New Normal, New Oxymoron

Istilah New Normal sudah menjadi istilah yang semakin familiar dalam dua bulan terakhir. Siklus pandemi dan gejolak perekonomian menjadikan New Normal sebagai respon menyesuaikan diri hidup berdampingan dengan pandemi agar masyarakat dapat kembali membangun aktivitas perekonomian yang runtuh sejak bulan Maret. New Normal sebetulnya bukan hal yang baru dalam merestrukturisasi tatanan kehidupan selama atau pasca bencana karena hal ini sebelumnya pernah terjadi saat Spanish Flu (1900-an), krisis ekonomi (1930, 2008), tragedi 911 (2001), dan sebagainya. New Normal yang terjadi saat ini sedang diamati oleh berbagai kalangan, khususnya akademisi, pengambil kebijakan, praktisi kesehatan dan tidak terlepas juga dari bidang keahlian lainnya. Dalam diskusi New Normal, New Oxymoron, istilah New Normal adalah kontradiksi dimana keadaan seolah-olah dipaksa harus masuk ke tatanan kehidupan yang lain terlepas dari kondisi yang selama ini sudah ada/terjadi.

Spanish Flu, 1918
Sumber: https://www.healthline.com/

Menurut Abidin Kusno, New Normal dapat dilihat dari dua sisi yaitu secara psikologis dan publik melalui kejadian global dan nasional. Dalam beberapa literatur seperti The New Normal: Living a Fear-Free Life in a Fear-Driven World di tahun 2005 dijelaskan bahwa serangan 9 September 2001 meredefinisi tatanan kehidupan warga Amerika dalam menjalankan kehidupannya selama dan pasca trauma. Dalam proses ini juga timbul apa yang disebut sebagai Biopolitik, dimana ketakutan masyarakat dijadikan sistem kontrol sosial. Salah satu contohnya adalah penyerangan Amerika terhadap Iran yang menjadi bentuk legitimasi dalam melakukan proteksi dan sistem pengendalian negara.

Kejadian lainnya adalah yang berkaitan dengan dunia bisnis dan ekonomi. Dijelaskan dalam buku The New Normal: Great Opportunities in a Time of Great Risk oleh investor Roger McNamee bahwa New Normal berbicara tentang risiko, namun di saat yang sama dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan. Dunia bisnis pada era New Normal tidak lagi berbicara tentang short-term gain, tetapi harus mulai memikirkan bagaimana cara-cara bisnis dilakukan dengan benar, bukan hanya cepat, yang pada akhirnya krisis ini dilihat sebagai kesempatan dalam merestrukturisasi kapital.

Menilik kembali ke sejarah, banyak yang mengira bahwa istilah New Normal hadir sejak kejadian 911. Namun, sebenarnya istilah ini sudah muncul sejak 1900-an. Istilah New Normal pertama kali muncul sebagai respon terhadap Perang Dunia I dan Spanish Flu. Khusus di wilayah Eropa, dimana dampak perang dan Spanish Flu paling parah, Eropa menerapkan tiga tahap untuk menghadapi ketidakpastian di tengah krisis; old normal, masa transisi dan New Normal. Jika ditarik ke kondisi sekarang, yang jadi perdebatan adalah apakah masa New Normal ini dibiarkan secara organik atau dapat didesain. Spesifik tentang mendesain kondisi New Normal, Eropa mencoba mengintegrasikan berbagai bidang. Dalam artikel The Bacteriological City and Its Discontents oleh Matthew Gandy dijelaskan bahwa kesehatan publik dengan tata lingkungan sangat berkaitan erat. Eropa merubah paradigma pembangunan secara cross-sector sehingga melahirkan apa yang disebut sebagai infrastructural ideal. Artinya pembangunan kota harus dikaitkan dengan berbagai bidang, inklusif dan didukung oleh infrastruktur yang integral sehingga Bacteriological City menjadi konsep New Normal pada waktu itu.

Modern medicine and bacteriological review (1894)
Sumber: https://www.flickr.com/

Masuk ke konteks Hindia-Belanda, muncul sebuah pertanyaan, “jika di Eropa sudah muncul istilah New Normal, bagaimana dengan negara-negara kolonial di era itu?”. Pada era kolonialisme di Indonesia, sudah muncul pemikir-pemikir reformis seperti Thomas Karsten. Melihat konsep Bacteriological City di Eropa, Thomas Karsten ingin menerapkan konsep yang sama ke Indonesia. Tetapi, dalam kondisi penjajahan, penerapan konsep ini menghadapi beberapa tantangan. Yang pertama, konsep ini lebih banyak diprioritaskan pada permukiman-permukiman Eropa di Indonesia. Contohnya di wilayah Batavia (Jakarta), dimana pembangunan infrastruktur lebih banyak untuk kepentingan dan perlindungan area tinggal pemerintah kolonial. Yang kedua, ruang-ruang kota di era kolonial terfragmentasi berdasarkan suku dan ras, seperti di Jakarta terdapat Kampung Bali, Kampung Cina, Kampung Melayu, dan sebagainya. Ruang-ruang ini diorganisir dalam indirect law oleh Pemerintah Belanda sehingga ruang-ruang ini hanya dibiarkan tanpa diperhatikan kondisi kehidupannya. Terkait respon terhadap kesehatan publik, pemerintah kota zaman penjajahan baru menerapkan standar kesehatan di kampung-kampung pada tahun 1930, dimana sebenarnya sudah sangat terlambat sejak pandemi Spanish Flu yang sudah terjadi di tahun 1918. Ditambah lagi, pemerintah kolonial saat itu tidak memiliki data yang update mengenai kampung. Data yang tersedia adalah data tahun 1911 yang jelas sudah tidak reliable. Merespon hal ini, pemerintah kolonial tergesa-gesa melakukan pemetaan dan survei, namun pada akhirnya mereka tidak memiliki ide bagaimana menata kampung. Perencanaan kota cukup terbatas pada saat itu dan kembali lagi ke pertanyaan “apakah ada New Normal pada masa kolonial?”. Meskipun pada saat itu Thomas Karsten memikirkan bagaimana perencanaan kota harus dimanfaatkan secara inklusif dan untuk mencegah segregasi ras, ada kemungkinan New Normal diterapkan pada persentase yang sangat kecil. Lalu masuk ke zaman Orde Baru, pola pembangunan yang terjadi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan zaman kolonial. Fragmentasi infrastruktur dan private-led development mendominasi pembangunan kota hingga saat ini. Misalnya, kampung memang tetap ada, namun tereduksi oleh pembangunan yang modern.

Kampung Melayu Tempo Dulu
Sumber: https://islamindonesia.id/

Merefleksikan New Normal ke konteks yang ada hari ini adalah bahwa New Normal merujuk pada transformasi yang sifatnya mendasar. Perubahan yang terjadi seperti kebiasaan mencuci tangan, penggunaan masker, dan lain-lain memang penting, tetapi transformasi yang sesungguhnya adalah bagaimana mengatasi permasalahan dasar yang selama ini sudah ada namun belum selesai. Refleksi ini kemudian kembali ke pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu “seperti apakah New Normal kita?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *