Gempa! Turun dan Keluar Bangunan?

 

Gempa: menunggu di dekat bangunan, apakah tidak berbahaya mejatuhan kaca pelapis luar bangunan?
Gempa: menunggu di dekat bangunan, apakah tidak berbahaya kejatuhan kaca pelapis luar bangunan? (0209009@MKusumawijaya)

Gempa di Jakarta 2 September 2009 jam 14:55. Apakah benar kalau terjadi gempa kita harus cepat-cepat turun dan keluar dari gedung tinggi? Kalau menunggunya dekat bangunan, bukankah ada bahaya tertimpa kaca yang akan pertama-tama terlepas kalau bangunan mengalami kerusakan? Ataukah harus menunggu di bawah tetapi lebih jauh dari bangunan, sehingga setidaknya bisa melihat kalau ada kaca pelapis luar yang lepas dan akan jatuh? Kalau demikian berarti pada setiap lokasi harus ada lapangan yang cukup luas untuk berkumpul sementara, cukup jauh dari bangunan-bangunan? Ataukah kita harus tinggal saja di dalam bangunan, berlindung di dekat tiang dan di bawah meja, menjauhi jendela? Bukankah kalau turun semua sekaligus lewat tangga (karena tidak boleh pakai lift) maka akan terjadi desak mendesak yang berbahaya?

 

Gempa: menungggu di median jalan, cukup jauh dari bangunan, tetapi cukupkah untuk semua orang?
Gempa: menungggu di median jalan, cukup jauh dari bangunan, tetapi cukupkah untuk semua orang? (0209009@MKusumawijaya)

5 thoughts on “Gempa! Turun dan Keluar Bangunan?

  1. Indra Pramana says:

    Ada teori yang menyatakan apabila tidak memungkinkan untuk keluar bangunan maka anda bisa tidur di tempat2 yang memungkinkan terjadinya segitiga-segitiga. Misal tidur di sebelah ranjang, apabila ada elemen bangunan yang roboh dari atas,misal balok maka balok akan tertumpang di atas ranjang dan lantai, dan anda akan aman berada di ruang yang terbentuk di antaranya.

    Yang perlu dihindari antara lain berjongkok di bawah meja seperti yang kita lihat di film-film Jepang. Di film Jepang, meja telah didesain tebal agar mampu menjadi tempat perlindungan sementara, sementara di Indonesia mejanya tipis dan belum tentu kuat menahan elemen bangunan yang jatuh.

  2. pda says:

    Menurut buku: Ten Steps For Surviving An Earthquake

    Everybody who gets under a doorway when buildings collapse is killed. Why? If you stand under a doorway and the doorjamb falls forward or backward you will be crushed by the ceiling above. If the door jam falls sideways you will be cut in half by the doorway. In either case, you will be killed.

    Never go to the stairs. The stairs have a different “movement of frequency,” (they swing separately from the main part of the building). The stairs and remainder of the building continuously bump into each other until structural failure of the stairs takes place. The people who get on stairs before they fail are chopped up by the stair treads. They are horribly mutilated. Even if the building doesn’t collapse, stay away from the stairs. The stairs are a likely part of the building to be damaged. Even if the stairs are not collapsed by the earthquake, they may collapse later when overloaded by screaming, fleeing people. Maintenance should always check stairs for safety, even when the rest of the building is not damaged.

  3. Dian says:

    Jakarta memang barusan mengalami runtunan gelombang gempa yang berasal dari Tasikmalaya. Ber-ribu orang berhamburan keluar dari gedung dan rumahnya (jumlah tepatnya tidak diketahui). Berbagai cara yang diketahui orang dicoba untuk dikerjakan, seperti: lari keluar gedung, berlindung dibawah meja dll.

    Sebetulnya bagaimana persoalan gempa dan kaitannya terhadap keselamatan manusia didalama gedung?

    Banyak hal yang terkait dalam hal ini yang bisa saya bagi dalam 2 bagian:
    1. Perencanaan gedung2
    2. Perencanaan lingkungan

    Pertama soal gedung2. Untuk masyarakat awam sudah di kondisikan bahwa dalam keadaan berbahaya (api dan gempa dll – seperti gedung ditabrak pesawat dll) disarankan untuk segera lari menuju kearah tangga kebakaran dan turun di lantai yang langsung mengarah ke ruang terbuka. Tujuannya supaya semuanya segera berada di ruang terbuka yang aman. Pertanyaannya apakah tangga kebakaran cukup aman untuk ‘mendadak’ di pakai oleh ribuan manusia yang menempati gedung tersebut. Jawaban langsung saya sebagai arsitek… ‘waduh gedung yang mana ya…?

    Disinilah letak masalahnya di Jakarta. Gedung2 yang ada di Indonesia dan Jakarta; kebanyakan didisain berdasarkan ilmu ‘kompromi’. Kompromi dalam hal:
    1. Perbandingan jumlah tangga kebakaran terhadap jumlah manusia didalam gedung.
    2. Kekuatan disain dari tangga kebakaran
    3. Ketepatan disain system pengendalian keamanan tangga kebakaran
    4. Ukuran minimum dari tangga kebakaran.
    Jadi; jawaban langsungnya adalah: Tidak tau. Apakah betul aman atau tidak aman.

    Tangga kebakaran itu sendiri sebetulnya berdasarkan ilmu arsitektur yang baik dan benar; sudah ada kriteria2nya untuk dapat dikategorikan aman. Dan kriteria2 ini sudah banyak diperbaiki setelah terjadinya banyak kecelakaan seperti yang terjadi di negara2 lain. Di Jakarta sudah cukup baik (diatas kertas) tetapi pelaksanaannya yang masih kurang diawasi.

    Yang menjadi masalah juga dalam perhitungan okupansi (penghuni) dan perhitungan jumlah tangga kebakaran adalah perbedaan pengertian mengenai jumlah okupansi yang mana yang harus di pakai – aktual versus maximum – . Aktual menghasilkan jumlah tangga kebakaran yang lebih sedikit; sementara maksimum memberikan jumlah tangga kebakaran yang lebih banyak.

    Hal diatas menjadi masalah lagi. Di luar negeri sudah ter bukti. Karena perhitungan aktual menghasilkan jumlah tangga kebakaran yang mengakibatkan pada saat terjadinya bahaya; tangga tersebut dipenuhi oleh jumlah manusia (maksimum) yang diluar kapasitas tangga kebakaran tersebut. Kejadian ini sudah memakan korban di banyak Negara.

    Jadi; kalau terjadi bahaya didalam gedung; harus menggunakan apa? Tidak ada pilihan lain; harus menggunakan Tangga Kebakaran. Bagaimana dengan bahaya jumlah manusia yang berlebihan didalam tangga? Tetap jauh lebih aman untuk turun dengan tangga kebakaran daripada berusaha turun dengan media yang lainnya; atau pun berlindung dibawah meja. Kenapa? Karena berlindung meja; pada bangunan yang strukturnya tidak kuat menahan getaran gempa atau terbakar; akhirnya dapat mengakibatkan keseluruhan gedung runtuh. Dan keruntuhan balok2 dan tiang2 gedung juga sangat berbahaya. Ditambah lagi dengan kemungkinan terjadinya kebakaran didalam gedung akibat runtuhnya dinding, kolom, balok dll.

    Inti dari penggunaan Tangga Kebakaran adalah: men-transfer manusia dari daerah berbahaya menuju lapangan terbuka yang aman untuk di evakuasi.

    Mengenai keamanan Tangga Kebakaran itu sendiri; mungkin saat ini sudah harus di perjuangkan kepada pemerintah untuk sesegera mungkin di lakukan audit keselamatan manusia didalam gedung terhadap semua gedung yang ada.

    Pertanyaan berikutnya: kalau kita digedung tinggi yang terbuat dari kaca, apakah sesudah keluar dari gedung sudah pasti aman? Bukannya masih ada persoalan kaca2 gedung yang retak dan berjatuhan dari tempat yang tinggi?

    Jawabannya: Ya betul dan kita masih tidak aman karena kaca2 tersebut. Kenapa bisa begitu. Karena: banyak gedung yang tidak didisain dengan Safety Glass (karena lebih mahal). Sebetulnya secara arsitektur dan struktur ada ketentuan yang sudah cukup baik. Setiap ketinggian di hitung kekuatan angin dan lain lainnya dan dihitung kekuatan yang diperlukan untuk penahan (façade) selimut gedung. Pada kenyataannya hal inipun sering di kompromikan. Jadi jawabannya: sesudah keluar dari tangga kebakaran masih menunggu satu bahaya lagi… keretakan kaca2 dan berhamburannya serpihan kaca dari ketinggian.

    Lalu pertanyaan berikutnya kalau kita sudah bisa keluar dari dua bahaya tersebut; apakah kita akan aman? Jawabannya: masih belum. Karena keluar dari tangga kebakaran; dan mudah2an tidak kejatuhan kaca; tapi keluarnya kemana? Ruang terbuka. Ruang terbukanya bukannya sudah di penuhi oleh parkiran mobil? dan benda2 lainnya yang tidak seharusnya ada di area yang disebutkan: Assembly Space ?

    Assembly Space adalah area yang di siapkan oleh pemerintah untuk evakuasi bahaya apapun juga; misalnya: gempa, angin keras (topan, kebakaran besar dll). Di area ini; seharusnya masyarakat yang tertimpa bahaya bisa melarikan diri dan menuju tempat tersebut untuk menunggu evakuasi pemerintah.

    Pertanyaannya: ada kah tempat tersebut di Jakarta? Pernah dengar? Pernah tau? Pernah diumumkan pemerintah? Semua jawabannya tidak.

    Assembly space adalah tanggung jawab pemerintah. Ini adalah masalah kedua yang saya tuliskan di awal artikel ini. Ini adalah persoalan Perencanaan Lingkungan. Dalam persyaratan2 perencanan tata lingkungan kota; assembly space diketahui dan dimengerti oleh perencana; kembali lagi yang menjadi persoalannya adalah kompromi2 yang harus dibuat yang mengakibatkan hilangnya assembly space.

    Bagaimana kesiapan Jakarta dalam menanggulangi fenomena alam? Jawabannya tidak siap. Dalam segala jenis bahaya. Apakah itu gempa maupun banjir.

    Yang harus diingat oleh semua penduduk Indonesia; adalah Negara kita ini duduk diatas tanah yang sangat kaya dengan hasil tambang artinya; banyak gempa dan fenomena alam yang tidak kita ketahui terjadi dibawah tanah. Laut kita kaya dengan hasil tambang dan laut; artinya laut kita sangat kaya dengan nabati dan kehangatan yang muncul dari dasar laut. Artinya kita dikelilingi laut yang memiliki gunung2 api dibawah laut.

    Alangkah beruntungnya kita hidup di alam yang sangat kaya. Betul sekali. Tapi kita harus menyiapkan diri juga karena bahaya fenomena alam adalah kehidupan kita sehari2.

    Dalam keadaan berbahaya; bagaimana menyelamatkan diri di Jakarta? Tidak diketahui juga.

    Pertanyaannya: Apa yang ditunggu? Apakah harus ditungu sampai terjadi gempa besar yang menghancurkan gedung tinggi lalu mengakibatkan kebakaran besar dan membawa korban besar baru kita sadar untuk memperbaiki diri?

    Kita tidak dapat memindahkan pulau Jawa ke planet Mars. Kita tidak dapat memindahkan rangkaian gunung api diatas tanah dan dibawah laut yang ada di Indonesia. Kapan masyarakat (termasuk para birokrat) bersedia untuk memperbaiki lingkungannya?

    Bayangkan saja; jumlah populasi manusia yang ada di Jakarta yang harus dievakuasi pada saat terjadi fenomena alam yang besar. Apa yang harus dilakukan? Siapa yang harus melakukan? Mudah2an pemerintah punya rencana.

    Salam
    Dian

  4. andre says:

    mas marco,
    kayaknya tips yang di http://www.talewins.com/protectyourself/earthquake.htm
    meragukan deh

    soalnya setelah saya gugel lebih lanjut
    http://upsidedownlalaland.blogspot.com/2008/05/doug-copp-dip-shit-extraordinaire.html
    http://www.snopes.com/inboxer/household/triangle.asp
    http://www.abqjournal.com/terror/199912fire07-18-04.htm

    ternyata si penulis tips agak-agak bermasalah di amerika sana

    Ten Steps For Surviving An Earthquake
    Source: http://www.talewins.com
    Simply stated, when buildings collapse, the weight of the ceilings fall upon objects or furniture, crushing those objects and leaving a space or void next to them. This space is what earthquake experts call the “Triangle of Life”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *