Membaca Kota Melalui Panas Catatan dari Kota-Kota Pesisir

Oleh: Elisa Sutanudjaja / Rujak Center for Urban Studies

Catatan: Makalah ini aslinya disampaikan dalam bentuk presentasi dalam perjalanan Kereta Api Eksekutif dari Jakarta ke Tegal pada hari Rabu, 22 April 2026, pukul 12:00 WIB, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan peluncuran Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP), yang merupakan kerja sama antara Rujak Center for Urban Studies (RCUS) dan Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal.

 

Musim panas yang capek dan sempoyongan

mengetuk jendela rumahku malam-malam.

Suaranya begitu kukenal.

Dalam nyanyi ia ucapkan selamat tinggal.

Kubuka jendela: malam purnama,

tapi ia tak ada lagi di sana.

Di seberang jalan kulihat bayangannya

melambaikan tangan.

Sendiri kuucapkan selamat jalan.

— Joko Pinurbo, “Musim Panas” (1985)

Sosok Penyair Visioner di Tahun 1985

Musim panas, baik di Indonesia maupun di belahan bumi Utara, selalu disandingkan dengan keceriaan liburan sekolah dan bermain. Namun Joko Pinurbo, di tahun 1985, telah mempersonifikasi musim panas sebagai sosok yang capek dan sempoyongan. Saat saya membacanya kembali kemarin, saya menduga almarhum bukan sekadar sastrawan, tetapi juga seorang peramal visioner. Dalam imajinasinya, ia sudah membayangkan manusia-manusia penghuni kota empat puluh tahun mendatang: sempoyongan, capek dan dehidrasi akibat panas menyengat dan kelembaban yang, dalam bahasa Jawa, maha mliket.

Ramalan itu benar adanya. Dalam tempo tiga dekade, jumlah hari panas Jakarta yang melampaui 35°C bertambah berkali-kali lipat. Pada periode 1994–2003, Jakarta hanya mencatatkan 28 hari panas. Pada periode 2014–2023, angka itu melesat menjadi 167 hari. Oktober 2023 saja, Jakarta mengalami tiga puluh hari berturut-turut dengan temperatur di atas 35°C. Namun seperti puisi Jokpin, musim panas pada akhirnya pun bisa “berjalan dan meninggalkan bayangan, melambaikan tangan”, dan kita akan mengucapkan selamat jalan padanya. Ia berganti musim hujan, lalu kembali tahun depan dengan panas yang lebih menyengat lagi—untuk kita lupakan kembali beberapa bulan kemudian.

Panas Datang Tanpa Permisi

Panas datang tanpa mengetuk pintu. Ia tiba-tiba duduk di sebelahmu, pelan-pelan, seperti tamu yang tidak diundang. Panas tidak meminta izin untuk datang Panas tidak meminta maaf. Panas tidak punya KTP. Panas hanya bekerja, diam-diam, di dalam tubuhmu, di dalam atap rumahmu, di dalam kabel listrik yang tiba-tiba konslet akibat AC yang bekerja terlalu keras di siang bolong.

Kita tidak bisa melihat panas, tetapi kita mengenalnya begitu ia hadir saat kita membuka jendela. Tubuh kita bereaksi; keringat adalah upaya alami untuk menurunkan suhu. Namun mengapa kita seringkali tetap merasa gerah dan tidak nyaman meskipun sudah berkeringat? Untuk memahami hal ini, ada satu acuan berguna yang jarang kita hitung dan tampilkan: Wet Bulb Globe Temperature (WBGT). Ini adalah indeks standar internasional untuk mengukur tekanan panas di luar maupun dalam ruangan, dengan menggabungkan empat faktor sekaligus: suhu udara, kelembaban, radiasi matahari dan permukaan panas, serta kecepatan angin. Berbeda dengan suhu udara biasa atau heat index, WBGT memberi bobot tujuh puluh persen pada kelembaban, karena faktor inilah yang menentukan apakah keringat bisa menguap dan mendinginkan tubuh. Agar mudah diingat, saya menyebut WBGT sebagai Waktunya Berkeringat Gerah Terus. Kelembaban yang tinggi menghalangi menguapnya keringat manusia, sehingga tidak membantu terjadinya proses pendinginan tubuh secara alami.

Di kota tropis lembab seperti Jakarta, WBGT jauh lebih jujur menggambarkan bahaya panas di jalanan daripada angka di aplikasi cuaca. Jika indeks WBGT di New Delhi dan Jakarta sama-sama 31°C, kedua kota itu memikul beban panas lingkungan yang setara pada tubuh manusia – dampak fisiologis akutnya sebanding, meski dampak kronisnya bisa berbeda. Pada WBGT 31°C, manusia yang beraktivitas di luar akan menjadi manusia seperti yang digambarkan Joko Pinurbo: capek dan sempoyongan. Saat WBGT menyentuh 35°C, tubuh manusia tidak lagi bisa mendinginkan dirinya sendiri, dan hal ini jangan dianggap remeh karena dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih berat ketimbang sekadar rasa gerah yang membuat tidak nyaman. Seberapapun sehatnya kamu, seberapa banyak air yang kamu minum, seberapa kuat paru-parumu – saat hal ini terjadi, tubuhmu akan gagal berfungsi!

Kota-kota Indonesia, dengan tingkat kelembaban rutin 70–85 persen, jauh lebih dekat dengan ambang batas ini daripada yang disadari termometer kita. Pada suhu 33°C dengan kelembaban tujuh puluhan persen, heat index sudah terasa seperti 44°C, dan WBGT dalam ruangan tertutup bisa mencapai 31. Tanpa sadar, secara senyap, nyawa pun bisa hilang – bahkan saat tertidur. Ini seperti yang terjadi di Chicago 1995 dan Eropa Barat 2003. Dan kita menuju ke sana, tanpa persiapan. Padahal, sebagaimana yang akan kita lihat di bagian berikutnya dari artikel ini, sebetulnya masyarakat Indonesia telah memiliki strateginya sendiri untuk mengatasi keadaan udara yang panas dan lembab di lingkungan tropis. Lebih jauh lagi, berbagai strategi ini sebetulnya bisa direplikasi di berbagai konteks kota, termasuk di Jakarta.

Kenangan Masa Kecil: Cirebon sebagai Guru

Saya lahir di kota pesisir bernama Cirebon. Penduduk Cirebon, baik di tingkat kota kota maupun kabupaten, punya kebiasaan unik: sebisa mungkin menanam pohon mangga di halaman rumah. Rumah masa kecil saya memiliki sekitar enam belas pohon mangga, empat di antaranya terletak di halaman depan. Meski Cirebon sering disebut panas, saya tidak memiliki kenangan masa kecil tentang kepanasan. Langit-langit rumah kami setinggi empat meter, masih menggunakan plafon gedek atau anyaman bambu. Teras dan jendela dinaungi pohon mangga dan jambu. Dindingnya tebal sekali, namun ketika dipegang terasa dingin.

Waktu kecil, saya bingung mengapa pintu ruang makan yang menuju teras itu terbelah dua menjadi bagian atas dan bawah. Ternyata itu dirancang agar tetap bisa mengalirkan udara dingin dari courtyard, sementara mencegah debu masuk. Rumah saya sekarang di Cirebon adalah rumah merangkap toko di pusat perdagangan: tiga lantai, panjang hampir lima puluh meter, dengan dua courtyard. Pohon mangga masih ada, tapi berpindah ke taman atap. Tanpa kedua courtyard itu, saya yakin rumah kami akan jadi oven dan harus bergantung pada AC setiap saat.

Di dekat rumah saya berdiri masjid tua bernama Masjid Merah Panjunan. Saya pernah masuk ke dalamnya, dan ia sejuk. Ia menggunakan pasangan batu merah berganda. Bata merah adalah insulasi panas yang efisien. Mungkin lain kali saya akan membawa thermal camera saat berkunjung, untuk mengukur berapa suhu aspal yang menyilaukan di luar dan berapa suhu dinding merah di dalam masjid.

Selama lima tahun terakhir, saya menghabiskan separuh dari waktu saya di Cirebon, dan saya banyak bersepeda untuk melakukan aktivitas keseharian: dari rumah ke supermarket, ke rumah orang tua, ke tempat ngopi. Secara sadar, saya mengatur pemilihan rute dan kapan saya melaju. Bukan berdasarkan jadwal tertentu, melainkan berdasarkan arah matahari. Saya hafal jalan mana yang akan memberikan rute “di bawah bayang-bayang” pohon-pohon mangga. Tak jarang saya memilih kedai kopi bukan berdasarkan rasa dan harga, tapi berdasarkan apakah di sana banyak pohon yang melindungi saya dari matahari. Bersyukurlah saya pada kebiasaan turun-temurun orang Cirebon. Gang-gang menjadi jalur pintas sekaligus pelindung dari panas. Saya menavigasi hidup saya di kota berdasarkan panas. Mungkin inilah yang disebut adaptasi.

Sebagian Cirebon seakan berdamai dengan panas. Pasar Kanoman yang sumpek dan minim ventilasi berada tepat di depan halaman Keraton Kanoman. Saat panas tak terkirakan, halaman keraton dengan pohon-pohon dan pendopo-pendoponya menjadi oase bagi pedagang maupun pengunjung.

Tegal: Ingatan dan Realitas

Kita sekarang menuju Kota Tegal, kota pesisir lain. Guci, yang berlokasi di Kabupaten Tegal, adalah salah satu tempat favorit liburan musim panas keluarga saya di masa kecil. Kenangan saya akan Kota Tegal sama seperti Cirebon; meski panas, tidak seberapa. Kami biasanya mampir di Rumah Makan Dewi di sisi utara alun-alun sebelum melanjutkan perjalanan ke Guci.

Saya lama tidak mengunjungi Tegal setelah dewasa, dan kembali saat pandemi pada 2020. Ternyata ia berbeda dengan imaji masa kecil saya. Panas, padang pisan; dalam bahasa Cirebon, terang sekali. Terlebih karena saat itu saya mampir ke Rumah Makan Dewi, dan pohon-pohon di alun-alun makin minimalis.

Terlepas dari berkurangnya pohon, tanpa disangka di Tegal berdiri sebuah rusunawa purwarupa rendah karbon yang menggunakan rancangan pendinginan pasif. Rusunawa ini adalah hasil kerja sama Kementerian Pekerjaan Umum dengan JICA melalui program SATREPS. Mengutip situs KemenPU, bangunan purwarupa ini menerapkan sistem hibrida, mengkombinasikan beton dan kayu olahan. Desainnya mengoptimalkan prinsip bangunan berkelanjutan: ventilasi alami, material berinsulasi tinggi, dan tata ruang yang mendukung aliran udara, sehingga dapat menjaga kenyamanan tanpa pendingin udara konvensional.

Rusunawa itu berdiri di tengah pemukiman bercampur kampung pesisir. Ia menjadi laboratorium kota, di mana mesin mencatat kinerja bangunan dalam menghadapi panas. Tegal dipilih karena lokasinya mewakili kondisi panas Indonesia pada umumnya. Yang menarik, peneliti dari Balai Sains KemenPU menyampaikan bahwa bangunan-bangunan kolonial di Tegal justru menjadi inspirasi bagi prinsip desain rusunawa purwarupa tersebut.

Panas sebagai Bidang Kerja

Sejak 2021 hingga sekarang, Rujak Center for Urban Studies (Rujak) memberikan perhatian khusus pada panas. Bermula dari program perbaikan rumah di kampung-kampung padat dengan menerapkan desain pasif: di Kampung Marlina, Kampung Muka (bekerja sama dengan Habitat for Humanity), dan segera di Kampung Muara Angke (bekerja sama dengan Selavip dan ACHR). Dari isu praktikal, kami mulai masuk ke advokasi kebijakan passive cooling pada 2024 dengan dukungan ACHR dan Climateworks Foundation. Pada 2025, kami berkesempatan menghitung secara kuantitatif setelah mendapatkan dana hibah penelitian dari CLARE (Climate Adaptation & Resilience Program, kerja sama Kanada dan Inggris). Bersama World Resources Institute Indonesia, kami juga berusaha melihat praktik pendinginan sebagai praktik sosial, melalui penerapan nature-based solutions di Kampung Cimanggis.

Kami juga mendapat kesempatan mendalami dekolonisasi kebijakan hunian – termasuk soal panas – melalui penelitian bersama International Society for Urban Health di Amerika dan Urban Resource Center di Pakistan. Bagi kami, panas bukanlah  persoalan teknis dan desain semata-mata, melainkan persoalan infrastruktur, keadilan, bahkan filosofis. Membaca kota melalui panas berarti menjawab satu pertanyaan mendasar: apakah kota tersebut memungkinkan warganya mempertahankan kondisi kenyamanan termal secara kontinu, atau justru menganggapnya taken for granted?

Kampung sebagai Ko-Produsen Adaptasi

Kampung-kampung kota Indonesia telah menjadikan praktik mendinginkan diri sebagai praktik kolektif; dan praktik itu memproduksi ruang. Berlawanan dengan kerangka teknis yang dominan dalam mitigasi panas: material, penghijauan, retrofit, dengan KPI yang rigid, praktik pendinginan di kampung dapat dilihat sebagai praktik sosial: tempat duduk di bawah pohon, gang yang dibagi bersama, lantai yang dibasahi, gang yang diteduhi. Semuanya secara aktif membentuk ruang komunal. Di sini warga kampung menjadi ko-produsen adaptasi iklim kota, bukan semata-mata korban pasif dari panas ekstrem.

Panas juga terkait dengan situasi generasional: ia dirasakan secara berbeda tergantung rutinitas dominan di setiap tahap kehidupan: pada anak-anak, orang dewasa yang bekerja, dan manula. Tahun ini Rujak juga mendapat kesempatan meneliti dampak panas pada kelompok manula, dengan piloting di dua kota, Jakarta dan Yogyakarta, didukung oleh ASEAN Center for Active Ageing and Innovation. Ini membawa kami pada ranah baru: menjadi lebih sensitif, sekaligus melihat hubungan intergenerasi sebagai solusi, praktik adaptasi, dan bentuk solidaritas atas tantangan terkait panas ekstrem.

Dalam berbagai kesempatan, kami mendapati bahwa mayoritas orang Indonesia menganggap panas sebagai keniscayaan atau kewajaran (suatu hal yang normal) ketika tinggal di negara tropis, tanpa memahami bahaya yang mengintip bersama sengatan tersebut, saat panas bumi semakin ekstrem dikarenakan perubahan iklim. Kita belajar simulasi kebakaran di gedung kantor. Kita mengajarkan simulasi gempa. Tapi kita tidak pernah mengajarkan simulasi panas ekstrem. Literasi panas publik tertinggal beberapa dekade di belakang literasi bencana lain; padahal panas sama bahkan lebih mematikan dari semuanya.

Perangkap AC

Karena minimnya pemahaman bersama akan strategi-strategi lain untuk menghadapi panas, kita dengan mudah lari pada pendingin ruangan (air conditioning) AC dan menganggapnya sebagai solusi. Di sinilah kesalahpahaman publik terjadi, sebagai akibatnya, kita dan  generasi berikutnya akan membayar mahal atas ketidaktahuan itu.

AC menciptakan empat masalah sekaligus. Pertama, ia tidak tersedia bagi sebagian besar penduduk miskin Indonesia, padahal justru merekalah yang paling terpapar panas. Kedua, ia membuang udara panas ke luar, memperburuk urban heat island (penumpukan panas kota) bagi siapa pun yang berada di trotoar. Ketiga, ia menggerakkan permintaan listrik yang masif, yang di Indonesia sebagian besar masih dipasok oleh batu bara, sehingga semakin banyak unit AC yang terpasang berarti semakin banyak emisi, dan semakin panaslah dunia kita. Keempat, dan ini yang paling membahayakan secara sistemik: AC menciptakan satu titik kegagalan tunggal. Izinkan saya menjelaskan apa artinya ini, berangkat dari pengalaman saya sendiri.

Salah satu fase listrik rumah saya pernah mati, dan menurut tukang listrik, itu akibat sistem bekerja terlalu keras dalam cuaca yang sangat panas; saat itu ada dua AC menyala di siang hari. Apa yang dialami saya juga bisa terjadi pada skala kota. Ketika jaringan listrik mati di tengah gelombang panas, gedung-gedung kaca di Sudirman-Thamrin yang dirancang bergantung pada AC akan berubah menjadi oven. Pada 2017 di Florida, dua belas pasien panti jompo meninggal ketika badai mematikan AC selama dua hari. Suhu di luar panti hanya 29°C; di dalam panti bisa mencapai 42°C.

Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu pasar AC yang tumbuh paling cepat di dunia. Setiap menara apartemen, setiap mal, setiap gedung perkantoran baru di kota-kota besar kita dibangun dengan asumsi gagal paham: bahwa listrik akan terus mengalir, AC akan terus dingin, selamanya. Dan agar AC efisien, dinding dan jendela harus terinsulasi sempurna. Asumsi ini belum pernah dimodelkan oleh pemerintah untuk skenario risiko: pemadaman 48 jam di tengah gelombang panas seminggu. Dalam skenario itu, Jakarta tak lagi sekadar akan menghadapi masalah kenyamanan; Jakarta akan menghadapi potensi peristiwa yang akan memakan korban jiwa.

Kota yang Memproduksi Panas

Kota tidak melindungi penduduknya dari panas; kota justru memproduksinya. Kota-kota kita yang makin penuh aspal dan beton menyerap panas di siang hari dan memancarkannya kembali di malam hari. Menggunakan Jakarta sebagai contoh, inilah sebabnya kota tersebut masih terasa gerah saat kita berjalan di malam hari, bahkan ketika jam sudah nyaris menunjukkan waktu tengah malam. Efek urban heat island bahkan sudah berdampak lebih besar daripada perubahan iklim itu sendiri.

Membaca kota melalui panas, dengan demikian, berarti membaca geografi “rute pelarian dari panas”: artinya, siapa yang memiliki akses ke mobilitas, hak atas hunian layak, dan aset untuk menempuhnya. Ujung-ujungnya, kita kembali harus bicara soal ketimpangan sosio-ekonomi.Panas menambah ketimpangan pada kota, bahkan sejak dini, misalnya ketika anak-anak miskin dipaksa belajar dalam kelembaban tinggi di kampung padat. Siapa yang mendapat kanopi pohon, dan siapa yang mendapat seng gelombang di lantai lima tanpa ventilasi silang (cross-ventilation); itu adalah keputusan kebijakan, bukan takdir iklim. Pondok Indah (yang merupakan pemukiman kelas menengah atas) dapat memiliki puluhan taman hijau dengan pohon besar, sementara kawasan Glodok makin hari ruang terbukanya digerogoti oleh pemerintah sendiri.

Harapan di Dalam Kota

Kota juga menawarkan solusi terhadap panas ekstrem dalam konteks Indonesia. Rumah masa kecil saya adalah contohnya. Arsitektur vernakular kita dulu sudah menjawab pertanyaan ini dengan benar: rumah panggung, overhang yang dalam, koridor terbuka, courtyard, ventilasi silang, angin-angin di atas kusen pintu, atap dengan ruang udara di bawah genteng, orientasi bangunan terhadap matahari dan angin muson, semuanya adalah teknologi pendinginan pasif yang dikembangkan selama ratusan tahun. Dalam satu generasi modernisasi perumahan dan retrofit AC murah, pengetahuan itu hampir terhapus. Mengajarkannya kembali bukan nostalgia; ia adalah intervensi kesehatan masyarakat.

Kota-kota Indonesia belum sampai pada tahap gelombang panas dengan korban 70,000 jiwa dalam satu bulan. Tapi kita sedang menuju ke sana dengan laju yang sangat cepat pakai steroid. Contohnya Semarang. Pada era 1990-an ia hanya mencatat delapan hari panas di atas 35°C. Kini ia menghadapi empat hingga lima kali lipatnya dalam satu generasi.

Kita belum punya nama untuk apa yang datang. Tak ada satu pun kota kita yang memiliki Heat Action Plan. Urusan panas masih dipahami dalam level kebencanaan – padahal ketika panas sudah menjadi bencana, kita sudah sangat terlambat dan ribuan nyawa melayang. Kita belum punya aturan wet-bulb untuk jam kerja ojol, pasukan biru, dan pekerja konstruksi. Kita belum menambah kanopi pohon secara signifikan di area perkotaan. Kita belum punya protokol pendinginan darurat di puskesmas. Kita belum punya banyak hal.

Adaptasi Kognitif

Terlepas dari semua kekurangan yang disebut di atas, kita sudah punya cukup pengetahuan untuk memulai. Dan adaptasi yang paling pertama, paling murah, paling mungkin dilakukan mulai minggu depan, adalah adaptasi kognitif: mengoreksi cara kita memahami panas. Berhenti memperlakukannya sebagai kewajaran; sebagai sesuatu yang menyebabkan keluhan semata. Kita perlu mulai memperlakukannya sebagai ancaman.

Panas datang tanpa mengetuk pintu. Tetapi itu bukan alasan bagi kita untuk tidak membukakan mata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *