Teks : Silvia Honsa; Foto : Rika Febriyani
Kita tidak sering menemukan tempat duduk di ruang publik Jakarta, baik di sepanjang trotoar, maupun di lingkungan perumahan.
Apakah ini terjadi karena warga kota kurang membutuhkannya?
Proyek kedua Rika and Silvia Project menggali pengetahuan soal perlu dan pentingnya
ruang duduk ini.
Bunderan Tugu Selamat Datang (GuMaTang) dengan fokus pada ruang publik
di depan Plaza Indonesia, serta ruang duduk di pemukiman RT 03/RW 014 di Kelurahan
Tomang (Cideng) adalah lokasi wawancara yang kami tampilkan dalam video [Silakan/
Melarang] Duduk (tautan ada di akhir tulisan ini). Sebab, kita tahu, sudut di depan Plaza
Indonesia – Bunderan Tugu Selamat Datang, tak pernah sepi dari warga. Pun, di lokasi lain,
sepanjang kali Banjir Kanal Barat, beragam tempat duduk berjejer untuk warga.
Kedua lokasi tersebut, sudut di depan Plaza Indonesia dan RT 03/RW 014 di Kelurahan Tomang
(Banjir Kanal Barat), memuat pengalaman ruang yang berbeda. Yang satu dikenal sebagai
kawasan komersial, satunya merupakan pemukiman. Dengan harapan memperoleh pengetahuan
lebih obyektif dan variatif, kami melibatkan warga yang berkeseharian di kedua lokasi tersebut
dalam proyek ini. Keterlibatan dilakukan melalui wawancara dan bermain Lego.
(foto 001_Cideng)
Banjir Kanal Barat
RT 03/RW 014 Kelurahan Tomang merupakan salah satu bagian pemukiman di Banjir Kanal
Barat. Di sini, kami bertemu Mulyo Santoso, yang menjadi ketua RT sejak 1979. Perbincangan
dengan beliau meninggalkan kesan tersendiri bagi kami. Awalnya, kami menduga terbentuknya
ruang duduk di RT ini karena adanya kebutuhan ruang bersama, ternyata kami salah.
Ruang duduk justru dibentuk dari sisi pertimbangan kesehatan. Pemukiman yang padat
dengan gang-gang sempit dan berposisi di bawah badan jalan, menjadikan ruang-ruang hunian
kurang mendapatkan cahaya dan udara segar. Kondisi ini mendorong Mulyo mengajak warga
memanfaatkan bahu jalan di dekat gerbang RT 03/RW 014 sebagai ruang duduk.
Posisi ruang duduk sekarang ini dirasa sempurna menerima cahaya matahari pagi dari arah
timur. Bayi-bayi dan warga dari berbagai usia bisa berjemur di pagi hari dengan nyaman.
Tentu saja ruang duduk ini kemudian menjadi tempat berkumpul dan bersosialisasi. Dalam
perkembangannya, ruang duduk dilengkapi dengan televisi dan VCD/DVD player. Mulyo
bahkan meminta PT.Telkom untuk memindahkan telepon umum, yang tadinya ada di sekitar
MCK, ke ruang duduk bersama. Pada beberapa titik dipasang lampu taman.
(foto 002_Cideng )
Keberadaan ruang duduk sebagai salah satu bentuk ruang bersama, tempat berbagi antar warga,
memberi dampak pada kedekatan antar warga dari berbagai usia dan latar belakang. Karena
saling mengenal antar warga, keamanan lebih terjaga. Misalnya, mengenai pemeliharaan,
(termasuk biaya untuk listrik dan perbaikan ruang duduk) dikelola bersama oleh warga.
Menyapu dan menyiram tanaman dikerjakan tanpa ada penjadwalan khusus. Ruang duduk tidak
dibiarkan kotor.
(foto 003_Cideng)
Apa yang diupayakan RT 03/RW 14, kami lihat juga ada di RT-RT lain. Warga merasakan
banyak manfaat dari ruang duduk seukuran rata-rata 2,5 x 1.5 m di area pemukiman
mereka. Ruang ini dapat pula digunakan untuk mengatasi kantuk yang begadang atau ronda
malam. “Yang begadang bisa nonton TV”, kata Mulyo. Pemukiman padat ini rawan kebakaran.
Perlu ada yang berjaga untuk membangunkan warga, jika kebakaran terjadi, agar api menjalar
dapat dicegah. “Kalau ada kebakaran, yang begadang yang tahu duluan”, lanjut Mulyo.
(foto 004_BunderanGuMaTang)
Sudut Plaza Indonesia – Tugu Selamat Datang (GuMaTang)
Beralih ke seputaran Bunderan GuMaTang. Untuk Menemukan tempat duduk di sekitar
Bunderan GuMaTang tidak lah banyak. Trotoar yang ada sebenarnya cukup lebar, tetapi sangat
sedikit ketersediaan ruang untuk duduk dengan nyaman. Padahal, justru banyak orang yang ingin
menikmati waktu di sini. “Kita suka duduk-duduk di sini karena pemandangannya bagus dan
tidak gerah” kata Alamsyah, salah seorang karyawan di Plaza Indonesia.
(foto 005_BunderanGuMaTang)
(foto 006_BunderanGuMaTang)
Sebagian orang memilih duduk di trotoar, di pinggir pagar batas kavling gedung, dan di
pinggiran pot-pot besar yang ada di sepanjang trotoar. Yang bahaya, ada beberapa ruas pot-pot
bunga diberi penghalang berupa segitiga-segitiga besi runcing (lihat foto 006). Ini bukan lagi
berkesan melarang orang untuk duduk, tapi sudah berpotensi mencelakakan publik. Penghalang
yang dipakai tampak berbahaya bagi keselamatan orang. Bagaimana jika ada anak atau siapa pun
yang terjatuh ke arah pot-pot tersebut?
(foto 007_BunderanGuMaTang)
Kami pun melanjutkan wawancara kedua di trotoar depan Plaza Indonesia. Kali ini sambil
melakukan wawancara, kami meminta sekelompok karyawan yang sedang beristirahat untuk
bermain lego. Kami sudah menyiapkan miniatur ruang terbuka tempat wawancara dilakukan dan
meminta beberapa orang untuk menyusun ruang duduk yang ideal menurutnya.
(foto 008_BunderanGuMaTang)
Bagi para karyawan dari Plaza Indonesia, mungkin juga karyawan dari gedung-gedung di sekitar
Bunderan GuMaTang, duduk di lantai trotoar menjadi pilihan yang paling mungkin. “Tidak
ada tempat duduk lain” kata Hidayat, karyawan Plaza Indonesia, ketika ditanya alasan duduk di
lantai trotoar. Dan, ini juga merupakan alternatif yang jauh lebih baik daripada menghabiskan
waktu istirahat di dalam kantin. Sebagian mengungkapkan alasan kebutuhan berada di ruang
terbuka, menikmati pemandangan, berinteraksi dengan lebih banyak orang dalam suasana santai,
dan mendapatkan udara segar.
Wawancara dengan para karyawan yang duduk di depan Plaza Indonesia, disertai aktivitas
menata letak ruang duduk dengan Lego. Sebelumnya, kami telah menyusun miniatur dari
lokasi tersebut. Tujuan aktivitas ini adalah menerjemahkan keinginan adanya ruang duduk yang
nyaman. Hidayat, Alamsyah, dan teman-teman menyusun ruang duduk dalam jarak tertentu dan
berkelompok. Masing-masing bangku dilengkapi tempat sampah. Menurut pendapat mereka,
salah satu syarat ruang duduk di ruang terbuka yang nyaman adalah berada di bawah naungan
pohon yang rindang. Mereka juga berinisiatif menempatkan lampu taman di beberapa sudut dan
menayakan perihal keberadaan toilet. (untuk hasilnya bisa dilihat di video [Silakan/Melarang]
Duduk )
Berlawanan dengan pendapat kami, Hidayat, Alamsyah, dan teman-teman lain, tentang perlunya
bangku, Pendapat kedua tentang ruang duduk kami dapatkan dari Pak Andri. Bagi Pak Andri,
karyawan di sekitar Bunderan GuMaTang, mengatakan bentukan tempat duduk yang menerus
dan memanjang lebih ideal dibanding bentuk bangku. Jika tempat duduk berbentuk bangku,
seperti di halte, maka akan terbentuk kelompok-kelompok. Baginya, daya tarik duduk di depan
Plaza Indonesia justru karena semua berbaur, mudah saling menyapa dan berkenalan.
(foto 009_BunderanGuMaTang)
Sayangnya, spot yang dimaksud Andri tersebut, yang untuk saat ini sebenarnya juga
satu-satunya spot yang layak sebagai tempat duduk, kerap basah walau tak ada hujan. Kenapa?
Ketika kami tanyakan hal tersebur pada para karyawan yang sedang beristirahat, salah satu
menjawab bahwa lokasi tersebut mungkin memang disiram oleh petugas dari Plaza Indonesia
untuk menghalangi orang duduk. Kemungkinan alasannya adalah kerumunan orang-orang
yang duduk dianggap mengganggu pemandangan, apalagi dengan banyaknya sampah yang
ditinggalkan. Dari informasi yang kami dapatkan, spot tersebut memang milik Plaza Indonesia,
bukan bagian dari trotoar.
(foto 010_BunderanGuMaTang)
Sampah memang tampak berserakan di sudut itu. Menurut Andri, itu terjadi karena, pertama,
orang-orang yang duduk memang tidak mau repot-repot membuang sampah, dengan asumsi
petugas dari Plaza Indonesia akan membersihkannya. Kedua, tidak menemukan tempat sampah
dan malas untuk membawa sampahnya. Sebenarnya ada tempat sampah dalam jarak beberapa
meter di area tersebut, hanya saja tidak memiliki bentuk dan posisi yang membuat orang sadar
bahwa itu adalah tempat sampah.
Duduk adalah Kebutuhan
Dari semua wawancara dan hasil bermain lego ruang duduk, bisa disimpulkan bahwa ruang
duduk di area publik dibutuhkan warga Jakarta. Bagi warga pemukiman di RT 003/RW 014
Kelurahan Tomang, ruang duduk berfungsi juga sebagai ruang bersama untuk berbagi berbagai
kegiatan (termasuk berjemur di pagi hari), dan sarana untuk mendekatkan antar warga. Bagi para
karyawan di seputar Bunderan Tugu Selamat Datang, ruang publik di depan Plaza Indonesia menjadi ruang duduk untuk menghilangkan kepenatan di sela-sela jam kerja selain juga sebagai
tempat bersosialisasi, meski kesulitan mencari tempat duduk yang layak/manusiawi.
Ruang duduk di trotoar maupun lingkungan pemukiman, tidak hanya berfungsi sebagai sekedar
tempat duduk. Ada warga dan kegiatan yang menghidupkannya. Kebutuhan akan adanya
bentukan ruang tempat interaksi antar warga di area publik cukup terasa. Akankah di masa akan
datang, Jakarta semakin banyak memiliki ruang-ruang duduk yang nyaman di area publik?
————————
Rika & Silvia Project merupakan inisiatif dua warga Jakarta, Rika Febriyani dan Silvia Honsa.
Inisiatif ini meyakini jika aspirasi warga dalam penataan ruang adalah sesuatu yang penting.
Sebab, sejatinya, bentukan kota adalah termasuk untuk memenuhi kebutuhan ruang gerak
warga. Dengan bantuan alat peraga berupa Lego, dilakukan simulasi penataan ulang letak
elemen-elemen penting di ruang publik atau tempat umum. Simulasi langsung melibatkan warga
di tempat mereka berada, yang dalam kesehariannya menggunakan fasilitas publik atau berada
di ruang publik. Sekilas simulasi ini memang lebih mirip ‘bermain’, daripada duduk serius
mendiskusikan tata letak sebuah ruang, tetapi karena itu juga cara ini mungkin bisa diharapkan
untuk menggali aspirasi warga.











Jakarta akan punya makin banyak ruang (terbuka) untuk duduk (dan interaksi) di masa datang? Mungkin saja. Apalagi kalau pengelola kota paham warga yang ‘sakit’ bikin kota yang juga ‘sakit’. Penyakit seperti ‘lu-lu-gue-gue’, ‘asal-gak-keliatan’, ‘bukan-urusan-gue’ itu pasti salah satunya karena kurang interaksi antara warga kota. Jadi, bukan cuma ruang duduk tempat melepas lelah, tapi juga tempat untuk – seperti Pak Andri bilang – interaksi bahkan mereka yang gak kenal satu sama lain.
Eh, tapi saya juga sering males datang kalo diundang rapat RT hehehe #malu