Pertemuan Regional Arsitek Komunitas

Pertemuan arsitek komunitas se-Asia di Chiang Mai, Thailand pada tanggal 12-16 Juni 2010 lalu mungkin bukan pertemuan arsitek komunitas pertama yang pernah terselenggara. Tetapi, dalam hal jumlah peserta puluhan institusi terutama terdiri dari LSM dan akademik mengirimkan 125-an ‘arsitek komunitas’ –nya, mewakili lebih dari 23 negara-negara Asia plus negara-negara selatan Afrika, Australia, Selandia Baru, dan Kolombia menjadikan pertemuan ini istimewa. Tibet Heritage Fund dan Shack/Slum Dwellers International adalah dua kontingen organisasi internasional yang menambah keragaman. Pertemuan ini adalah inisiatif dari Asian Coalition for Housing Rights (lihat Box 1) untuk membangun jaringan arsitek dan para-arsitek (Chang Chumchon Thailand, jaringan tukang kampung) yang bekerja dengan komunitas dalam konteks Asia.

Sesi diskusi konservasi bersama komunitas
Sesi diskusi konservasi bersama komunitas

Box.1 Asian Coalition for Housing Rights (ACHR)

ACHR berawal dari sekumpulan arsitek dan aktivis dari belasan negara-negara Asia yang bergerak bersama menentang penggusuran berkaitan dengan penyelenggaraan Olimpiade di Korea Selatan pada tahun 1986. Adalah Arsitek-Pastor J.E. Anzorena yang dalam 30 tahun terakhir secara teratur mengunjungi negara-negara di Asia dan menulis tentang arsitek yang bekerja bersama komunitas dalam jurnal Selavip. Tahun 2009 ACHR meluncurkan program Asian Coalition for Community Action untuk perbaikan kampung-kampung miskin kota di Asia. Somsook Boonyabancha menjabat sekretaris jendral ACHR.

www.achr.net

Di tengah arus globalisasi yang juga menjadi arus penyeragaman dalam berbagai hal istilah arsitektur komunitas sebagai sebuah konsep memang masih sangat sumir. Namun seperti disaksikan lewat pertemuan ini juga pada kesempatan lain cukup banyak inisiatif konkrit yang secara kolektif memberi makna pada istilah ‘arsitektur komunitas’ (lihat Box 2). Dan sepertinya pada saat ini kerja lapangan atau pengalaman empiris lebih awal dibanding pengembangan teori. Berkaitan dengan hal ini sebuah buku setebal 96-halaman berwarna tentang kinerja arsitek komunitas di Asia turut diluncurkan lewat acara ini.

Workshop bahan bangunan alami oleh Pun Pun Thailand
Workshop bahan bangunan alami oleh Pun Pun Thailand

Ada empat tema besar arsitektur komunitas yang diusung melalui diskusi panel, pameran, dan sesi pemutaran film; (1) upgrading atau perbaikan kampung, (2) pemulihan pasca bencana, (3) perencanaan kota partisipatif, dan (4) konservasi bersama komunitas. Sebagai tambahan diselenggarakan juga workshop bahan/teknik bangunan alami, kunjungan ke proyek perbaikan kampung Baan Mankong yang difasilitasi Community Organization’s Development Institute (sebuah badan pemerintah khusus menangani perbaikan kampung) dan kunjungan ke beberapa proyek konservasi partisipatif pemenang penghargaan UNESCO.

“Di umur saya, selama ini saya sering merasa sendiri dalam menggeluti bidang arsitektur komunitas” -Ivana Lee, arsitek komunitas Jaringan Relawan Kemanusiaan

Latar belakang dan rentang pengalaman peserta pertemuan adalah sebagian dari banyak aspek keragaman yang mewarnai pertemuan ini. Para relawan mahasiswa Fakultas Arsitektur Universitas Chiang Mai yang menjadi tuan rumah merupakan kelompok peserta termuda dapat memperoleh dukungan penyemangat dari seniornya dari Jepang hingga India. Sementara peserta lainnya berada pada pertengahan karir dan sudah memiliki pengalaman yang berarti. Dukungan senior dan kesinambungan antar generasi adalah penting bagi arsitek komunitas, sebuah ceruk sepi di alam profesi arsitek.

Arsitek komunitas lintas generasi lintas bangsa
Arsitek komunitas lintas generasi lintas bangsa

Di akhir pertemuan beberapa hal yang menjadi perhatian bersama bagi peserta adalah perlunya perubahan paradigma dalam sistim pendidikan arsitektur sehingga lebih akomodatif dan tidak semata-mata mejadi penyedia kebutuhan pasar. Selanjutnya juga muncul perhatian bersama tentang kesinambungan profesi arsitek komunitas mulai dari aspek penghidupan hingga aspek pengembangan keahlian.  Terakhir, adalah pentingnya untuk menyadari bahaya bila unsur ’komunitas’ justru tertinggal saat arsitektur komunitas sebagai sebuah gerakan telah bergulir.

Akhir kata, pertemuan sebesar ini harus menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kesenangan mendapat teman dan pengalaman baru. Pertemuan ini selayaknya menjadi pemula, pembuka peluang kerjasama dan pengembangan jaringan, sehingga menjadi langkah awal bagi gerakan arsitektur komunitas di Asia.

Box.2 Siapakah dia Arsitek Komunitas?

  1. Arsitek yang bekerja untuk kaum tuna wisma atau ‘miskin hunian’.
  2. Yang terlibat di perbaikan kampung miskin kota, rekonstruksi pasca bencana, dan perbaikan desa.
  3. Yang bekerja lebih untuk kepuasan daripada untuk uang, lebih sebagai respon terhadap situasi sosial daripada sebagai pemilik kualifikasi akademik.
  4. Yang menghormati tradisi, budaya, pengetahuan dan keahlian rakyat dalam hal rancang bangun, yang percaya dan melaksanakan metode partisipatif.
  5. Yang berkomitmen untuk biaya-murah dan teknologi tepatguna dan kearifan lokal dan konteks.
  6. Yang mendengarkan rakyat, memahami hidup dan kebutuhannya, menolak untuk memaksakan pandangan, representasi, dan kekuatan dirinya di dalam rancang bangun.
  7. Yang peduli terhadap aspek psikologis penghuni dan dimensi sosio-kultural dari pengembangan hunian.
  8. Yang memperhatikan iklim dan lingkungan dan berkomitmen untuk pembangunan lestari.
  9. Yang perjuangan kreatifitasnya tidak dibatasi oleh pencarian bentuk baru melainkan doing more with less, dan seeing big in small.
  10. Yang memiliki klien tidak hanya individu, kelompok, dan komunitas, melainkan juga kelas (rakyat miskin, kelompok terkena bencana, tuna wisma) bahkan masyarakat secara keseluruhan.
  11. Yang lebih bekerja dengan rakyat daripada untuk rakyat.
  12. Yang inventif menggali sumberdaya dari rakyat dan lingkungan terdekat sebelum mencari keluar
  13. Yang bekerja tidak sebatas menangani gejala melainkan menangani akar masalah. Dia tahu kemiskinan hunian adalah gejala dan ketidak-adilan sosial adalah akar masalah.
  14. yang memiliki visi kemasyarakatan
  15. yang selamanya dalam proses belajar
  16. yang pekerjaannya tidak selalu menyediakan melainkan juga memfasilitasi
  17. yang tidak bangga dengan apa yang dia lakukan tetapi menjadi sebab
  18. Mereka bukan individu melainkan tim. Mereka bekerja bersama dan kebersamaan adalah etos mereka. Sinergi adalah mantra mereka. Mereka multi-disipliner dalam hal keahlian dan karakter.
  19. Bukan menyediakan jasa melainkan pemberdayaan adalah visi mereka
  20. Proyek kecil adalah pijakan untuk belajar, up-scaling dan city-wide adalah tujuan
  21. yang bertindak lokal dan berpikir global. Yang ruang semestanya mikro maupun makro
  22. Yang memimpikan perubahan sistem/ kemapanan, yang mereformasi persepsi dan praktek.
  23. Tidak terlatih secara formal kadang justru berasal dari komunitas.

Demikian sebagian 23 dari sekian karakter yang dimiliki olek arsitek komunitas seperti disampaikan oleh Kirtee Shah, seorang arsitek komunitas senior dari Ahmedabad, India.

Box.1 Asian Coalition for Housing Rights  (ACHR)
ACHR berawal dari sekumpulan arsitek dan aktivis dari belasan

negara-negara Asia yang bergerak bersama menentang penggusuran

berkaitan dengan penyelenggaraan Olimpiade di Korea Selatan pada

tahun 1986. Adalah Arsitek-Pastor J.E. Anzorena yang dalam 30 tahun

terakhir secara teratur mengunjungi negara-negara di Asia dan

menulis tentang arsitek yang bekerja bersama komunitas dalam jurnal

Selavip. Tahun 2009 ACHR meluncurkan program Asian Coalition for

Community Action (ACCA) untuk perbaikan kampung-kampung miskin kota

di Asia. Somsook Boonyabancha menjabat sekretaris jendral ACHR.

One thought on “Pertemuan Regional Arsitek Komunitas

  1. Pingback: Siapakah Arsitek Komunitas? «

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *