Mari Kurangi Konsumsi Air Kemasan

photo courtesy of Imagining Jakarta (http://rujak.org/2009/07/visioning-the-future-of-jakarta-imagining-jakarta/)

Air mineral kemasan sudah menjadi keseharian bagi kebanyakan warga Jakarta. Setiap tahun 4,5 milyar botol sampah air kemasan tersebar di seluruh Indonesia. Di Jakarta, di mana sampah-sampah itu perginya? Data tahun 2007 dari Beverage Marketing Corporation menempatkan Indonesia di rangking ketujuh dalam penggunaan air mineral botol, dengan jumlah sebesar 6.100 juta liter/tahun di tahun 2002, dan 9.000 juta liter/tahun di tahun 2007. Angka 4,5 milyar didasarkan pada asumsi bila 50% dari total tahun 2007 berupa air mineral kemasan sekali pakai dengan ukuran 1 liter.

Air mineral kemasan punya andil dalam produksi gas rumah kaca, seperti dituturkan studi Pacific Institute. Studi ini menunjukkan korelasi antara konsumsi energi dan produksi air mineral kemasan. Produksi 1 liter air mineral kemasan (lengkap dengan proses produksi air dan pengemasan) membutuhkan energi sebesar 3.4 megajoules. Maka, energi yang dikeluarkan oleh Indonesia di tahun 2007 untuk produksi air mineral dapat mencapai 27 milyar megajoules. Mungkin kita mulai bertanya-tanya mengapa Indonesia terus mengalami krisis energi?

Di Jakarta tak jarang botol-botol itu ditemukan didalam sungai, kali dan situ Jakarta. Mengingat upaya dan usaha daur ulang belumlah menjadi keseharian masyarakat Jakarta, maka beban tempat pembuangan sampah sementara dan TPA Bantar Gebang pun cukup tinggi. Maka, mengurangi penggunaan air mineral kemasan mampu mengurangi jumlah sampah, serta juga mengurangi konsumsi energi dan produksi gas rumah kaca.

Sebuah kota kecil di selatan kota Sydney, Australia, Bundanoon, menyadari akan bahaya ekologis dibalik konsumsi air mineral kemasan. Dengan kampanye berslogan ย‘Bundy on Tapย’, warga kota tersebut sepakat untuk melarang penjualan air mineral kemasan, menjadikan satu-satunya kota di dunia yang menolak air kemasan. Suatu koalisi lebih dari 10 kota dan kabupaten di California, sejak beberapa tahun lalu tidak lagi menyediakan air kemasan di semua kantor pemerintah. Hanya disediakan botol logam untuk diisi ulang dengan air keran, yang memang sebenarnya sudah dijamin cukup baik untuk diminum langsung.

Bagaimana dengan Jakarta? Mari mulai dari diri sendiri dengan cara yang sangat sederhana: bawalah air dalam botol minum dari logam saat berkegiatan sehari-hari. Bila hendak mengadakan rapat di perusahaan atau di kantor pemerintah, hindari penggunaan air kemasan atau produk kemasan lain. Mungkin sudah waktunya ruang publik dan lingkungan di Jakarta menyediakan air galon, seperti yang digalakkan oleh Pak Santo di bantaran kali Krukut.

8 thoughts on “Mari Kurangi Konsumsi Air Kemasan

  1. Rochana Pramesti says:

    Mengurangi konsumsi produk yang menggunakan kemasan plastik dari kehidupan sehari-hari memang susah-susah gampang. Refil botol yang sudah dipakai saya lakukan supaya irit biaya, belum menuju sepenuhnya ke arah “sadar lingkungan”. Pada saat mobile, beli air minum kemasan juga jauh lebih praktis drpd bawa botol logam dr rumah (yg susah juga refill-nya krn tidak bisa pakai air ledeng).
    Saya pikir mesti ada reward jangka pendek yg lsg terasa oleh konsumen, misalnya, air minum gratis di pusat perbelanjaan/mall/sekolah? Ide pak Santo oke sekali dan perlu diadopsi di corporate level

  2. jajap tanudjaja says:

    Usulan membawa air minuman didalam botol refil yang tentunya foodgrade dari rumah adalah suatu usulan yang baik, tapi yang jadi pertanyaan adalah seberapa banyak yang harus dibawa,bilamana kebanyakan seluruh aktivitasnya kebanyakan diluar gedung.
    Bilamana usulan pertama ditambah Usulan dari Sdri Rochana Pramesti akan lebih baik lagi bilamana dapat “dijalankan”.
    Permasalahannya adalah Jakarta masih kekurangan sumber air bersih yang layak untuk memenuhi kebutuhan seluruh warganya(itupun sudah termasuk pengguna air mineral kemasan)
    Contoh soal yang diberikan pada TIPS diatas adalah sebagai gambaran yg ideal untuk kota kecil yg jumlah penduduknya sedikit dan belum ada perembesan air laut yang akut dan sumber air bersihnya memadai dan aturan2 daerahnya jelas dan…. masih banyak dan… dan.. lagi,
    Apakah contoh diatas cukup relevan bila dikaitkan dengan efek rumah kaca, krisis energi, green building , global warming dan kaitannya?
    padahal persentasenya jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan efek kemacetan yang ditimbulkan oleh banyaknya kendaraan umum yg ngetem ditempat keramaian dan jumlah kendaraan yg beredar di Jakarta ini.. Coba kita renungkan …Berapa kerugian waktu ,energi , Co2&panas yang ditimbulkan,subsidi bbm….,, dll, yang harus ditanggung kita semua ? dan sudah adakah metode/solusi yang manjur untuk mengatasi hal ini dari efek2 yang dapat ditimbulkan oleh hal yang mungkin kelihatannya sepele akibat kendaraan umum yang ngetem seenaknya pada daerah2 ramai.Yang jelas Jakarta adalah penyumbang Co2 yang cukup besar akibat kemacetannya.
    Dan apakah kaitannya dengan Indonesia terus mengalami krisis energi?Sebenarnya hal ini diperlukan pembahasan khusus dan sangat tidak relevan bila dikaitkan dg proses pembuatan air mineral dan kemasannya,yang jelas penggunaan energi listrik /populasi/m2 di Indonesia masih jauh dibawah negara tetangga kita.
    Apakah usulan Sdri Rochana diatas dapat diterapkan di Jakarta? Hal ini cukup menarik dan harus dibuatkan aturan main yang jelas antara pengelola gedung dan Pemda dengan meng acu ke sistem “win win solution” dengan dituangkan kedalam perda yang jelas sehingga tidak ada yang dirugikan. Sehubungan hal ini saya pernah mendengar keluhan dari pengelola gedung yang cukup besar di Jakarta dia menceritakan keluhannya sebagai berikut: Pa coba bapak bayangkan, air limbah yang dihasilkan pada gedung ini sudah saya recycle/daur ulang untuk dipakai kembali untuk memenuhi kebutuhan operasional gedung dan itupun masih kurang dan harus ditambah dari sumber air bersih PDAM, yang saya bingung, kenapa saya harus membayar tagihan limbah buang yang dihitung berdasarkan pemakaian langganan air bersih PDAM nya, padahal hampir tidak ada limbah buang, karena seluruh limbah di daur ulang dan itupun masih harus ditambah dari PDAM. Menanggapi hal itu saya jawab kepada pengelola gedung: Pak, hal itu harus diklarifikasi dengan pihak Pemda, karena dengan melakukan daur ulang sudah membantu kelestarian lingkungan dan dengan melakukan hal tersebut kita sudah melakukan salah satu konsep green building dan seharusnya mendapatkan point, Lihat dinegara lain dengan membuat penampungan air hujan dan memanfaatkannya akan mendapat point,yang nantinya akan diperhitungkan kompensasinya oleh pemerintahnya. Hal diatas hanya salah satu contoh yang harus diatur dan dibahas bersama untuk dituangkan aturan mainnya bila usulan air minum gratis dapat dilakukan oleh pengelola gedung, sehingga biaya yang timbul jangan dibebankan kepada konsumen pengunjung/pemakai gedung tersebut.
    Namun demikian TIPS yang berjudul” Mari Kurangi Konsumsi Air Kemasan”
    kita harus tanggapi secara Positif dan harus didukung dengan tindakan Nyata…Dengan Judul : Biasakanlah Membawa Air Minum dari Rumah dengan Botol refil yang food grade dan Bilamana Kita Harus Membeli Air Kemasan Mari Kita Kumpulkan Untuk Dijual / diberikan kepada Pengumpul untuk didaur ulang untuk dibuat peralatan yang Bukan Foodgrade dan bermanfaat sebagai produk dalam negri.

  3. melly says:

    Menurut saya, semua hanyalah masalah kebiasaan. Awalnya memang sulit, tapi lama-lama jadi biasa.

    Untuk masalah refill air, selama ini saya nyaris tidak pernah kesulitan. Karena dari rumah botol sudah diisi penuh. Nanti ketika bepergian, botol bisa saya refill, baik itu di kantor sendiri/kantor orang, atau jg di rumah orang :-). Beberapa rekan bisnis malah merasa senang mendapat tamu seperit saya, karena itu berarti mereka tdk usah repot menyediakan air minum…:-)

    Beberapa sekolah sudah menyediakan air galon untuk isi ulang. Tapi, asik juga ya kalau di mall-mall begitu…tinggal modal bawa biskuit, gaul di mall bs irit banget ๐Ÿ˜€

  4. Dewi Tunjung says:

    segera juga disosialisasikan pemisahan sampah organik & non O..idenya sudah lama, tapi mungkin belum sampai 10 % penggunanya. Sampah non O bisa segera didaur ulang…Mengenai mengganti air mineral kemasan gelas dengan galon, saya se 7..hanya, masalahnya dengan mengganti dengan gelas biasa, berarti akan menambah pemakaian air utk mencuci gelas tsb..karena begitulah alasan saya waktu mengganti air kemasan galon dengan kemasan gelas plastik utk acara2 tidak rutin di tempat saya bekerja..karena ingin menghemat air yg memang sering mati…dilema,ya..

  5. Priscilla says:

    Sekedar tambahan, dari saya yang juga menggunakan air minum kemasan (walo ngga sering beli loohh..)
    Kepraktisan dan kemudahan sih pastinya faktor utama mengapa air kemasan sangat populer dan digemari.
    Buat org Jakarta yg sibuk dan sebagian juga pendatang (loh apa hubungannya?-misalnya banyak yg nge-kos)daripada repot2 menyiapkan, mencuci, mengganti, dll yah air minum botol itu solusi urban. telat bangun, lupa bawa botol -tinggal beli, ga sampai 50meter juga psti tersedia. selesai pakai, buang. butuh, eh, tinggal beli. Kenyamanan seperti ini dibandingkan dengan tingkat kesadaran lingkungan akan efek pasca konsumsi ini boleh dibilang sangat jomplang.
    Jakarta kota Metropolis hanya ‘julukan’ saja, warganya belum mempunyai level kesadaran lingkungan yang baik. mau itu sarjana, master ataw doktor sekalipun.
    Bahkan, karena orang Indonesia itu ‘kreatif’, bisa refill botol bekasnya dijual lagi, muncul satu kekhawatiran masyarakat pengkonsumsi yang higienitasnya tinggi bahwa botol bekas dirusak atau buang tutupnya supaya tak bisa digunakan lagi. Mungkinnnn, ini bisa jadi salah satu sudut untuk menggelitik orang membawa botol air minumnya sendiri. Tapi apa ya cukup ‘ampuh’? PR yang sulit. tapi ide mnyediakan air minum free di tempat umum? bisa jadi terjadi kebalikannya (namanya juga Indonesia ๐Ÿ™‚ bisa jadi ‘aji mumpung bagi yang melihat kesempatan ini di luar misi sebenarnya)
    Ibu Elisa, bagaimana kalao menggalang kapanye “gunakan botol air minum-mu?”
    ๐Ÿ™‚ atau, kita bikin polling disini, dan lihat bagaimana pemikiran masyarakat kita ๐Ÿ™‚

  6. Dian says:

    Sudah waktunya buat Indonesia untuk menyediakan Potable Water. Mari menuntut pemerintah untuk menyediakan Potable Water bagi warga negaranya.

  7. Pingback: Air dan Limbah Berkelanjutan « santimumu

  8. Andre Pradana says:

    Boleh minta link Data tahun 2007 dari Beverage Marketing Corporation menempatkan Indonesia di rangking ketujuh dalam penggunaan air mineral botol ?
    Saya mencoba mencari tidak ketemu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *