Resensi Buku Kampung Perkotaan

 

oleh: Robin Hartanto

Kampung Perkotaan: Kajian Historis-Antropologis atas Kesenjangan Sosial dan Ruang Kota (2011)

Editor: Johny A. Khusyairi dan La Ode Rabani

Sebagai luaran sebuah pertemuan ilmiah bertajuk “The International Conference on the Urban Kampong”, buku Kampung Perkotaan: Kajian Historis-Antropologis atas Kesenjangan Sosial dan Ruang Kota jelas memiliki substansi akademis yang kental. Kajian-kajian ilmiah di dalamnya berusaha melihat keberadaan kampung di perkotaan dari perspektif spasial-sosial, yang kemudian mau tidak mau bersinggungan dengan berbagai aspek seperti ekonomi, politik, etnis, agama, dan bahkan gender.

Hal ini dirasa perlu mengingat definisi kampung yang elusif seringkali dipandang sebatas konsep yang mengarah pada stereotip negatif, terutama justru oleh negara. Miskonsepsi oleh negara terhadadap kampung masalahnya memiliki konsekuensi yang nyata. ‘Kawasan coklat yang tertinggal’ itu mengalami diferensiasi dalam perenanaannya dibandingkan lingkungan permukiman lainnya, bukan hanya sekarang tapi bahkan sejak masa kolonial.

Apa yang pembaca dapat temui dalam buku ini begitu beragam, apalagi penulis-penulis yang turut serta berasal dari berbagai latar belakang dengan obyek kajian dan metode penelitian yang berbeda-beda pula.

Penulis yang terlibat antara lain: Joost Cote, dosen School of History, Heritage and Society Deakin University, Melbourne, Australia; Karen Baker dan Michelle Kooy, dari University of British Columbia; Robbie Peters, Department of Anthropology, The University of Sydney; Freek Colombijn, dari Vrije Universiteit Amsterdam, Annemarie Samuels dari Universiteit Leiden; Asep Suryana dosen Jurusan Sosiologi UNJ; Azas Tigor Nainggolan Ketua Forum Warga Kota Jakarta; Ratna Saptari dari Universiteit Leiden; M. Nawir aktivis Jaringan Rakyat Miskin Kota – Uplink Indonesia; dan msih banyak lagi peneliti-peneliti yang dengan fokus mengkaji tentang kampung.

Untuk memberikan struktur yang jelas, penyusunan tulisan-tulisan yang amat variatif ini kemudian dibagi menjadi empat sub bagian yaitu “Perencanaan Kampung”, “Mobilitas Sosial”, “Dinamika Kampung”, dan “Konflik Intervensi Negara dan Solidaritas”.

Tetapi yang terpenting dari buku ini di balik keragamannya, ia dimaksudkan untuk tidak sekedar menjadi pengetahuan belaka.

Seperti yang dituturkan dalam tulisan pengantarnya, apa yang sebenarnya hendak ditawarkan adalah sebuah perspektif “baru”, yaitu kerangka analisis yang mengakui konstruksi (post)kolonial. Kampung merupakan konstruksi hibrida kolonial, sehingga menggali masa lalu sangatlah perlu untuk dapat memahami kampung secara utuh.



Buku Kampung Perkotaan ini tersedia di Rujak dengan jumlah terbatas, harga Rp. 65.000,- (belum termasuk ongkos kirim). Bagi yang berminat bisa menghubungi atau datang langsung ke Rujak

Gedung Ranuza, Lantai 2. Jl. Timor No. 10, Menteng, Jakarta Pusat 10350
Tlp : (021) 31906809 email: info@rujak.org

 

7 thoughts on “Resensi Buku Kampung Perkotaan

  1. febriany says:

    Halo, saya febri. Saya berminat untuk membeli buku ini. Besok kantor rujak buka? kalau buka saya berminat membeli langsung ke menteng. terima kasih 🙂

    • admin says:

      Halo juga Febri, bisa langsung datang ke kantor Rujak Senin – Jum’at 09.30 – 16.30. Kami tunggu 🙂

  2. agie says:

    Haloo..
    mau bertanya..apakah rujak center memiliki sejarah perkembangan trotoar di jakarta?saya membutuhkannya untuk bahan tesis saya

    Terima kasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *