Media Sosial dan Pemanfaatannya

Oleh Dian Tri Irawaty

 

“ Pengguna facebook kita ada 30,1 juta, itu adalah no 2 terbesar pengguna di dunia”.

 

“Untuk pengguna twitter, kita ada 6,2 juta. Kalau dari sisi jumlah, kita no.3 pengguna terbesar di Asia. Di dunia kita yang paling tinggi dalam hal men-tweet, yaitu sebesar 20,8%. Amerika itu cuma 11,9% dan peringkat dua adalah Brazil dengan 20,5%”.

 

“Kalau dihitung-hitung dengan yang menggunakan handphone, pengguna internet di Indonesia mencapai 45 juta pelanggan”

 

“Jumlah blogger kita ada 2,7 juta blogger”.

 

“Pengguna Handphone ada 150-180 juta orang. Ini angka yang besar sekali, kalau kita bicara soal penggunaan media sosial  di Indonesia”.

 

Serangkaian cuplikan kalimat di atas adalah bagian dari film Linimas(s)a yang diputar pada Sabtu akhir Maret lalu di kantor Rujak. Pada hari itu Rujak mengadakan Rujak Sorot dan Diskusi dengan tema Kota dan Ruang Maya. Film @linimas(s)a adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan pemanfaatan media sosial untuk kampanye atau perubahan sosial di segala isu seperti kemanusiaan, bencana alam, keadilan, HAM, dll.

Ada banyak cerita yang terangkum dalam film dokumenter tersebut. Ada kisah penarik becak di Jogja yang mengiklankan jasanya melalui FB dan Twitter, ada Komunitas Blogger Bengawan yang mengadakan kegiatan pelatihan penggunaan internet untuk orang-orang dengan kemampuan berbeda (diffable), ada kisah perjuangan koin untuk Prita, kisah upaya pengumpulan donor darah (blood for life), kisah relawan (Lintas Merapi) untuk Bencana letusan Gunung Merapi 2010 dan juga kisah dukungan aksi anti korupsi – Satu Juta Dukungan untuk Bibit-Chandra, yang kesemuanya menggunakan beragam media sosial seperti twitter dan FB dalam mengkampanyekan isu.

Hadir dalam diskusi yang juga merangkap sebagai penanggap adalah Ignatius Haryanto (pakar media) dan Glenn Marsalim (pakar periklanan). Terhadap film tersebut,  keduanya menilai film dokumenter ini sebagai film yang menarik dan meresonansi fungsi media sosial.

Ignasius Haryanto melihat media sosial, dalam film tersebut, sebagai alat yang menarik untuk eksperimen-eksperimen seperti blood for life, lintas merapi, pengiklanan jasa penarik becak, dll. Dalam hal ini,  Hari (panggilan Ignatius Haryanto) menilai bahwa media sosial dilihat sebagai alternatif sumber informasi. Apabila dikawinkan dengan media mainstream, maka informasi yang dihasilkan akan lebih berpengaruh. Dengan semakin maraknya penggunaan media sosial maka, menurutnya, media tidak lagi dikonsumsi secara pasif. Pemanfaat media saat ini sudah terlibat, tidak hanya mengkonsumsi secara pasif, tetapi juga mengelola informasi tersebut baik dalam bentuk berbagi (share, retweet) ataupun mengkonsumsi dengan kritis. Hal positif lain yang muncul adalah meningkatnya budaya partisipasi dan solidaritas di kalangan pemanfaat media sosial, sebagaimana tercerminkan dalam film @linimas(s)a.

 

Yang menjadi catatan Hari atas fenomena pemanfaatan media sosial adalah di soal akurasi informasi yang berseliweran. Menurutnya, berseliwerannya informasi juga memiliki kelemahan tersendiri yaitu semakin sempitnya jarak ruang dan waktu yang membuat ingatan kita menjadi pendek. Kampanye isu dalam media sosial  (hangatnya berita) memiliki waktu  kisaran tiga (3) hari di mana dalam media mainstream, sebuah isu bisa dikelola selama enam (6) hari, atau lebih.

Contoh yang Hari angkat adalah kampanye koin Prita. Hari mengingatkan kita semua bahwa walaupun kasus Prita masih berlanjut hingga saat ini di tingkat Mahkamah Agung, namun semangat orang-orang yang dulu perduli tidaklah sama lagi.

Hal lain yang dikiritisi oleh Hari dari fenomena pemanfaatan media sosial adalah di soal tingkat kepedulian atau solidaritas. Sejauh mana masyarakat benar-benar peduli terhadap isu atau wacana yang diangkat melalui media sosial? Apakah sebatas meng-klik saja atau hingga komitmen dalam bentuk aksi nyata?

Kekhawatiran Hari dijawab oleh Glenn Marsalim yang melihat bahwa pemanfaatan media sosial   secara masif saat ini merupakan euforia media sosial. Menurutnya, untuk menjadi alat penggerak yang masif, ada tiga prasyarat dalam pemanfaatan media sosial, yaitu:

  1. Bahwa isu yang dikampanyekan memiliki aspek personalitas. Artinya, isu yang diangkat merupakan isu yang bisa dirasakan oleh masing-masing pribadi pengguna media sosial. Glenn mencontohkan kampanye koin Prita di mana dia menilai bahwa masyarakat yang mendukung kampanye tersebut merasa terkait dengan kasus yang dialami Prita baik sebagai ibu rumah tangga ataupun Prita sebagai konsumen.
  2. Bahwa isu yang dikampanyekan memiliki jalan cerita. Ada kisah di situ, soal ketidakadilan, kemanusiaan, dll.
  3. Bahwa kampanye tidak hanya sebatas wacana tetapi juga mewujud dalam aksi nyata dan mudah dilakukan seperti meng-klik dukungan (dalam sejuta dukungan untuk Bibit-Chandra) atau mengumpulkan koin (dalam kasus koin untuk Prita).

Prasyarat ini bisa menjawab apa yang menjadi catatan Yanuar Nugroho dalam film, bahwa bicara soal solidaritas, ada perbedaan besar antara kampanye koin Prita  dengan kampanye Lumpur Lapindo. Menurut Glenn, hal ini disebabkan unsur personalitas dan aksi nyata yang mudah, tidak terpenuhi di kampanye Lumpur Lapindo.  Ada perbedaan antara membantu seorang Prita dengan membantu ratusan keluarga korban Lumpur Lapindo. Ada aksi nyata dan mudah dilakukan dalam kampanye koin Prita, tetapi sulit direalisasikan untuk kampanye lumpur Lapindo, terlebih lagi yang disasar adalah perusahaan milik Bakrie.

Bicara soal keberlanjutan isu, terkait dengan karakteristik ingatan pendek dari media sosial, salah satu peserta, Anita, menyarankan untuk terus menerus mengkampanyekan isu atau wacana melalui media sosial. Anita mengungkapkan bahwa setiap harinya mengupload video lagu John Lennon yang berjudul “Imagine”. Hal ini sudah ia lakukan lebih dari 40 hari berturut-turut sebagai upayanya mengkampanyekan perdamaian.

Percobaan tersebut belum memberi jawaban apakah upayanya itu bisa memperpanjang ingatan pendek yang dimiliki oleh media sosial. Tetapi, Anita menjelaskan bahwa setiap harinya selalu ada respon yang ia terima atas video yang diupload.

Menyoal kampanye melalui media sosial, menurut Glenn, terlepas dari peran media sosial sebagai media kampanye yang efektif, perlu diingat bahwa sebagian besar pengguna media sosial berusia belasan tahun hingga awal 20-an yang sebagian besar menggunakan media sosial untuk bersenang-senang, lucu-lucuan, berteman, dan juga sebatas mengeluh soal layanan publik yang buruk. Mereka bukanlah kelompok masyarakat yang kerap semangat merespon kampanye isu-isu sosial.  Jumlah pengguna FB dan Twitter yang fantastis, menurut Glenn, kerap disalahartikan sebagai mereka yang akan selalu responsif atas kampanye-kampanye sosial.

Pendapat Glenn dikuatkan oleh hasil riset Merlyna Lim berjudul @crossroads: Democratization & Corporatization of Media in Indonesia, tahun 2011. Dalam hasil riset tersebut, terungkap bahwa pengguna internet adalah mereka yang berusia 18-24 tahun (41%) dan pengguna mobile web sebagian besar (53%) adalah mereka yang berusia 18-27 tahun.

Pada akhir diskusi, ada beberapa poin karakteristik dari media sosial yang bisa dikerucutkan yaitu bahwa sebagai sebuah euforia, media sosial hadir sebagai media di mana kita bisa mengakses informasi dari orang-orang yang bukan bagian dari jaringan yang kita miliki. Dalam hal ini, Hari mencontohkan manfaat media sosial bagi jurnalis yang melalui media sosial mampu mendapatkan informasi dari warga dalam bentuk jurnalisme warga. Hal ini, menurutnya tetap memerlukan pengecekan dari jurnalis tersebut. Gambaran yang sama juga dibahas oleh Paul Lewis: Crowdsourcing the News (http://www.ted.com/talks/paul_lewis_crowdsourcing_the_news.html) yang menggambarkan bagaimana dia bisa mengungkap dua kasus kematian berdasarkan informasi yang dia terima sebagai respon atas diumumkannya berita tersebut melalui media sosial.

Selain sebagai media crowdsourcing, media sosial juga  mampu memunculkan kembali dan menguatkan nilai-nilai solidaritas dan budaya partisipasi di masyarakat. Namun, ada catatan dari situ yaitu ingatan jangka pendek dari media sosial dan seliweran informasi yang akurasinya harus tetap kita kritisi.

Pada akhir diskusi, salah satu peserta menanyakan berapa lama lagi FB dan Twitter masih digunakan oleh masyarakat? Glenn menegaskan bahwa  pada hakekatnya media sosial tidak akan berhenti, ia hanya bertransformasi.

One thought on “Media Sosial dan Pemanfaatannya

  1. Pingback: Kontrol Politik Warga untuk Gubernur Baru « Rujak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *