ,pilihan ini akan dijadikan pilihan yang paling terakhir,oleh karena itu dalam tulisan diatas, sengaja saya tidak cantumkan.

    5. Upaya2 lainnya yang dapat dikembangkan lebih lanjut dari ke empat upaya tersebut diatas.

    Tulisan diatas ( November 13,2009) hanya menggambarkan suatu proses dari sumber energy alam sebelum diubah menjadi energy alternatif yang dapat dipakai, dan tulisan tersebut diambil sesuai dengan bahasa aslinya, ( diambil dari:Renewable Energy Technology, Economics and Environtment by Martin Kaltschmitt,Wolfgang Streicher, Andreas Wiese )

    Untuk menjaga kelangsungan Energy di bumi ini ,marilah kita bersama menjaga dan melestarikan lingkungan dan melakukan penghematan energy,

    Saya sampaikan info yang mungkin bermanfaat silakan buka di :

    http://jajap.tumblr.com/ : Free Download Handbook From My Collection…..

    Salam Jajap Tanudjaja

  3. Elisa Sutanudjaja says:

    Pak Marco, kekhawatiran bapak diatas bisa menjadi kenyataan. Barusan Presiden Bank Dunia yang baru meminta agar negara-negara Asia meningkatkan pinjaman guna mendorong konsumsi demi meningkatkan pertumbuhan … ckckck … belum ketemu clean & renewable energy saja sudah begitu, apalagi kalau energi yang dimaksud sudah ada.

  4. Marco Kusumawijaya says:

    Maksudnya apakah negara sedang berkembang harus meningkatkan konsumsi dengan meng-impor barang dari negara maju supaya mereka tidak menganggur?

  5. jajap tanudjaja says:

    Untuk Ibu Elisa dan Saudara Marco

    Saya menyadari sepenuhnya dari awal bahwa respons yang saya sampaikan bertolak belakang dari topik yang diajukan oleh Saudara Marco, namun saya melihat bahwa topik tersebut berupa pertanyaan dan respon yang saya sampaikan adalah mengenai sangat terbatasnya energy saat ini.

    Menurut persepsi saya,mungkin lebih bermanfaat bila menjelaskan masalah energynya itu sendiri, Karena kenyataannya, meskipun sangat terbatasnya energy yang ada saat ini, tetap saja produksi barang atau bentuk apapun tidak pernah berhenti selama dibutuhkan..

    Seperti yang dikemukakan oleh Ibu Elisa……”.jika berpandangan positif akan mengubah pemikiran massal?” saya sangat setuju sekali bila ditinjau dari pandangan “semenjak dini kita tanamkan bahwa kita harus melestarikan energy yang terbatas ini guna memenuhi produk yang dibutuhkan untuk konsumsi kehidupan manusia kegenerasi berikutnya”
    Semoga bermanfaat dan dapat menciptakan jakarta yang lebih baik
    Salam Jajap Tanudjaja

  6. Elisa Sutanudjaja says:

    Pak Jajap, kekhawatiran saya lebih besar daripada pandangan positif saya. Ditambah dengan anjuran Presiden Bank Dunia yang sangat tradisional: ayo berkonsumsi, dengan anggapan konsumsi sebagai salah satunya indikator pertumbuhan.
    Konsumsi indentik dengan proses produksi. Apalagi jika produksi itu diinsentif oleh (nantinya) renewable energy (jika sudah ada dan murah), maka bagi saya, relasi itu bak api disiram bensin, makin menjadi.
    Apalagi jika mengingat yang konon ada teknologi renewable energy (seperti solar cell) kononnya adalah paten (ehm) perusahaan energi (minyak).
    Karenanya walaupun saya berusaha untuk berpikir positif, kekhawatiran tetap muncul di pikiran saya, hehe 🙂

  7. jajap tanudjaja says:

    Betul sekali kalau anggapan konsumsi dianggap berbelanja untuk kebutuhan yang berlebihan dijadikan tolok ukur suatu pertumbuhan itu adalah tidak baik,saya kira semua orang akan khawatir, dan dapat berdampak menciptakan budaya yang konsumtif yang pada ujung2nya akan menimbulkan lebih besar pengeluaran dari pada pemasukan dan dampak yang ditimbulkan bukanlah kemajuan tetapi merupakan kemunduran karena dapat menimbulkan berbagai masalah yang lebih komplek bilamana sudah menjadi budaya.

    Respon yang saya sampaikan dimulai dari hal yang berlawanan, dan coba lebih menekankan masalah Energynya itu sendiri (,maaf sebelumnya pada Sdr Marco)

    Anjuran presiden bank dunia terus terang saya sudah lama tidak mengikuti berita/koran jadi kurang menyimak dengan baik,

    Tapi yang jelas kalau kita tidak punya uang yah kita harus berhemat, demikian juga dengan energy itu sendiri , kalau cadangan nya sudah menipis yah mau tidak mau harus berhemat dan mencari solusi alternatif energy, dan hal inilah menurut pendapat saya harus kita kembangkan dan lestarikan karena semua manusia tetap membutuhkan energi sehingga dapat diwariskan ke generasi berikutnya .

    Respon yang saya kemukakan diatas itu harus ditanamkan semenjak dini untuk melakukan penghematan energy sehingga dapat tercipta budaya hemat energy dan dengan sendirinya sebagai kontra dari budaya konsumtif.

    Teknologi selalu berkembang tapi energy tambang minyak dan gas sangat terbatas dan terukur, makanya dengan teknologi itulah mencari sumber2 energy alternatif lain yang ada di bumi kita ini untuk mencukupi kebutuhan kehidupan manusia ( ini juga dapat diartikan sebagai konsumsi manusia )

    Energy solar cell sendiri masih terus dikembangkan karena saat ini masih mempunyai efisiensi yang rendah sekali +/- 20 % saja, dan bila dipasang secara statis artinya tidak ada motor penggerak mengikuti arah matahari maka untuk daerah katulistiwa sendiri yang kaya matahari ini hanya 5-6 jam/hari untuk mencapai efisiensi yang rendah tersebut, juga dibutuhkan area yang cukup luas untuk penempatan solar panelnya sendir( coba bayangkan solar panel yang beredar dipasaran dunia untuk ukuran yang paling kecil saat ini untuk 200 watt dibutuhkan (30×60) cm ) berapa luas area untuk meletakan solar panel yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan satu gedung kantor bertingkat yang full ac dengan facade full kaca, ( Ac 60- 80 w/m2, lampu dan power lain2 +/- 20 – 50 w/m2] misalnya.

    Namun demikian kita meyakini bersama bahwa teknologi akan selalu berkembang, jadi suatu saat nanti kita harapkan akan lebih baik untuk tujuan yang positif…… Wah jadi semakin out of topic ya

    Jadi janganlah kita khawatir dengan kemajuan teknologi, yang sangat kita kawatirkan bersama adalah budaya konsumtif, maka marilah kita tanamkan budaya yang antagonis dari budaya konsumtif tersebut, yaitu budaya hemat energy ,(@Titin Hasanah jangan takut makan rujak asal sesuai dengan kebutuhan )
    Semoga rujak dapat menjadi salah satu sarana untuk membudayakan hemat energy

    Senang bisa diskusi dengan anda,( tgl 24-27 bulan ini saya mendapat undangan masalah energy pada bangunan modern dan gempa, mudah2an saya bisa sharing dengan teman2 diluar sana )

    Salam Jajap Tanudjaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *