Ruang Keluarga Jakarta

Suatu ketika di kantor camat, tanggal 30 Juli 2009 pukul 15.30 WIB. Dimanakah sebaiknya anda mengantri untuk mendapatkan pelayanan? Didalam atau diluar?
Suatu ketika di kantor camat, tanggal 30 Juli 2009 pukul 15.30 WIB. Dimanakah sebaiknya anda mengantri untuk mendapatkan pelayanan? Didalam atau diluar?

Rasa frustasi saya jika pergi ke kantor pemerintah sudah dimulai sejak 12 tahun lalu,  ketika harus berurusan dengan Dinas Tata Kota (sekarang Dinas Tata Ruang). Saat itu tidak ada petunjuk yang jelas, arahan yang diberi orang sekitar tidak jelas, dan didalam pun tidak tahu berurusan dengan pihak yang benar atau oknum. Dan itu semua demi secarik dua carik lembar rancang kota.

Sama lagi ketika saya harus mencari statistik kehidupan beragama di Jakarta, kemana saya bisa pergi? Yang jelas bukan Departemen Agama? Dan bukan juta Biro Pusat Statistik. Atau jika ingin melihat foto dan peta Jakarta jaman kolonial, kemanakah kita pergi?

Ketidakjelasan dan kesimpangsiuran informasi, tak hanya terjadi karena kurangnya sosialisasi. Didalam kompleks bangunan pemerintah pun kita mampu menemukan kekacauan alur sirkulasi dan tata letak ruang. Pengalaman pribadi yaitu ketika saya ‘bertualang’ didalam kantor pos pusat. Lucunya, perjalanan dari ruang ke ruang lain bisa saya lewati dengan memasuki ruang-ruang terlarang untuk publik, seperti ruang sortir surat.

Dapatkah saya berpandangan bahwai birokrasi dan pelayanan publik kota tercermin dari susunan organisasi ruang kantor-kantor pemerintahan? Dari pengalaman pribadi saya hingga terakhir berkunjung ke gedung depdikbud setidaknya mencerminkan semua itu. Mari berpikir sejenak, apakah saya dan anda memiliki pengalaman menyenangkan selama mengunjungi bangunan birokrasi? Jika demikian, bisakah saya beropini layaknya mens sana in corpero sano: jika bangunannya memiliki distribusi sirkulasi yang baik dan desain interior yang sehat, maka kondisi tersebut mampu memperbaiki pelayanan dan servis pemerintahan?

Dua hari lalu saya bersimborok dengan spanduk besar di jalan Sudirman, intinya: Ayo wujudkan Jakarta sebagai Service City! Lalu pertanyaannya, mampukah pelayanan Jakarta menyenangkan dan memenangkan hati, setidaknya, penduduk? Tak hanya pelayanan bagaimana dengan infrastruktur kota, sudah siapkah? Dengan menjadi service city, maka Jakarta minimal harus bebas banjir, bebas macet, akses transportasi publik tepat waktu dan cepat, tata ruang efisien, mengurangi polusi.

Ok, seandainya tidak sanggup, untuk waktu dekat apa yang dapat dilakukan? Tentu, Jakarta tidak memerlukan iconic building ala Guggenheim Bilbao, setidaknya untuk saat ini. Mungkin yang diperlukan adalah tempat untuk warga. Dan hari ini saya berkunjung ke Museum Bank Mandiri, yang berlokasi di depan Stasiun Kota. Terlepas dari ketragisan macet daerah Kota, Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia bak perayaan akan ruang publik. Museum Bank Mandiri membuka pintunya lebar-lebar kepada komunitas dan semua golongan yang membutuhkan ruang apresiasi dan ruang berkumpul: mulai dari pameran, komunitas merajut, hingga pertemuan reuni. Semua diterima dan dilayani dengan sangat baik. Dan museum itu untuk segala umur, di satu sudut ada tempat bermain anak hingga ada banyak tempat duduk dan meja sehingga ramah bagi manula.

Sedikit belajar dari Museum Bank Mandiri, setidaknya mungkin Jakarta perlu one stop building for everything. Everything, I mean EVERYTHING. Tempat kita mengajukan ijin membangun, tempat kita melihat visi Jakarta (ya, setidaknya kita perlu punya visi!), tempat kita mengadu, tempat kita rembug warga, tempat kita mencari segala informasi tentang Jakarta, dan bisa juga tempat investor mencari kemungkinan investasi, serta tempat pemda mensosialisasikan seluruh program-programnya. Dan “ everyone is invited” (tentu bukan kantor pusat www.rujak.org yah), semua mendapat perlakuan yang sama dan diterima. Tapi jangan lupa, wujudkan desain dengan tata ruang bersahabat dan mengakomodasi seluruh golongan dari bayi hingga manula, orang buta hingga tuna daksa. Logika sirkulasi yang sederhana namun teratur. Intinya perencanaan yang mampu mengakomodasi kebutuhan di masa yang akan datang.

Lihat juga sebuah ide tentang Sebuah Tempat untuk Warga Mengenal Jakarta dan Berpartisipasi Membangunnya, karya tugas akhir Yanaika Agustine, arsitek: Di sini warga Jakarta dapat mengenal Jakarta secara interaktif dan terbuka, dan dapat memberikan saran-sarannya, juga terdapat ruang-ruang tempat warga dapat menyelenggarakan pertemuan, mewujudkan inisiatif warga.

Kotak Saran yang Kesepian, Menunggu Saran dari Warganya ....
Kotak Saran yang Kesepian, Menunggu Saran dari Warganya ....

6 thoughts on “Ruang Keluarga Jakarta

  1. Pingback: Inisiatif dan Partisipasi Warga « Rujak

  2. priscilla says:

    Dulu kala..
    Bung Karno sudah pernah memikirkannya..
    lahirlah Gedung Pola
    namun.. saat pergantian kepeimpinan republik ini, semua visi turut bergeser..
    kini Gedung Pola hanya tinggal nama dan kenangan fisik..
    fungsi?
    Coba kita lihat proyeknya Yanaika, siap tahu ada yang baru 🙂

  3. Dian says:

    Nama proyeknya yang keren: Urban Renewal.
    Jakarta harus di ‘daur ulang’ dengan berbagai konsep dan cara. Proyek2 Urban Renewal yang berhasil untuk kelas dunia; ada di beberapa titik di Bronx – New York; Sao Paulo – Brazil. Kalau yang dua ini biar diurusin/dibahas dan dipikirin para arsitek/urban planner/city planner/master planner dll.
    Buat yang di skala rakyat dan berhasil ‘ga pake keren2an’ ya itu… Stren Kali.

    Usul nih:
    DKI c.q. Dinas Tata Kota – kalau mau memperbaiki suatu area; disosialisaikan dulu. Misalnya:
    1. Gambarnya dipasang di daerah tersebut.
    2. Di pasang juga kertas kosong untuk komentar terbuka dan box untuk komentar tertutup.
    3. Pada hari paling padat; urban plannernya disuruh berdiri ditempat itu dan menunggui gambarnya di komentarin publik.
    4. Diberikan setidaknya 3 alternatif dan masyarakat diminta komentar dan diminta memilih secara terbuka.

    Dibanyak negara; pola seperti itu sering dilakukan untuk area yang sangat vital dalam kepentingan umum. Sering juga; universitasnya turun panggung. Artinya membuat disain dan turun kelokasi beserta mahasiswanya dan men-sosialisasikan usul ‘urban renewal’nya langsung dilokasi.

    Mengunjungi Jakarta tanpa dipandu penduduk Jakarta; sangat tidak ramah lingkungan dan tidak ramah turis. yang kelihatan cuma jalan dan mobil. Sangat tidak nyaman.

    Menjadi penduduk Jakarta, yang berkepentingan dengan pemda Jakarta juga tidak nyaman. Tidak ada Community Centre yang membantu masyarakat.

    Sebetulnya kenapa masih tinggal di Jakarta kalau tidak nyaman? Karena sumber penghasilan kan. Berarti Jakarta pajak penghasilannya juga besar sekali. Kemana aja tuh?

    Apa yang membuat Jakarta menarik walaupun tidak nyaman? Uang dan Entertainment. Bagaimana caranya supaya bisa membalikkan Uang dan Entertainment ini untuk kepentingan rakyat banyak? Nah … itu dia persoalannya…

    Mari dipikirkan dan diusulkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *