Jakarta, kota tercinta tempat hidup 8 juta warganya, tempat mencari nafkah bagi jutaan komuter dari kota-kota dan propinsi tetangganya.
Perjalanan Jakarta tahun 2009 ini diwarnai bom, longsor, pemilu presiden langsung, hingga pesta kerak telor di pertengahan tahun. Tidak ada perubahan (positif) berarti selama perjalanan 2009 ini. Walaupun sebanyak 27 pom bensin di Jakarta dikembalikan fungsinya ke ruang terbuka hijau, justru makin banyak pom bensin bermunculan.
Jebolnya Situ Gingtung seakan tidak memberi pelajaran bagi warga dan pemerintah Jakarta, tentang rentannya tata kelola air di Jakarta. Sementara upaya yang pemerintah lakukan hanya melakukan pengerukan dan memperkokoh dinding sungai dengan beton tebal, serta memilih membebankan seluruhnya pada sungai-sungai dan Kanal Banjir Timur yang baru. Mampukah ia menanggung curah hujan Jakarta dan kota-kota sekitarnya? Apakah kita harus menyongsong musibah banjir dan longsor lain?
Sementara kepenatan hidup sebagaian warga Jakarta pun tak berkurang. Menu kemacetan tetap menjadi santapan harian. Sementara TransJakarta dipaksa bersaing dengan ketidakprofesionalan dan beban subsidi, makin tergerus dengan lajunya motor-motor. Akhirnya yang menderita adalah para pejalan kaki, yang sedikit demi sedikit lahannya diambil secara perlahan-lahan.
Mungkin perubahan paradigma pun harus dilakukan. Cara sama selama 65 tahun ini sudah tidak mempan lagi untuk memanusiawikan kota ini. Banting setir, putar 180 derajat atau apapun istilahnya.
Dan tahun 2010 ini warga Jakarta mendapatkan kesempatan itu. Pemerintah telah membuka sedikit pintu bagi warga, dan ini waktunya warga untuk merebut tempatnya lagi dalam percaturan kota. Bukan lagi sebagai si pasif yang sabar (Menurut Time Magazine, Jakarta adalah kota ‘Tersabar’), tetapi si aktif yang terus mempertanyakan kebijakan pemerintah, mempertanyakan nasib kota ini, dan lalu memperjuangkannya untuk menjadi lebih baik.
Jika koin Prita mampu meruntuhkan individualitas warga kota, maka sekali lagi, Kota Jakarta ini memanggil solidaritas warganya, untuk bersama-sama membangun Jakarta menjadi lebih baik.
Maka warga pun dapat berkata dengan lantang dan bangga kepada pemerintah: “Meremehkan Partisipasi Warga berarti Meremehkan Potensi dan Kemampuan Warga.”
