Kamis, 17 Agustus 2017 merupakan hari kebimbangan bagi warga kampung Aquarium. Sebagai warga negara Indonesia para warga kampung Aquarium juga ingin merayakan kemerdekaan.
Perayaan kemerdekaan hari itu digelar di atas puing reruntuhan bangungan pasca penggusuran. Merayakan kemerdekaan di atas puing-puing bekas bangunan mereka sendiri merupakan kisah pilu dari cerita warga Kampung Aquarium. “Kemerdekaan adalah ketika kami memperoleh keadilan, keadilan yang tidak timpang,” teriak Dul salah seorang penghuni Dusun Aquarium.
Hari itu, bertepatan dengan 72 tahun umur Indonesia merdeka, di kampung Aquarium digelar perlombaan mengenai “rumah ideal”. Penggagas lomba itu adalah seorang seniman berkebangsaan Jepang bernama Jun Kitazawa. Jun mampu menarik simpati warga penghuni dusun Aquarium untuk turut serta memeriahkan lomba rumah ideal.
Jun percaya bahwa Perspektif seni dan antropologi dalam berkesenian akan mampu menghadirkan “makna” dalam kehidupan masyarakat, serta aspek “kebudayaan” tentu menjadi keutamaan dari produk karya seninya.
Dimensi kebudayaan menjadi kunci penting dalam pengembangan karya seni antroplogi dalam bayangan Jun. sisi kebudayaan tidak sekedar naluri keritualan suatu komunitas masyarakat. Akan tetapi secara sederhana menurut Jun bahwa, sebuah kebudayaan dapat pula terjadi di ruang berkumpul masyarakat, di ruang berkumpul itulah ide-ide mengenai kreativitas seni tertuang dari persoalan rasa akan “kita” dan ruang perkumpulan itulah menurut Jun sebagai ruang autentik mencipta karya seni.
Menurut Jun, karya seni sering hadir secara tiba-tiba, lalu kemudian menghilang. Akan tetapi di sini, Jun berharap bahwa proyek karya seninya dapat berlangsung terus-menerus. Namun, yang terpenting bagi seorang seniman seperti Jun adalah bagaimana dapat bergabung dengan kehidupan sehari-hari komunitas masyarakat di daerah pinggiran terhutama pinggirn kota, dan berkesenian dengan menggunakan material kehidupan sehari-hari komunitas masyarakat
Pada saat yang bersamaan gemuruh reklame di simpang-simpang jalan Jakarta menawarkan kemegahan dan kemewahan hunian yang dianggap “ideal”. Sementara itu, warga kampung Aquarium menginginkan rumah ideal. Namun, bagi mereka “rumah ideal” tak perlu mewah, asalkan cukup untuk beristirahat, terlindung dari terik matahari dan hujan.
Gagasan mengenai rumah ideal dengan konsep kemegahan, kemewahan serta anggapan tentang “kenyamanan” telah memantik hasrat Jun untuk mengetahui tentang hakikat rumah ideal sebenarnya dari perspektif warga kampung Aquarium melalui karya seni rumah ideal.
Jun ingin mencari hakikat nilai “ideal” menurut warga kampung aquarium. menurut Jun, bahwa kata “ideal” selama ini sering kali dipahami sebagai hal yang besar, mewah, dan bahkan “luas”. Akan tetapi, dalam rangka menyelenggarakan “ideal home contest” itulah, Jun ingin melihat makna “ideal” bagi warga Kampung Aquarium, sekaligus ingin membuktikan bahwa makna ideal tidak selamanya bersifat besar, mewah dan luas. Akan tetapi yang terpenting ialah kegunaan dasar dalam kehidupan sehari-hari yang diwujudkan melalui cipta karya rumah ideal dari warga kampung Aquarium.
Apa yang dimaksud dengan rumah ideal? Kita selalu mengartikan rumah ideal sebagai rumah yang besar dan taman yang besar, dan memiliki air panas di dalamnya. Namun, apakah itu rumah ideal yang sesungguhnya? Dalam sistem perekonomian yang sedang berkembang, kita selalu berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang, bagaimana caranya mendapatkan rumah yang besar dengan fasilitas yang dianggap ideal. Tutur Jun.”
Namun saya ingin tahu apakah itu benar-benar masa depan yang baik? Apakah itu benar-benar masyarakat yang baik? Apakah baik untuk Anda, tiap-tiap masyarakat? namun melalui perlombaan ini, saya berharap dapat menjadikan seni dan antropologi (nilai komunitas) sebagai cara pandang baru untuk mendapatkan ide akan masyarakat masa depan. Tutur Jun.”
Jun mengakui bahwa karyanya selalu berada dalam komunitas masyarakat, terutama masyarakat pinggiran kota. Keterlibatan ide Jun mengenai seni dalam sebuah komunitas terilhami dari sebuah ide yang ia pelajari mengenai seni dan antropologi semasa di Universitas. Kemudian ia coba praktikan melalui sebuah sistem seni dengan melibatkan masyarakat kampung Aquarium untuk berpartisipasi membuat karya seni tentang “rumah ideal” menurut warga kampung aquarium, Jakarta Utara.
Jun menyadari bahwa ruang autentik merupakan tempat bagi ide berkesenian, ruang autentik merupakan ruang berkumpulnya komunitas masyarakat dalam menciptakan ide dan gagasan. Di Jepang misalnya ruang autentik perlahan sudah mulai hilang. Masyarakat Jepang nampaknya sudah tidak terlalu peduli tentang keberadaan ruang autentik. Kata Jun.”
Lebih lanjut menurut Jun bahwa karya seni antropologi yang dirinya kembangkan akan bergerak mengikuti akses ruang-ruang autentik tersebut, kemana pun ia mengajaknya. Seperti halnya ruang autentik telah mengajak saya menjelajahi beberapa wilayah di Indonesia seperti Malang, Jakarta, Sulawesi, Surabaya, dan Bali.
Dalam perlombaan rumah ideal di kampung Aquarium, para warga tidak sekedar membuat karya seni dalam bentuk miniatur rumah. Kebanyakan rumah yang diikutsertakan dalam lomba rumah ideal memiliki basis gagasan serta alasan penciptaan secara unik dan jenaka.
Misalnya, gagasan Rakha dan ayahnya mengenai rumah langit, rumah dengan desain pos kamling menjulang tinggi merupakan rumah dengan fungsi untuk melakukan pemantauan terhadap satpol PP (satuan polisi pamong praja) atau akrab dikenal “polisi penggusur” bagi sebagian warga Jakarta yang sewaktu-waktu bisa saja datang menghampiri kampung mereka. tutur Rakha sambil mengingat kejadian penggusuran lalu.”
Setidaknya terdapat sekitar tujuh model rumah yang mengikuti perlombaan rumah ideal. Salah satunya rumah panggung, rumah kapal, rumah modern, rumah joglo, rumah lipat, rumah langit, dan rumah gerobak. Hal menarik disini, setiap pembuatan desain arsitektur kesenian dalam bentuk miniatur rumah tersebut mengandung “ungkapan” secara tidak langsung mengenai “perasaan” mereka sebagai penghuni dusun Aquarium.
Para kontestan lomba mengungkapkan dan membahasakan gagasan mereka melalui karya seni rumah ideal. Rumah ideal merupakan rasa dan kedekatan hidup komunitas masyarakat dengan kebudayaan sehari-hari.
Para warga kampung Aquarium sudah terbiasa hidup dengan sederhana, oleh karena itu makna “rumah ideal” bagi mereka adalah rumah yang ramah untuk berpijak melangkah esok hari dalam mengais rezeki, tak perlu luas, asalkan tidak membuat hati mereka was-was, tentang sebuah tragedi penggusuran.

“Lomba Rumah Ideal”

