Membangun Bengkel Jurnalisme Warga

Oleh: Robin Hartanto

Sepuluh orang berdesakan memenuhi dua meja di sebuah ruang kecil di Jalan Timor, Sabtu 26 November 2011. Semuanya mengeluarkan laptop. Mereka menggerakkan jemarinya dengan cepat, berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan tulisan yang ditugaskan setelah mendapatkan pengarahan singkat tentang berita dan feature.

Robin, salah seorang peserta pelatihan tersebut, sebenarnya tidak pernah belajar dasar-dasar menulis. Ilmu studi formal yang ia ambil pun tidak bersangkut paut dengan jurnalisme. Berkat kegemarannya menulis, beberapa tulisannya pernah dimuat di rujak.org dan membawanya pada pelatihan tersebut.

Ia adalah seorang jurnalis warga, genre penulis yang sedang naik daun di era globalisasi ini. “Saya sekedar senang menulis blog, tetapi tidak pernah tahu aturan menulis yang baik,” kata Robin kepada peserta lainnya.

Jurnalisme warga di Indonesia dan di dunia memang sedang berkembang, seiring dengan perkembangan media sosial terutama di dunia maya. Awalnya adalah keinginan berbagi informasi ataupun opini. Para “jurnalis” tersebut kemudian menggunakan berbagai media yang ada seperti blog, twitter, facebook, hingga website-website komunitas untuk menyampaikan cerita mereka.

Rujak.org adalah salah satunya; website komunitas yang secara khusus bergerak dalam bidang perkotaan, terutama kota Jakarta. “For a better Jakarta. Everyone’s invited,”begitulah moto yang tertera di website-nya.

Rujak Center for Urban Studies (RCUS), yayasan yang menaungi rujak.org dan klikjkt.or.id, menangkap pentingnya pelatihan-pelatihan penulisan bagi para jurnalis warga. “Pengetahuan harus menjadi basis jurnalisme warga,” kata Direktur RCUS Marco Kusumawijaya.

Untuk itulah, RCUS kemudian menggagas pelatihan Bengkel Kerja Jurnalisme Warga pada di kantor Yayasan RCUS,26 November. Pelatihan tersebut diberikan oleh para pelaku media, yaitu Hera Diani, Senior Editor Strategic Review dan Famega Syavira, editor Yahoo! Indonesia. Mereka membekali para jurnalis warga untuk melakukan penulisan yang taat azas.

Jurnalisme warga dirayakan bukan hanya oleh warga sendiri, tetapi juga oleh media-media berita mainstream. Kompas.com misalnya, membuat kompasiana untuk mewadahi minat masyarakat dalam menyampaikan berita.Tempointeraktif.com memuat seksi jurnalisme warga untuk mendukung hal serupa.

Berbagai hal positif dari jurnalisme warga bahkan melebihi jurnalisme profesional, terutama soal kecepatan dan kepraktisannya. Jurnalisme warga bisa jadi siapa pun, sehingga “jurnalis”-nya tersebar dimana-mana. Tak ayal, kita seringkali mendapatkan berita mengenai suatu kejadian dari twitter ataupun facebook, lebih cepat daripada di media-media berita.

Seringkali kita juga dapat menemukan pandangan dari orang-orang yang langsung berkaitan dengan kejadian, yang tentunya lebih provokatif dibandingkan tulisan wartawan yang sekedar melakukan wawancara pada narasumber. Selain itu, alat-alat yang dibutuhkan tidak banyak, cukup media elektronik dan akses internet.

Tentu saja, lonjakan minat tersebut memiliki kekurangan-kekurangan yang perlu dibendung sebelum meluap. Kebebasan dalam jurnalisme warga di satu sisi begitu dipuja, tetapi di sisi lain dapat berakibat fatal. Kurangnya kontrol atas jurnalisme warga pun seringkali membuat kualitas penulisannya diragukan. Pelatihan-pelatihan untuk jurnalis warga memang sangat perlu agar perkembangan kuantitas pelaku tetap diimbangi dengan kualitas tulisan.

Berminat jadi jurnalis warga?

3 thoughts on “Membangun Bengkel Jurnalisme Warga

  1. alatteknik.net says:

    Its such as you learn mmy mind! You appear to understand so much approximately this, like you wrotge the ebook
    in it or something. I bwlieve that you can do with a few p.c.
    too force the message house a little bit, however other than that,
    this is fantastic blog. A fantastic read. I will certainly be back.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *