MUSEUM KOLONG TANGGA, MUSEUM YANG MENJADI RUANG UNTUK ANAK

IMG_0084

IMG_8839IMG_4129IMG_6436 25IMG_0038

Oleh: Anastasia Dwirahmi.

Keberadaan Museum Anak Kolong Tangga memang tidak nampak dari luar jika kita berada di kompleks Taman Budaya Yogyakarta. Museum ini ‘hanya’ menempati ruang memanjang di bawah tangga, yang berada di lantai 2 gedung utama. Ruangan ini dulu dimanfaatkan sebagai kantin untuk para karyawan TBY. Sementara, dua tangga melingkar adalah jalan menuju ke ruang pertunjukan. Walau berada di bawah tangga, museum ini mudah ditemukan karena temboknya yang berwarna-warni, dengan gambar khas anak-anak yang didesain sendiri oleh sang kurator sekaligus pendiri museum, Bapak Rudi Corens.

Rudi Corens adalah seorang Belgia yang sudah tinggal di Indonesia lebih dari 25 tahun. Kecintaannya pada dunia anak-anak dan seni membuat beliau hobi mengumpulkan berbagai mainan,permainan, dan pengetahuan mengenai dunia anak dari berbagai tempat dan zaman. Akhirnya pada 2 Februari 2008, museum mungil ini pun resmi dibuka. Sebelumnya Rudi Corens mendirikan sebuah yayasan, yaitu Yayasan Dunia Damai. Yayasan ini menaungi Museum Anak Kolong Tangga sampai sekarang dan menjadi penyandang dana bagi kegiatan museum. Yayasan Dunia Damai didukung oleh para donor, baik institusi maupun perorangan.

Museum Anak Kolong Tangga adalah museum mainan sekaligus museum anak pertama di Indonesia. Museum ini memiliki ribuan koleksi dari berbagai negara, dan senantiasa memperbaharui koleksinya. Saat ini jumlah koleksi sudah mencapai 7000 buah. Koleksi yang demikian banyak tersebut tentu tidak bisa dipamerkan sekaligus, maka museum ini rajin mengganti display pameran, yang dilakukan setiap satu tahun sekali. Biasanya peluncuran pameran baru akan dilakukan bersama dengan perayaan ulang tahun museum.

Sebagai kurator, Rudi Corens bertanggung jawab penuh atas pilihan koleksi. Beliau selalu berhati-hati dalam menentukan koleksi mana yang sebaiknya dipajang, dan bagaimana teknik displaynya. Apakah di dalam vitrin, atau dipasang di panel. Setiap mainan menyimpan banyak kisah mengenai waktu saat mainan itu diciptakan. Misalnya, sebuah set pasukan perang dari plastik yang sangat berhubungan dengan peperangan yang sedang terjadi ketika mainan itu dibuat. Atau bagaimana mainan bisa menunjukkan perubahan penggunaan bahan dasar kehidupan sehari-hari manusia. Misalnya, bahan seperangkat alat minum teh untuk anak perempuan yang dulu masih menggunakan keramik, kini sudah berubah menjadi plastik.

Kolong Tangga adalah sebuah museum yang unik, bukan hanya karena konsep dan koleksinya, namun juga karena museum ini dijalankan oleh para volunteer yang kebanyakan tidak memiliki pendidikan di bidang museum. Mereka adalah mahasiswa kreatif yang meluangkan waktunya selama beberapa jam setiap minggu untuk bekerja di berbagai divisi yang ada di museum ini. Divisi-divisi itu antara lain : workshop, perpustakaan, majalah, publikasi dan divisi museum, yang berhubungan langsung dengan koleksi. Keterlibatan anak muda dari berbagai bidang ini seolah menampik pandangan umum bahwa museum hanya bisa diurus oleh sejarawan atau arkeolog. Museum memang seharusnya selalu penuh dengan kreatifitas dari berbagai disiplin ilmu.

Kolong Tangga bisa menjadi contoh sebuah museum yang hidup. Workshop diadakan setiap satu minggu sekali, dengan tema yang berbeda dan tidak memungut biaya. Satu-satunya workshop yang memungut biaya adalah workshop yang dipesan oleh sekolah yang datang berkunjung. Itupun paling mahal hanya Rp. 10.000/anak. Selain itu ada pula kegiatan yang diselenggarakan di luar museum, seperti kunjungan ke rumah sakit, sekolah, dan desa. Museum juga aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan lain di Yogyakarta, misalnya pawai bersama museum lain di sepanjang Jalan Malioboro.

Selain rajin mengadakan workshop, Kolong Tangga perlu diapresiasi karena cukup rutin menyelenggarakan pameran temporer. Tidak banyak lagi museum yang memiliki agenda pameran temporer. Sejak sebelum museum ini resmi dibuka, beberapa koleksi awal dipamerkan dalam Pameran Come And See A Story di TBY. Pameran ini menjadi semacam pengenalan awal bagi masyarakat di Yogyakarta terhadap Museum Kolong Tangga. Setelah itu berturut-turut museum mengadakan pameran bertema robot (Robot and Robotic, 2009), celengan (2010), makanan (You Cook I Eat, 2012) dan pada Mei 2013 ini Kolong Tangga akan berpameran di Museum Pendidikan UNY dengan tema ilustrasi buku anak (Beautiful Book, Beautiful Pictures).

Tidak seperti museum negeri yang mendapat dana dari pemerintah, Museum Kolong Tangga sepenuhnya mengandalkan donatur. Walaupun begitu, museum ini tetap pada komitmen awalnya yaitu menjadi museum untuk semua anak. Visinya, selain tentu saja menjadi sarana pendidikan alternatif, adalah membuat museum  menjadi ruang publik bagi anak, terutama anak-anak yang tidak punya kemampuan untuk mengakses tempat-tepat bermain di kota yang kian mahal itu, seiring dengan semakin minimnya ruang di kota yang layak untuk anak. Komitmen ini diwujudkan dengan kebijakan museum untuk tidak menarik uang tiket bagi anak di bawah 15 tahun, sementara untuk orang dewasa, Kolong Tangga hanya membebankan sebanyak Rp. 4.000,00. Uang itu sepenuhnya akan digunakan untuk mengadakan workshop gratis dan kegiatan lainnya.

Museum Anak Kolong Tangga

Gedung Taman Budaya Yogyakarta (TBY)

Jl. Sriwedari no.1

Yogyakarta

Yayasan Dunia Damai (Sekretariat Museum)

Bintaran Kulon MG II/25, Surokarsan, Margansan

Yogyakarta, Indonesia

(0274) 6995577

One thought on “MUSEUM KOLONG TANGGA, MUSEUM YANG MENJADI RUANG UNTUK ANAK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *