Stren Kali, Surabaya: Contoh untuk Jakarta

Oleh Yuli Kusworo.

Pemerintah tidak pernah punya alternatif yang masuk akal. Karena itu, inisiatif masyarakat adalah satu-satunya solusi . Di Surabaya ada suatu inisiatif pendekatan permukiman lestari oleh masyarakat yang dapat dicontoh Jakarta.

Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya (PWSKS) melawan ‘cap buruk’ yang selama ini ditujukan kepada mereka. Pada tahun 2002, berbekal semangat gotong royong dan kekuatan kebersamaan, warga mulai mengorganisasikan kampungnya, memperbaiki kualitas lingkungan kampungnya, melalui kearifan mereka sendiri, dan mengkampanyekannya ke media lokal dan nasional bahwa PWSKS adalah warga Kota yang baik dan peduli. Memang bukan pekerjaan mudah seperti menghapus  kesalahan tulis pada selembar kertas.

Melalui kelompok tabungan perempuan di masing-masing kampung, warga sepakat memilah sampah. Sampah plastik dan kertas dipilah dan dikumpulkan tiap hari Minggu. Sampah ditimbang dan dijual kepada pengumpul di sekitar kampung. Uang yang didapat dikumpulkan pada kelompok tabungan dan dijadikan dana cadangan renovasi kampung.

Kegiatan ini secara bergelombang menyebar ke seluruh kampung-kampung anggota PWSKS. Bahkan tak sedikit warga yang memungut sampah plastik yang mengapung di sungai dan mengumpulkannya melalui ibu-ibu. Ibu Kartika, warga Gunungsari mengatakan, ”Meskipun dana yang kami dapat dari penjualan sampah kertas dan plastik ini tidak besar, namun kami menjaga semangat yang sudah tumbuh agar tetap besar. Hanya dengan cara inilah pemerintah akan melihat, bahwa kami juga bisa berbuat untuk Kota Surabaya”.

Sampah organis yang berasal dari masing-masing rumah dicacah dan dimasukkan dalan sebuah keranjang ”ajaib” yang disebut Keranjang Takakura, dari nama pemciptanya, Prof. Takakura dari Jepang. Keranjang Takakura adalah salah satu cara pengomposan paling sederhana yang dilakukan pada lingkungan terkecil, yaitu rumah-tangga. Dengan paradigma baru ”memilah dan mengolah sendiri”, masing-masing rumah dan anggota keluarga akan sadar bahwa sampah bukan masalah.

Setiap 4-5 bulan sekali dilakukan panen bersama kompos, hasil dari Keranjang Takakura.

Sebagian hasilnya ditawarkan kepada Pemerintah Kota, yang saat ini sedang menggalakkan penghijauan kota. Sebagian lainnya digunakan untuk memupuk tanaman obat-obatan (TOGA, Tanaman Obat Keluarga) yang ditanam di lahan sempit di tepi jalan kampung masing-masing.

Akhirnya ’Sunan’ Jogokali bisa membuka mata para Anggota DPRD Propinsi Jawa Timur yang tergabung dalam Panitia Khusus (Pansus) Peraturan Daerah (Perda) Penataan Permukiman Stren Kali Surabaya. Pada 7 Oktober 2007, DPRD Propinsi Jawa Timur mengesahkan sebuah peraturan yang sangat partisipatif dan pro rakyat, yaitu Perda Nomor 9 Tahun 2007 tentang Penataan Permukiman Stren Kali Surabaya, yang intisarinya adalah warga diperbolehkan tetap tinggal di Permukiman Terbatas di Stren Kali, dengan melakukan penataan kampung.

Yuli Kusworo adalah Arsitek untuk Urban Poor Consortium (UPC) dan Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya

penghijauan2

IMG_0429

IMG_0455

IMG_0415

14 thoughts on “Stren Kali, Surabaya: Contoh untuk Jakarta

  1. rina anindyta says:

    saya pernah tinggal di surabaya, di daerah pakis. di beberapa gang disana juga ada pemukiman ‘green’ seperti itu. rasanya sejuk dan indah dipandang. mengapa jakarta tidak mencobanya?

  2. Marco Kusumawijaya says:

    Kabarnya di Jakarta juga sudah ada “kampung-kampung” hijau. Ada kah di antara para pengunjung website ini yang dapat menyumbang data dan gambar tentangnya? Terima kasih. Salam, Marco, editor.

  3. Marco Kusumawijaya says:

    Saya kemarin mengunjungi Stren Kali. Yang mengharukan adalah bahwa mereka sungguh-sungguh berupaya menerapkan apa yang disyaratkan oleh PERDA 9/2007 Jawa Timur. Mereka secara sukarela memapras (memotong) rumahnya hingga mundur 3 hingga 5 meter dari tepi Stren Kali. Dan, kemudian “membalikkan” masing-masing rumahnya menjadi menghadap sungai. Sebelumnya, rumah-rumah itu membelakangi Stren kali. Ini berarti mereka membangun dulu WC baru di “belakang” (dilihat dari Stren Kali), dan memindahkan pintu dan jendela dari “depan” sebelumnya ke “depan” yang baru, yang menghadap Stren Kali. Mereka juga membangun sistem pengolahan limbah, sehingga apa yang keluar ke sungai menjadi minimal dan sudah bersih. Pertama, air buangan, yang bukan berasal dari WC, didaur ulang sehingga cukup bersih, bahkan lebih bersih dari standar PDAM. Kedua, air buangan dari WC di proses melalui septic tank dan air yang keluar dilewatkan melalui instalasi penyaring alamiah “wetland”, sehingga ketika dialirkan ke sungai, telah bersih. Mengapa hal yang sudah begitu jelas tetap sulit dilihat, diyakini serta diakomodasi oleh pemerintah? Warga Stren Kali sudah menanamkan investasi material, emosional dan lain-lain yang besar sekali. Juga telah dikerahkan berbagai ahli papan atas untuk membantu.

  4. sarah permana hadisti says:

    wah…pak marco…saya bangga melihatnya…andaikan warga pinggiran kali memiliki kesadaran yg cukup tiggi terhadap lingkungannya…tidak hanya numpang tempat tinggal dan buang sampah dimana2 sehingga membuat penyempitan sungai..dan menyalahkan/mengeluhkan lingkungan mereka karena tempat tinggalnya yang buruk..padahal hanya tinggal mengumpulkan niat yang kuat untuk membuat lingkungan yang baik dan tenaga untuk saling bahu-membahu dalam mengerjakannya…memang partisipasi warga lah yang nomor satu dalam membentuk lingkungan yang baik..buat apa org2 mencoba meyakinkan warga kampung2 di jakarta yang lingkungannya masih terhitung kumuh dan tidak terawat untuk dibantu menyelesaikan masalah mereka, kalau mereka sendiri tidak ikut berpartisipasi… seperti mencuci baju…tp nantinya kotor2 lg kalau tidak ada yang mencucikannya tiap hari…sehingga melestarikan lingkungan supaya baik pun harus bersifat berkelanjutan…

  5. Dian says:

    waduh… ini yang harusnya dikasih award dari IAI untuk Sustainable Developoment (Inniciative, Renewal dll). Diusulin tuh… ke IAInya supaya jangan sibuk ngurusin gedung2 high-rise yang ga kepuguhan aja….
    Masih banyak kegiatan rakyat yang banyak gunanya dan banyak manfaatnya seperti ini dan patut dibanggakan.

  6. sarah permana hadisti says:

    hehe..terima kasih pak marco atas tanggapannya ,namun saya pernah melihat pengalaman kampung bukit duri kok hanya mendapatkan beberapa rt dalam bertahun-tahun lamanya..padahal kalau semuanya lebih mudah masyarakat untuk berpartisipasi tidak mungkin ada gunungan buangan limbah rumah tangga masyarakat di pinggir kali ciliwung yang bertumpuk-tumpuk..memang perlu waktu dan kesabaran..menuju jakarta yang lebih sehat dan lebih baik..hehe

  7. Hitler says:

    Tulisan yang sungguh menggugah dan bermanfaat. Terima kasih kepada semuanya. Btw, untuk Ibu Elisa: bisa tidak bila proposalnya hanya sebatas 1 RW saja misalnya.

  8. Pingback: Sayembara Terbatas Penataan Kawasan Stren Kali Surabaya « Rujak

  9. Pingback: Mempertanyakan Kampung Deret Jakarta | OpenUrbanity

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *