Resensi: City Life from Jakarta to Dakar

Salah satu koleksi di Perpustakaan Rujak yang bercerita soal proses berkota (cityness).
Resensi oleh Umi Lestari.

Riuhya perkotaan menjadikan kota sebagai tempat eksperimen. Hal itulah yang coba dikaji dalam City Life from Jakarta to Dakar. Alih-alih mendefinisikan kembali apa itu city (kota), Simone menawarkan sebuah term baru yakni “cityness”. Istilah ini menunjukkan bahwa kota-kota dari Jakarta hingga Dakar yang disebut sebagai kawasan Global South yang berbeda jauh dengan kota-kota di Eropa dan Amerika Utara berada dalam narasi pergerakan di persimpangan yang menawarkan banyak pilihan.

Simone menuangkan idenya dalam enam bab. On Cityness sebagai pembuka lebih menjelaskan pada pada gagasan mengenai cityness sebagai cara untuk menekankan pentingnya perbedaan yang terjalin dalam kota. Pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat urban dalam keriuhan perkotaan juga menjadi pertanyaan yang seakan meninju pembaca. Melalui banyak contoh kasus di kota-kota dari Jakarta hingga Dakar, Simone menyarankan adanya suatu inisiatif dari banyak aktor seperti pemerintah, masyarakat, peneliti, pemilik modal, dan yang lainnya untuk bersama-sama membuat perencanaan jangka panjang.

 
Selanjutnya Simone menjabarkan bagaimana perencanaan sebuah kota berdasarkan model finansial. Kota merupakan tempat yang tepat untuk rehearsal dan bereksperimen. Banyak investor yang memberikan modalnya pada proyek-proyek besar untuk mendatangkan profit bagi mereka. Terkadang proyek-proyek ini hanya bertahan sementara dan membuat kota seolah-olah dibuat hanya untuk short future. Melihat hal seperti ini, Simone mengaskan harus ada usaha bersama dengan menggunakan kata kunci seperti creativity, cooperation, dan trust.

 
Usaha untuk membuat sebuah kota layak ditinggali masyarakat urban juga menjadi salah satu fokus dalam buku ini. Simone menyarankan untuk melihat kembali ke hal-hal yang berada di persimpangan, tempat segala hal di perkotaan saling terkait, dan juga menelaah kembali apa saja yang telah dilakukan dalam proses-proses yang terjadi di kota. Untuk menjawab permasalahan-permasalahan urban, Simone menyarankan untuk mencontoh Black Urbanism karena –ism ini fokus pada pembangunan yang dikaji dari wacana sejarah yang dominan untuk membuat kerangka kerja dan kebijakan dalam membangun suatu hubungan satu sama lain.

 

Tentang Jakarta
Simone secara khusus menuliskan Jakarta pada Bab 2. Menurutnya, Jakarta, terutama Jakarta Utara adalah very messy city dan berbeda dengan kota-kota lain di Global South. Walaupun begitu, dia melihat banyaknya kesempatan dan kemungkinan yang ada di kota ini, khususnya untuk masyarakat urban. Persinggungan antar ras dan sejarah yang panjang mengenai Jakarta Utara membuat kota ini penuh konflik. Perbedaan antar kelas juga sangat mencolok di kota ini. Banyaknya aktor yang berperan untuk membawa kawasan ini menuju ke arah mana dan seperti apa juga menjadi fokus Simone.

 
Selain itu, banyak mitos-mitos urban yang ditemukan di Jakarta Utara. Sebagai “pintu gerbang”, Jakarta Utara menyimpan banyak cerita kesuksesan yang menjadi mitos bagi masyarakat pedesaan untuk pindah ke kota besar. Seperti cerita Yusuf yang semula pemulung akhirnya sukses menjadi mandor karena dia mampu melihat pemetaan apa saja yang terjadi di kotanya. Jakarta Utara juga menyimpan “proyek besar” dari pemerintah untuk menjadikannya sebagai kota megapolis namun akhirnya terbengkalai karena situasi politik dan iklim yang berubah-ubah.

 
**

 
“There is to my mind no better guide book to cityness and its consequences than City Life from Jakarta to Dakar.” Begitulah kata Charles Lemert dalam introduction buku ini. Mengamini kata tersebut, buku ini memang komprehensif dalam menjelaskan apa yang dimaksud dengan cityness, sebuah term yang saat ini belum terdapat dalam Oxford Dictionary. Simone sebagai urbanist yang memang fokus mengkaji kota-kota di Asia dan Afrika mampu membuka apa yang tidak terlihat dalam studi sosiologi urban. Simone mampu menceritakan sebuah analisis baru untuk memahami bagaiman masyarakat bergerak membuat kota mereka sendiri.

 
Buku ini ditujukan untuk kalangan akademisi yang sedang mempelajari isu-isu urban. Secara garis besar, buku ini menekankan pada pengalaman yang ada di kota-kota yang terlihat jauh dari pemahaman konvensional mengenai kota itu sendiri. Pandangan dan harapan Simone untuk membuat kondisi perkotaan menjadi lebih kreatif dan adil juga terlihat jelas dalam buku ini.

 
Daftar Istilah
Cityness: the quality or state of being citified (http://www.merriam-webster.com/dictionary/cityness)
Black Urbanism is the impact, engagement and contribution of black and ethnic minority communities to the physical, economic, social, political and cultural environment within urban and metropolitan areas. (http://blackurban.blogspot.com/)
Tags: city, urbanism, urban planning, Abdoumaliq Simone, Jakarta, book review

AbdouMaliq Simone
City Life from Jakarta to Dakar: Movements at the Crossroads
New York: Routledge, 2010
Language: English
424pp. S$42.00
ISBN-10: 0415993229
ISBN-13: 978-0415993227

One thought on “Resensi: City Life from Jakarta to Dakar

  1. Nurudeen says:

    In terms of replication — how do these ideas sperad? Every time I travel I stumble across interesting things in different cities and wonder how come I’ve never heard of them anywhere before. But I don’t know what I should be reading so that I can. Any suggestions?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *