Salah satu hal yang paling menyebalkan saat naik bis atau metromini adalah saat kita sudah duduk nyaman, eh tiba-tiba disuruh turun, dioper ke bis lain dengan jurusan yang sama. Rasanya pasti sebel banget….karena itu berarti kita harus berdiri berdesak-desakan di bis yang menerima operan.
Adakah cara agar para penumpang bisa menolak dioper oleh kenek/supir bis?

Pengalaman menyebalkan saya dipindahkan adalah oleh mikrolet di dekat lampu merah Daan Mogot-Citraland.
Saya protes kenapa dipindahkan, ehh, saya malah dimarah-marahin balik oleh supir mikrolet, jadi agak-agak trauma dengan mikrolet, metromini, dkk.nya …
Kesimpulannya, saya tidak tahu nih cara efektif, mungkin pembaca rujak yang lain bisa berbaik hati memberi tips?
bisa
Lapor kepihak yang berwenang….kl gak ada dinas perhubungan dan transportasi pak RT atau Lurah setempat juga gak masalah.(sampai sekarang anggota DPR blm ada yang serius membahas Undang2 sopir dan kenek yang sewenang2)
susah sih.. paling mungkin bayar nya pas turun metromini.. jadi klo di oper ga usah bayar. hehehehe
Pernah suatu saat, saya naik metromini 640 sepulang kerja. Sampai di Jalan Raya Pasar Minggu, sopir menyuruh para penumpang pindah ke metromini lain, dioper. Ada satu penumpang yang nggak mau dan memprovokasi penumpang lain untuk menolak dioper. Semua penumpang kompak nggak mau turun, alhamdulillah nggak jadi dioper ^o^/
mungkin dengan tetap duduk manis dalam bis?
🙂
kadang emang musti adu nyali, jelas-jelas mereka yang salah,
tapi karena dibiarkan terus jadi kebiasaan.
saya pernah liat video di fesbuk tentang seorang ibu yang menghalangi pe-sepeda motor yang naik trotoar.
http://www.youtube.com/watch?v=4c0R3V-f1nI
kita perlu lebih berani seperti si ibu ini.
sejauh ini sih taktik saya adl membayar bis saat mau turun. cuma emang suka diomelin kondektur. saya jadi tahu bhw ada aturan tak tertulis, bayarlah bis saat baru naik (bukan saat akan turun). cuma klo sendirian yg berlaku spt ini, emang gk ada efeknya.
paling efektif memang menghasut seluruh penumpang utk gak mau turun. tapi apesnya klo bis yg ditumpangi pas sepi penumpang 🙁
jadi bertanya-tanya Dewan Transportasi Kota Jakarta harusnya punya andil gak ya utk hal ini?