Kecerdasan yang Lain

Suryono Herlambang di satu sesi

Sejak 3 Januari 2013, Rujak Center for Urban Studies bekerja sama dengan AEDES Architecture Forum Berlin dan Goethe Institut Jakarta mengadakan Lokakarya Smart City=Smart Citizen+Smart Process. Lokakarya ini bertujuan menggali ide dari kaum muda yang dapat disumbangkan demi masa depan Jakarta yang lebih baik. Ada 25 proposal yang masuk dan, pada akhirnya setelah melewati seleksi, tersisa 12 proposal. Sebagai penyelenggara dan konseptor lokakarya, Rujak mencoba pendekatan lain, keluar dari arus utama tentang apa itu Smart City.

Rujak dan kurator AEDES, Ulla Gensler sepakat bahwa kecerdasan dalam kota tidak melulu berbicara soal teknologi, infrastruktur skala besar atau olahan informasi besar (Big Data). Dia tidak hanya semata rangkaian produk-produk yang mengandalkan komputer. Tidak juga hanya bangunan atau arsitektur semata. Kami percaya bahwa agar suatu kota menjadi cerdas, maka kota tersebut membutuhkan proses dan partisipasi warga. Bisa juga ketika kota tersebut cerdas, maka kota tersebut berpeluang untuk mencerdaskan warganya. Kami percaya bahwa kota yang cerdas, adalah kota yang dengan prosesnya mampu membuat warga menjadi cerdas. Teknologi hanyalah salah satu alat untuk membantu. Aktor utama dalam Smart City, tetaplah warga kota dan proses.

12 peserta lokakarya adalah orang-orang yang beragam latar belakang, asal dan bahkan pendidikan maupun profesi. Kesamaan dari mereka adalah warga kota dan kaum muda yang tumbuh besar di paska 1998 dan kemudahan teknologi. Ada arsitek, penulis, sosiolog, filsuf, seniman, desainer, perencana tur, dan perencana kota. Ada yang bekerja di pemerintah, lembaga penelitian hingga pekerja lepas.

12 peserta mendapatkan pembekalan selama 5 hari pertama lokakarya. Narasumber dari berbagai bidang, profesi, gender dan usia dihadirkan. Ada Suryono Herlambang (perencana kota dan kepala jurusan teknik perencanaan kota dan real estate Universitas Tarumanagara), Yoga Adiwinarto (direktur Institute for Transportation and Development Policy), Selamet Daroyini (aktivis lingkungan di KIARA), Hening Parlan (praktisi mitigasi bencana di Humanitarian Forum Indonesia), Erik Prasetya (Fotografer, salah satu dari 20 fotografer terbaik di Asia), Shanty Syahril (ibu rumah tangga, pelaku kegiatan alternatif untuk anak-anak di kota), Ricky Lestari (desainer lansekap, koordinator Komunitas Hijau Pondok Indah), @nebengers (media sosial tentang berbagi kendaraan) dan Khairani Barokka (artis dan penulis, berkutat di disabilitas dan kesenian). Dan demi workshop, AEDES mengundang Dietmar Leyk, seorang arsitek dan professor di Berlage/TU Delft guna memberikan masukan dan arahan.

Masing-masing dari narasumber menggugah dengan cara unik. Suryono Herlambang menampilkan betapa pengembangan Jakarta tidak bisa dilepaskan dari sirkuit kapital, serta menerangkan bagaimana kapitalisme dan kroni menjadi bagian dalam proses. Yoga menerangkan mengenai kondisi transportasi dan masa depan transportasi Jakarta. Elisa Sutanudjaja menghadirkan bagaimana sejarah permukiman di kota Jakarta. Selamet Daroyini menyorot mengenai masalah air, siklus air terkait dengan kekeringan dan banjir di Jakarta. Selamet juga mengkaitkan dengan kondisi tersebut dengan perubahan ruang di Jakarta. Sementara Hening Parlan menyajikan mengenai kebencanaan di Jakarta serta kondisi Jakarta dalam hal mitigasi dan persiapan bencana.

Sesi berbagi dari @nebengers menunjukkan upaya dan inisiatif kaum muda untuk mengurangi beban kota melalui berbagai kendaraan, serta cara-cara penggunaan maksimal media sosial untuk menunjang insiatif tersebut. Shanty Syahril menunjukkan keprihatinannya akan akses anak-anak ke sekolah maupun materi sekolah tersebut, namun dari situ dia berhasil keluar dengan solusi kreatif dan cerdas untuk menambah kegiatan anak-anak di lingkungan sekolah maupun perumahannya. Shanty menunjukkan betapa modal sosial justru menjadi keunggulan dalam proses menuju warga kota yang cerdas. Ricky Lestari memperlihatkan bagaimana lingkungan menengah keatas yang sering distigmakan individualistis dan elit, justru mampu berproses dalam mencerdaskan warga dan memperbaiki lingkungan bersama-sama. Sesi inspiratif dari Khairani Barokka yang mengajak peserta untuk berpikir kembali ‘Apa itu Normal’, dan mengajak peserta untuk melihat dari betapa luar biasanya dunia yang muncul dari balik kaca mata kaum disabilitas.

Peserta juga mendapatkan kenyataan langsung dari warga-warga yang kami anggap memiliki kecerdasan dalam hidup di kota. Mereka bertemu langsung dengan kaum miskin kota yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota di Muara Baru, sebuah daerah padat dengan 17rb KK yang menghuni sekitar Waduk Pluit). Demi menyiapkan kunjungan peserta, warga disana bahkan melakukan serangkaian lokakarya kecil untuk mempersiapkan materi presentasi dan memahami apa itu kecerdasan kota versi mereka. Peserta juga berkunjung ke Bukit Duri, bertemu langsung dengan Ciliwung Merdeka, kelompok warga yang berusaha memperbaiki kualitas lingkungan dengan berbagai program mandiri, dari sosial budaya hingga kebencanaan.

Paska berbagai kuliah, sesi berbagi dan kunjungan, peserta mendapat kekayaan pengetahuan yang beraneka ragam. Ada pengetahuan akan kenyataan yang menakutkan dan menyedihkan yang sepanjang sesi membuat wajah peserta menampilkan mimik kengerian, ada juga pengetahuan yang membawa harapan dan keharuan, bahkan pengetahuan yang membawa tawa dan kreativitas. Dan semua proposal awal dari para peserta pun berubah: menjadi proposal yang dekat dengan warga dan membuka ruang untuk berproses, dan pastinya semakin cerdas.

Dan di sisa lokakarya, mereka masih harus digembleng dari komentar dan masukan dari berbagai kalangan, seperti Irwan Ahmett dan Tita Salina (pasangan seniman), Avianti Armand (arsitek & penulis), Hizrah Muchtar (perencana kota), Bayu Wardhana (penggiat komunitas), dan Famega Syavira (jurnalis).

Proses lokakarya ini terbuka untuk umum. Masyarakat melihat prosesnya langsung dan ikut menikmati sesi berbagi dan kuliah, bahkan mengikuti kunjungan ke warga. Ada warga yang mendadak menjadi narasumber di hari berikutnya. Itu terjadi ketika Erik Prasetya datang di hari kedua lokakarya dan mendengarkan kuliah, dan lalu bersemangat untuk berbagi keahliannya di bidang street photography agar para peserta mampu dan jeli menangkap fenomena perkotaan melalui lensa.

Ini adalah model lokakarya yang lain, beradaptasi dengan kondisi, dan masih memberikan terus ruang untuk berkembang baik di prosesnya maupun pesertanya. Peserta yang datang dengan 12 proposal individual yang berbeda-beda satu sama lain, pada akhirnya menyadari akan kelebihan dan kekurangan proposal satu sama lain. Mereka berkolaborasi dan bekerja sama, walaupun sebagaian besar dari mereka tidak mengenal satu sama lain.

Di hari akhir lokakarya mereka harus mempertanggungjawabkan proposalnya di depan umum. Rujak mengundang masyarakat luas untuk turut hadir dalam presentasi tersebut. Rujak juga turut mengundang pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, dan media.

Lokakarya ini hendak menunjukkan bahwa pengetahuan ada dimana-mana, tidak statis dan berubah. Keahlian tidak eksklusif milik menjadi satu pihak. Pemecah masalah bisa muncul dari pemuda berusia 25 tahun – walaupun dia tidak punya gelar berderet. Atau selama ini solusi tertentu justru telah muncul dari orang miskin atau orang-orang yang distigmakan sebagai cacat maupun dicap sebagai orang individualis. Orang-orang demikian yang berusaha mencerdaskan warga dan kota, yang membebaskan pengetahuan untuk menjadi milik bersama.

Informasi lebih lanjut mengenai acara Public Expose tanggal 13 silakan lihat disini.

Nantikan perbaharuan foto di artikel ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *