Aku Cinta Jakarta?

“We experience our cities emotionally, yet we talk about them technically.” Charles Landry, The Creative City

Dengan membayar pajak, menaati peraturan dan mengikuti pilkada, banyak warga kota telah merasa cukup berpartisipasi dalam kehidupan berkota. Kemudian tipe warga seperti Ini mengharapkan pemerintah melakukan segalanya untuk membuat hidup mereka lebih mudah atau sesuai standarnya. Keterlibatan mereka dengan kota berhenti di 3 hal tersebut, tanpa merasa perlu dan penting untuk menghadiri pertemuan warga, pembangunan yang terjadi di sekitarnya atau peduli dengan masa depan kota.

Apakah itu cukup?

Berapa banyak warga kota melihat kotanya seperti meja buffet all you can eat, dimana mereka bisa pilih dan ambil apa yang mereka suka, dan tidak memakan yang menurut mereka tidak enak. Atau mungkin seperti supermarket, dimana warga bisa memilih jenis dan jumlah produk sesuai dengan uang di kantung mereka,

Namun jika bertanya, apakah kamu cinta kotamu? Berapa banyak yang menjawab: ‘ya, saya cinta.’?

Kata cinta mungkin terasa aneh jika disandingkan dengan kota dan perencanaan. Kata cinta bisa jadi tidak pernah muncul dalam diskusi serius tentang kota, rapat perencanaan atau dokumen kota. Dengan pemilihan kata-kata yang sangat teknis, membuat imajinasi menjadi sempit, mengisi ruang teknis tersebut.

Bagaimana jika kita mulai membawa cinta kedalam diskusi kota? Tentu indah. Cinta pada seseorang membuat kita mau berbuat lebih, menghargainya dan menjaganya tanpa pamrih. Cinta membuat kita menjadi sabar, pemaaf dan memaklumi, membuat kita tersenyum ketika mengingat rasa itu.
Cinta pada kota membuat warganya ingin berbuat lebih. Mereka merasa tidak cukup jika hanya berhenti pada membayar pajak, coblos pilkada atau mengeluh akan kemacetan.
Cinta pada kota membawa warganya rela berkorban untuk kota, dan yang lain memaklumi hal tersebut.

Saat ini Rujak sedang berada di Makassar, mengikuti forum Dinamika Pengetahuan Perkotaan yang sedang diadakan oleh warga Makassar. Didalam ruangan, ada banyak yang berkata: “Saya cinta Makassar”. Mereka berbicara dengan antusias mengenai kenangan yang meraka miliki dan harapan masa depan Pantai Losari.

Bagaimana dengan Jakarta? Bisakah warganya menemukan satu atau beberapa hal yang membuat mereka cinta? Bisakah mereka melihat Jakarta bukan sebagai sekadar tempat cari uang?

One thought on “Aku Cinta Jakarta?

  1. Pingback: Kontrol Politik Warga untuk Gubernur Baru « Rujak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *