Siapa bilang warga Jakarta tidak peduli?

 

 

Kamis siang 1 November kantor Rujak mendapat tamu istimewa, seorang warga Jakarta. Sembari menguraikan isi mapnya, Bapak RM (inisial) yang berperawakan kurus ini memaparkan hasil temuannya tentang kesalahan pada peta draft Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Menurutnya, ada kesalahan pada keterangan nama jalan di wilayah rumahnya di daerah Jakarta Pusat. Catatan atas kesalahan penamaan jalan di wilayah rumahnya itu sudah Beliau sampaikan kepada pimpinan di tingkat Kelurahan dan kecamatan. Namun, hingga kini, tidak ada respon atas masukan yang Beliau sampaikan.

Perhatiannya pada proses penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Jakarta membawanya ke kantor Rujak. Dari beberapa liputan tentang RDTR Jakarta di salah satu surat kabar beberapa hari terakhir, bapak ini kemudian membuka website Rujak dan menemukan draft RDTR dari Dinas Tata Ruang yang telah diupload. Bapak RM menyampaikan keterkejutannya karena dalam soft copy RDTR yang diupload tersebut, kesalahan yang telah beliau paparkan masih tercantum.

Dari situlah muncul keinginan Bapak RM untuk mendatangi kantor Rujak dan menyampaikan apa yang menjadi catatannya terhadap draft RDTR. Harapan Bapak RM sangat sederhana, berharap apa yang menjadi catatannya, sebuah kebenaran tentang keterangan nama jalan, didengar oleh Dinas terkait, yaitu Dinas Tata Ruang.

Ketika kami tanyakan apakah bapak yang pernah menjadi pimpinan Dewan Kelurahan ini ikut terlibat dalam proses penyusunan RDTR beberapa waktu lalu, dengan tegas Bapak RM menjawab tidak. Dia sampaikan bahwa hanya orang-orang yang diundang saja yang dapat hadir dalam pertemuan yang disebut sebagai “Penyerapan Aspirasi dalam Penyusunan RDTR”.

Tidak dilibatkan dalam proses penyusunan RDTR bukan berarti menyurutkan kepedulian Bapak RM terhadap proses penyusunan RDTR DKI Jakarta yang sedang berlangsung. Melalui surat kabar harian ternama, yang telah dikoleksi sejak tahun 1970, Bapak RM secara aktif memantau perkembangan penyusunan dokumen RDTR, suatu rencana yang penting bagi Jakarta, untuk 20 tahun ke depan.

Tidak sampai beberapa jam setelah kedatangan Bapak RM, beberapa ibu-ibu anggota Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) mengunjungi Rujak. Maksud kedatangan anggota JRMK ini adalah belajar tentang RDTR. Melalui surat kabar dan juga dari diskusi bersama Urban Poor Consortium (UPC), mereka mengetahui bahwa proses penyusunan RDTR hingga menjadi Perda sedang berlangsung saat ini. Mengetahui proses yang sedang berlangsung bukan berarti mereka menjadi bagian dari proses. Sama seperti Bapak RM di bilangan Jakarta Pusat, Ibu-Ibu yang bertempat tinggal tersebar di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara ini tidak pernah dilibatkan dalam penyusunan RDTR.

Ketidak tahuan akan bentuk dan rupa dari dokumen RDTR membawa mereka ke kantor Rujak. Diskusi yang berlangsung selama 2 jam itu diwarnai banyak lontaran pertanyaan. Secara serius mereka mencari tau apa arti dari rencana detail tata ruang, apa itu peruntukan, apa arti dari warna yang memenuhi peta wilayah di kecamatan mereka, dll. Kadang-kadang diskusi juga diselingi dengan gelak tawa ketika mereka mengetahui bahwa 20 tahun ke depan peruntukan wilayah di mana  mereka tinggal sudah berubah. “Waduh, saya mesti pindah kemana kalau nanti itu bukan lagi untuk permukiman?”, atau “ Yo wis sampean ngontrak di rumahku aja”.

Kedatangan warga di kantor Rujak kemarin menunjukan bahwa ada warga yang perduli akan perencanaan  kota Jakarta selama 20 tahun ke depan. Bapak RM dan anggota JRMK mungkin mewakili warga Jakarta lain yang juga peduli dan sangat ingin terlibat dalam perencanaan detail tata ruang Jakarta.

Tidak dilibatkan bukan berarti tidak peduli. Mungkin itu kalimat yang lebih tepat menggambarkan apa yang melatarbelakangi kedatangan warga ke kantor Rujak. Selama ini, asumsi bahwa warga Jakarta banyak yang tidak perduli akan proses perumusan kebijakan termasuk juga penyusunan RDTR, menjadi justifikasi bahwa partisipasi masyarakat tidak perlu dilakukan secara maksimal. Sepanjang syarat administratif sudah terpenuhi, maka itu menjadi cukup.

Hal ini yang ingin kita ubah. Terlebih lagi dengan keputusan Pemprov DKI Jakarta untuk menunda pengesahan RDTR hingga pertengahan tahun 2013 dan mensosialisasikan kembali draft RDTR hingga ke tingkat Kelurahan, maka ini merupakan momen yang penting untuk tidak dilewatkan.

Mensosialisasikan kembali darft RDTR ke tingkat kelurahan merupakan upaya bersama untuk menyempurnakan draft. Penting untuk warga Jakarta secara aktif melibatkan diri dalam proses ini.

Mari mulai dengan mengupas secara bersama apa itu RDTR dan merumuskan bersama bagaimana warga Jakarta dapat ambil bagian dalam proses penyempurnaan RDTR, melalui diskusi Publik tentang RDTR yang akan diadakan oleh Rujak pada tanggal 7 November di IFI, Salemba, Jakarta Pusat.

Mari datang, mari bersama kita buktikan bahwa warga Jakarta masih peduli !

Untuk melihat isi draft Rencana Detil Tata Ruang, yuk mampir disini.

Rujak mengadakan diskusi publik dengan menghadirkan anggota DPRD pada hari Rabu, 7 November 2012 di IFI Salemba 58, jam 18.30 – 20.00. Cek link ini untuk informasi tentang diskusi publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *