Oleh: Robin Hartanto
Penyusun: Rosida Erowati Irsyad
Penerbit: Lab Teater Ciputat
Tak elak bersembunyi ribuan pesona di balik Duizen Eilanden. Kepulauan Seribu, yang selama ini banyak dikenal dengan kekayaan wisata baharinya, rupanya turut menyimpan kekayaan budaya masyarakat yang menghuninya. Hal tersebutlah yang kemudian hendak direkam buku ini, alih-alih merekam kekayaan alam yang mungkin akan lebih laku dibaca.
Untuk mengerucutkan cakupan kajian, dengan tegas buku ini menentukan wilayah Pulo sebagai batasan, termasuk di dalamnya Pulo Panggang, Pulo Pramuka, dan Pulo Karya. Penegasan ini menjadi penting diketahui karena kata Pulo sendiri memiliki ambiguitas oral karena juga digunakan sebagai awalan untuk menyebutkan pulau lain seperti Pulo Tidung atau bahkan Pulo Seribu (Kepulauan Seribu).
Para pembaca buku ini dapat menyimak potret Orang Pulo dari berbagai sisi. Sejarah, mitos, kondisi geografis, dan kesenian mereka terekam ringkas dan jelas. Praktis kita dapat menemukan hubungan kawasan ini dengan Batavia, mitos tentang Dara Putih yang melegenda, hingga ilmu silat alif yang dikreasikan masyarakat Pulo dari berbagai aliran.
Namun, buku ini tidak hanya berhenti pada cerita besar. Petite histoire malah menghidupkan buku ini. Hampir di setiap segmennya terdapat kutipan-kutipan, bukan dari mulut orang terkenal melainkan dari tutur masyarakat setempat. Tak ayal kita dapat menemukan kalimat spontan seperti Mau ke kampung…, …pantang pulang. Jika sudah maju harus berhasil, atau Mati Blanda!, yang justru memberikan warna pada buku ini. Berbagai data dan cerita pun digali langsung dari penduduk setempat, di samping karena keterbatasan catatan tertulis tentang itu. Tak luput juga tercatat cerita-cerita sederhana tentang Mbok Tinah pedagang makanan kudapan atau Pak Nawawi penggiat lenong.
Beberapa hal perlu menjadi masukan untuk buku ini. Ketiadaan keterangan gambar membuat pembacanya terkadang sulit memahami gambar-gambar yang ada, selain permainan efek-efek warna pada foto-foto terasa agak berlebihan. Saya sendiri sulit untuk memahami letak dan batasan dari Pulo tanpa mencari lebih lanjut di dunia maya, karena minimnya peta atau gambar yang menjelaskan hal tersebut, terutama untuk orang yang tidak pernah kesana sebelumnya.
Tentu saja buku ini tak luput dari keterbatasan yang dapat dimaklumi. Mengutip ucapan antropolog Bisri Effendy, buku ini memang dimaksudkan sebagai penelitian awal. Apa yang direkam memang lebih bersifat kilas potret, tanpa perlu menyelam jauh ke dalam. Sebuah usaha yang sangat perlu untuk mendorong penelitian-penelitian lebih lanjut.


Salam kenal,
mohon bantuannya, dimana saya bisa mendapatkan dan membeli buku ini?
Terimakasih
Halo mba Dini,
Buku itu diterbitkan oleh Lab Teater Ciputat. Saya sudah komunikasikan dan menurut mereka hard copy sudah habis namun soft copy nya bisa diakses. Apabila berkenan, mba hanya mengganti biaya cd dan ongkos kirim saja.
Alamat Lab Teater Ciputat : Jl H Abdul Gani, Komplek BPKP II No. 80 C, RT006/05, Kp Utan, Ciputat, Tangerang Selatan, 15412, Banten
Mba Dini bisa juga menghubungi Mas Ade (person in charge) di no 08174965877,085813166485 atau di email : labteaterciput@gmail.com
Terimakasih,
Salam