Hari Raya Idul Fitri diyakini oleh umat muslim sebagai hari untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berupaya mengekang hawa nafsu pribadi. Hari raya ini dimulai dengan acara Salat Ied berjamaah di pagi hari, yang dilakukan di mesjid atau pun di lapangan terbuka.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pemandangan yang biasa terlihat dari tahun ke tahun di lokasi Salat Ied adalah bertebarannya sampah kertas koran yang digunakan umat muslim sebagai alas salat. Padahal Rasulullah sendiri dalam pernah berkata,”Sesungguhnya kebersihan itu adalah sebagian dari iman”.
Namun entah mengapa, hal ini tidak pernah mendapat perhatian cukup besar dari para pengelola mesjid atau penyelenggara Salat Ied.
Tidak keliru jika sebagian orang berpendapat bahwa sampah tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena para pemulung telah siap siaga melakukan operasi semut, yaitu membersihkan dan mengangkut sampah sisa salat. Namun rasanya akan lebih baik jika kita bisa membantu pemulung dengan cara yang lebih santun. Yaitu dengan mengajak para peserta salat melipat kembali alas koran dan mengumpulkannya ke beberapa titik pengumpulan di sekitar lokasi Salat Ied, di mana para pemulung telah menunggu.
Hal ini dapat membantu ‘meningkatkan derajat’ para pemulung yang tidak perlu lagi berkeliling mengais-ngais sampah. Selain itu juga membuat umat bertanggung jawab atas sampah yang telah digunakannya.
Ada baiknya jika di hari raya mendatang, masing-masing individu mengusulkan kepada para pengurus mesjid di dekat rumahnya untuk mulai serius memerhatikan masalah sampah sisa salat. Sebuah masalah yang terlihat sepele, namun dari tahun ke tahun tidak ada upaya untuk mengatasinya.
Hal ini juga perlu menjadi perhatian umat agama lain, karena umumnya hari raya keagamaan mana pun senantiasa meninggalkan masalah sampah di lokasi perayaan. Sudah saatnya umat beragama berupaya agar hari raya keagamaan hanya menyisakan hal-hal yang baik, bukan sampah.



Mel, yg menyedihkan skrg orang2 yg jualan bunga utk nyekar udah mewadahinya dengan kantong2 plastik bukannya pake daun pisang lagi. Airnya dengan botol plastik. kenapa ya?
Pingback: Sebuah keajaiban di hari raya Idul Adha « Rujak