Sampahku, tanggung jawab siapa?

Tak bisa dipungkiri, setiap manusia sejak lahirnya ditakdirkan menjadi penghasil sampah. Semakin dewasa seseorang, semakin banyak kebutuhannya, maka semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Dari bungkus dan sisa makanan,  kemasan produk yang kita beli hingga barang-barang yang sudah tidak kita pakai lagi, entah karena rusak atau sudah bosan menggunakannya.

Walau ditakdirkan sebagai mahluk penghasil sampah, namun sayangnya sejak kecil kita tidak diajar untuk bertanggung jawab atas sampah yang kita hasilkan. Jika sampah sudah dibuang ke tempat sampah (atau ke sembarang tempat?), maka selesai sudah urusan kita. Lalu, kita pun kembali menghasilkan sampah baru.

Sebagai mahluk yang diciptakan paling sempurna di muka bumi ini, harusnya kita menyadari bahwa sampah yang dihasilkan dari hari ke hari akan menghasilkan masalah baru. Misal, meluapnya tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Masih ingat kisah longsornya gunungan sampah di TPA Bantar Gebang dan Leuwi Gajah?

Belum lagi masalah banjir, pencemaran air tanah, emisi gas rumah kaca, dan sudah pasti masalah kesehatan, yang diakibatkan oleh tumpukan sampah yang kita hasilkan.

Untuk Jakarta, diperkirakan tiap orang menghasilkan sampah 0,75 kg/ hari. Berarti dalam 1 tahun tiap orang menghasilkan sampah sekitar 270 kg. Belum ditambah sampah pada hari –hari raya, yang biasanya lebih banyak daripada hari biasa. Di antara sampah-sampah tersebut, diperkirakan lebih dari separuhnya adalah sampah-sampah anorganik, yang tidak mudah hancur secara alami.

Lalu, apa jadinya jika kita terus menghasilkan sampah dari waktu ke waktu, terutama sampah-sampah yang butuh waktu ratusan-ribuan tahun untuk hancur, dan pada saat bersamaan tak ada upaya untuk mengurangi serta mengolah sampah tersebut? Mungkinkah kota kita akan berubah menjadi kota sampah, mirip seperti yang diperlihatkan pada film “Wall-E”?

Para siswa yang belajar bertanggungjawab atas sampahnya

Benarkah kita tidak pernah diajarkan untuk mengurangi sampah yang kita hasilkan?

kantong sampah dari baju kaos bekas
kantong sampah dari baju kaos bekas

Ternyata ada sebuah sekolah di kawasan Serpong, St. Laurensia, yang mencoba mengajarkan para siswanya untuk tidak hanya membuang sampah di tempatnya, namun juga mengurangi jumlah sampahnya masing-masing. Caranya?

Menurut penuturan salah seorang guru, Ibu Destri Nudyawati, dalam seminggu, ada 1 hari yang dipilih secara acak, di mana tempat sampah tidak disediakan oleh sekolah.

Kenapa begitu? Alasannya, agar anak-anak yang sudah terbiasa membuang sampah di tempat sampah mau bertanggung jawab atas sampah-sampah yang mereka hasilkan. Untuk itu, pada hari tersebut tiap murid diminta untuk membawa pulang sampahnya masing-masing ke rumah.

Sebagai wadah untuk membawa pulang sampah mereka, tiap siswa tidak menggunakan kantong kresek. Mereka membuat kantong sampahnya sendiri yang dijahit dari kaos bekas yang sudah tak terpakai.

Lalu, apa dampak dari program ini? Mengingat bahwa hari ‘tanpa tempat sampah’ dipilih secara acak, maka hal ini membuat tiap siswa untuk selalu siap membawa kantong sampahnya ke sekolah tiap hari.

Selain itu, ternyata para siswa juga terdorong untuk mengurangi jumlah sampah yang mereka hasilkan, agar tidak harus repot membawa pulang sampah dalam jumlah banyak. Hal ini pun secara perlahan-lahan menjadi kebiasaan para siswa, untuk lebih memilih jajanan dengan kemasan ramah lingkungan, khususnya yang tidak menggunakan kemasan plastik atau styrofoam.

Nah, sekarang bagaimana dengan Anda sendiri? Apa yang akan atau sudah Anda lakukan untuk mengurangi sampah Anda tiap harinya?

5 thoughts on “Sampahku, tanggung jawab siapa?

  1. miranti says:

    nice article..
    di Jakarta itu kesadaran buat menjaga lingkungan masih rendah. Buang sampah sembarangan krn mikir “toh ada yg udah digaji juga buat ngebersihin” (baca: OB atau tukang sapu jalan). Dan orang-orang yang buang sampah di tempatnya, justru diliat sebagai orang aneh… *heran*

  2. Marco Kusumawijaya says:

    Ah, tidak juga…Banyak juga yang sudah sadar. Kenapa kita tidak menonjolkan yang baik, supaya yang buruk meniru? Daripada menonjolkan yang buruk, lalu cuma membuat orang berkeluh-kesah…atau, lebih buruk lagi: ditiru juga yang buruk itu…hehehe

  3. Andrea Fitrianto says:

    di masa lalu ‘sampah’ adalah kulit, biji, dan tulang sehingga dapat terurai. di masa kini sampah adalah ‘kemasan’ produk. saya rasa, produsen dan konsumen sama2 bertanggung-jawab atas sampah=kemasan ini.

  4. Pingback: Balada Sungai Jakarta « Rujak

  5. R. Zainuddin says:

    Ada tiga Rantai aktifitas pengelolaan sampah yaitu pengumpulan, TPS dan TPA. Pengumpulan dilakukan sendiri setiap rumah tangga, lalu baik dibawa sendiri ke TPS atau bergotong-royong di lingkungan RT atau RW untuk menunjuk suatu organisasi untuk mengumpulkan sampah rumah tangga ke TPS sedangkan membawa sampah dari TPS ke TPA sudah harus menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah termasuk pengelolaan TPA. Untuk mengurangi sampah yang dibawa ke TPS dan TPA masyarakat diminta untuk memisahkan sampahnya dari bahan organik dan non organik agar memudahkan recycling.
    Setiap rumah tangga pasti tidak mengeingikan barang tidak berguna atau sampah berada di rumah atau pekarangannya. Barang yang tidask diperlukan bila dibuang akan dipilah oleh pemulung yang berkeliling mencari barang berguna untuk dijual yang kemudian di recycling. Beberapa pilihan bagi mereka apakah untuk membuang sampah yang disisa oleh pemulung yaitu ditanam, dibakar atau dibawa ke TPS. Di kota yang air tanahnya dangkal sangat tidak memenuhi kesehatan bila ditanam apalagi tidak semua penduduk perkotaan mempunyai pekarangan, demikian juga rumah susun termasuk hotel dan gedung-gedung tentu penanaman harus dijauhkan. Di bakar juga akan menyiksa diri sendiri termasuk tetangga, sama dengan di atas tidak semua penduduk mempunyai pekarangan untuk tempat pembakaran. Tinggal satu pilihan sekarang yaitu membawa ke TPS, bila ada, sebab tidak semua Pemda menyediakan TPS ini. Lagi pula tidak praktis bila semua RT membawa sampahnya ke TPS. Masyarakat lebih memilih bila ada suatu badan yang mengangkutnya baik organisasi lokal yang dikoordinir oleh RT/RW, Dinas Kebersihan atau kombinasi keduanya. Tinggal sekarang mengsosialisasikan agar mayarakat bersedia membayar sesuai dengan pelayanan yang akan diberikan, seperti halnya listrik dan air minum mereka bersedia membayar. Bila sampah harus dipilah merekapun akan bersedia dengan catatan restribusi mereka berkurang, demikian juga pengumpul sampah untuk kompos mendapat bahan gratis. Kecuali bila Pemda yang mengangkut bahan tadi merekalah yang berhak menerima penggatian ongkos pengumpulan. Tugas Pemda berkurang karena tidak perlu menyediakan TPA dan ongkos angkut ke sana, dengan demikian pengeluaran Pemda berkurang, kerjasama yang saling menguntungkan. Selain ongkos pengumpulan dan pengangkutan tadi pembuat kompos tidak petut ditagih harga sampah. Pengolahan sampah menjadi pupuk kompas yang telah dilakukan beberapa RT di Jakarta Timur dan Selatan layak disebar luaskan tetapi jangan hal ini dijadikan andalan di kota besar untuk menanggulangi persampahan karena tidak semua Rt bersama warganya dapat melakukan hal yang sama, tetap saja sebagian besar sampah harus dimusnakan dengan cara yang lain. Pembakaran melalui incenerator kecil tidak seperti yang telah dilakukan dibeberapa Kecamatan di DKI menunjukkan kegagalan, sampah kita sangat lembab, kulit buah2an, daun2an meupakan ditambah sampah dapur sangat lembab sehingga untuk membakarnya diperlukan bahan bakar yang banyak, lahan tempat pengumpulan tidak tersedia dan minimnya biaya yang disediakan. Pengumpulan biaya tidak transparant sehingga kebocoran mudah terjadi. Uang retribusi yang dibayar oleh warga yang dikumpulkan melalui RT selanjutnya RW kemudian ke Dinas Kebersihan tidak jelas akhirnya karena kelihatan tidak melalui administrasi yang baik. Pernah RW kami mau menghentikan penyetoran uang tersebut karena ternyata truck Dinas Kebersihan tidak pernah lagi singgah ke rumah warga, akhirnya minta tetap minta biaya dengan pengurangan membuktikan pengumpulan biaya tidak jelas. Alangkah bainya bila uang restribusi dikumpulkan melalui rekening PLN yang hampir semua warga berlangganan. Jika perkiraan rumah tangga penduduk sejumlah 10 juta penduduk sebanyak 200.000 buah yang dibagi 50.000 berpedapatan rendah, 100.000 berpenghasilan menengah dan 50.000 berpenghasilan tinggi , jika masing2 membayar restribusi masing2 Rp 10.000, Rp 25.000 dan Rp 50.000 maka Pemda mendapat dana Rp. 4,75 milyar atau Rp 57 milyar, bandingkan anggaran Dinas Kebersihan yang hanya Rp 11 milyar pertahun. Jika seluruh dana dipakai untuk menangani persampahan Ibukota akan jauh lebih bersih dari sekarang ini. Hanya saja dana tersebut tidak boleh digunakan untuk program lain dari persampahan, oleh karena itu harus dikelola oleh satu Badan Usaha seperti halnya PAM.
    Salah satu masaalah pengelolaan sampah ialah pengangkutan, apabila sampah diangkut bulk seperti sekarang ke BG akan memakan waktu terutama karena macet, alangkah baiknya jika sampah diperas atau dipadatkan terlebih dahulu sekalian mengilangkan cairan untuk dibawa ke TPA. Jika empat Kota Madya mempunyai tempat dekat stsion ka sehingga dapat di bawa dgn ka ke TPA.
    Di TPA begitu sampi harus disebar lalu ditutup dengan tanah tidak dibenarkan sampah terbuka karena akan dikerumuni lalat.

    R. Zainuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *