Ekologi Jakarta: Potensi yang Terancam

Ekologi Jakarta terancam punah. Penduduk penghuni dalam kota Jakarta berkurang, menurun setidaknya dalam 10 tahun terakhir. Keragaman berkurang, bukan saja dalam arti fungsi (terutama dengan menghilangnya hunian di tengah kota), tetapi juga dalam arti keragaman strata ekonomi. Kelemahan terletak pada tidak adanya koherensi antara kebijakan perpajakan, pembangunan perkotaan, tata ruang/kota, dan konservasi. Bahkan kawasan perumahan berkualitas tinggi (setidaknya dulu) seperti Menteng pun sedang mengalami penurunan. 

 

(Lihat studi pada http://rujak.org/2009/07/loe-loe-gue-gue/ dan http://rujak.org/2009/07/visioning-the-future-of-jakarta-imagining-jakarta/; serta artikel di  http://www.thejakartapost.com/news/2009/03/21/the-plight-and-plea-menteng.html, dan http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/04/envisaging-a-mutually-beneficial039-kind-jakarta.html )

 

Di beberapa tempat, misalnya di Jakarta Utara, keragaman itu bertahan.

 

Abdoumaliq Simone (Professor of Soscology, Goldsmith College, University of London), dengan kesegaran ”pandangan orang luar”, melihat Jakarta Utara memiliki percampuran (mixture) sosial sebagai satu dari sedikit saja ’harta’ yang kini masih dimiliki Jakarta, yang memiliki potensi sangat penting untuk meningkatkan vitalitas Jakarta, bila bukan hanya untuk survivalnya.

 

Struktur sosial berkait dengan struktur fisik kota. Bagian utara Jakarta memiliki jalan-jalan utama dengan kanal dan jembatan. Kaviling-kavling sepanjang jalan ditempati penduduk menengah-atas dan digunakan untuk fungsi komersil. Masuk ke jalan lingkungan, kavling-kavling dihuni oleh kelas menengah, dan masuk ke lorong ditemui kampung dengan penduduk miskin hingga menengah. Lingkungan permukiman di bagian utara Jakarta masih memberi tempat bagi satu rentang kelompok sosial: dari sangat-miskin hingga menengah-atas dalam satu lingkungan yang relatif kecil.

 

Keragaman, percampuran, dalam struktur sosio-ekonomi di bagian Utara Jakarta pada tingkat tertentu dilestarikan oleh rancangan kota kolonial zaman belanda. Boulevard berkanal, bangunan umum, jalan lingkungan, townhouse, dan kantung-kantung permukiman (kampung) menjadi batas teritorial bagi kelompok-kelompok sosial tadi. Kampung juga mendukung fungsi ekonomi di jalan besar yang menyediakan produk dan jasa.

 

Kampung kota menawarkan produk dan jasa yang sangat kompetitif. Misalnya, penyedia jasa dekorasi pameran, salah satu jenis usaha yang umum disana. Pemiliknya seorang berpendidikan arsitektur, dan memang masih memberikan jasa arsitektur. Saat menerima pesanan dekorasi pameran, dia akan mengurai, menjabarkan, dan membagi pekerjaan kepada mandor, lalu mandor mencari tukang untuk masing-masing pekerjaan yang ada. OPesanan ini bersifat sekali-sekali, musiman, tapi para tukang dapat terus berpenghasilan karena mereka pekerja berpindah. Pada saat lain mereka adalah pembuat meja-kursi. Demikianlah ini adalah ekonomi dengan kelenturan dan efisiensi tersendiri, ciri yang membuat mereka sangat kompetitif; dan ini ada, hidup di kampung-kampung kota Jakarta.

 

Kedekatan jarak memungkinkan kontak dan berkembangnya relasi-relasi ekonomi. Konstelasi urban ini belum tentu adil, seringkali manipulatif bahkan menindas, problematik. Tidak ada keraguan tentang hal itu. Namun, dinamika sosial ekonomi ini lah yang memberikan nafas dan kekuatan kepada sebuah kota.

 

Disitu juga ada skala, yang memungkinkan struktur ini berfungsi. Perlu dicatat, tatanan kota lama tercipta saat kota belum mengenal kendaraan bermotor sehingga segala sesuatu direncanakan berpedoman pada ukuran manusia, atau mungkin juga kuda? Saat itu kehidupan kota berjalan tanpa banyak bergantung pada kendaraan bermotor—suatu kondisi yang kembali dirindukan saat ini.

 

Dapat dibayangkan apabila arah pembangunan kota Jakarta, misalnya di bagian Utara dengan rencana reklamasi, akan menuju seperti Sudirman dan Thamrin yang padat modal namun meminggirkan penduduk miskin, wilayah Jakarta ini akan kehilangan kapasitas serta vitalitas yang selama ini ditunjukkan oleh ekologinya. Apa yang akan terjadi bila penduduk miskin kota digusur demi ilusi fatamorgana kemakmuran atau efek Dubai?

 

Salah satu soal kita, barangkali, adalah karena lebih mudah meyakinkan para pengambil keputusan tentang pertambahan nilai satu meter persegi lantai mall baru dan sekian unit tenaga kerja dan sekian nilai tambah dari tas louis vuitton yang dijual disana. Lebih sulit menjelaskan bahwa satu meter persegi lahan di Pademangan adalah sekian unit tenaga kerja, sekian relasi ekonomi dan relsasi sosial, dan ini semua mendukung sekian banyak relasi ekonomi di tingkatan seluruh kota, sehingga secara keseluruhan dan dalam jangka panjang mempunyai nilai lebih bagi metropolis Jakarta.

 

Apa yang kita, warga negara biasa, harus dan dapat lakukan?

One thought on “Ekologi Jakarta: Potensi yang Terancam

  1. yu sing says:

    Berkaitan dengan ekologi, mungkin yang juga cukup penting adalah aturan main yang tegas terhadap persentase lahan setiap bangunan publik untuk ruang hijau/resapan. Bangunan publik biasanya menempati luas lahan yg cukup besar, namun justru menyisakan sangat sedikit, bahkan tidak ada sama sekali ruang hijau/resapan. Sisa lahan di lantai dasar seringkali digunakan untuk parkir dan perkerasan tanpa resapan sama sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *