Bang Idin Hebat

Oleh Amartya Syahruzad  & Laksmi Prasvita. Bang Idin, penyelamat Sungai Pesanggrahan,  telah memenangkan Kalpataru untuk konservasi air,  dan berbagai penghargaan di Abu Dhabi, Jerman dan Belanda.

Sempadan sungai tersebut  terancam pembangunan perumahan, pembuangan sampah serta limbah. Bang Idin, yang nama lengkapnya adalah Haji Chaerudin, telah menata 120 hektar lahan dari total 136 km panjang sungai Pesanggrahan. Empat puluh hektar darinya berada di Jakarta Selatan di sepanjang 36 km bantaran sungai. 80 hektar lainnya tersebar di wilayah Bogor, Tangerang, Depok dan Banten. Lahan yang ditata Bang Idin dan Kelompok Tani Sangga Buana bimbingannya, ditanami sekitar 60.000pohon, yang terdiri dari tanaman buah buahan, koridor burung, tanaman langka, tanaman obat, serta tanaman dengan nilai konservasi. Sekitar 20.000 ikan dari berbagai jenis dilepaskan kembali  ke habitat sungai . Burung, kura kura, berang-berang, ular piton,  musang  dan berbagai  jenis binatang lainnya yang telah punah  telah dikembalikan lagi ke habitatnya. Hutan Bang Idin seluas 40 hektar disepanjang 36km sungai Pesanggrahan, bisa dicapai dari Vila Delima, Jl. Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Hari  ini aku diajak ibuku bersama eyang ke hutan Bang Idin. Kami berangkat pagi hari, sampai di sana siang hari. Kami turun tangga sampai bawah. Terus kami bertemu dengan Bang Idin. Aku takut waktu turun karena ada kuburan. Tapi akhirnya senang. Aku melihat sungai yang cokelat, tapi kata Bang Idin sungai itu bersih. Bang Idin memakai baju yang kotor dan tidak memakai sandal dan keliatan udelnya. Aku tidak takut sama Bang Idin. Tapi aku takutnya sama ular dan buaya.  Aku dan ibuku ngobrol sama Bang Idin sambil menulis apa yang dia katakan. Terus kami diajak Bang Idin ke hutan yang dia selamatkan. Kata Bang Idin di hutan dia ada banyak binatang. Eyangku saja takut.  Eyangku jalannya lambat jadi aku harus gandeng dia. Kami ditunjukkan mata air, dan banyak pohon-pohon. Aku lihat pohon jengkol, waru, oyong, singkong, kecapi, buni dan gondang. Pohon jengkolnya ternyata besar sekali. Ada suara tokek yang mengagumkan. Ada banyak binatang selain tokek: kadal, ular, cicak, burung, ikan, kepiting  (panggilannya yuyuk), capung, kupu-kupu dan tawon. Ada banyak nyamuk disitu, jadi lain kali harus pakai obat anti nyamuk.

Terus kami pergi ke empang. Eyang membeli ikan mas yang beratnya tiga kilo. Aku dan ibuku memancing. Kami dibantu oleh abang-abang yang ada disitu. Aku dapat ikan mas kecil dan diberi labu air. Kata Bang Idin labunya bagus buat otak. Bang Idin orangnya hebat bisa menyelamatkan hutan. Aku senang dan mau kembali lagi. Bang Idin menyelamatkan hutan, pohon-pohon obat, titik-titik mata air supaya kita punya air minum. Kata Bang Idin, air yang berasal dari mata air itu bisa diminum. Daun waru itu buat obat demam. Bang Idin jago silat macan dan bawa golok kemana-mana. Tapi, dia bilang, “Jawara itu bukan memukul orang klenger, tapi berteman. Kalo yang memukul orang klenger itu namanya preman.”

Amartya Syahruzad, 10 tahun, adalah putra dari Laksmi Prasvita.

***

KETIKA SUNGAI MASIH BERPALUNG DI PESANGGRAHAN

Oleh Laksmi Prasvita, konsultan PR.

“Alam Ini Bukan Warisan Nenek Moyang Tetapi Titipan Anak Cucu Kita”, demikian  tulisan di sebuah plang yang di tancapkan di sebatang pohon ditengah jalan masuk menuju Pos 1, salah satu pos pengawasan sungai Pesanggrahan. Dilatar belakang plang tersebut, seorang lelaki berkostum silat hitam, penuh lumpur dan tak beralas kaki, tampak sedang membersihkan dinghy. Dia segera menyambut kami dan memperkenalkan diri: “Saya Bang Idin”

Pemenang hadiah Kalpataru untuk bidang konservasi air itu sangat terbuka,  hangat dan rendah hati. “Ada sekitar 150 titik mata air di sepanjang sungai Pesanggrahan yang harus diselamatkan. Jika air tidak diselamatkan, bisa lebih mahal harganya daripada bensin”, ujarnya. Dengan antusias dia melanjutkan: “Ada sekitar 30 rawa besar yang hilang di Jakarta. Jika Jakarta banjir, itu karena air menemukan jalannya. Alam tidak bisa dilawan!”

Segalanyanya berawal dari keprihatinan 15 tahun yang lalu. Saat itu, Bang Idin menyaksikan kerusakan  sempadan sungai Pesanggrahan yang penuh sampah, gundul, gersang  dan malahan ditumbuhi bangunan perumahan baru, serta menjadi tempat pembuangan limbah.  Bang Idin melancarkan protes. Ia berujar: “Protes saya lakukan dengan membersihkan sampah, menanam pohon dan tidak memaki maki, alih-alih membuat bom seperti Amrozi”

“Saya protes akan filsafat pembangunan yang hanya menekankan pada pembangunan fisik. Pembangunan itu seharusnya menekankan pada pembangunan manusia agar lebih mengenal jati dirinya, mengenal Tuhannya dan mengenal hakikat hidup”

Ada pepatah leluhur yang mengatakan: kalau sungai tak lagi berpalung, kalau pasar tak lagi tawar menawar, maka hilanglah peradaban. “Pepatah ini saya pegang dan memberi saya motivasi untuk menjaga palung sungai serta pasar tradisional, yang memberi tempat kepada manusia untuk saling berinteraksi . Bukan mall, dimana harga sudah ditentukan dan pembeli harus membayar harga yang ditentukan. Peradaban akan hilang jika interaksi antar manusia dihilangkan”

Pembangunan di Jakarta yang marak dengan berdirinya gedung dan perumahan penduduk, terus memberikan ancaman bukan saja bagi interaksi tradisional antar manusia namun juga interaksi manusia dengan alamnya. Peraturan Pemerintah menetapkan lebar sempadan sungai  minimal 50-100meter (tergantung besar sungai dan peruntukan daerah sekitar). Artinya wilayah ini harus dijaga dari jarahan pembangunan perumahan dan gedung. Namun peraturan ini mendapat ancaman dari meningkatnya harga tanah. Harga untuk mempertahankan tanah bagi lingkungan hidup harus bertarung dengan opportunity cost harga ekonominya. Dengan menerawang Bang Idin mengatakan: “Pembangunan seharusnya berdasarkan kearifan bukan keuntungan ekonomi semata. Kalau berdasarkan kearifan kita pasti untung. Kalau berdasarkan keuntungan ekonomi semata, kita semua akan tengelam”. Sebuah filsafat yang kini menjaga dan membuat sungai masih berpalung di Pesanggrahan.

bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan (2)

32 thoughts on “Bang Idin Hebat

  1. Maya Kartika says:

    Amartya, tulisanmu sangat lucu dan mengagumkan. Bude senang sekali dan bangga karena Amartya walaupun masih kecil tapi sudah mempunyai kesadaran lingkungan hidup. Ayo Amartya eksplorasi lebih banyak dan menulis lebih banyak lagi. Tetap semangat!!!

  2. Supranoto Prajogo says:

    Wah..tulisan Amartya bagus sekali, salut buat ibunya juga yang telah mengajak Amartya untuk mulai belajar mengenai lingkungan hidup… Ditunggu tulisan2 dari Amartya yang lainnya ya….

  3. Caecilia Adinoto says:

    Hi Amartya, tulisan mu bagus!. Aku senang sekali sama Kepiting dengan nama kesayangan Yuyuk!.
    Bagaimana kalau Amartya menulis lagi mengenai bagaimana supaya orang tidak buang sampah sembarangan, di Jakarta ini.

    Nice catch Mims!

  4. Dhitri says:

    Tulisan Amartya bagus sekali!!! Saya jadi ingin main-main ke sungai Pesanggrahan. Semoga Amartya juga menjadi jawara lingkungan seperti Bang Idin. Mengutip beliau: “Jawara itu bukan memukul orang klenger, tapi berteman. Kalo yang memukul orang klenger itu namanya preman”

  5. Kak Fekum Ariesbowo says:

    ckckckck..tulisannya bagus sekali adik Amar :)… Liburan adik Amar ini sangat istimewa menurut saya. Ketika banyak anak seusiana menghabiskan waktu untuk bersukaria di pusat keramaian seperti mal, pusat perbelanjaan, dan tempat wisata lainnya. Namun, Adik Marta dan sang Mama Laksmi justru sebaliknya. Datang ke tempat yang jauh dari keramaian dan bercengkrama akrab dengan alam…Salute, sebuah pembelajaran yang sangat baik untuk di gugu dan ditiru. Semoga Adik Amar menjadi “Jawara” tidak hanya untuk lingkungan, tetapi juga bidang lainnya. Selamat 🙂

  6. Heru Hendratmoko says:

    Wah hebat Amartya, ngobrol sambil mencatat apa yang diomongkan bang Idin. Kayak wartawan dong. Pakai acara foto-foto gak?

    Rajin-rajin menulis ya. Karena hanya dengan menulis, kita bisa menyebarkan pengetahuan yang berguna bagi orang banyak. Berbagi dengan banyak orang, termasuk teman-teman Amartya.

    O ya, namamu sama dengan ekonom India yang juga hebat. Namanya Amartya Sen. Saking hebatnya dia pernah menerima hadiah Nobel di bidang ekonomi pada tahun 1998. Eh, waktu itu kamu belum lahir ya?

  7. D. Wijaksana says:

    Hallo Amar, kebetulan aku lagi browsing2 dan lihat tulisan kamu, dan aku langsung suka. Bukannya cuma karena tulisannya bagus, sangat bagus malah untuk anak berusia 10 thn, tapi juga karena temanya mengenai lingkungan — isu yang jarang diangkat bahkan oleh orang dewasa. Semoga tulisan ini — dan tulisan-tulisan kamu lainnya dimasa datang — bisa ikut membuat generasi mendatang lebih ‘sadar lingkungan’. Keep up the good work…

  8. Marco Kusumawijaya says:

    Setahu saya panggilan Amartya sehari-hari adalah “Marty”, dan namanya memang mengacu kepada Amartya Sen

  9. gloria says:

    Wah, Marty digigit nyamuk gak di sana? Seru sekali ya tampaknya, bisa main di sungai, mancing, dan liat banyak pohon. Terus menulis ya sayang, tulisannya bagus, bikin aku jadi pengen kesana 🙂

  10. bonita says:

    hai amartya, menyenangkan sekali ya pengalaman ke tempat bang idin. Tulisan yang bagus. Keep up the good articles yaaa. rajin2 menulis aja, sudah pantas lho jadi wartawan cilik.. 🙂

  11. Francois Grossas says:

    Congratulations Marty! This is excellent, and shows a great deal of maturity and understanding for the important issues we face if we want to have a good and safe future. The Environment is extremely important in our lives and protecting it and caring for it is something that my generation has not been good at. Hopefully your generation will show more wisdom and vision and I think that you, Marty, have that vision and understanding. Well done! Kind regards, Francois

  12. Edy Can says:

    Hei, Marty, salam kenal. Tulisanmu bagus ya!! Sangat deskriptif. Jarang loh ada yang bisa menggambarkan sedemikian rupa even wartawan yang senior sekalipun. Aku jadi bisa membayangkan daerah yang kamu datangi.
    Tapi, jangan cepat puas ya!

  13. indri says:

    Amartya,….. wah senangnya yah jalan-jalan ke tempat Bang Idin,.. abis baca tulisanmu, tante jadi pengen liat juga jadinya,… bisa mancing lagi yah,…. kamu bisa ngambarin semuanya dengan bagus banget,.. ditunggu “laporan perjalanannya” yang lain lagi yah,…

  14. Yoris Sebastian says:

    Amartya… wah seru banget tulisannya… jadi inget waktu saya awalnya dulu sering nulis di majalah sekolah KERIS PL sebelum akhirnya masuk jadi freelancer majalah HAI.

    Sekarang jaman sudah semakin maju, kamu berusia 10 tahun sudah nulis di blog bagus ini. Tulisannya bagus lagi…

    Nulis terus ya… kamu ada talent 🙂 stay in touch..!!

  15. Dina Polii says:

    Marty..tulisannya bagus sekali dan sangat descriptive terutama untuk saling mengingatkan atas tanggung jawab kita sebagai manusia terhadap lingkungan.

  16. l eko pr says:

    …Mas Amar, wah, Om jadi teringat jaman Om kecil kalau liburan pulang ke kampung Orang tua Om di pinggir danau rawapening, persis seperti kamu, tiap ada kesempatan, om cari tempat berenang di danau, lalu mancing, lalu keliling mengitari danau naik perahu kecil sama adik om…
    tulisan kamu bagus, memberikan pengalaman baru buat anak-anak kota di jakarta yang sudah terlalu akrab dengan mal atau keramaian…
    besok-besok, ajak mama untuk kemping atau jalan-jalan lihat air terjun di kaki gunung gede, lalu pulangnya menulis lagi dan ceritakan ke teman-teman,…:) teruskan ya nulisnya…

  17. Oka Simanjuntak says:

    Amartya punya bakat menulis. Narasinya polos selayaknya tulisan anak umur sepuluh tahun namun penuh dengan nuansa yang lebih dewasa selayaknya seorang pemuda berumur 20 tahun.

    Teruslah memerhati kehidupan dan alam. Tulislah apa yang kamu lihat dan rasakan. lalu dimasukin ke website ini supaya kami bisa terus mengikuti perkembangan kamu.

    oka

  18. Laksmi Prasvita says:

    Saudara-saudara yb,

    Terima kasih atas dorongan motivasi bagi Marty untuk tetap semangat menulis. Kami sungguh menghargai semuanya. Rupanya kita dapat belajar banyak dari Marty untuk menulis dengan kalimat pendek-pendek dan bahasa sederhana.

    Ada beberapa permintaan informasi dari para orang tua melalui telpon dan sms tentang bagaimana caranya mengunjungi Hutan Bang Idin.

    Saya kira penting untuk memperingatkan kepada para orang tua dengan anak dibawah 10 tahun, bahwa Hutan Bang Idin adalah hutan konservasi. Bukan taman rekreasi. Di dalam hutan ini, anak anak harus bersikap menghormati alam sekitar. Tidak lompat-lompat atau teriak-teriak. Juga harus siap jalan kaki dengan medan yang kadang tidak mudah. Dan banyak alang-alang serta serangga yang mengganggu. Selain ada resiko binatang melata serta reptil.

    Demikian semoga menjadi pertimbangan bagi orang tua yang ingin mengajak anaknya ke sana. Selamat belajar dengan Bang Idin. Terima kasih atas semua tanggapan dan masukan untuk kami.

    Salam hangat,
    Laksmi (Ibunda Marty)

  19. Johanna R. Aliandoe says:

    hai Marty, salam kenal. Tulisanmu bagus…!
    aku suka bahasamu yg lugu khas anak umur 10thn, tp sanggup ‘bercerita’ banyak dan mendalam…tentang pengalaman liburan di alam yg mengesankan dan membuat kamu belajar banyak hal yg sudah banyak dilupakan orang kota.

    semoga kamu menulis lebih banyak lagi supaya anak-anak lain dan teman-temanmu jg tertarik menjelajah dan mencintai lingkungan, tidak sekedar menjadi budak gamezone di mall-mall yg hiruk pikuk..:)

  20. Marco Kusumawijaya says:

    Supaya orang dewasa juga donk, juga perlu menjelajah dan mencintai lingkungan…iya kan?
    O ya, bagaimana kalau kita bikin tur teratur dan terjadwal untuk anak-anak dan orang tuanya mengenal lingkungan Jakarta? Ada sukarelawan? Bisa dihubungkan dengan berbagai komunitas yang mungkin mau membantu: Peta Hijau, B2W (bagaimana Mas Toto?), Ars86 (bagaimana mbak Wido?), dll. ? Mohon informasi siapa saja ya organisasi atau kelompok warga yang bergerak di bidang ini?

  21. Dina Polii says:

    Oh iya Marty..Selain rajin belajar dan berolahraga..kalo ada kesempatan Marty banyak-banyak menulis ya supaya teman-teman bisa belajar dari pengalaman Marty dan jadi lebih senang membaca.

    Mungkin kalau ada waktu kita bisa menggelar event untuk lingkungan bersama teman-teman Marty yang lain 🙂

  22. sutejo says:

    Tulisan amartya memberi inspirasi bukan saja pada anak seusia amartya, tapi juga bagi saya yg lebih tua dari sisi usia.
    Inspirasi menjadi sangat penting untuk membangun negri ini kedepan.
    Marty kembangkan terus imajinasimu dan beri inspirasi anak2 seusia kamu dan orang tua yg punya anak seusia kamu, agar bangsa ini punya masa depan.

  23. Bob Boetarboetar says:

    Marty ..bravo.!..persepsi kamu soal ‘hebat’ cukup mengagumkan..! jika ada manusia berumur 10 tahun yg bisa beranggapan bahwa mang idin itu hebat, artinya dia sendiri sebetulnya sudah hebat. namun demikian, terlepas dari semua itu…yang mengasuh marty artinya juga orang hebat..! hebat..hebat..!!.keep up the excellent writing

  24. Popon Anarita Okol says:

    Hi Marty, salam kenal,
    aku suka baca tulisanmu, seperti beneran diajak jalan juga ke bantaran sungai dan ketemu Bang Idin. Ceritamu hidup, detail dan mengalir….rajin-rajin nulis ya! Aku tunggu lho tulisanmu berikutnya.

    Salam,
    PA.

  25. Mawar says:

    Amartya,

    saya senang sekali kamu bersedia berbagi cerita mengenai pengalaman mu di hutan tersebut. saya juga selalu kangen dengan alam, dan iri karena belum bisa mengunjungi hutan yang kamu kunjugi. terimakasih atas laporan pandangan matamu yang mengingatkan saya dan membuat saya rindu dengan alam indonesia. semoga kamu tetap terus menulis dan bisa mendorong teman-temanmu mu untuk selalu memelihara lingkungan.

  26. Mutia Indiraputri says:

    Very Funny!
    Scared of snakes?
    Really?
    How many fishes did u catch, or just that little goldfish?
    I now do not know how to create a story in Indonesian language, only English.
    You now know a lot about nature don’t you? from that trip you must have learned a lot.

  27. Iman says:

    Inspirational. Hope there are more Bang Idin or at least, his great endeavor is going to awaken the Bang Idin in all of us.

    And for Amartya, nice experience, huh? Keep up the good job. It is a good writing.

    And for Ibu Laksmi, mother really knows best.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *