Jalan Kaki di Jakarta a la Tunanetra Penjual Krupuk


Oleh: Lilin Rosasanti.
Agus Wahono, 44 tahun, berjalan kaki sekitar 20 kilometer setiap harinya untuk berjualan kerupuk. Perjalanan sejauh itu ditempuhnya tanpa indra penglihatan, karena Agus adalah seorang tunanetra.
      Ada banyak penjual kerupuk tunanetra seperti Agus. “Kalo pagi dari rumah Meruya Selatan, muter dulu ke Kelapa Dua, Relasi Jl Arteri, sorenya mangkal di Joglo,” kata Sahwono, juga tunanetra pedagang kerupuk. Rute itu berjarak tak kurang dari 10 km.
     Biasanya para pedagang kerupuk tunanetra ini berjualan di jalan dari pagi hingga sore hari atau malam hari. Pukul 9 pagi hingga 4 sore, atau berangkat pukul 2 siang hingga 9 malam. Permasalahan seperti polusi kendaraan dan kemacetan menjadi makanan sehari-hari.
     Mereka berhadapan langsung dengan kondisi jalan dan lalu lintas yang tidak aman. Tidak ada balok pemandu tunanetra, selokan yang menganga, juga rambu lalu lintas dan jembatan penyebrangan yang tidak bersahabat. Trotoar yang digunakan untuk kepentingan selain pejalan kaki makin menambah beban.
    Tati Sugiarto (50 tahun) mengenang masa dimana kepentingan tunanetra diperhatikan penguasa kota. “Dulu di zaman Ali Sadikin, tunanetra yang berbekal tongkat merah putih sangat diperhatikan. Bila sudah mengangkat tongkat, pengendara motor tidak akan berani ngebut,” kata Tuti.
     Kini mereka berharap pemerintah kota menyediakan lampu merah dengan suara. Tunanetra juga ingin ada jalan khusus bagi tuna netra di jalan-jalan kecil yang mereka lalui, bukan hanya di jalan besar utama di Jakarta. Beberapa bahkan hanya mengharapkan pembuatan selokan yang lebih ramah. Mereka menginginkan selokan yang tidak terlalu dalam (karena banyaknya kemungkinan terjerembab), dilapisi dengan kawat atau ditutup rapat.
     Terperosok di selokan menjadi hal biasa di kalangan para tunanetra. Arsidi yang mengalami terperosok di selokan bersama istri, tabah menganggap kejadian berbahaya itu sebagai guyonan. Arsidi juga memilih tidak menggunakan bus TransJakarta dan lebih memilih bus biasa karena proses menuju halte yang rumit, dan antrian yang selalu panjang.
     Untuk berjualan setiap harinya, Sahwono mengandalkan kekuatan inderanya yang sangat terlatih.  Tongkat menjadi senjata utamanya. “Udah feeling aja. Waktu pertama kali jualan ya, asal jalan aja, sambil tanya-tanya,” kata Sahwono.
Seiring dengan waktu, mereka mulai mengenal “jalan tikus” bila ingin cepat sampai tujuan. “Mata aja yang nggak lihat, tapi perasaan kami sama. Perasaan di mana harus belok. Tidak tepat sekali, tapi seperti ada yang gandeng,” kata Ahmad.
     Entah karena kemampuannya beradaptasi atau sifat nrimo yang membuat pedagang tuna netra ini tidak mengeluhkan banyaknya kekurangan Jakarta sebagai sebuah kota. Tidak terpikir sama sekali bagi mereka untuk pulang kembali ke kampung halaman. “Jakarta bikin saya jadi keras. Jadi semangat,” kata Sahwono.

4 thoughts on “Jalan Kaki di Jakarta a la Tunanetra Penjual Krupuk

  1. Riqo ZHI says:

    Salut, ditengah hiruk pikuk traffic, mereka masih semangat berjualan. Kalau saya sih alhamdulillah bisa jualan di kantor, dan ngeblog di rumah, walau saya juga tunanetra, saya merasa lebih beruntung 🙂 Semangat selalu, kawan!

  2. Pingback: Aksesibilitas tanpa batas | rumahijaubelokiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *