Sebuah keajaiban di hari raya Idul Adha

Beberapa waktu yang lalu, di rujak ada sebuah artikel yang mengangkat masalah mengenai budaya meninggalkan sampah koran setiap selesai Salat Id. Dan praktek ini telah terjadi selama berpuluh-puluh tahun, di setiap mesjid dan lapangan yang menyelenggarakan salat hari raya di Indonesia.

Namun pada Hari Raya Idul Adha yang lalu (27/11), sebuah ‘keajaiban’ telah terjadi! Sebuah mesjid tampak bersih seusai Salat Ied. Bisa dikatakan tidak ada lagi sampah koran yang bertebaran. Halaman mesjid dan jalan yang digunakan salat tampak lengang dan bersih.

titik pengumpulan koran
titik pengumpulan koran

Terobosan yang dilakukan oleh Mesjid Asy-Syakiriin ini, sebuah mesjid di kawasan Pondok Bambu, ialah menyediakan kotak-kotak tempat pengumpulan koran bekas alas salat di segala penjuru lokasi salat. Seluruhnya berjumlah 16 titik.

Di atas setiap kotak tersebut terdapat tulisan besar yang tampak dari kejauhan,”Seusai Salat Ied, Mohon Koran Bekas Alas Salat Dilipat Kembali dan Dikumpulkan di Sini”.  Dengan begitu, tidak ada alasan lagi bagi peserta salat untuk berdalih,”habis gak tahu korannya harus ditaruh di mana,” atau “habis jauh sih tempat pengumpulan korannya.”

Upaya ini juga diperkuat dengan pengumuman lewat pengeras suara yang mengingatkan jamaah agar tidak lupa mengumpulkan sampah korannya. Pengumuman ini dilakukan berulang kali, sebelum dan sesudah Salat Ied.

Inisiatif ini dilakukan karena kebetulan sekali ketua pengurus Mesjid Asy-Syakiriin, Pak Suparto (65 thn), mempunyai kepedulian yang sangat kuat akan kebersihan lingkungan. Ia tidak jemu mengingatkan para jamaah mesjid untuk membuang sampah di tempat sampah, walau seringkali himbauannya ini tidak diindahkan oleh para pengguna mesjid.

Selain itu, Pak Muslim Arief (55 thn), yang waktu itu bertanggung jawab sebagai ketua panitia Salat Ied di mesjid tersebut, menyambut baik ide agar tiap peserta salat bertanggung jawab atas sampah bekas alas salatnya.

Awalnya penyelenggara pejamaah mengumpulkan koran bekasnyangumpulan sampah ini pesimis bahwa akan ada banyak orang yang bersedia melipat dan mengumpulkan sampah korannya ke kotak-kotak yang telah disediakan. Mengingat bahwa tidaklah mudah untuk mengubah sebuah kebiasaan yang sudah dilakukan turun-temurun.

Tak dinyana, sesusai Salat Ied, ternyata ada banyak jamaah yang menerapkan himbauan tersebut. Walau ada juga yang hanya meletakkan koran bekasnya begitu saja di atas kotak, tanpa dilipat terlebih dahulu. Alhasil, mesjid tampak bersih dalam sekejap. Hal ini membuat salah seorang petugas mesjid, Agung berkomentar,”wah bersih ya, beda banget dengan Salad Idul Fitri kemarin, sampahnya bertebaran.”

Coba bandingkan foto di bawah ini dengan foto yang diambil di lokasi yang sama pada waktu Idul Fitri yang lalu.

sampah koran hanya terlihat di titik pengumpulan
sampah koran hanya terlihat di titik pengumpulan

Para pemulung yang bersuka ria

Ketika para jamaah meninggalkan tempat salat, tak lama kemudian terlihat seorang pemulupara pemulung bersuka riang yang menandak kegirangan. Ada apa gerangan?

Ternyata ia bersuka hati, karena dengan mudahnya ia tinggal mengambil kardus berisi koran-koran yang sudah dilipat dan dirapikan oleh para peserta Salat Ied.

Berbeda dengan salat hari raya di tahun-tahun sebelumnya mereka harus bersusah payah memunguti koran yang bertebaran di jalan. Kini para pemulung tinggal mendatangi titik-titik pengumpulan Koran, merapikannya dan kemudian mengangkutnya dengan kardus yang ada.

“Sekarang kerjaan mungut koran jadi lebih cepat,” ujar seorang ibu pemulung.

Tak disangka, upaya sederhana untuk mengubah kebiasaan jamaah mesjid dalam membuang sampah, ternyata juga membuahkan manfaat bagi para pemulung.

2 thoughts on “Sebuah keajaiban di hari raya Idul Adha

  1. Marco Kusumawijaya says:

    Ternyata berubah itu tidak suli ya, hanya diperlukan inisiatif kepemimpinan. Tetapi, rasanya perlu dialkukan berulangulang sebelum disimpulkan perubahan itu dapat dikatakan langgeng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *