Mengurai Kemacetan Lalu Lintas- Merintis Jakarta menjadi Green City

Perhimpunan Alumni Jerman mengundang Anda hadir sebagai pembicara pada kegiatan diskusi dengan tema “Mengurai Kemacetan Lalu Lintas- Merintis Jakarta menjadi Green City” yang akan berlangsung pada

Hari & Tanggal : Rabu, 13 Oktober  2010
Waktu : Pk. 18.00 – Pk. 21.00 WIB
Tempat : Goethe Institut
Jl. Samratulangi 9 – 15
Jakarta Pusat.

SEMINAR

“MENGURAI KEMACETAN LALU LINTAS

MERINTIS JAKARTA MENJADI GREEN CITY”

PERHIMPUNAN ALUMNI JERMAN & GOETHE INSTITUT

JAKARTA, 13 OKTOBER 2010

18.00 – 21.00 WIB

GOETHE INSTITUT

JL. SAMRATULANGI 9 -15

JAKARTA PUSAT

Latar Belakang

Kemacetan lalu lintas di Jakarta kembali menjadi tema utama di media massa. Walaupun telah dibangun Busway untuk Trans Jakarta, kemacetan lalu lintas rupanya tidak terpecahkan, paling tidak dalam jangka pendek ini.

Data dari Pemerintah DKI Jakarta mengenai jumlah kendaraan bermotor di Jakarta adalah 5,4 juta kendaraan pribadi, 84.891 kendaraan umum dengan pertumbuhan 9,5%/tahun. Sedangkan kerugian akibat kemacetan diperkirakan mencapai 12,8 triliun dinilai dari waktu, bahan bakar dan kesehatan. Menurut Mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Rustam Effendi, penyebab utama kemacetan lalu lintas antara lain banyaknya volume kendaraan, terutama kendaraan pribadi (90% dari jumlah kendaraan), tidak disiplinnya pengemudi kendaraan, lemahnya penegakkan hukum aparat kepolisian & perhubungan. Menurutnya sejak tahun 1973 – 2003 (30 tahun) DKI Jakarta belum menata transportasi dengan baik. Baru di masa Gubernur Setiyoso dilakukan terobosan untuk membangun transportasi massal terpadu. Sementara itu Study on Integrated Trasportation Masterplan (SITRAMP) yang dilakukan oleh JICA/BAPPENAS memaparkan jika sampai tahun 2020 tidak ada perbaikan dalam System transportasi Jabodetabek, maka kerugian ekonomi akan mencapai 65 triliun per tahun, yang meliputi kerugian biaya operasional kendaraan sebesar 28,1 triliun dan kerugian nilai waktu perjalanan sebesar 36,9 triliun.

Harian Kompas menuliskan kerugiaan saat ini mencapai 43 triliun lebih yang meliputi kerugian waktu, BBM,penumpang kesehatan dan lingkungan. Salah satu rekomendasi yang diusulkan oleh Jabodetabek Transport Planning Commission adalah dibuatnya perencanaan kelembagaan dan system manajemen terpadu (Pemerintah Pusat dan Daerah) untuk mengurangi kemacetan di Jakarta.

Solusi-solusi lainnya yang dapat kita baca dan dengar di mass media, baik dari para pakar maupun awam meliputi  perlunya dibuat kebijakan transportasi yang sifatnya menyeluruh mulai dari pembatasan umur kendaraan, penambahan jalan tol, fly over, peningkatan pajak kendaraan pribadi, konsep transportasi Jabodetabek (Megapolitan), pajak jalan (road pricing), pajak kemacetan, pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi ( 1 keluarga 1 mobil ), three in one, busway, monorail, pembatasan traffic, penggunaan stiker, area licencing system, tarif parkir tinggi, pajak progresif dll.

Belum lama ini Pemerintah Pusat melalui Wapres Boediono mengusulkan 17 langkah atasi kemacetan sebagai berikut:

1. Memberlakukan Electronic Road Pricing (ERP).

2. Jalur busway tetap disterilisasi terutama di empat jalur yang sebelumnya disterilisasi Pemda DKI.

3. Pemda DKI mengkaji kebijakan perpakiran dan penegakan hukum tegas terutama untuk kendaraan yang parkir di bahu jalan yang dekat dengan jalur busway.

4. Memperbaiki fasilitas jalan maka Pemda DKI sudah menerapkan multiyears contract untuk perbaikin jalan.

5. Untuk busway akan ditambah lagi dua jalur dan akan mulai beroperasi akhir tahun ini dan tahun depan akan tambah dua jalur lagi.

6. Adanya pembicaraan serius menganai  harga gas khusus untuk transportasi.

7. Pemerintah meminta Pemda DKI restrukturisasi angkutan dalam hal pemakaian bus-bus kecil yang tidak efisien.

8. Mengoptimalkan kereta api di Jabodetabek dengan membangun rel routing dan peningkatan pelayanan, serta menambah gerbong untuk jalur jalur yang padat.

9. Polisi mendapat tugas menertibkan angkutan liar untuk mengurangi tekanan pada titik-titik dimana mereka menunggu penumpang.

10. Mempercepat pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) yang tahun depan sudah mulai konstruksi untuk jalur Lebak Bulus-Hotel Indonesia.

11. Pembentukan otoritas transportasi Jabodetabek.

12. Untuk mendukung otoritas transportasi itu,  akan direvisi rencana induk transportasi terpadu.

13. Proyek double-double track jalur kereta api terutama ke arah Cikarang.

14. Mempercepat proyek lingkar dalam Kereta Api yang akan diintegrasikan dengan sistem angkutan massal di Jakarta.

15. Jalan tol tambahan berupa enam ruas jalan tol layang.

16. Untuk jangka menengah panjang Pemeritah Pusat akan menyusun kebijakan membatasi penggunaan kendaraan bermotor.

17. Untuk mendukung penggunaan kereta api,  akan disiapkan lahan untuk park and ride ( lahan parkir dekat stasiun kereta api) di dekat stasiun lahan kereta api sehingga bisa meningkatkan jumlah pengguna kereta api.

Pertanyaannya adalah apakah berbagai usulan solusi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta dapat mengurangi kemacetan lalu lintas, baik dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang? Apakah terdapat hal-hal yang sifatnya fundamental di balik terjadinya kemacetan yang sudah berlangsung lama ini? Bagaimana melihat kaitan antara kemacetan lalu lintas dengan penataan kota? Dan berbagai pertanyaan lain terkait dengan kemacetan lalu lintas.

Perhimpunan Alumni Jerman bekerjasama dengan Goethe Institut Jakarta mengambil inisiatif untuk mendiskusikan masalah ini bersama dengan beberapa pakar transportasi dan perkotaan serta Perwakilan Dinas Perhubungan Jakarta. Peserta diskusi tidak hanya dari kalangan Alumni Jerman, melainkan juga terbuka untuk umum, baik kalangan mahasiswa, NGO, Pers, Partai Politik, Anggota DPR , Perwakilan Industri, dll.

Diskusi ini diharapkan dapat memberikan  sumbangan pemikiran  untuk memperkaya berbagai solusi yang telah dikedepankan  guna mengatasi kemacetan lalu lintas dengan memperhatikan perkembangan ekonomi, pertambahan penduduk,  lingkungan hidup, antisipasi bencana alam serta melibatkan partisipasi warga dalam perencanaan pengembangan transportasi di wilayah Jabodetabek, agar dalam jangka panjang Jakarta dapat menjadi Green City.

Para pembicara dalam diskusi ini adalah :

  1. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Ir. Udar Pristono MT
  2. Prof. Dr. Ahmad Munawar, Pengurus PAJ Pusat, Guru Besar Transportasi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
  3. Marco Kusumawijaya, Direktur Komunitas Rujak
  4. Suchjar Effendi, Ketua Umum PAJ

Moderator :  Prof. Dr. Phil. Bachtiar Aly

Diskusi akan berlangsung pada

Hari Rabu, 13 Oktober 2010

Mulai Pk. 18.00 – Pk. 21.00 WIB

Tempat di Goethe Institut, Jl. Samratulangi 9 – 15, Jakarta Pusat

ACARA

17.30 – 18.00                     Registrasi

18.00 – 19.00                     Halal Bihalal Alumni Jerman & Simpatisan

19.00 – 19.05                     Pembukaan Panitia

Dewi Laksmi

19.05 – 19.10                     Sambutan Gubernur DKI Jakarta

Dr. H. Fauzi Bowo

19.10 – 19.15                     Sambutan Direktur Goethe Institut

Dr. Franz Xaver Augustin

19.15 – 19.20                     Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta

Ir. Udar Pristono MT

19.20 – 19.30                    Prof. Dr. Ahmad Munawar, Pengurus PAJ Pusat, Guru Besar

Transportasi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

19.30 – 19.40                     Marco Kusumawijaya, Direktur Komunitas Rujak

19.40 – 19.50                     Suchjar Effendi, Ketua Umum Perhimpunan Alumni Jerman

19.50 – 20.00                     Film “ Strassenbahn in Karlsruhe – Karlsruher Modell”

20.00 – 21.00                     Diskusi

2 thoughts on “Mengurai Kemacetan Lalu Lintas- Merintis Jakarta menjadi Green City

  1. Joe Fernandez says:

    Bagaimana hasil Kongkow para alumni Jerman ini? Apakah berhasil mengurai benang kusut kemacetan Jakarta? ataukah jadi kusut sendiri dibuat macet oleh pemikiran dan perilaku macet?

  2. Giri Suseno says:

    Semua pemikiran tentang mengurai kemacetan lalu lintas itu baik, tetapi bila direnungkan kemacetan lalu lintas itu tidak akan dapat diselesaikan. Banyak alasan yang dapat disebutkan, secara dasar kemacetan terjadi karena aliran kendaraan tidak dapat ditampung oleh kapasitas jalan yang dilalui. Jadi kalau akan menghilangkan kemacetan harus kembali kepada prinsip itu. Caranya bermacam-macam. Tetapi cara-cara itu hanya akan menyelesaikan sebagian saja dari kemacetan, mungkin untuk jangka waktu tertentu saja. Intinya: biarkan saja macet. Yang penting berikan alternatif transport kepada mereka yang membutuhkan transportasi, yang tidak kena kemacetan. Perhatikan kota-kota besar di dunia, macet tetap ada, tetapi kalau orang tidak mau macet bisa naik alat transport yang tidak terkena macet kemudian harus mau jalan kaki sedikit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *