Posts Tagged ‘Gempa’


13 Sep 2013

Produksi bersama Pengetahuan Kesiagaan Bencana

IMG_1920

 

” Kita harus jeli membedakan bencana yang sepenuhnya karena ulah manusia dari bencana yang sepenuhnya tak terduga, seperti gempa bumi, tsunami dan gunung meletus. Banjir merupakan kejadian yang dapat dihentikan dan dapat diduga. Kita harus jernih melihat dan fokus untuk menghapuskan bencana itu. Sementara terhadap bencana-bencana alam yang tak terduga, memang kita harus fokus untuk bersiaga. Saya khawatir, kalau kita tidak jernih melihat ini, maka kita akan sibuk bersiaga terus terhadap bencana yang seharusnya dapat dihindari, dan ini mengakibatkan kurangnya usaha untuk menghapuskannya, seperti banjir Jakarta yang sepenuhnya karena salah pembangunan. Jadi, jangan kita sibuk membuat kesiagaan dan justru lupa membuat program yang menghapus banjir sama sekali. Dan itu mungkin sekali dilakukan kalau kita mau memperbaiki tata ruang, disiplin, dan seterusnya” – Marco Kusumawijaya

 

Pada 31 Agustus – 2 September 2013, Rujak Center for Urban Studies bersama ARKOM Jogja mengadakan workshop “Kreativitas dan kesiagaan Bencana” di Bumi Pemuda Rahayu.  Didukung oleh The Japan Foundation, workshop ini ditujukan untuk mempertemukan beragam pihak yang selama ini berkecimpung di isu kebencanaan (pemerintah, penyintas dan pekerja kemanusiaan) juga pekerja kreatif untuk bersama memproduksi pendekatan kesiagaan bencana yang lebih menarik dan kreatif.

Peserta datang dari wilayah berbeda dengan tipologi bencana yang berbeda, seperti Aceh (Tsunami), Sumatera Barat (gempa bumi), Yogyakarta dan Bantul (letusan gunung merapi dan gempa bumi) juga Jakarta (banjir).

IMG_1810

Workshop dibagi menjadi dua sesi yaitu sesi berbagi pengetahuan tentang kebencanaan dan sesi diskusi kelompok yang merumuskan pendekatan kreatif terkait kesiagaan bencana.

Dalam sesi berbagi pengetahuan, baik penyintas, pemerintah maupun pekerja kemanusiaan menjadi narasumber. Presentasi narasumber di sesi berbagi pengetahuan dapat diunduh di sini

Dari sesi ini, terangkum poin penting yaitu bahwa pengetahuan kesiagaan  bencana hanya dimiliki oleh sebagian orang. Kemungkinan besar hal ini  disebabkan karena :

a. Produksi pengetahuan belum dilakukan bersama. Penentuan jalur evakuasi dan penentuan lokasi pengungsian masih dilakukan secara sepihak, oleh pemerintah, dan belum secara maksimal melibatkan masyarakat. Salah satu contoh nya adalah pengalaman penyintas dari Aceh, Ibu Nilawati, di mana pada saat gempa bumi besar tahun ini banyak warga yang tidak lari menyelamatkan diri ke Gedung Tsunami, sebagaimana dilatih tiap tahunnya pada peringatan Tsunami. Sebagian besar warga justru lari menyelamatkan diri ke wilayah yang lebih jauh. Pilihan warga ini bukan tanpa alasan. Tsunami lalu memberikan mereka pengetahuan bahwa menyelamatkan diri ke wilayah tertentu (semisal Ketapang) yang berada di daratan tinggi terbukti menyelamatkan mereka.

Begitu juga pengalaman mereka terkait bangunan gedung. Dari pengalaman Tsunami, bangunan gedung termasuk bangunan yang tidak selamat dari Tsunami. Kepercayaan warga juga cukup kuat bahwa masjid lebih aman sebagai tempat pengungsian.

Bersama memproduksi pengetahuan menjadi catatan penting karena masih ada perbedaan cara pandang penyintas dan pemerintah tentang kesiagaan bencana. Salah satu contoh adalah kelompok penyintas Merapi di mana terdapat tiga (3) dusun (Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul dan Srenen) yang menetap di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB 3) .

Sejak letusan besar di tahun 2010 lalu, tiga dusun ini menetapkan prinsip “Living in Harmony with Disaster” . Pesan tersebut mengakar karena kuatnya desakan dari pemerintah setempat untuk merelokasi warga yang masih tinggal di kawasan tersebut. Bagi warga, pilihan menetap di kawasan yang dikategorikan sebagai Kawasan Rawan Bencana bukan tanpa persiapan. Hingga saat ini, warga telah terorganisir membentuk Komunitas Siaga Merapi. Secara ekonomi, warga juga bersiaga dengan membetuk tabungan komunitas berupa tabungan bencana yang dikumpulkan melalui metode jimpitan.

Sebagai bentuk upaya penyadaran, komunitas ini, bersama ARKOM Jogja, membuat film dokumentasi yang merekam proses pendidikan kesiagaan bencana di tingkat anak-anak melalui metode gambar.

Kesiagaan warga di 3 dusun lereng Merapi bukannya tanpa dasar pengetahuan. Apa yang kita kerap sebut sebagai kearifan lokal telah mereka praktekkan selama ini. Pengetahuan yang dihasilkan dari proses hidup bersama alam membantu warga dalam menyiagakan diri terhadap bencana. Bunyi gemeretak pohon bambu, binatang yang berlarian, kelompok burung yang migrasi, merupakan pertanda bencana dan pengetahuan bagi warga untuk bersiaga.

Hal ini masih sulit dimengerti oleh pemerintah, khususnya dalam penetapan sistem peringatan dini (early warning system). Penetapan standar siaga dari pemerintah, yang didasarkan pada teknologi, menjadi terlihat bertolak belakang dengan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat.

 

IMG_1901

 

b. Pengemasan dan distribusi pengetahuan kesiagaan bencana belum mampu menjangkau masyarakat luas.

Catatan ini menjadi pendorong dilaksanakan nya workshop kreativitas dan kesiagaan bencana. Pengetahuan kesiagaan bencana yang belum tersebar ke masyarakat mensyiratkan dua hal, terkait pengemasan produk pengetahuan dan cara penyebaran pengetahuan itu sendiri.

Narasumber workshop, yaitu Hirokazu Nagata dan Takayuki Shimizu dihadirkan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka terkait kesiagaan bencana. Hirokazu Nagata adalah seorang arsitek yang bersama lembaganya, +arts,  diminta oleh Pemerintah Kobe untuk merancang strategi penyebaran pengetahuan kesiagaan bencana gempa. Dengan pendekatan kreatif dan pengemasan menarik melalui visual arts, Nagata telah mengkampanyekan kesiagaan bencana selama lima tahun terakhir. Menggandeng perusahaan, termasuk toko Muji, dan lembaga pendidikan, Nagata mengupayakan agar produk pengetahuan siaga bencana bisa tersebar ke berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Bicara kreativitas, Takayuki Shimizu, seorang pengrajin bambu dari Kota Beppu, memberikan workshop kerajinan bambu kepada pengrajin bambu yang tersebar di desa-desa sekitar Bumi Pemuda Rahayu.

 

IMG_1959

Di hari kedua workshop, peserta merumuskan beragam pendekatan kreatif terkait kampanye kesiagaan bencana. Peserta dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan tipologi bencana yang disebutkan di atas. Ide yang muncul dari diskusi kelompok terkait kesiagaan bencana sangat menarik. Untuk mensosialisasikan keberadaan dan fungsi gedung tsunami, kelompok tsunami menawarkan ide seperti “game virtual tsunami”, festival tsunami, dll. Game virtual tsunami ditujukan sebagai simulasi bencana. Prinsip di balik serangkaian ide ini adalah mendekatkan keberadaan dan fungsi gedung tsunami dalam kehidupan sehari hari warga.

Untuk gempa bumi di Sumatera Barat, kelompok peserta mengusulkan konsep yang bernama “Gadang Bagoyang”, yaitu alat sederhana berupa kerajinan berbentuk rumah gadang yang dipasang di rumah sebagai penanda adanya getaran untuk peringatan dini atas gempa bumi. Strategi yang ditawarkan terkait kesiagaan terhadap bencana dimulai dari level keluarga/rumah tangga yang kemudian akan menyebar hingga level komunitas.

Kumpulan ide kreatif dari empat kelompok dapat diunduh di sini

 

IMG_1957

Di akhir workshop, peserta mempresentasikan ide-ide kreatifnya dalam sebuah konferensi yang diadakan di Balai Bambu, Pakuncen, Yogyakarta. Rencana tindak lanjut workshop adalah undangan dari the Japan Foundation untuk peserta mengirimkan proposal program sebagai upaya merealisasikan proposal yang dihasilkan.

Diskusi antar beragam pihak penting untuk terus dilakukan. Proses yang dilakukan selama workshop kemarin menjadi media diskusi pertukaran pengetahuan dan cara pandang terkait kebencanaaan. Diskusi  lintas latar belakang memunculkan banyak ide tentang strategi dan pendekatan kesiagaan bencana yang lebih kreatif.

 

1 Comment »

Topics: , , , , , , , , | Agent of Change: none |


02 Sep 2009

JAKARTA dan Gempa: Keselamatan Manusia dalam Bangunan

Gempa Jakarta 2 September 2009: Di mana tempat untuk evakuasi sementara? (0209009@MKusumawijaya)

Oleh: DIAN KUSUMANINGTYAS.

Bagaimana keselamatan manusia di dalam gedung dapat dijamin ketika terjadi gempa? Jakarta barusan mengalami runtunan gelombang gempa yang berasal dari Tasikmalaya. Ber-ribu orang berhamburan keluar dari gedung dan rumahnya (jumlah tepatnya tidak diketahui). Berbagai cara yang diketahui orang dicoba untuk dikerjakan, seperti: lari keluar gedung, berlindung dibawah meja dll. (more…)

12 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |