Ruang Bermain Anak : Teka-teki di Ruang Publik

Oleh Carmelia Soe.

Minggu, 25 Juli 2010 di Jogja National Museum, pukul 8 pagi.

Selamat datang hari Minggu. Saatnya kita bermain.

Isu tentang anak selalu menarik perhatian siapa saja. Banyak kegiatan diselenggarakan atas nama anak, dan dipersembahkan untuk anak-anak. Namun, seberapa besar keterlibatan anak sebenarnya? Seberapa besar kebutuhan anak akan hal yang ditawarkan? Respon yang sama menariknya juga diberikan ketika topik yang diangkat bertajuk ‘ruang publik’.

Ruang kota sesungguhnya adalah publik. Dasarnya, seluruh warga memiliki hak untuk memanfaatkan ruang-ruang tersebut.Ruang kota tidak hanya harus enak dilihat tapi juga memiliki hubungan batin dengan masyarakat. Dengan begitu, masyarakat yang bertemu di ruang publik diikat dalam setting yang lebih luas daripada rumah sendiri¹. Masyarakat disini tentunya harus dibaca secara lebih bijaksana; anak-anak adalah bagian dari masyarakat.

Baru-baru saja Yogyakarta menjadi tuan rumah pameran 30 tahun Refleksi Gerakan Anak di Indonesia, bertempat di area Jogja National Museum. Maka tak ada salahnya bila di tempat itu pula, kita membaca catatan anak-anak: apa kata mereka tentang ruang publik ini.

Relawan Peta Hijau Yogyakarta, dalam Jagongan Media Rakyat 2010, mengajak anak-anak dari beberapa sekolah dasar dan kampung sekitar Jogja National Museum untuk bermain teka-teki dengan metode Green Map System©. Ini adalah permainan yang sangat sederhana. Anak-anak hanya perlu menjadi dirinya sendiri dan mencatatkan apa-apa yang mereka ingin ekspresikan dalam ruang publik ini. Apa-apa yang ada bagi mereka, apa-apa yang mereka bayangkan ada, apa-apa yang menurut mereka tidak.

Ini seperti teka-teki yang harus mereka cari, di tempat-tempat yang konon adalah ruang mereka juga. Jawabannya, tentu saja, harus dari mereka juga. Keluaran dari kegiatan workshop ini adalah sebuah drawing map yang memuat informasi dari sudut pandang anak, baik yang sehari-hari menggunakan tempatan JNM, maupun yang sedang bermain di sana. Dari catatan ini pula, kita akan melihat bagaimana teka-teki ini dijawab oleh mereka, yang paling membutuhkan ruang bermain. Apakah anak-anak, pada dasarnya, adalah kelompok yang dituntut untuk kreatif dengan merespon lingkungan sebagai sumber inspirasi? Atau, pada intinya, anak-anak adalah tempelan di ruang publik?

Workshop ini akan diberikan sebagai rangkaian dari Jagongan Media Rakyat, pada hari Minggu, 25 Juli 2010 di Jogja National Museum, pukul 8 pagi.

Carmelia Soe adalah relawan Peta Hijau Yogyakarta dan seorang guru taman kanak-kanak.

4 thoughts on “Ruang Bermain Anak : Teka-teki di Ruang Publik

  1. Annisa Seffiliya says:

    Wah menarik sekali..
    Saya jadi ingat dengan salah satu organisasi non profit (atau program ya?) yang mirip dengan kegiatan ini. Namanya Education Care Unit (ECU). Program-program yang dijalankan oleh ECU adalah workshop kecil untuk anak-anak yang memicu kreativitas berpikir dan kesadaran akan lingkungan mereka. Beberapa temanya antara lain Rumah Sehat, Lingkungan Kotaku, Lingkungan Sekolahku, dan Dream Island/Pulau Impian.

    Pertamanya, mereka diajak mengungkapkan pikiran awal mereka tentang topik yang dikaji, lalu hal tersebut didiskusikan dalam kelas. Konsep workshop yang dijalankan seperti mengajak anak bermain lego. Secara berkelompok, mereka dapat mengungkapkan ide-ide mereka tentang rumah sehat atau pulau impian mereka dengan bermain lego/ maket-maketan dengan barang-barang bekas. Jadi, di akhir workshop, kita bisa melihat bagaimana mereka punya ide dan pikiran tentang lingkungan mereka dari maket ini.

    Saya pernah menjadi volunteer dalam beberapa workshop menarik ini. Bahkan bersama dega teman-teman, kami juga mengadakan workshop Pulau Impian di Parewa Tana, Sumba. Workshop ini telah dijalankan di banyak sekolah di jakarta. Untuk info lengkapnya, silakan kunjungi http://educareunit.wordpress.com/our-programmes/ (Saya takut cerita terlalu banyak, nanti salah ^^)

    Menurut saya, workshop ECU dan workshop dengan metode Green Map System ini adalah program yang baik untuk anak-anak. Mengingat kalau saya lihat, metode belajar yang dijalankan di kebanyakan sekolah merupakan metode ‘diajar’, bukan ‘belajar’. Dengan adanya kegiatan seperti ini, mereka terstimulasi untuk berpikir kritis dan solutif, serta sadar akan alasan-alasan keputusan mereka secara tidak langsung: “mengapa begini”, “mengapa begitu”, “kalau begini, maka perlu ini”, “kalau begitu, maka perlu itu”. Semoga saja akan ada banyak lagi workshop serupa. Salam!

  2. lieke says:

    hai annisa 🙂 thanks sharing-nya. workshop ini nantinya juga semacam itu juga, hanya memakai metode green map [dan sistem ikonnya], dengan beberapa modifikasi. rencananya memang pingin menjadikannya acara anak2 ini saja 🙂 hehe. oke, saya meluncur ke link-nya yaa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *